[Debat Ahlussunnah Wal Jama'ah vs Wahhabi] – Masalah Tradisi Talqin Mayyit


Buku Pintar Bedebat dengan Wahabi

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Di kalangan masyarakat kita, ketika ada orang meninggal dunia, dan dimakamkan, maka dibacakan talqin, yaitu sebuah tuntunan kepada si mayit agar mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. Tradisi ini berlaku hampir di seluruh negara Islam yang menganut faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Ada dialog menarik seputar talqin ini, yang diceritakan oleh teman saya, Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan. Ia bercerita begini:

Sekitar bulan Maret 2010 ada seorang mahasiswa IAIN Sumatera Utara yang kos di salah satu sudut kota Medan. Tiap malam rabu ia belajar mengaji bersama kami didaerah Sunggal. Waktu itu kitab yang dibaca adalah kitab al-Tahdzib fi Adillat al-Ghayah wa al-Taqrib, karya Musthafa Dibul Bugha. Mahasiswa ini sangat resah dengan keberadaan ponakannya yang belajar di Pondok As-Sunnah, sebuah pesantren yang diasuh oleh orang orang Wahhabi. Sepertinya anak itu telah termakan racun ajaran Salafi. Mahasiswa itu berjanji membawa keponakannya ke Majelis Ta’lim kami di Sunggal. Pada malam yang ditentukan datanglah mereka, bersama keponakannya itu, sebut saja dengan inisial X. 

Setelah mereka berkumpul, saya bertanya, kira-kira apa yang akan kita diskusikan? X menjawab, “Banyak Ustadz, antara lain soal Talqin dan bid’ah”. Saya bertanya, “Apa yang kita masalahkan dengan bid’ah itu?” “Ini Ustadz, bid’ah itu kan dosa dan pelakunya diancam siksa dalam banyak hadist” Demikian X itu menjawab. Saya tanya, “Benar, kita sepakat bid’ah itu sebuah ancaman dan membahayakan sekali. Tapi perlu diingat, bid’ah itu tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari nama Islam alias Murtad. Bid’ah itu ada kalanya berkaitan dengan aqidah, kadang dengan ibadah. Kamu tahu enggak apa itu Bid’ah?”

X menjawab, “Sebagaimana yang kami pelajari, bid’ah itu ialah segala sesuatu yang menyangkut ibadah yang tidak ada di zaman Nabi dan dilakoni oleh Nabi dan Salafus Sholeh, seperti Talqin, Madzhab, Ushalli dan lain sebagainya.” Saya berkata, “Definisi bid’ah seperti itu siapa yang membuatnya? Nabi, atau Sahabat, dan atau Tabiin?”

X menjawab, “Itu rangkuman pemikiran saya saja.” Saya berkata, “Kalau begitu definisi bid’ah menurut Anda itu kan tidak ada penjelasannya dari Nabi. Nah definisi Anda itu juga Bid’ah, kan definisi anda itu bukan keluar dari ucapan Nabi. Ok..? Ini sesuai yang Anda katakan.”

Mendengar umpan saya, X terdiam. Kemudian ia berkata, “Lalu bagaimana dengan hadisi “Man Ahdasta Fii Amrina haza Fahuwa Roddun”. Saya balik bertanya, “Kenapa dengan Hadist itu?” X berkata, “Hadist ini secara tegas menyingkap apa itu bid’ah.”

Saya berkata, “Benar, tapi perlu dicermati maksud kalimat, man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu. Menurut pemahaman Anda bagaimana dengan kalimat itu?” Ia menjawab: “Menurut saya pokoknya menciptakan Ibadah baru itu Bid’ah!!.” Saya berkata: “Kalau begitu Anda memahami hadist itu pakai kacamata kuda dong. Saya bertanya, apa arti ma laisa mihu dalam hadits tersebut? Tolong Anda jelaskan tiga kata ini.” TernyataX hanya terdiam tidak bisa menjawab.

Saya berkata: “Saudara, kata ahdatsa dalam hadits tersebut bermakna menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya. Sedangkan kata fi amrina, bermakna sesuatu yang merupakan urusan Agama kami, maksudnya suatu hal yang baru yang berkaitan dengan agama. Sedangkan kata ma laisa minhu, bermakna sesuatu yang tidak ada dalilnya secara langsung atau tidak langsung dari agama. Nah demikian itu baru dihukumi bid’ah. Makanya al-Imam al-Nawawi dalam Kitab al- Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab menyatakan bahwa bid’ah adalah sesuatu urusan yang baru dalam agama yang tidak ada dalilnya. Dalil-dalil itu adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Selama masih ada dalilnya dari salah satu yang empat tersebut, maka itu bukan bid’ah. Anda kalau zakat fitrah pake apa? Seharusnya mesti pakai korma dong. Rasul SAW mengatakan tidak pernah pakai beras.

Rasul tidak mempraktekkan zakat fitrah pakai beras. Pakai beras itu Qiyas dari korma dan gandum. Jadi kalau tidak menggunakan Qiyas, tentu saja Islam ini sempit sekali. Demikian pula masalah Takhtim, Tahlil yang selalu diamalkan masyarakat kita, isinya adalah pembacaan al Qur’an, Tahlil dengan kalimat Laa lllaha lllalloh, Sholawat, lalu doa. Saya tanya Anda. “Apakah ada larangan membaca itu semua, baik menurut al-Qur’an dan hadist?”

Mendengar pertanyaan saya, X menjawab: “Tidak ada.” Saya berkata: “Apakah ada perintah membaca itu semua menurut al-Qur’an dan hadist secara umum?” X menjawab: “Ada.” Saya bertanya: “Adakah larangan Allah dan Rasul untuk berdzikir, baca al-Qur’an dan lain sebagainya itu?” X menjawab:” Tidak ada.” Saya berkata: “Nah! Kan tidak ada larangan. Sementara pengamalan tersebut ada sanjungan dari Allah dan Rasul, maka itu bukanlah bid’ah yang terlarang atau sesat. Anda faham!” X menjawab: “Emangnya apa sanjungan Allah dan Rasul-Nya?”

Saya menjawab: “Lho…!! Tidakkah pernah saudara dengar sebuah hadist shahih yang artinya, ‘Tidaklah sekelompok orang yang duduk sambil berzikir kepada Allah kecuali para malaikat akan mengelilinginya, rahmat kasih sayang Allah akan meliputinya, ketenangan akan diturunkan kepadanya dan Allah akan menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisiNya”. (HR Ahmad, Muslim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah dan Abi Sa’id al- Khudri). Dalam hadist ini atau hadist lain tidak pernah ada larangan, kecuali ditempat-tempat kotor seperti di WC dan semacamnya.”

Mendengar penjelasan saya, X terdiam. Kemudian ia angkat bicara: “Bagaimana masalah Talqin? Bukankah itu Bid’ah?” Saya menjawab: “Begini saja supaya jelas. Lalu saya berdiri dan mengambil spidol dan menuliskan di Whiteboard, “TALQIN MAYIT BUKAN BID’AH TAPI KHILAFIAH” dan saya tanda tangani. Lalu saya suruh ia untuk menuliskan kalimat tandingan dari pernyataan saya. Lalu iapun menuliskan “TALQIN MAYIT ADALAH BIDAH” dan ditanda tanganinya. Lalu saya bertanya : “Kalau Talqin mayit adalah bid’ah berarti pelakunya diancam siksa?” X menjawab: “Ya.”

Saya bertanya: ‘Yang mengatakan bahwa talqin mayit itu bid’ah, siapa?” Dengan semangat, X yang masih anak muda itu mengatakan: “Syaikhul Islam Ibn Taimiyah.” Mendengar jawaban itu, saya pun mengambil kitab Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Lalu saya berkata: “Ini kitab Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah.” Sambil menunjukkan kepada hadirin semua, halaman 242 jilid 1, yang isinya adalah:

Majmu' Fatawa Ibn Taimiyyah

“Talqin yang tersebut ini (talqin setelah mayit dikuburkan) telah diriwayatkan dari segolongan sahabat bahwa menka memerintahkannya seperti Abi Umamah al-Bahili sertu beberapa sahabat lainnya, oleh karena ini al-lmam Ahmad bin Hanbal dan para ulama yang lain mengatakan bahwa sesungguhnya talqin mayit ini tidak apa-apa untuk diamalkan…” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 1 hal. 242).

Nah, Ibn Taimiyah tidak mengatakan bahwa talqin itu bid’ah, malah menyatakan ada dalilnya bahwa talqin itu dilakukan oleh sebagian Sahabat. Yang jelas ini masalah Khilafiah bukan masalah bid’ah!!!” Mendengar penjelasan saya, X pun terdiam. Tidak lama kemudian, ia pamitan pulang.” Demikian kisah dialog publik antara Ustady Syafi’i Umar Lubis dari Medan Sumatera Utara dengan pemuda Wahabi.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah Debat dan dialog antara Aswaja dengan Wahabi yang terangkum dalam sebuah buku berjudul “BUKU PINTAR BERDEBAT DENGAN WAHHABI” untuk dapat diambil hikmahnya. Saya sangat menyarankan bagi anda untuk bisa membeli buku tersebut di toko-toko buku terdekat di kota anda. Semoga bermanfaat!!

Dinukil dari “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi” halaman 161-166, karangan Muhammad Idrus Ramli, Penerbit Bina Aswaja bekerjasama dengan LBM NU Jember, Cetakan Pertama September 2010

Semoga bermanfaat.

About these ads

119 responses to this post.

  1. Thanks udah share, bolehkan saya share ke teman yang lainnya?.. Oiya makin bagus nih blog, hehe :D

    Balas

  2. ada yang mau tukeran link saya blog saya? kalau mau silahkan kunjungi http://idisuwardi.wordpress.com

    Balas

  3. Posted by سراج on 13 Maret 2011 at 7:40 am

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    terima kasih atas kesempatannya,,
    d sni saya ingin meluruskan kesalahan dan membongkar kesesatan atau penyimpanagan,,
    1. ya akhi kalau ada kabar yang belum jelas kebenarannya maka hendaklah di teliti, Allah berfirman:
     Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(al-hujurat:6)
    pak ustd d sni menyanggah wahabi, apakah anda tau lebih dalam tentang wahabi,,?? buku2 apa yang anda pernah baca mengenai wahabi?? di sini anda memfonis wahabi itu sesat…!!!mana bukti dan hujjah2 anda tentang penyimpangan wahabi,,!!!jika anda benar-benar dalam kebenaran,,,ataukah anda telah terminum racun kesesatan,,sehingga anda mengatakan demikian!!!…silahkan anda baca biografy syaikh muhammad bin abdul wahhab, dari literatur yang tsiqoh, yaitu para ulama yang memiliki ilmu yang luas…dan kitab-kitab aqidah…
    anda bisa lihat kitab alfirqotunnajiyah oleh syaikh jamil zainu..
    jika anda memfoniskan diri anda sebagai pengikut Ahlussunnah waljama’ah,,atau cuman mengekor tanpa ada burhan yang nyata!!!
    jika anda mengatakan bahwa salafy itu sesat,,maka anda telah memfonis ibnu taimiyyah adalah sesat,,karena beliau mengatakan:
    tidak ada aib bagi orang yang menempatkan manhaj salaf dan berbangga dengannya dan menisbatkan dirinya kepadanya…(bisa dilihat di majmu’ fatawa jilid 4 hal 149)
    2. pak ustd udah belajar bahasa arab kan?? atau belum,,,anda mengatakan bahwa kata bid’ah suatu yang bid’ah,..apakah kata ahdatsa dalam hadist tersebut bukan makna dari bid’ah..bahasa arab itu luas ya akhi…muhdas artinya bid’ah,…yaitu suatu peribadatan yang baru dalam agama, yang tidak ada contohnya dari nabi shallallau ‘alaii wasallam.
    apakah anda tidak pernah membaca syarah2 para ulama tentang hadist ini!!! ataukah anda hanya cukup dengan pemikiran dan pemahaman sendiri dan cuman membaca kitab-kitab yang menyimpang!!!!
    ya akhi,,,anda terlalu luas dalam mengartikan bi’ah..perlu anda ketahui, bahwasanya bid’ah ada yang murni tidak ada contohnya atau tutunan dari nabi shallallahu’alaihi wasallam dan ada amalan yang asalnya di syareatkan, tetapi cara dan tutunannya bid’ah,,seperti berzikir,,ada sebagian orang yang cara berzikirnya tidak ada tuntunan dari Rasulallah shallallahu’alaihiwasallam.
    3. masalah talkin,,,di sunnahkan talkin ketika seseorang itu belum wafat,sebagaimana hadist yang shohih:Rasulallah bersabda talkin kanlah orang yang hendak wafat dengan Lailahaillallah (رواه الإمام مسلم في “صحيحه” (2/631) من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه.),,adapun setelah wafat maka tidak ada dalil yang shohihpun tentang sunnahnya,,,semua ulama yang mengatakan talkin setelah mati di sunnahkan,,mereka berpegang pada hadist-hadist yang dho’if…anda bisa lihat di المنتقى من فتاوى فضيلة الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان – (ج 2/ ص 154) [ رقم الفتوى في مصدرها: 131]
    waallahu’alam

    Balas

    • Wa ‘alaikum salaam warahmatullaah wa barakaatuh

      1. Ayat Al-Qur’an yang antum sajikan adalah benar. Alhamdulillah di dalam mempelajari riwayat dan biografi Muhammad ibn Abdil Wahab, ana sudah mempelajari dari beberapa karya ulama’ ahlussunnah wal jama’ah, diantaranya:

      a. ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Mekah.
      b. Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb, yang ditulis oleh saudara kandung beliau, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab.
      Cukuplah ana sebutkan dua risalah dari ulama ahlussunnah wal jamaah seperti diatas.

      Adapun syech Jamil Zainu, beliau adalah murid daripada Albani. Sedangkan Albani bukanlah termasuk ulama’ ahlussunnah wal jamaah dan beliau belum diakui sebagai ulama’ ahlul-hadits. Beliau termasuk ulama’ dari kalangan wahabiyyin, maka otomatis beliau (syech Jamil Zainu) tentu akan menuliskan biografi Muhammad ibn Abdul Wahab dengan sebaik-baik penulisan (bahkan tanpa cela sedikitpun).

      Mengenai Ibn Taimiyyah, di dalam fatwa-fatwa beliau tentang penolakan ta’wil terhadap ayat-ayat musyabbihah menyebabkan beliau terjerumus ke dalam faham mujassimah. Dan tentu saja hal ini tidak sesuai dengan i’tiqad ahlussunnah wal jama’ah yang sudah dishorihkan oleh para ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jamaah seperti halnya ta’wil yang dilakukan oleh imam-imam madzhab.

      2. Soal bid’ah, sudah banyak ulama’ ahlussunnah wal jama’ah yang membahas tentang ini. Al-Imaam asy-Syafii rahimahullah, salah seorang ulama ahlussunnah wal jamaah yang tsiqah, membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Apakah imam Asy-syafii rahimahullah telah menyimpang dari diinul Islaam?

      Berangkat dari sekian banyak hadits-hadits shahih, serta perilaku para sahabat, para ulama akhirnya berkesimpulan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i berkata:

      اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
      الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩

      “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

      Bagaimana dengan doa al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujud ketika shalat selama 40 tahun yang berbunyi:

      قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ
      الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ۲/۲٥٤

      “Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).

      Doa seperti itu sudah pasti tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in. Tetapi al-Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya selama empat puluh tahun.

      Demikian pula Syaikh Ibn Taimiyah, setiap habis shalat shubuh, melakukan dzikir bersama, lalu membaca surat al-Fatihah berulang-ulang hingga Matahari naik ke atas, sambil mengangkat kepalanya menghadap langit.

      Nah, sekarang saya bertanya, menurut antum, apakah para sahabat, al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Taimiyah termasuk ahli bid’ah, berdasarkan konsep bid’ah yang antum pahami (yang menurut antum adalah: semua jenis bidah adalah sesat tanpa kecuali)? Karena jelas sekali, mereka melakukan sesuatu yang belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

      3. Masalah talqin (pengajaran kepada mayit) setelah mayyit dikebumikan, menurut ulama’ ahlussunnah wal jama’ah hukumnya adalah mustahab (boleh). Di kalangan ulama ahli ijtihad, tidak ada perbedaan pendapat mengenai talqin (mengajarkan kalimal La ilaaha illa Allah) kepada orang yang sedang sekarat, berdasarkan hadits:

      لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ بِلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

      “Hendaklah kamu semua mengajarkan kepada orang-orang meninggal kalian dengan kalimat Laa ilaaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah)”

      Adapun mengajari (talqin) orang yang baru dikuburkan menurut ulama ahlussunnah madzhab Syafi’i, mayoritas ulama madzhab Hambali dan sebagian ulama madzhab Hanafi dan Maliki hukumnya sunnah, berdasarkan riwayat At-Tabrani:

      “Dari Abu Umamah ra., “Apabila salah seorang di antara saudaramu meninggal dunia dan tanah telah diratakan di atas kuburannya, maka hendaklah salah seorang diantara kamu berdiri di arah kepala, lalu ucapkanlah, ‘Hai Fulan bin fulanah (nama mayat dan nama ibunya). ‘Sesungguhnya si mayat itu mendengar, namun tidak dapat menjawab. Kemudian ucapkan ‘Hai fulan bin fulanah, ‘Sesungguhnya dia duduk. Lalu ucapkan lagi, ‘hai fulan bin fulanah, maka si mayat berkata, ‘Bimbinglah kami, semoga Allah merahmatimu. Kemudian katakanlah “ingatlah apa yang kamu pertahankan saat meninggal dunia berupa kalimat syahadat dan kerelaanmu trhadap Allah sebagai Tuhan, islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur’an sebagai panutan. Sesungguhnya malaikat munkar dan nakir saling berpegangan tangan dan berkata, ‘ayo pergi. Tidak perlu duduk di sisi orang yang diajarkan kepadanya jawabannya. Allah-lah yang dapat memintainya jawaban, bukan malikat munkar dan nakir. Lalu ada seorang laki-laki bertanya, ya Rasulullah bagaimana jika ibu si mayat tidak diketahui? Beliau menjawab, sambungkan nasabnya ke ibu Hawa. (HR. At-Thabrani)

      Hadits tersebut marfu’, sekalipun dhoif, tetapi hadits ini boleh diamalkan dalam amal-amal kebaikan (fadhoilul a’mal), dan harus diingat hadits dhoif bukanlah hadits maudhu’, dan untuk mengingatkan orang-orang mukmin, dan juga mengingatkan firman Allah SWT:

      “Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

      Dan tentu saja nasehat yang paling dibutuhkan oleh setiap hamba adalah ketika baru saja dikebumikan.

      Berikut ini adalah fatwa ibn taimiyyah (Ulama’ golongan antum) mengenai masalah talqin (Lihat Majmu’ Fatawa, juz 24, hal: 299):

      Ibnu Taimiyah dalam fatwa-fatwanya menjelaskan, sesungguhnya talqin sebagaimana tersebut diatas benar-benar dari sekelompok sahabat Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam. Bahwa mereka menganjurkan talqin. Diatara mereka adalah Abu Umamah ra. Ibn Taimiyah berkata, “Hadits-hadits yang menerangkan bahwa orang yang dalam kubur itu ditanya dan diuji dan perlu di doakan adalah sangat kuat. Oleh sebab itu talqin berguna baginya, sebab mayat itu dapat mendengar seruan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shohih:

      “Sesungguhnya Nabi SAW. Bersabda: “Sesungguhnya mayat dalam kubur itu mendengar gesekan sandal-sandal kamu semua.”

      Sementara itu, dalam hadits yang lain disebutkan:

      “Sesungguhnya beliau bersabda: “kamu semua tidaklah lebih mendengar apa yang kau ucapkan daripada mereka.”

      Balas

  4. Posted by سراج on 15 Maret 2011 at 10:35 pm

    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
    1. Refrensi yang antm baca tentang Al mujaddid Muhammad bin Abdul wahhab, adalah dari penentang beliau yaitu Ahmad dahlan, coba anda baca literatur2 yang lain,,biar tidak sepihak..!!!
    Kitab Adduraru assaniyyah firrod alwaabiyah karya Ahmad dahlan telah di bantah dengan kitab siyanatul insan ‘an waswasati syaikh ahmad dahlan, karya Syaikh Muhammad Basyir assahsawany,,..beliau mengatakan bahwa Ahmad Dahlan Menulis kitab bantahan terhadap syaikh Muhammad bin Abdil wahhab,,di atas kedustaan terhadap syaikh muhammd bin abdulwahhab dan di atas kebodohan…
    Dan Ahmad Dahlan terkenal di antara para ulama dengan Syaikhul kazib ( syaikhnya para pendusta),,akan tetapi anda mengatakan Ahmad dahlan itu mufti makkah,,ya munkin mufti,,tapi mufti dalam kesesatan!!!
    2. Anda mengatakan syaikh Al-albani bukan ulama, lalu siapa anda di bandingkan dengan syaikh Al-albani??? Telah banyak pujian dari para ulama mengenai beliau, di antaranya:
    • Syaikh Abdul Aziz bin baz Mengatakan:
    ما رأيت تحت أديم السماء عالماً بالحديث في العصر الحديث مثل العّلامة محمد ناصر الدين الألباني
    aku tidak pernah melihat di bwah kolong langit ini yang lebih pintar dan ‘alim yentang hadist pada zaman ini kecuali Al’allamah syaikh Muhammad Nashiruddin Al-albani.( الإعلام بآخر أحكام الألباني الإمام, للشيخ محمد كمال السيوطي, الجذء 2, الصفحة 1)

    • Syaikh Muhammad bin sholeh Al-utsaimin mengatakan:
    فالذي عرفته عن الشيخ من خلال اجتماعي به – و هو قليل -، أنه حريص جداً على العمل بالسنّة، و محاربة البدعة، سواءً أكانت في العقيدة أم في العمل، أما من خلال قراءتي لمؤلفاته فقد عرفت عنه ذلك، و أنه ذو علم جمّ في الحديث، رواية و دراية، و أن الله – تعالى – قد نفع فيما كتبه كثيراً من الناس، من حيث العلم و من حيث المنهاج و الاتجاه إلى علم الحديث، و هذه ثمرة كبيرة للمسلمين و لله الحمد. الإعلام بآخر أحكام الألباني الإمام, للشيخ محمد كمال السيوطي, الجذء 2, الصفحة 1)

    Yang saya ketahui tentang syaikh Al-albani dari pertemuan saya dengan beliau, beliau adalah seorang yang semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah nabi shallallahu’alaihiwasallam, dan sangat memerangi yang namanya bid’ah, dalam masalah aqidah atau amalan, dan yang saya ketahui tentang beliau dari tulisan2 beliau, beliau memiliki ilmu yang luas dan banyak dalam ilmu hadist, dari sisi riwayat dan diroyatnya, dan dengan tulisan beliau tersebut telah memberikan banyak kemanfaatan terhadap kaum muslimin, dari sisi ilmu, manhaj, dan ilmu hadist, dan ini adalah keutamaan sangat besar bagi kaum muslimin.
    • Syaikh Muhammad asy sanqithi, syaikh abdul aziz menceritakan tentang syaikh Al-albani, bahwasanya apabila syaikh Al-albani lewat dari majlisnya syaikh Muhammad asy syanqity,, beliau Syaikh Asy syanqithi memutuskan pelajarannya di alharam dan menyalami beliau, sebagai penghormatan kepada syaikh Al-albani.
    3. Mengenai Imam syafi’I, beliau memang pernah mengatakan bahwa bid’ah di bagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sai’ah..
    Saya jawab:
    a. Mana lebih anda utamakan imam syafi’I atau Rasulallah,!!! Rasulallah telah jelas mengatakan bahwa,,kullu bid’atin dholalah Wakulla dholalatin finnar,,bawasanya semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka!!
    Imam syafi’I pernah mengatakan dalam al’um(II/248) :
    واذا ثبت الخبر عن النبي صلي الله عليه وسلم: لم يجذ تركه لشيئ
    Apabila telah shahih hadist dari nabi, maka tidak boleh untuk di tinggalkan karena sebab apaun juga.
    b. Imam syafi’I membagi bid’ah tersebut dengan dalil perkataan umar, yaitu ni’matu bid’ah hzdihi,,,para ulama menjelaskan bahwa bid’ah yang di maksud dalam perkataan umar tersebut adalah bid’ah dari segi bahasa…bukan dari segi syara’…jadi perkataan imam syafi’I tentang bid’ah hasanah itu maksudnya bid’ah dari segi bahasa,,anda bisa lihat Jami’ul ulum wal hikam karya syaikh Ibnu rajab…
    c. Pembagian bid’ah yang anda kemukakan menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sai’ah adalah suatu yang bid’ah, tidak ada dalil dari Alqur’an dan sunnah yang menguat pembagian bid’ah seperti itu…
    1- قال الشاطبي : ( إن هذا التقسيم – تقسيم البدعة خمسة أقسام – أمر مخترع لا يدل عليه دليل شرعي بل هو في نفسه متدافع لأن من حقيقة البدعة أن لا يدل عليها دليل شرعي لا من نصوص الشرع ولا من قواعده إذ لو كان هنالك ما يدل من الشرع على وجوب أو ندب أو إباحة لما كان ثمَّ بدعة وكان العمل داخلاً في عموم الأعمال المأمور بها أو المخير فيها … ) [الاعتصام 1/191-192]
    قول الرسول صلى الله عليه و سلم : <> 2- كلية عامة شاملة مسوَّرة بأقوى
    أدوات الشمول والعموم ” كل ” والذي نطق بهذه الكلية وهو الرسول صلى الله عليه و سلم يعلم مدلول هذا اللفظ وهو أفصح الخلق
    وأنصح الخلق للخلق لا يتلفظ إلا بشيء يقصد معناه [الإبداع في كمال الشرع ص 18]

    4. Bid’ah di artikan:
    • Menurut Bahasa: seperti mobil, pesawat, mikrofon computer, dan lain-lainya,,hukumnya boleh
    • Menurut Syara’: segala peribadatan yang tidak pernah di contohkan oleh Rasulallah dan para sahabatnya,,,hukumnya tidak boleh diamalkan..berdasarkan hadist Aisyah:
    من أحدث في أمرنا هذا ماليس منه فهو رد))
    Barangsiapa yang membuat suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan tersebut akan tertolak ( HR Muslim, no 2697)
    (من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد)
    Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahualahiwasallam maka amalan tersebut tertolak ( HR bukhari 7349)
    5. Bermacam tuduhan yang anda lontarkan kepada ulama Ahlussunnah, seprti kepada imam Ahmad…jika anda tuduhan itu benar,,mana bukti dan sanad cerita tersebut,,,ataukah anda yang telah mengarang2…!!
    Kita beragama bukan mengikuti pendapat yang salah ya akhi…
    Siapapun yang menyelisihi hadist yang shohih maka harus ditinggalkan!!..apakah anda mempunyai prinsip dalam beragama??!!
    6. Adapun talkin setelah mati itu tidak pernah di syareatkan,,,tidak ada dalil yang shohih tentang itu,,,semua dalil yang menunjukkan sunnahnya talkin setelah mati adalah maudhu’…
    Fatwa syaikh Abdul Aziz bin baz seorang mufti ‘am dalam majmu’ fatawanya mengatakan, ketika beliau di Tanya tentang talkin setelah mati:
    بدعة وليس له أصل، فلا يلقن بعد الموت وقد ورد في ذلك أحاديث موضوعة ليس لها أصل، وإنما التلقين يكون قبل الموت
    Itu adalah bid’ah tidak ada dasarnya, maka tidak boleh mentalkin setelah mati, telah banyak hadist2 maudhu’ yang membolehkan talkin setelah mati..maka talkin yang benar adalah setelah mati..(fatawa bin baz jilid 14).
    Adapun alas an yang anda kemukakan tentang bahwasanya yang mati bias mendengar suara kaki yang mengantarnya, itu:
    1. Alas an tersebut tidak tepat, karena jika amalan tersebut di syareatkan maka Rasulallallah telah memerintahkannya, dan para sahabat telah melakukannya..tidak ada dalil yang menganjurkan perbuatan tersebut, karena si mayat mendengar suara sandal2 itu tidak bias memberikannya manfaat atau mudharat,,,kalau bisa,,mana dalil yang jelas menjelaskan perkara tersebut???tidak ada dalil sedikitpun yang memerintahkan untuk mentalkin si mayat karena dia bisa mendengar suara kaki,,ini qiyas yang bathil!!!
    Syaikh bin baz juga berkata ketika ditanya: tentang masalah tersebut, beliau berkata:
    الأمور ليست بالقياس وإنما العبادة توقيفية، وسماع قرع النعال لا ينفعه ولا يضره، والميت إذا مات انتقل من الدنيا دار العمل وختم على عمله وانتقل إلى دار الجزاء.
    Perkara tersebut tidak cocok untuk diqias, akan tetapi ibadah adalah tauqifiyah,,yang harus ada sumbernya/dalilnya, adapun si mayat bisa mendengar suara kaki-kaki yang mengantarnya, itu tidak bisa memberikan manfaat atau mudhorat kepada si mayat, karena si mayat kalau sudah mati, maka dia berpindah dari dunia sebagai tempat beramal ke akhirat yaitu hari pembalasan.(majmu’ fatawa jilid 13).
    2. Karena talkin sebelum mati bermanfaat, karena diarapkan dia bisa mengakhiri dengan mengucapkan kalimat Lailahaillallah..sebagai mana hadist yang shohih, hadist mu’az bin jabal, Rasulallah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
    مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
    Barangsiapa yang akhir kalimatnya di dunia Lailaahaillallah maka niscaya dia akan masuk surge ( HR Bukhori, no 3118)

    7. Ibnu taimiyah tidak pernah dengan jelas menganjurkan talkin setelah mati, beliau menjelaskan secara gelobal tentang bahwasanya mayat bisa mendengar suara sandal-sandal orang yang mengantarkannya,,ya akhi cara mengambil kesimplan dan berdalil anda itu salah,,,anda harus tempatkan mana dalil yang masih umum dan mana dalil yang khusus…

    Balas

    • Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      1. Bantahan terhadap Muhammad ibn Abdul Wahhab tidak hanya dari Syaich Zaini Dahlan (jangan lupa beliau adalah Mufti Madzhab Syafi’i di
      Makkah al Mukarramah, banyak ulama’ ahlussunnah wal jama’ah lainnya seperti:
      a. Mufti Madzhab Hanbali di Makkah al Mukarramah Syekh Muhammad ibn Abdullah ibn Humaid (W. 1295 H) dalam kitabnya as-Suhub al Wabilah ‘Ala Dlara-ih al Hanabilah. (Beliau bermadzhabkan Hanbali).
      b. Syekh Ibn ‘Abidin al Hanafi (W. 1252 H) dalam Hasyiyahnya. (Beliau bermadzhabkan Hanafi).
      c. Syekh Ahmad ash-Shawi al Maliki (W. 1241 H) dalam kitabnya Hasyiyah ‘Ala Tafsir al Jalalain. (Beliau bermadzhabkan Maliki).

      2. Memang demikianlah adanya, tidak ada satupun dari ulama’ ahlussunnah wal jamaah yang menyatakan bahwa beliau muhaddits. Tentu saja mereka-mereka yang dari golongan Wahhabiyyiin akan membela dan mendukung Albani seperti: Abdul Aziz ibn Baaz, Muhammad ibn Sholeh Al-utsaimin, dan yang sefaham dengan Albani.

      3. a. Anda mencoba membandingkan Imam Syafii dan Rasulullah?
      Kalau begitu saya juga boleh dong bilang begini: Mana yang Anda lebih utamakan Muhammad ibn Abdul Wahhab atau Rasulullah?

      Di dalam mempelajari dan mengamalkan diinul Islam hendaknya mengikuti Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyaas dari ulama’-ulama’ ahlussunnah yang mu’tabaar yang bersanad yang insya’ Alloh mereka lebih menguasai ilmu diinul Islam dari pada orang-orang zaman sekarang.

      Ucapan Imam Syafii rahimahullah: “Apabila telah shahih hadist dari nabi, maka tidak boleh untuk di tinggalkan karena sebab apapun juga.” itu betul, tetapi antum lupa, bahwa tidak semua orang mampu secara individu memahami hadits secara kaffah, mereka membutuhkan ulama’ untuk menjelaskan hadits sesuai dengan yang diinginkan Rasulullah. Jadi tidak mungkin seorang Imam Syafii rahimahullah menjelaskan tentang bab bid’ah tetapi bertentangan dengan syariat diinul Islam.

      b. Menurut antum, hadits Kullu bid’atun dholaalatun tersebut tidak perlu ditakhsis? Wah, bisa-bisa kacau kalau hadits tersebut tidak dilakukan takhsis. Maka dari itulah Imam Syafii rahimahullah melakukan takhsis bid’ah menjadi 2, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.

      Antum di awal mengutip sabda Nabi, kullu bid’atin dholalah Wakulla dholalatin finnar, bawasanya semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.
      Hal ini sepintas antum memahami hadits tsb bahwa tidak boleh ada takhsis terhadao bid’ah.

      Kemudian, selanjutnya antum mengatakan: “Imam syafi’i membagi bid’ah tersebut dengan dalil perkataan umar, yaitu ni’matu bid’ah hadzihi,,,para ulama menjelaskan bahwa bid’ah yang di maksud dalam perkataan umar tersebut adalah bid’ah dari segi bahasa…bukan dari segi syara’…jadi perkataan imam syafi’I tentang bid’ah hasanah itu maksudnya bid’ah dari segi bahasa,,anda bisa lihat Jami’ul ulum wal hikam karya syaikh Ibnu rajab…”

      Ternyata antum mengikuti pendapat ulama yang membagi bidah menjadi bid’ah secara bahasa? bukankah ini juga bertentangan dengan hadits yang antum kutip diatas, bahwa “Kullu bid’atin dholaalatun, wa kulla dholaalatin finnaar” ?

      c. Siapa bilang Pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah itu adalah bid’ah juga? Berarti secara tidak langsung antum menuduh Imaam Syafii rahimahullah adalah ahlul bid’ah. Karena yang menjelaskan bid’ah itu terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah al-Imaam Syafii rahimahullah, yang insya’ Alloh kualitas keluasan ilmu diinul-Islaamnya sudah diakui seluruh ulama’ ahlussunnah wal jamaah.

      4. Ternyata pada poin ini, antum melakukan pembagian bid’ah menjadi 2: bidah secara bahasa dan bidah syara’. Dan hal ini tidak ada dalil dari Al Quran dan As-sunnah yang menyebutkan pembagian seperti ini.

      5. Itu bukan tuduhan dan fitnah saudaraku, “Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).

      Disitu Imam Baihaqi mengarang Kitab Manaqib Al-Imam Syafi’i dan mencantumkan doa Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah seperti itu. Dan tentu saja, isi doa imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah tersebut tidak diajarkan oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bukan?

      6. Golongan wahabi menyamakan hadits dhoif dengan hadits maudhu, bahkan menjadikan derajat hadits dhoif menjadi hadits maudhu’. Sudah jelas diterangkan bahwasanya hadits dari abu umamah tersebut marfu’ sehingga dihukumi dhoif, dan hadits dhoif tidak bisa dikategorikan hadits palsu (maudhu’). Ibn Taimiyyah sendiripun juga mengakui bahwa amalan talqin ini adalah amalan sebagian dari Shohabat Nabi:

      Berikut ini adalah fatwa ibn taimiyyah mengenai masalah talqin (Lihat Majmu’ Fatawa, juz 24, hal: 299):

      Ibnu Taimiyah dalam fatwa-fatwanya menjelaskan, sesungguhnya talqin sebagaimana tersebut diatas benar-benar dari sekelompok sahabat Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam. Bahwa mereka menganjurkan talqin. Diantara mereka adalah Abu Umamah ra. Ibn Taimiyah berkata, “Hadits-hadits yang menerangkan bahwa orang yang dalam kubur itu ditanya dan diuji dan perlu di doakan adalah sangat kuat. Oleh sebab itu talqin berguna baginya, sebab mayat itu dapat mendengar seruan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shohih:

      “Sesungguhnya Nabi SAW. Bersabda: “Sesungguhnya mayat dalam kubur itu mendengar gesekan sandal-sandal kamu semua.”

      Sementara itu, dalam hadits yang lain disebutkan:

      “Sesungguhnya beliau bersabda: “kamu semua tidaklah lebih mendengar apa yang kau ucapkan daripada mereka.”

      Kesimpulannya Fatwa ibn taimiyyah tersebut adalah JUSTRU BERSIFAT MENGANJURKAN AMALAN TALQIN INI.

      Balas

    • Posted by ibu dyah on 16 April 2012 at 6:19 pm

      Ada yg ketinggalan akhi…
      Ibnu Taymimah jg melakukan bid’ah dg baca alfatihah selepas sholat subuh hingga matahari meninggi belum anda kupas. Berarti Ibnu Taymimah melakukan bid’ah juga…

      Balas

  5. Posted by سراج on 19 Maret 2011 at 9:13 pm

    1. Ahmad dahlan di katakan mufti oleh kalangan ahlul bid’ah,,dan ulama-ulama sufy yang sesat menyesatkan dari aqidah Ahlussunnah wal-jama’ah.
    2. ya akhi,,siapa anda di bandingkan syaikh Albani,,para ulama sedunia telah mengakui beliau sebagai ulama, muahddist,,kecuali dari para ahlul bid’ah dan kesesatan yang membenci beliau!!!
    3. benar,,kita harus lebih mengutamakan Rasulallah,,dari perkataan ulama,,walupun syaikh Muhammad bin Abdul wahhab,,karena syaikh Muhammad bin abdul wahhab manusia,,!!ketika beliau salah dalam berijthad, maka haram bagi kita untuk mengikutinya,,kalau ada pendapat ulama yang lebih rojeh,,bukan kayak anda yang selalu takliq buta kepada seseorang yang kazzab( pendusta),,seperti ahmad dalan…
    4. ya akhi,,ana bukan menuduh Imam Syafi’i menganjurkan bid’ah..tapi banyak dari perkataan atau ijtihad beliau yang salah, yang menyelisihi hadist shohih,,knp??karena hadist shohih tersebut blum nyampe kepda beliau,,dan ijthad beliau mendapatkan pahala,,selama ijtihad dalam masalah fiqih ibadah…
    dan begitu juga imam madzhab yang lainnya,,semua pasti memiliki kesalahan ya akhi,,
    makanya imam syafi’i mengharamkan bagi siapa saja yang mengambil perkataan beliau tanpa ada dalil yng shohih yang menguatkan perkataan beliau…
    5. mengenai bid’ah,,,semua istilah itu di artikan ada yang menurut bahasa ada yang menurut isthilah,,,ini ma’ruf ya akhi..sebagai mana puasa, kalau menurut bahasa menahan diri dari sesuatu,,kalau menurut isthilah,,puasa adalah suatu keperibadatan yang diniatkan Allah dengan menahan segala yang membatalkannya dari terbit matahari sehingga terbenamnya dengan niat..begitu jga bid’ah,,menurut bahasa artinya suatu yang baru,,seperti mobil, dan lainnya,,tapi menurut istilah atau syara’ adalah semua keperibadatan yang tidak pernah di contohkan oleh nabi shallallahualaihi wasallam.
    6.ana kan sudah jelasin,,bahwa yang di maksudkan oleh Imam syafi’i tentang bid’ah hasanah adalah bid’ah menurut bahasa,,para ulama menjelaskan masalah ini dengan detil,,
    antm bisa baca:
    1. أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة
    حافظ بن أحمد الحكمي ، تحقيق حازم القاضي
    2. مختصر معارج القبول
    أبو عاصم هشام بن عبد القادر بن محمد آل عقدة
    3. نور السنة وظلمات البدعة
    سعيد بن وهف القهطاني
    4. أمثلة لبدع العقائد والعبادات
    dan masih banyak lagi,,seperti al’i’tisham dan usul bida’…
    6. ya akhi,,kedustaan dari mana anda mengatakan bahwa waahbi itu menyamakan hadist do’if dan maudhu’…anda terlalu meluas dalam membantah,,,anda timbulkan permasalahan2 yang baru..
    hadist dhoif dan hadist maudhu’ tidak boleh di jadikan hujjah ya akhi,,,dan tidak boleh d amalkan,,walaupun hadist tentang fadhoil ‘amal..ini pendapat sebagian para ulama,,dan sebagiannya lagi ada yang membolehkan,,dengan syarat;
    1, hadist tersebut tidak dhoif sekali
    2. yang mengamalkan hadist tersebut, tau bahwa hadist tersebut dhoif,,yaitu tidak berhukum dengannya
    3. tidak boleh meyebarluaskan hadist tersebut
    syarat2 ini di jelaskan oleh alhafiz ibnu hajar,,dan banyak dari para ulama yang menjelaskannya..
    ini penjelasannaya:
    أن العلماء والفقهاء والمحدثين اختلفوا في رواية الحديث الضعيف والعمل به في فضائل الأعمال على قولان :

    القول الأول : ((أنه لا يُعمل بالحديث الضعيف مُطلقاً ، لا في الأحكام والعقائد ولا في فضائل الأعمال)) …
    وممن قال بذالك ((الإمام البخاري ، والإمام مسلم ، والإمام أبو زكريا النيسابوري ، والإمام أبو زرعة الرازي ، والإمام أبو حاتم الرازي ، والإمام إبن أبي حاتم الرازي ، والإمام إبن حِبان ، والإمام أبو سليمان الخطابي ، والإمام إبن حزم الظاهري ، والإمام أبو بكر بن العربي ، وشيخ الإسلام إبن تيمية ، والإمام أبو شامة المقدسي ، والإمام جلال الدين الدواني ، والإمام الشوكاني ، وأختار هذا القول العلامة جمال الدين القاسمي ، والعلامة حسن صديق خان ، والمُحدث أحمد شاكر ، والمحدث الألباني ، والمحدث مقبل بن هادي الوادعي)) .
    قال الإمام مسلم بن الحجاج ”وإنما ألزموا أنفسهم الكشف عن معايب رواة الحديث ، وناقلي الأخبار ، وأفتوا بذالك لما فيه من عظيم الخطر ، إذ الأخبار في أمر الدين إنما تأتي بتحليل أو تحريم أو أمر أو نهي أو ترغيب أو ترهيب“ [مُقدمة صحيح مسلم (1/28)] .
    وقال الحافظ إبن رجب الحنبلي ”وظاهر ما ذكره مسلم في مقدمته (يعني الصحيح) يقتضي أنه لا تُروى أحاديث الترغيب والترهيب إلا ممن تُروى عنه الأحكام“ [شرح علل الترمذي (2/112)] .
    وقال الإمام إبن العربي ”لا يجوز العمل بالحديث الضعيف مُطلقاً لا في فضائل الأعمال ولا في غيرها“ [تدريب الراوي (1/252)] .
    وقال الإمام إبن الجوزي ”إن قوماً منهم القصاص كانوا يضعون أحاديث الترغيب والترهيب ، ولبَسَ عليهم إبليس بأننا نقصد حث الناس على الخير وكفهم عن الشر ، وهذا إفتأت منهم على الشريعة ؛ لأنها عندهم على هذا الفعل ناقصة تحتاج إلى تتمة ، ثم نسوا قوله r (مَن كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوأ مقعدَه من النار)“ [تلبيس إبليس (ص124)] .
    وقال شيخ الإسلام إبن تيمية ”ولا يجوز أن يُعتمد في الشريعة على الأحاديث الضعيفة التي ليست صحيحة ولا حسنة“ [القاعد الجليلة في التوسل والوسيلة (ص82)] .
    وقال أيضاً ”ولم يقل أحد الأئمة أنه يجوز أن يجعل الشيء واجباً أو مُستحباً بحديث ضعيف ، ومن قال هذا فقد خالف الإجماع“ [مجموع الفتاوى (1/250)] .
    وقال العلامة اللكنوي ”ويُحرم التساهل في (الحديث الضعيف) سواءً كان في الأحكام أو القصص أو الترغيب أو الترهيب أو غير ذالك“ [الآثار المرفوعة في الأخبار الموضوعة (ص21)] .
    وقال العلامة جمال الدين القاسمي ”إعلم أنَّ هناك جماعة من الأئمة لا يرونَ العمل بالحديث الضعيف مُطلقاً كابن معين والبخاري ومسلم وأبي بكر بن العربي وإبن حزم“ [قواعد التحديث (ص113)] .
    وقال العلامة حبيب الرحمن الأعظمي ”ولكن الحديث قدرَ ما كان بعيداً عن وسمة الضعف ، ونقياً من شائبة الوهم ، كان أشدُ وقعاً في القلوب وتأثيراً في النفوس لزيادة الثقة به ، واطمئنان النفس إليه“ [مُقدمة مختصر الترغيب والترهيب (ص06)] .
    وقال المُحدث أحمد شاكر ”والذي أراه أنَّ بيان الضعف في الحديث واجب على كل حال ، ولا فرق بين الأحكام وبين فضائل الأعمال ونحوها في عدم الأخذ بالرواية الضعيفة ، بل لا حُجة لأحد إلا بما صح عن رسول الله من حديث صحيح أو حسن“ [الباعث الحثيث (ص101)] .
    وهذا القول إختاره المحدث محمد ناصر الدين الألباني [أنظر صحيح الترغيب والترهيب (1/47)] .
    وقال رحمه الله ”العمل بالضعيف فيه خلاف عند العلماء ، والذي أُدينُ الله به ، وأدعوا الناس إليه ، أنَّ الحديث الضعيف لا يُعمل به مُطلقاً لا في الفضائل ولا المُستحبات ولا غيرها“ [صحيح الجامع الصغير وزيادته (1/49)] .
    وقال أيضاً ”وخُلاصة القول أنَّ العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال لا يجوز القول به على التفسير المرجوح هو لا أصل له ، ولا دليل عليه“ [تمام المنة (ص38)] .
    وقال أيضاً ”فلا يجوز العمل بالحديث الضعيف لأنه تشريع ، ولا يجوز بالحديث الضعيف لأنه لا يُفيد إلا الظن المرجوح إتفاقاً ؛ فكيف يجوز العمل بعلته“ [سلسلة الأحاديث الضعيفة (2/52)] .
    وقال المحدث مُقبل بن هادي الوادعي ”والعلماء الذين فصلوا بين الحديث الضعيف في فضائل الأعمال وبينه في الأحكام والعقائد ، يقول الإمام الشوكاني رحمه الله في كتابه (الفوائد المجموعة) : ((إنه شرع ، ومن أدعى التفصيل فعليه بالبرهان)) ، والأمر كما يقول الشوكاني رحمه الله ، والنبي r يقول ((من حدَّثَ عني بحديث يرى أنه كذِّب فهو أحد الكذابين))“ [المقترح في أجوبة أسئلة المصطلح (السؤال 213)(ص108)] .

    القول الثاني : ((أنه لا يُعمل بالحديث الضعيف في الأحكام والعقائد ، ولكن يُعمل به في فضائل لأعمال والترغيب والترهيب بشروط إعتمدها الأئمة الثقات)) …
    وممن قال بذالك ((الحافظ إبن حجر العسقلاني ، والإمام النووي ، والإمام إبن جماعة ، والإمام الطيبي ، والإمام سراج الدين البفيني ، والحافظ زين الدين أبو الفضل العراقي ، والإمام إبن دقيق العيد ، والحافظ إبن حجر الهيتمي ، والإمام إبن الهمام ، والإمام إبن علان ، والإمام الصنعاني ، واختار هذا القول الشيخ بن باز ، والشيخ صالح اللحيدان ، والشيخ صالح الفوزان ، والشيخ عبدالعزيز آل الشيخ ، والشيخ صالح آل الشيخ ، والشيخ علي حسن الحلبي))
    وهذه الشروط التي وضعها المُحدثين لرواية الحديث الضعيف والعمل به في فضائل الأعمال لخصها الحافظ إبن حجر العسقلاني في ثلاث شروط كما في تبين العجب (ص03) .
    أولاً : أن لا يكون الحديث الضعيف موضوعاً .
    ثانياً : أن يعرف العامل به كون الحديث ضعيفاً .
    ثالثاً : أن لا يُشهر العمل به .
    وقد صرَّح بمعنى ذالك الأستاذ أبو محمد بن عبدالسلام وغيره … [تبين العجب (ص04)] .
    وممن نقل ذالك عن الحافظ إبن حجر العسقلاني ، الحافظ السخاوي في كتابه القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع (ص195) .
    وقال الحافظ السخاوي ”وممن اختاروا ذالك أيضاً إبن عبدالسلام وإبن دقيق العيد“ [القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع (ص195)] .
    وقال الحافظ إبن حجر العسقلاني ”تجوز رواية الحديث الضعيف إن كان بهذا الشرطين : ألا يكون فيه حكم ، وأن تشهد له الأصول“ [الإصابة في تميز الصحابة (5/690)] .
    وقال الإمام إبن علان ”ويبقى للعمل بالضعيف شرطان : أن يكون له أصل شاهد لذالك كاندراجه في عموم أو قاعدة كلية ، وأن لا يُعتقد عند العمل به ثبوته بل يُعتقد الاحتياط“ [الفتوحات الربانية (1/84)] .
    وقال الحافظ إبن حجر العسقلاني ”ولا فرق في العمل بالحديث الضعيف في الأحكام أو الفضائل إذ الكُّل شُرع“ [تبين العجب (ص04)] .
    وقال الإمام الصنعاني ”الأحاديث الواهية جوزوا أي أئمة الحديث التساهل فيه ، وروايته من غير بيان لِضعفه إذا كان وارداً في غير الأحكام وذالك كالفضائل والقصص والوعظ وسائر فنون الترغيب والترهيب“ [توضيح الأفكار لمعاني تنقيح الأنظار (2/238)] .
    وقال العلامة إبراهيم بن موسى الأبناسي ”الأحاديث الضعيفة التي يُحتمل صِدقها في الباطن حيث جاز روايتها في الترغيب والترهيب“ [الشذ الفياح من علوم إبن صلاح (1/223)] .
    وقال العلامة طاهر الجزائري الدمشقي ”الظاهر أنه يلزم بيان ضِعف الضعيف الوارد في الفضائل ونحوها كي لا يُعتقد ثبوته في نفس الأمر ، مع أنه رُبما كان غير ثابت في نفس الأمر“ [توجيه النظر إلى أصول الأثر (2/238)] .
    وقال العلامة علي القاري ”الأعمال التي تثبت مشروعيتها بما تقوم الحجة به شرعاً ، ويكون معه حديث ضعيف ففي مثل هذا يُعمل به في فضائل الأعمال ؛ لأنه ليس فيه تشريع ذالك العمل به ، وإنما فيه بيان فضل خاص يُرجى أن يناله العامل به“ [المرقاة (2/381)] .
    وقال العلامة حبيب الرحمن الأعظمي ”والضعيف من الحديث وإن كان قبولاً في فضائل الأعمال ، ولابأس بإيراده فيها عند العلماء“ [مقدمة مختصر الترغيب والترهيب (ص06)] .
    وقال الإمام إبن الهمام في كتاب الجنائز من فتح القدير ”الاستحباب يثبت بالضعيف غير الموضوع“
    وقال الإمام إبن حجر الهيتمي في الفتح المبين ”أتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال لأنه إن كان صحيحاً في نفس الأمر فقد أُعطي حقه من العمل به“
    وقال العلامة الشيخ صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ سدده الله ”أما في فضائل الأعمال فيجوز أن يستشهد بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال وأن يذكر لأجل ترغيب الناس في الخير، وهذا هو المنقول عن أئمة الحديث وأئمة السلف“ [محاضرة بعنوان وصايا عامة (الوجه الثاني)] .
    وقال الشيخ الدكتور محمود الطحان سدده الله ”يجوز عند أهل الحديث وغيرهم رواية الأحاديث الضعيفة والتساهل في أسانيدها من غير بيان لِضعفها في مثل المواعظ والترغيب والترهيب والقصص وما أشبه ذالك“ [تيسير مصطلح الحديث (ص65)] .

    الــراجح من أقوال أهل العلم :

    قال الشيخ الدكتور عبدالكريم الخضير سدده الله في كتابه (الحديث الضعيف وحكم الاحتجاج به) بعد ذكر الخلاف في هذه المسألة ”ومن خلال ما تقدم يترجح عدم الأخذ بالحديث الضعيف مُطلقاً لا في الأحكام ولا في غيرها لما يلي :
    أولاً : لإتفاق علماء الحديث على تسمية الضعيف بالمردود .
    ثانياً : لأن الضعيف لا يُفيد إلا الظن المرجوح ، والظن لا يُغني من الحق شيأً .
    ثالثاً : لِما ترتب على تجويز الاحتجاج به من تركٍ للبحث عن الأحاديث الصحيحة والاكتفاء بالضعيفة
    رابعاً : لِما ترتب عليه نشؤ البدع والخُرفات والبعد عن المنهج الصحيح“
    وقال العلامة الشيخ إبن عثيمين في شرح البيقونية ”والحمدُّ لله فإن في القرآن الكريم والسنة المُطهرة الصحيحة ما يُغني عن هذه الأحاديث“
    وقال المحدث مقبل بن هادي الوادعي ”فالحديث الضعيف لا يُحتاج إليه وفي الصحيح من سنة رسول الله ما يُغني عن الضعيف“ [المقترح في أجوبة أسئلة المصطلح (السؤال 213)]
    وقال أيضاً ”ثم إن هؤلاء اللذين يقولون يُعمل به خصوصاً من المُعاصرين تجِدُه لا يعرف الحديث الضعيف ، ولا يدْري لماذا ضُعف“ [المقترح في أجوبة أسئلة المصطلح (السؤال 213)] .
    وقال الشيخ الدكتور سعيد بن وهف القحطاني سدده الله ”الراجح من أقوال أهل العلم بطلان العمل بالحديث الضعيف لا في فضائل الأعمال ولا في غيرها“ [مقدمة حصن المسلم (ص06)] .

    Balas

    • Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      1. Syaich Ahmad ibn Zaini Dahlan bukanlah satu-satunya Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah yang berusaha meluruskan dan menolak doktrin-doktrin dari Muhammad ibn Abdul Wahhab. Masih banyak lagi ulama’-ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dari berbagai Madzhab yang menolak ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab, berikut ini daftar Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menolak dan mengkritik ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab:

      1. Ithâf al-Kirâm Fî Jawâz at-Tawassul Wa al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ’ al-Kirâm karya asy-Syaikh Muhammad asy-Syadi. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al-Kittaniyyah di Rabath pada nomor 1143
      2. Ithâf Ahl az-Zamân Bi Akhbâr Mulûk Tûnus Wa ‘Ahd al-Amân karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abi adl-Dliyaf, telah diterbitkan
      3. Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani (w 1362 H).
      4. Ajwibah Fî Zayârah al-Qubûr karya asy-Syaikh al-Idrus. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al-‘Ammah di Rabath pada nomor 4/2577.
      5. al-Ajwibah an-Najdiyyah ‘An al-As-ilah an-Najdiyyah karya Abu al-Aun Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Salim an-Nabulsi al-Hanbali yang dikenal dengan sebutan Ibn as-Sifarayini (w 1188 H).
      6. al-Ajwibah an-Nu’mâniyyah ‘An al-As-ilah al-Hindiyyah Fî al-‘Aqâ-id karya Nu’man ibn Mahmud Khairuddin yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Alusi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1317 H).
      7. Ihyâ’ al-Maqbûr Min Adillah Istihbâb Binâ’ al-Masâjid Wa al-Qubab ‘Alâ al-Qubûr karya al-Imâm al-Hâfizh as-Sayyid Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari (w 1380 H).
      8. Al-Ishâbah Fî Nushrah al-Khulafâ’ ar-Rasyidîn karya asy-Syaikh Hamdi Juwaijati ad-Damasyqi.
      9. al-Ushûl al-Arba’ah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah karya Muhammad Hasan Shahib as-Sarhandi al-Mujaddidi (w 1346 H), telah diterbitkan.
      10. Izh-hâr al-‘Uqûq Min Man Mana’a at-Tawassul Bi an-Nabiyy Wa al-Walyy ash-Shadûq karya asy-Syaikh al-Musyrifi al-Maliki al-Jaza-iri.
      11. al-Aqwâl as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Mudda’i Nushrah as-Sunnah al-Muhammadiyyah disusun oleh Ibrahim Syahatah ash-Shiddiqi dari pelajaran-pelajaran al-Muhaddits as-Sayyid Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari, telah diterbitkan.
      12. al-Aqwâl al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya ahli fiqih terkemuka asy-Syaikh Atha al-Kasam ad-Damasyqi al-Hanafi, telah diterbitkan.
      13. al-Intishâr Li al-Awliyâ’ al-Abrâr karya al-Muhaddits asy-Syaikh Thahir Sunbul al-Hanafi.
      14. al-Awrâq al-Baghdâdiyyah Fî al-Jawâbât an-Najdiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi ar-Rifa’i. Pemimpin tarekat ar-Rifa’iyyah di Baghdad, telah diterbitkan.
      15. al-Barâ-ah Min al-Ikhtilâf Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl asy-Syiqâq Wa an-Nifâq Wa ar-Radd ‘Alâ al-Firqah al-Wahhâbiyyah adl-Dlâllah karya asy-Syaikh Ali Zain al-Abidin as-Sudani, telah diterbitkan.
      16. al-Barâhîn as-Sâthi’ah Fî ar-Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ’i-ah karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.
      17. al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Maqâbir karya asy-Syaikh Hamdullah ad-Dajwi al-Hanafi al-Hindi, telah diterbitkan.
      18. Târîkh al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ayyub Shabri Basya ar-Rumi, penulis kitab Mir-âh al-Haramain.
      19. Tabarruk ash-Shahâbah Bi Âtsâr Rasulillâh karya asy-Syaikh Muhammad Thahir ibn Abdillah al-Kurdi. Telah diterbitkan.
      20. Tabyîn al-Haqq Wa ash-Shawâb Bi ar-Radd ‘Alâ Atbâ’ Ibn Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Taufiq Sauqiyah ad-Damasyqi (w 1380 H), telah diterbitkan di Damaskus.
      21. Tajrîd Sayf al-Jihâd Li Mudda’î al-Ijtihâd karya asy-Syaikh Abdullah ibn Abd al-Lathif asy-Syafi’i. Beliau adalah guru dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri, dan beliau telah membantah seluruh ajaran Wahhabiyyah di saat hidupnya Muhammad ibn Abd al-Wahhab.
      22. Tahdzîr al-Khalaf Min Makhâzî Ad’iyâ’ as-Salaf karya al-Imâm al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.
      23. at-Tahrîrât ar-Râ-iqah karya asy-Syaikh Muhammad an-Nafilati al-Hanafi, mufti Quds Palestina, telah diterbitkan.
      24. Tahrîdl al-Aghbiyâ ‘Alâ al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ Wa al-Awliyâ karya asy-Syaikh Abdullah al-Mayirghini al-Hanafi, tinggal di wilayah Tha’if.
      25. at-Tuhfah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Hanafi (w 1299 H).
      26. Tath-hîr al-Fu-âd Min Danas al-I’tiqâd karya asy-Syaikh Muhammad Bakhith al-Muthi’i al-Hanafi, salah seorang ulama al-Azhar Mesir terkemuka, telah diterbitkan.
      27. Taqyîd Hawla at-Ta’alluq Wa at-Tawassul Bi al-Anbiyâ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/Rabath pada nomor 153.
      28. Taqyîd Hawla Ziyârah al-Auliyâ Wa at-Tawassul Bihim karya Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/Rabath pada nomor 153.
      29. Tahakkum al-Muqallidîn Biman Idda’â Tajddîd ad-Dîn karya asy-Syaikh Muhammad ibn Abd ar-Rahman al-Hanbali. Dalam kitab ini beliau telah membantah seluruh kesasatan Muhammad ibn Abd al-Wahhab secara rinci dan sangat kuat.
      30. at-Tawassul karya asy-Syaikh Muhammad Abd al-Qayyum al-Qadiri al-Hazarawi, telah diterbitkan.
      31. at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq ad-Damasyqi asy-Syami, telah diterbitkan.
      32. at-Taudlîh ‘An Tauhîd al-Khilâq Fî Jawâb Ahl al-‘Irâq ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah Afandi ar-Rawi. Karya Manuskrip di Universitas Cambridge London dengan judul “ar-Radd al-Wahhabiyyah”. Manuskrip serupa juga berada di perpustakaan al-Awqaf Bagdad Irak.
      33. Jalâl al-Haqq Fî Kasyf Ahwâl Asyrâr al-Khalq karya asy-Syaikh Ibrahim Hilmi al-Qadiri al-Iskandari, telah diterbitkan.
      34. al-Jawâbât Fî az-Ziyârât karya asy-Syaikh Ibn Abd ar-Razzaq al-Hanbali.asy-Sayyid Alawi ibn al-Haddad berkata: “Saya telah melihat berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari tulisan para ulama terkemuka dari empat madzhab, mereka yang berasal dari dua tanah haram (Mekah dan Madinah), dari al-Ahsa’, dari Basrah, dari Bagdad, dari Halab, dari Yaman, dan dari berbagai negara Islam lainnya. Baik tulisan dalam bentuk prosa maupun dalam bentuk bait-bait syai’r”.
      35. Hâsyiyah ash-Shâwî ‘Alâ Tafsîr al-Jalâlain karya asy-Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki.
      36. al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandari (w 1362 H).
      37. al-Haqâ-iq al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mazâ’im al-Wahhâbiyyah Bi Adillah al-Kitâb Wa as-Sunnah an-Nabawiyyah karya asy-Syaikh Malik ibn asy-Syaikh Mahmud, direktur perguruan al-‘Irfan di wilayah Kutabali Negara Republik Mali Afrika, telah diterbitkan.
      38. al-Haqq al-Mubîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyîn karya asy-Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi as-Sarhandi an-Naqsyabandi (w 1277 H).
      39. al-Haqîqah al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Ghani ibn Shaleh Hamadah, telah diterbitkan.
      40. ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Mekah (w 1304 H).
      41. ad-Dalîl al-Kâfi Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbi karya asy-Syaikh Misbah ibn Ahmad Syibqilu al-Bairuti, telah diterbitkan.
      42. ar-Râ-’iyyah ash-Shughrâ Fî Dzamm al-Bid’ah Wa Madh as-Sunnah al-Gharrâ’, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani al-Bairuti, telah diterbitkan.
      43. ar-Rihlah al-Hijâziyyah karya asy-Syaikh Abdullah ibn Audah yang dikenal dengan sebutan Shufan al-Qudumi al-Hanbali (w 1331 H), telah diterbitkan.
      44. Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr karya asy-Syaikh Muhammad Amin yang dikenal dengan sebutan Ibn Abidin al-Hanafi ad-Damasyqi, telah diterbitkan.
      45. ar-Radd ‘Alâ Ibn ‘Abd al-Wahhâb karya Syaikh al-Islâm di wilayah Tunisia, asy-Syaikh Isma’il at-Tamimi al-Maliki (w 1248 H). Berisi bantahan sangat kuat dan detail atas faham Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Tunisia.
      46. Radd ‘Alâ Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad al-Mishri al-Ahsa-i.
      47. Radd ‘Alâ Ibn Abd al-Wahhâb karya al-‘Allâmah asy-Syaikh Barakat asy-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki.
      48. ar-Rudûd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al-Maghribi.as-Sayyid Alawi ibn al-Haddad dalam mengomentari ar-Rudûd ‘Ala Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al-Maghribi ini berkata: “Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat beberapa risalah dan berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari semua ulama empat madzhab; ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, Ulama madzhab Syafi’i, dan ulama madzhab Hanbali. Mereka semua dengan sangat bagus telah membantah Muhammad ibn Abd al-Wahhab”.
      49. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Shaleh al-Kawasy at-Tunisi. Karya ini dalam bentuk sajak sebagai bantahan atas risalah Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.
      50. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Shaleh az-Zamzami asy-Syafi’i, Imam Maqam Ibrahim di Mekah.
      51. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Abd al-Qadir ath-Tharabulsi ar-Riyahi at-Tunusi al-Maliki, berasal dari kota Tastur (w 1266 H).
      52. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Muhsin al-Asyikri al-Hanbali, mufti kota az-Zubair Basrah Irak.
      53. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh al-Makhdum al-Mahdi, mufti wilayah Fas Maroko.
      54. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i. Beliau adalah salah seorang guru dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri.
        asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq (asy-Syaikh Muhammad ’Arabi at-Tabban) dalam kitab Barâ-ah al-Asyariyyîn Min Aqâ-id al-Mukhâlifîn menuliskan: “Guru Muhammad ibn Abd al-Wahhab (yaitu asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi) telah memiliki firasat bahwa muridnya tersebut akan menjadi orang sesat dan menyesatkan. Firasat seperti ini juga dimiliki guru Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang lain, yaitu asy-Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi, dan juga dimiliki oleh ayah sendiri, yaitu asy-Syaikh Abd al-Wahhab”.
      55. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya Abu Hafsh Umar al-Mahjub. Karya manuskripnya berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nomor 2513. Copy manuskrip ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir dan di perpustakaan al-Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.
      56. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip di perpustakaan al-Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.
      57. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali an-Nabulsi, salah seorang ulama terkemuka pada madzhab Hanbali di wilayah Hijaz dan Syam (w 1331 H). Karya ini berisi pembahasan masalah ziarah dan tawassul dengan para Nabi dan orang-orang saleh. Dalam karyanya ini penulis menamakan Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan para pengikutnya sebagai kaum Khawarij. Penyebutan yang sama juga telah beliau ungkapkan dalam karyanya yang lain berjudul ar-Rihlah al-Hijâziyyah Wa ar-Riyâdl al-Unsiyyah Fî al-Hawâdits Wa al-Masâ-il.
      58. Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al-Mustauhibîn karya asy-Syaikh Musthafa al-Karimi ibn Syaikh Ibrahim as-Siyami, telah diterbitkan tahun 1345 H oleh penerbit al-Ma’ahid.
      59. Risâlah Fî Ta-yîd Madzhab ash-Shûfiyyah Wa ar-Radd ‘Alâ al-Mu’taridlîn ‘Alayhim karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.
      60. Risâlah Fî Tasharruf al-Auliyâ’ karya asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwa, telah diterbitkan.
      61. Risâlah Fî Jawâz at-Tawassul Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya mufti wilayah Fas Maghrib al-‘Allâmah asy-Syaikh Mahdi al-Wazinani.
      62. Risâlah Fî Jawâz al-Istigâtsah Wa at-Tawassul karya asy-Syaikh as-Sayyid Yusuf al-Bithah al-Ahdal az-Zabidi, yang menetap di kota Mekah. Dalam karyanya ini beliau mengutip pernyataan seluruh ulama dari empat madzhab dalam bantahan mereka atas kaum Wahhabiyyah, kemudian beliau mengatakan: “Sama sekali tidak dianggap faham yang menyempal dari keyakinan mayoritas umat Islam dan berseberangan dengan mereka, dan siapa melakukan hal itu maka ia adalah seorang ahli bid’ah”.
      63. Risâlah Fî Hukm at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa al-Awliyâ’ karya asy-Syaikh Muhammad Hasanain Makhluf al-Adawi al-Mishri wakil Universitas al-Azhar Cairo Mesir, telah diterbitkan.
      64. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Qasim Abu al-Fadl al-Mahjub al-Maliki.
      65. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali.
      66. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahamd Hamdi ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H).
      67. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi, mufti madzhab Hanbali di wilayah Damaskus Siria, telah diterbitkan di Bairut tahun 1330 H.
      68. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Taimuriyyah.
      69. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Utsman al-Umari al-Uqaili asy-Syafi’i, karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Tamuriyyah.
      70. ar-Risâlah ar-Raddiyyah ‘Alâ ath-Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Atha’ullah yang dikenal dengan sebutan Atha’ ar-Rumi.
      71. ar-Risâlah al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah karya asy-Syaikh Muhammad as-Sa’di al-Maliki.
      72. Raudl al-Majâl Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Abd ar-Rahman al-Hindi ad-Dalhi al-Hanafi, telah diterbitkan di Jeddah tahun 1327 H.
      73. Sabîl an-Najâh Min Bid’ah Ahl az-Zâigh Wa adl-Dlalâlah karya asy-Syaikh al-Qâdlî Abd ar-Rahman Quti.
      74. Sa’âdah ad-Dârain Fî ar-Radd ‘Alâ al-Firqatain, al-Wahhâbiyyah Wa Muqallidah azh-Zhâhiriyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad as-Samnudi al-Manshuri al-Mishri, telah diterbitkan di Mesir tahun 1320 H dalam dua jilid.
      75. Sanâ’ al-Islâm Fî A’lâm al-Anâm Bi ‘Aqâ-id Ahl al-Bayt al-Kirâm Raddan ‘Alâ Abd al-Azîz an-Najdi Fî Mâ Irtakabahu Min al-Auhâm karya asy-Syaikh Isma’il ibn Ahmad az-Zaidi, karya manskrip.
      76. as-Sayf al-Bâtir Li ‘Unuq al-Munkir ‘Alâ al-Akâbir, karya al-Imâm as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad (w 1222 H).
      77. as-Suyûf ash-Shiqâl Fî A’nâq Man Ankar ‘Alâ al-Awliyâ’ Ba’da al-Intiqâl karya salah seorang ulama terkemuka di Bait al-Maqdis.
      78. as-Suyûf al-Musyriqiyyah Li Qath’ A’nâq al-Qâ-ilîn Bi al-Jihah Wa al-Jismiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali at-Tunisi al-Maghribi al-Maliki.
      79. Syarh ar-Risâlah ar-Raddiyyah ‘Alâ Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya Syaikh al-Islâm Muhammmad Atha’ullah ibn Muhammad ibn Ishaq ar-Rumi, (w 1226 H).
      80. ash-Shârim al-Hindi Fî ‘Unuq an-Najdi karya asy-Syaikh Atha’ al-Makki.
      81. Shidq al-Khabar Fî Khawârij al-Qarn ats-Tsânî ‘Asyar Fî Itsbât Ann al-Wahhâbiyyah Min al-Khawârij karya asy-Syaikh as-Sayyid Abdullah ibn Hasan Basya ibn Fadlal Basya al-Alawi al-Husaini al-Hijazi, telah diterbitkan.
      82. Shulh al-Ikhwân Fî ar-Radd ‘Alâ Man Qâl ‘Alâ al-Muslimîn Bi asy-Syirk Wa al-Kufrân, Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah Li Takfîrihim al-Muslimîn karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H).
      83. ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab. Beliau adalah saudara kandung dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.
      84. ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd karya asy-Syaikh Afifuddin Abdullah ibn Dawud al-Hanbali. as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad menuliskan: “Karya ini (ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd) telah diberi rekomendasi oleh para ulama terkemuka dari Basrah, Bagdad, Halab, Ahsa’, dan lainnya sebagai pembenaran bagi segala isinya dan pujian terhadapnya”.
      85. Dliyâ’ ash-Shudûr Li Munkir at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr karya asy-Syaikh Zhahir Syah Mayan ibn Abd al-Azhim Mayan, telah diterbitkan.
      86. al-‘Aqâ-id at-Tis’u karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abd al-Ahad al-Faruqi al-Hanafi an-Naqsyabandi, telah diterbitkan.
      87. al-‘Aqâ-id ash-Shahîhah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah an-Najdiyyah karya asy-Syaikh Hafizh Muhammad Hasan as-Sarhandi al-Mujaddidi, telah diterbitkan.
      88. ‘Iqd Nafîs Fî Radd Syubuhât al-Wahhâbi at-Tâ’is karya sejarawan dan ahli fiqih terkemuka, asy-Syaikh Isma’il Abu al-Fida’ at-Tamimi at-Tunusi.
      89. Ghawts al-‘Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd karya asy-Syaikh Abu Saif Musthafa al-Hamami al-Mishri, telah diterbitkan.
      90. Fitnah al-Wahhâbiyyah karya as-Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, (w 1304 H), mufti madzhab Syafi’i di dua tanah haram; Mekah dan Madinah, dan salah seorang ulama terkemuka yang mengajar di Masjid al-Haram. Fitnah al-Wahhâbiyyah ini adalah bagian dari karya beliau dengan judul al-Futûhât al-Islâmiyyah, telah diterbitkan di Mesir tahun 1353 H.
      91. Furqân al-Qur’ân Fî Tamyîz al-Khâliq Min al-Akwân karya asy-Syaikh Salamah al-Azami al-Qudla’i asy-Syafi’i al-Mishri. Kitab berisi bantahan atas pendapat yang mengatakan bahwa Allah adalah benda yang memiki bentuk dan ukuran. Termasuk di dalamnya bantahan atas Ibn Taimiyah dan faham Wahhabiyyah yang berkeyakinan demikian. Telah diterbitkan.
      92. Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab, saudara kandung dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri. Ini adalah kitab yang pertama kali ditulis sebagai bantahan atas segala kesesatan Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan ajaran-ajaran Wahhabiyyah.
      93. Fashl al-Khithâb Fi Radd Dlalâlât Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad ibn Ali al-Bashri yang dikenal dengan sebutan al-Qubbani asy-Syafi’i.
      94. al-Fuyûdlât al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ ath-Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abu al-Abbas Ahmad ibn Abd as-Salam al-Banani al-Maghribi.
      95. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ ash-Shan’âni Fî Madh Ibn ’Abd al-Wahhâb, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Ibn Ghalbun al-Laibi, sebanyak 40 bait.
      96. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ ash-Shan’âni al-Ladzî Madaha Ibn ’Abd al-Wahhâb, bait-bait sya’ir karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi, sebanyak 126 bait.
      97. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Abd al-Aziz Qurasyi al-‘Ilji al-Maliki al-Ahsa’i. Sebanyak 95 bait.
      98. Qam’u Ahl az-Zâigh Wa al-Ilhâd ‘An ath-Tha’ni Fî Taqlîd A’immah all-Ijtihâd karya mufti kota Madinah al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad al-Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H).
      99. Kasyf al-Hijâb ‘An Dlalâlah Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Taimuriyyah.
      100. Muhiqq at-Taqawwul Fî Mas-alah at-Tawassul karya al-Imâm al-Muhaddits Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.
      101. al-Madârij as-Saniyyah Fî Radd al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Amir al-Qadiri, salah seorang staf pengajar pada perguruan Dar al-‘Ulum al-Qadiriyyah, Karatci Pakistan, telah diterbitkan.
      102. Mishbâh al-Anâm Wa Jalâ’ azh-Zhalâm Fî Radd Syubah al-Bid’i an-Najdi al-Latî Adlalla Bihâ al-‘Awâmm karya as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad, (w 1222 H), telah diterbitkan tahun 1325 H di penerbit al-‘Amirah.
      103. al-Maqâlât karya asy-Syaikh Yusuf Ahmad ad-Dajwi, salah seorang ulama terkemuka al-Azhar Cairo Mesir (w 1365 H).
      104. al-Maqâlât al-Wafiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Hasan Quzbik, telah diterbitkan dengan rekomendasi dari asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwi
      105. al-Minah al-Ilâhiyyah Fî Thams adl-Dlalâlah al-Wahhâbiyyah karya al-Qâdlî Isma’il at-Tamimi at-Tunusi (w 1248 H). Karya manuskrip berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nnomor 2780. Copy manuskrip ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir. Sekarang telah diterbitkan.
      106. Minhah Dzî al-Jalâl Fî ar-Radd ‘Alâ Man Thaghâ Wa Ahalla adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Hasan Abd ar-Rahman. Berisi bantahan atas ajaran Wahhabiyyah tentang masalah ziarah dan tawassul. Telah diterbitkan tahun 1321 H oleh penerbit al-Hamidiyyah.
      107. al-Minhah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhabiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi (w 1299 H), telah diterbitkan di Bombay tahun 1305 H.
      108. al-Manhal as-Sayyâl Fî al-Harâm Wa al-Halâl karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi.
      109. an-Nasyr ath-Thayyib ‘Alâ Syarh asy-Syaikh ath-Thayyib karya asy-Syaikh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi (w 1272 H).
      110. Nashîhah Jalîlah Li al-Wahhâbiyyah karya as-Sayyid Muhammad Thahir Al-Mulla al-Kayyali ar-Rifa’i, pemimpin keturunan Rasulullah (al-Asyraf/al-Haba-ib) di wilayah Idlib. Karya berisi nasehat ini telah dikirimkan kepada kaum Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Idlib Lebanon.
      111. an-Nafhah az-Zakiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandari (w 1362 H).
      112. an-Nuqûl asy-Syar’iyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al-Hanbali ad-Damasyqi, telah diterbitkan tahun 1406 di Istanbul Turki.
      113. Nûr al-Yaqîn Fî Mabhats at-Talqîn; Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al-Mustauhibîn.
      114. Yahûdan Lâ Hanâbilatan karya asy-Syaikh al-Ahmadi azh-Zhawahir, salah seorang Syaikh al-Azhar Cairo Mesir.
      115. 2. al-Albani hanyalah seorang otodidak di bidang hadits, beliau tidak memiliki sanad kepada perawi hadits. Memang betul, di dunia ini hanya ulama dari golongan Wahhabiyyun saja yang menganggap al-Albani sebagai seorang muhaddits. Sedangkan Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak menganggap beliau sebagai muhaddits, karena persyaratan sebagai muhaddits tidak terpenuhi pada diri al-Albani.

        3. Bukankah antum juga taqlid buta dengan Muhammad ibn Abdul Wahhab? Pada poin 1 di atas sudah banyak bukti bantahan-bantahan ulama’ ahlussunnah Wal Jama’ah tentang doktrin-doktrin Muhammad ibn Abdul Wahhab.

        4. Tentang perkataan Imam syafi’i yang tercantum dalam kitab al ’Umm(II/248) :

        واذا ثبت الخبر عن النبي صلي الله عليه وسلم: لم يجذ تركه لشيئ

        “Apabila telah shahih hadist dari Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam, maka tidak boleh untuk di tinggalkan karena sebab apapun juga.”

        Sekali lagi saya katakan bahwa perkataan al-Imaam Syafi’i rahimahullah tersebut benar adanya. Dan tentunya di dalam berijtihad, al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah tidak asal berijtihad, beliau pasti berdasarkan hadits-hadits shohih. Dan tidaklah mungkin pula, al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah berijtihad menurut hawa nafsunya, wal ‘iyadzu billaah dari prasangka yang demikian.

        5. Bid’ah secara lughawi:
        di dalam Kamus Bahasa Arab Al-Munjid disebutkan arti bid’ah secara bahasa:

        اَلْبِدْعَةُ ج بِدَع: مَا اُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ

        Bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

        Sedangkan bid’ah menurut syara’ adalah (seperti yang antum tulis): ” Semua keperibadatan yang tidak pernah di contohkan oleh nabi shallallahualaihi wasallam.”

        Baik mari kita analisis. Antum menuliskan ” Semua keperibadatan yang tidak pernah di contohkan oleh nabi shallallahualaihi wasallam” adalah bid’ah, dan itu berarti semua bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. Apakah demikian?

        Coba kita simak hadits Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berikut ini:
        Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah bersabda:

        مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ اِنَّ اَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَاَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِىْ النَّارِ

        “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada siapa pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tiada siapa pun dapat memberinya hidayah (petunjuk). Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah muhdatsaat (hal-hal baru), dan semua muhdats (yang baru) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka.”

        (HR. An-Nasaa’i)

        اِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

        “Berhati-hatilah kalian terhadap muhdatsaat (hal-hal baru), karena sesungguhnya semua muhdats (yang baru) itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”

        (HR.  Abu Dawud , Ahmad dan Ibnu Majah)

        Hadits di atas memang benar, tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa memutuskan bahwa semua bid’ah sesat. Untuk dapat memahaminya dengan benar, kita harus mengkaji semua Hadits yang berhubungan dengannya. Sehingga, kita tidak terjerumus pada penafsiran yang salah. Masih ada hadits-hadits lain yang menjelaskan tentang pembagian bid’ah menurut Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam.

        Coba simak hadits-hadits penjelasan tentang bid’ah berikut ini:
        Dalam hadits “kullu bid’atin dhalaalatun” yang tercantum diatas, di sana ada sesuatu yang dikecualikan. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

        مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

        “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

        (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

        Perhatikan kalimat “Yang tidak bersumber darinya (agama).” Inilah kalimat yang menjelaskan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Berdasarkan sabda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam di atas, maka hadits “Kullu bid’atin dhalaalatun,” dapat diartikan sebagai berikut: “Semua bid’ah itu sesat kecuali yang bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah.”

        Setelah memahami keterangan di atas, mari kita pelajari arti muhdatsat (hal-hal baru) dalam hadits sebelumnya. Para ulama menyatakan bahwa kata muhdatstaat (hal-hal baru) dalam hadits tersebut artinya adalah segala hal baru yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Pernyataan ini didukung oleh beberaoa hadits. Coba Anda simak sabda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berikut:

        وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ تُرْضِيْ اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ اثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

        “Dan barang siapa mengadakan  sebuah bid’ah dhalaalah (sesat), yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.”

        (HR. Tirmidzi)

        Dalam hadits di atas disebutkan, “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalaalah (yang sesat). Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Andaikata semua bid’ah sesat, tentu Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung bersabda:

        “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah.”

        Dan tidak akan menambahkan kata dhalaalah dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut kalimat “Bid’ah dhalaalah (yang sesat),” maka logikanya ada bid’ah yang tidak dhalaalah (yang tidak sesat).

        Disamping itu, dalam sabdanya yang lain, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

        مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

        “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak terdapat di dalam agama, maka dia tertolak.”

        (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

        مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

        “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

        (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

        Coba perhatikan, dalam hadits di atas Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menambahkan kalimat “Yang tidak bersumber dari agama,” dan kalimat “Yang tidak terdapat di dalam agama.” Akankah sama jika kalimat tersebut dihilangkan. Coba perhatikan perbedaan keduanya (yang masih utuh dengan yang sudah dipotong)

        “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

        Bandingkan dengan kalimat berikut:

        “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, maka dia tertolak.”

        Jika kita perhatikan dengan baik, kedua kalimat di atas sangat berbeda. Kalimat pertama memberitahukan bahwa hanya hal baru yang tidak bersumber dari agama saja yang ditolak sedangkan kalimat kedua menyatakan bahwa semua yang baru tertolak.

        Kini jelaslah bahwa penambahan kalimat “Yang tidak bersumber darinya (agama),” merupakan bukti bahwa tidak semua yang baru sesat. Hanya hal baru yang tidak bersumber dari agama sajalah yang sesat. Andaikata semua hal baru adalah sesat, tentu Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak akan menambahkan kalimat tersebut. Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung berkata, “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, maka ia tertolak,” tetapi hal itu tidak beliau lakukan.

        Kesimpulannya, selama hal baru tersebut bersumber dari Al Qur’an atau Hadits, maka dia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah dan diterima oleh Rasul-Nya Shollallaah ‘alaih wa sallam.

        Apakah antum tidak pernah membaca riwayat-riwayat shohih tentang amalan-amalan yang dicetuskan oleh para shohabat yang tidak pernah dicontohkan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam dan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam merestui amalan tanpa perintah dan contoh Nabi tersebut?

        Berikut ini contoh amalan para shohabat Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam di dalam menciptakan amalan baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam dan Rasulullah merestuinya:

        1.  Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh), “Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompahmu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku bersuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersuciku itu”. 

        Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam berkata kepada Bilal, “Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga?” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melainkan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).”

        Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhari & Muslim).” Dan Adz Dzahabi mengakuinya.

        Hadits di atas menerangkan secara mutlak bahwa sahabat ini (Bilal) melakukan sesuatu dengan maksud ibadah yang sebelumnya tidak pernah dilakukan atau ada perintah dari Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam.

        2.  Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddits lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu.
        Dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam, maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi). Setelah selesai shalat, Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.”

        Ibnu Hajar berkomentar, “Hadits itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam) jika ia tidak bertentangan dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

        3. Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,

        Ada seorang laki-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:

        اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً

        Setelah selesai shalat, Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi? Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah, aku tidak mengucapkannya melainkan menginginkan kebaikan.” Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”

        Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.”

        Dalam riwayat an-Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”

        Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda demikian.”

        Di sini diterangkan secara jelas bahwa seorang sahabat menambahkan kalimat dzikir dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat yang tidak/ belum pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Dan reaksi Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam pun membenarkannya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa.

        Alhasil, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan.

        4. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata,

        “Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Teman-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan.

        Ketika mereka mendatangi Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam, mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “Hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku mencintainya.”

        Maka Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”

        Demikianlah sunnah dan jalan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya. Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam.

        Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap. Sebab apa yang kontinyu dilakukan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-praktik seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak berarti ia bid’ah (sesat).

        5. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallaah ‘anhaa, bahwa Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam mengutus seseorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengan surah al-Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam, maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat ar-Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).

        Demikianlah, apa yang dilakukan para shahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam, namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakunya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya.

        Kesimpulannya, pendapat/ijtihad al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah di dalam pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah sudah sesuai dengan yang dimaksud Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan berdasarkan dengan hadits-hadits shohih.

        Selanjutnya pendapat yang antum lontarkan kepada Imam syafi’i rahimahullah: “karena hadist shohih tersebut blum nyampe kepda beliau” itu tidak tepat, karena beliau rahimahullah di dalam berijtihad bab bid’ah ini sudah sesuai dan berdalilkan hadits-hadits shohih.

        6. Soal ulama’ Wahhabi menyamakan derajat hadits dhoif sama dengan hadits maudhu’ itu adalah fakta (bukan fitnah dan bukan dusta), lihat saja al-Albani juga memposisikan hadits dha’if sejajar dengan hadits maudhu’ seperti dapat dibaca dari judul bukunya, Silsilat al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah wa Astaruha al-Sayyi’ lil-Ummah (Serial hadits-hadits dha’if dan maudhu’ serta dampak negatifnya bagi umat). Hadits dha’if yang sebelumnya dianjurkan diamalkan oleh para ulama salaf dan khalaf, kini oleh al-Albani dianggapnya sebagai bid’ah dan berdampak negatif bagi umat. Secara tidak langsung, al-Albani berarti telah menghujat seluruh ahli hadits sejak generasi salaf yang meriwayatkan hadits-hadits dha’if dalam kitab-kitab mereka sebagai memberi contoh yang negatif bagi umat. Wallahu a’lam.

        Penjelasan soal hadits dhoif dapat dipergunakan sebagai dalil fadhoilul a’mal:

        Para ulama telah bersepakat tentang posisi hadits dha’if yang boleh diamalkan dalam konteks fadhail al-a’mal (amalan-amalan sunat), targhib (motivasi melakukan kebaikan) dan tarhib (peringatan meninggalkan larangan), manaqib dan sejarah.

        Dalam hal ini, al-Imam al-Nawawi berkata: “Menurut ahli hadits dan lainnya, boleh memperlonggar (tasahul) dalam menyampaikan sanad-sanad yang lemah (dha’if) dan meriwayatkan hadits dha’if yang tidak maudhu’ serta mengamalkannya tanpa menjelaskan kedha’ifannya, dalam hal yang tidak berkaitan dengan sifat-sifat Allah, hukum-hukum halal dan haram, dan yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum-hukum.” (Tadrib al-Rawi, 1/162).

        Pernyataan al-Imam al-Nawawi di atas memberikan kesimpulan sebagai berikut tentang hadits dha’if. Pertama, boleh meriwayatkan dan mengamalkan hadits dha’if dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan sifat-sifat Allah, akidah dan hukum-hukum halal dan haram. Kedua, pendapat ini adalah pendapat seluruh ahli hadits dan selain mereka.

        Menurut al-Imam Jalaluddin al-Suyuthi wilayah bolehnya mengamalkan hadits-hadits dha’if tersebut, mencakup terhadap hal-hal yang berkaitan dengan fadha’il al-a’mal, kisah-kisah para nabi dan orang-orang terdahulu, mau’izhah hasanah atau targhib dan tarhib dan yang sejenisnya. Pernyataan al-Imam al-Nawawi dan al-Suyuthi di atas berkaitan dengan bolehnya mengamalkan hadits dha’if dalam wilayah fadha’il al-a’mal dan semacamnya sebenarnya diriwayatkan dari ulama-ulama salaf antara lain al-Imam Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi dan semacamnya. Mereka mengucapkan sebuah “hukum” yang sangat populer, “Idza rawayna fil halal wal haram syaddadna waidza rawayna fil fadhail wa nahwiha tasahalna (apabila kami meriwayatkan hadits-hadits mengenai halal dan haram, kami menyeleksinya dengan ketat, tetapi apabila kami meriwayatkan hadits-hadits mengenai fadha’il dan semacamnya, kami memperlonggar)”. (Tadrib al-Rawi, 1/162).

        Berangkat dari kenyataan tersebut, kita temukan kitab-kitab hadits ulama terdahulu seperti karya-karya al-Bukhari (selain Shahih-nya), al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad bin Hanbal dan lain-lain banyak mengandung hadits-hadits dha’if. Hal ini juga diikuti oleh ulama-ulama berikutnya seperti al-Thabarani, Abu Nu’aim, al-Khathib al-Baghdadi, al-Baihaqi dan lain-lain. Sehingga kemudian tidaklah aneh apabila kitab-kitab tashawuf dan adzkar yang memang masuk dalam wilayah fadha’il al-a’mal seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, karya al-Ghazali, al-Adzkar karya al-Nawawi dan semacamnya banyak mengandung hadits-hadits dha’if. Bahkan kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama panutan Wahhabi seperti Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim dan Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi juga penuh dengan hadits-hadits dha’if dan terkadang pula hadits-hadits maudhu’.

        Pendeknya hadits dha’if memang boleh diamalkan berdasarkan pendapat seluruh ulama salaf dan khalaf dalam konteks fadha’il al-a’mal dan sejenisnya. Sedangkan orang pertama yang menolak terhadap hadits dha’if dalam wilayah apapun termasuk dalam konteks fadha’il al-a’mal adalah Muhammad Nashiruddin al-Albani, ulama Wahhabi dari Yordania. Al-Albani bukan hanya menolak hadits dha’if, bahkan juga beranggapan bahwa mengamalkan hadits dha’if dalam fadha’il adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan.

        Semoga bermanfaat.

      Balas

      • Posted by andi abdulloh ad-dausry on 15 Januari 2012 at 11:24 pm

        makanya akhi jangan pakai persaan,,kalau agama pakai perasaan gak akan bersatu umat ini,,,kalau ada hadist yang lebih shohih knapa pakai yang dhoif,,,????

        Balas

      • Anda panjang lebar menulis (atau copas?), izinkan sy yg bukan wahabi ini dan kadang msh suka tahlilan, maulid nabi dll. Sesungguhnya Hadits2 yg Anda kemukakan malah mementahkan argumen Anda dan menguatkan wahabi. KNP? Bukankah persetujuan Nabi thd perbuatan Sahabat begitu pula diamnya Nabi thd perbuatan Sahabat adalah Sunnah itu sendiri????Lha kalau skrg Anda bilang Tahlilan sbg sunnah, siapa yg menyetujiu itu sbg sunnah???Kalau misalnya di zaman Sahabat ada Tahlilan, mk insyaallah wahabipun ikut tahlilan walaupun di zaman Nabi tdk ada, krn kita toh disuruh pula oleh Nabi utk mengikuti Sahabat…Dan hebatnya Sahabat, walaupun telah mendapat mandat dari Nabi utk menjadi ikutan kaum Ummat Nabi sepeninggal beliau, para Sahabat tdk pernah lancang mengada2kan sesuatu syariat yg seolah2 itu merupakan bagian agama.

        Balas

  6. Posted by سراج on 20 Maret 2011 at 1:31 pm

    1. ya akhi..para ulama memisahkan hadist shohih dan dhoif,,agar kaum muslimin tau,,mana hadist yang shohih untuk d amalkan dan d jadiakn hujjah,,allahu akbar na’uzubillahi minka,,,anda membolehkan mengamalkan hadist dhoif!!!??mana prkataan para ulama yang membolehkannya??kecuali dari orang-orang ahlul bid’ah yang membolehkannya..
    2. dan semua nama yang anda paparkan,,mereka ulama di kalangan ahlul bid’ah..bukan dari kalangan ULama Ahlussunnah Waljama’ah
    3. oleh karena itu anda giat2..bersih kukuh membela kebid’ahan,,karena di anyara mereka…

    Balas

    • Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      0. Pada komentar antum sebelumnya tentang hadits dhoif, disitu antum menukil perkataan ibn al-’Arabi yang katanya antum tercantum di dalam kitab Tadrib al-Rawi juz 1 halaman 252. Kebetulan saya memiliki kitab tersebut, cetakan Daar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut – Libanon. Saya cari-cari halaman tersebut tidak ada.

      Apalagi kalimat seperti yang antum nukil:

      وقال الإمام إبن العربي ”لا يجوز العمل بالحديث الضعيف مُطلقاً لا في فضائل الأعمال ولا في غيرها“ – تدريب الراوي 1/252

      Kalimat seperti itu tidak saya temukan. Lha wong jumlah halaman untuk jilid 1 saja cuma sampai 195 halaman. Jadi kesimpulannya antum asal nukil.

      1. Antum menulis: “anda membolehkan mengamalkan hadist dhoif!!!??”
      Saya jawab: Yang membolehkan mengamalkan hadits dhoif bukan saya, justru yang membolehkan dan menganjurkan adalah ulama’ ahlussunnah wal jama’ah.

      Coba antum buka Kitab Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi (yaitu kitab yang antum sebutkan diatas), Juz 1 halaman 162. Kitab ini ditulis oleh Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, yaitu Imam Jalaludin As-Suyuthi rahimahullah, beliau juga pengarang Kitab Tafsir Al Quran Jalalain. Di dalam Kitab yang membahas tentang ilmu Mustholahul Hadits ini, beliau Imam Jalaludin As-Suyuthi rahimahullah mengikuti pendapat al-Imaam An-nawawi rahimahullah di dalam menempatkan posisi hadits dhoif. Berikut ini saya sajikan kembali pendapat al-imam an-Nawaawi rahimahullah yang diikuti oleh al-imaam Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah di dalam kitab Tadrib al-Rawi (j.1/162):

      Berkata al-Imaam an-Nawaawi rahimahullah:
      Kitab Tadrib al-Rawi

      “Dan apabila engkau hendak menyampaikan suatu riwayat dhoif tanpa sanad yang kuat, hendaknya janganlah engkau mengatakan: “Telah bersabda Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam” atau perkataan yang semisalnya sebagai penegasan akan hal itu (kedhoifan sanadnya), akan tetapi katakanlah: “Aku sampaikan riwayat”, atau “Telah sampai kepada kami suatu riwayat”, atau “Telah disebutkan dalam sebuah riwayat”, atau “Telah datang suatu riwayat”, atau “Kami telah menukil sebuah riwayat” atau yang serupa daripada ucapan tersebut, dan diperbolehkan oleh sebagian kalangan ahli hadits untuk tasahul (memperlonggar) di dalam hal sanad-sanad yang lemah dan meriwayatkan hadits dhoif yang bukan maudhu’ (palsu) dan mengamalkannya tanpa menjelaskan kedhoifannya, dalam hal yang tidak berkaitan dengan sifat-sifat Allah, hukum-hukum halal dan haram, dan yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum-hukum.” (Tadrib al-Rawi, 1/162).

      Keterangan lainnya perihal bolehnya menjadikan hadits dhoif sebagai dalil di dalam fadhoil al-a’maal sudah saya cantumkan pada balasan komentar sebelumnya.

      Antum menulis: “mana prkataan para ulama yang membolehkannya?? kecuali dari orang-orang ahlul bid’ah yang membolehkannya..”

      Saya jawab: Ulama’-ulama’ yang membolehkan hadits dhoif untuk fadhoil al-a’maal salah satunya adalah al-Imam an-Nawawi rahimahullah dan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah. Beliau al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah menulis kitab Tadrib al-Rawi, dan di dalamnya beliau mengikuti pendapat al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengenai persoalan hadits dhoif.

      Nah, sekarang apakah ulama ahlussunnah wal jama’ah seperti al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah dan al-Imam an-Nawaawi rahimahullah adalah orang-orang ahlul bid’ah? Silakan antum jawab sendiri. Wal ‘iyaadzu billaah dari prasangka yang demikian.

      2. Terkait ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jama’ah yang menentang Muhammad ibn Abdul Wahhab. Siapa bilang mereka ulama’ di kalangan ahlul bid’ah? Hanya kaum Wahhabi saja yang mengatakan mereka ahlul bid’ah. Coba antum simak ulama-ulama yang saya sebutkan diatas, disitu tercantum Syaich Sulaiman ibn Abdul Wahhab rahimahullah yang merupakan saudara sekandung dari Muhammad ibn Abdul Wahhab, kemudian ada lagi asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i rahimahullah, beliau adalah salah seorang guru dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri. Mereka adalah orang-orang terdekat dari Muhammad ibn Abdul Wahhab, dan mereka menyatakan bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah seorang yang sesat dan menyesatkan.

      Mereka yang saya sebutkan adalah ulama’ ahlussunnah wal jama’ah yang sesungguhnya. Antum lihat, ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jama’ah dari semua madzhab (Malikiyyah, Hanbaliyyah, Hanafiyyah, dan Syafi’iyyah) melontarkan kritikan dan penolakan atas doktrin-doktrin Muhammad ibn Abdul Wahhab. Apabila doktrin-doktrin Muhammad ibn Abdul Wahhab tersebut sesuai dengan Ahlussunnah wal jama’ah tentunya mereka (ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jama’ah tersebut) akan melontarkan pujian-pujian dan akan mengambil/menukil/mendukung pendapat-pendapat Muhammad ibn Abdul Wahhab.

      Justru tidak pantas bagi kaum Wahhabi menyandarkan (istinbath) dan menamakan golongan mereka sebagai bagian dari ahlussunnah wal jama’ah, karena mereka menyalahi aqidah ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri. Golongan wahhabi hanya merasa sebagai golongan ahlussunnah wal jama’ah, padahal pada kenyataannya tidak sedikitpun mereka termasuk golongan ahlussunnah wal jama’ah.

      3. Justru ajaran / doktrin Muhammad ibn Abdul Wahhab-lah yang bid’ah. Itulah sebabnya antum bersikukuh membela kebid’ahan Muhammad ibn Abdul Wahhab, karena antum adalah bagian dari mereka.

      Balas

    • Posted by ibu dyah on 16 April 2012 at 8:26 pm

      “Dan barang siapa mengadakan  sebuah bid’ah dhalaalah (sesat), yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.”

      (HR. Tirmidzi)

      Dalam hadits di atas disebutkan, “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalaalah (yang sesat).” Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Andaikata semua bid’ah sesat, tentu Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung bersabda:

      “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah.”

      Dan tidak akan menambahkan kata dhalaalah dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut kalimat “Bid’ah dhalaalah (yang sesat),” maka logikanya ada bid’ah yang tidak dhalaalah (yang tidak sesat).

      (Maaf ini saya copy lg perkataan ustadz Jundu, supaya yg baca memperhatikan hadist di atas, krn hadist ini tidak pernah disinggung oleh kaum Wahabi)

      Balas

  7. wahabiyun…sampai kapan kamu sadar toh kamu tidak akan menang melawan ahlussunnah wal jamaah yah sudah jelas kebenarannya.

    Balas

    • Posted by ahmad adam on 15 November 2011 at 5:34 am

      “Kamu tidak akan menang,,,”
      Menang lawan siapa? Emang ini pertandingan? Atau perang, menurut kamu?
      Jika ada pemenang, yg kalah mau diapain? Dipaksa jadi spt kalian?
      Jika toh kalian anggap kalian adlh pemenang, itu cuma soal kuantitatif, dan itu bukan indikator kebenaran!

      Kalian mengklaim sbg ahlus-sunnah?
      Itu kan cuma soal klaim. Siapapun bisa mengajukan klaim ttg apapun bhw pihaknya adlh yg benar. Bgmn pendapatmu ttg klaim kaum kafir yg mengklaim bhw mereka adlh pihak dg aqidah yg benar? Atau intern Islam; klaim kaum Ahmadiyah? Atau klaim Kaum Syi’ah? Atau klaim kaum pagan Kejawen?

      Kalian melecehkan nama seorang ‘ulama’ yg mana -jangankan tingkat keimanan dan ketaqwaannya di sisi Alloh- tingkat wawasan dan pengetahuannya ttg keislaman bisa jadi sangat jauh lebih tinggi dibandingkan dg kalian. Jika kalian tdk setuju dg sebagian atau seluruh pendapat beliau tsb -mis: ttg tahlilan, talqin, usholli, qunut, dsb- mengapa tdk hanya fokus thd permasalahan saja, dan bukan kpd pribadinya? Sbb, bukankah beliau tsb juga menyandarkan pendapatnya kpd sumber2 tertentu, alias bukan pendapat yg lahir dan kehendak hawa nafsunya semata?

      Benar, banyak pihak yg menentang beliau sejak dahulu -dan hingga skrg-. Dan kalian hanyalah pengekor pihak2 yg menentang beliau, dan kini kalian mewarisi penentangan tsb bukan dg ilmu, melainkan dg melecehkan sambil copas pendapat2 para penentang beliau sambil menghinakan para pengikut beliau skrg ini.

      Tidakkah kamu perhatikan kelompokmu! Perhatikan gaya bahasanya! Sptx tdk puas jk tdk memuat kata2 sinis dan melecehkan dlm sebagian postingan maupun komentar. Jika mereka -yg kalian anggap sbg lawan- mau, mereka bisa saja membalas dg melabelkan kalian dg berbagai sebutan yg jauh lebih buruk dari label wahabi yg kalian sematkan kpd musuh (maaf, teringat dg kata2 “menang” tadi) kalian itu.

      Astaghfirulloh…
      Mohon maaf, sdr-ku jk anda tdk berkenan dg kata2 sy ini.
      Semoga Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berkenan membukakan pintu hati kita semua utk lbh mudah menerima kebenaran (walaupun pahit -krn bertentangan dg yg selama ini kita yakini sbg kebenaran-). Dan semoga petunjuk-Nya selalu melimpah dihati kita semua sbg ummat Muhammad Shollalloohu ‘alayhi wa Sallam.
      Ketahuilah, menuntut ilmu tdk hanya butuh referensi sejarah, tapi juga butuh petunjuk Alloh -agar diberikan ilmu yg benar- shg kita tdk sesat.

      Balas

      • Posted by netral tapi memihak on 11 September 2012 at 10:25 pm

        justru dngn mngetahui sejarah kita akan mengetahui..ibnu thaimiah, ibnul qayyim, muhamad bin abdul wahab cs smpae muhaddast albani hanya dpuji oleh penganut panatikx doang…sebalikx malah bnyak dcela oleh ulama2 ahlussunnah.. Nyadar lo..?

        Balas

      • Assalamu’alaikum warohmatulohi wabarokatuh :
        Anda berbicara dengan cukup bijak dan saya setuju dengan anda Agar Allah membukakan pintu hati kita agar lebih mudah dalam menerima kebenaran , Tapi akan lebih baik Jika kita Semua hidup dengan berpatokan kepada Al-Qur’an dan Al- Hadist , Maaf saya punya kenyakinan Doa anda akan dikabulkan oleh Allah dengan kembalinya anda kepada syariat yang lebih baik , Insya Allah Amiin.

        Balas

      • Posted by jaka sulistya on 20 Oktober 2013 at 3:37 pm

        Pertanyaannya Siapakah guru-guru hadist dari “Ngalbani” sang ahli hadist milenium abad ini? berapakah hadist beserta sanad dan matanya yang sudah dihafalnya? hayoooo Ulama “sawah (salafi/wahabi)”coba jawab ini ya…

        Balas

  8. Posted by siraj on 8 April 2011 at 10:34 pm

    kn ana udah jelaskan,,bahwa para ulama tidak membolehkan beramal dan berhujjah dengan hadist dhoif,, kecuali pada fadhoil a’mal..dan d sni para ulama ikhtilaf..
    tapi mlah anda berhujjah dengan hadist dhoif pada hukum”…anda mencela syaikh Muhammad bin abdul wahhab,,,itulah kebiasaan ahlul bid’ah…alhaq pasti ada lawannya…hadakallah…medahan Allah memberikan anda petunjuk

    Balas

    • Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      Mari kita lihat bagaimana Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah berpendapat mengenai hadits dhoif tentang masalah talqin ini:

      Hadits dhoif tentang talqin yang menjadi pijakan kaum Ahlussunnah wal jama’ah di dalam melaksanakan fadhoil a’mal talqin mayyit:

      Diriwayatkan Imam Ad Daraquthni dalam Al Mu’jam:
      Dari Abu Umamah, beliau mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Jika salah satu dari kalian telah meninggal, hingga kalian meratakan tanah di atasnya, maka hendaknya salah satu dari kalian berdiri di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, ‘Wahai fulan bin fulanah,’ sesungguhnya ia mendengar akan tetapi tidak menjawab. Lalu hendaklah mengatakan,’Wahai fulan-bin fulanah,’ untuk kedua kalinya. Maka sesungguhnya ia duduk, kemudian hendalah mengatakan, ‘Wahai fulan bin fulanah’. Maka ia mengatakan, ‘Berilah nasehat kepada kami, semoga engkau mendapat rahmat Allah.’ Akan tetapi kalian tidak mendengar. Hendaklah ia mengatakan,’Sebutkan bahwa engkau keluar dari dunia berada di atas syahadat, bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, dan sesungguhnya engkau telah ridha dengan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien, Muhammad sebagai nabi, serta Al Qur’an sebagai imam. Sesungguhnya Munkar dan Nakir terlambat dan salah satunya mengatakan,’Kita pergi dari sini, kita tidak duduk di sini, dan ia telah ditalqin hujjahnya, dan hujjahnya berhadapan dengan Allah dan Rasul-Nya bukan dengan keduanya (Munkar dan Nakir).’ Lalu seorang laki-laki bertanya,’Wahai Rasulullah, jika ia tidak tahu ibunya?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, ‘Dinisbatkan kepada ibunya Hawa, wahai fulan bin Hawa.”

      Berikut ini pendapat para ulama ahlussunnah wal jama’ah mengenai kedudukan hadits ini:

      Al Hafidz Ibnu Shalah rahimahullaah
      Sebagaimana dinukil Imam An Nawawi rahimahullaah:
      “Telah kami riwayatkan mengenai hal itu (talqin mayat setelah dikubur) hadits Abu Umamah, yang tidak tegak sanadnya (dhoif). Akan tetapi ia dikuatkan dengan syawahid dan amalan penduduk Syam sejak dahulu.”
      (Al Adzkar, 279).

      Imam An Nawawi rahimahullaah:
      “Dan hadits tentangnya (talqin setelah dikubur) dhaif, akan tetapi hadits-hadits fadhail ditoleransi oleh para ahli ilmu dari muhaditsin dan lainnya. Dan hadits ini dikuatkan dengan syawahid dari hadits-hadits yang shahih semisal,”berdoalah kalian kepada Allah untuk keteguhannya,’ dan washiyat Amru bin Ash, “Berdirilah kalian di atas kuburku selama waktu menyembelih kambing dan membagi-bagikan dagingnya, hingga aku merasa tenang dengan keberadaan kalian, dan aku mengetahui, apa yang bisa membuat utusan Allah (Munkar-Nakir) pergi.’ Yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya. Dan ahlu Syam sudah mengamalkan talqin ini sejak masa awal.”
      (Ar Raudha At Thalibin, 2/139)

      Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, salah satu ulama’ rujukan kaum Wahhabiyyun juga berpendapat demikian:
      “Hadits ini, walau tidak tsabit (dhaif), akan tetapi terus berkesinambungan pengamalan dengannya di seluruh penjuru dan masa tanpa ada pengingkaran, cukup untuk dijadikan dasar amalan.”
      (Ar Ruh, 14)

      Kesimpulannya, hadits ini sejatinya dhaif, tapi terangkat derajatnya dengan dijadikannya sebagai pijakan ahlul ilmi dan umat sebagai rujukan. Ini tidak bertentangan dengan kaidah yang ditetapkan ulama.

      Al Hafidz As Shahawi rahimahullaah mengatakan,
      “Dan demikian pula jika umat menerima hadits dhaif, maka ia boleh diamalkan menurut pendapat shahih.”
      (Fath Al Mughits bi Syarh Alfiyah Al Hadits, 120-121).

      Al Kamal bin Al Humam rahimahullaah saat mengkritik mereka yang mendhaifkan hadits yang maknanya,
      ”Talaq untuk budak dua talak dan iddahnya dua haidh,” mengatakan,” Yang juga membuat hadits menjadi shahih adalah pengamalan ulama yang sesuai dengannya. Dan At Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini juga mengatakan, ’Hadits gharib (dhaif) dan para ahli ilmu mengamalkannya, termasuk para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan lainnya.’”
      (Fath Al Qadir, 3/143).

      Hal yang sama disebutkan al-Hafidz Jalaluddin As Suyuthi rahimahullaah,
      ”Sebagian dari mereka (huffadz) mengatakan, ‘Hadits dihukumi shahih, jika manusia (dari kalangan ahl al-’ilmi) menerimanya, walau isnadnya tidak shahih.”
      (At Tadrib Ar Rawi fi syarah Taqriib An-Nawawi, 24).

      Bahkan al-Imam al-Hafidz At Tirmidzi rahimahullaah, sering mengungkapkan dalam kitab Al Jami’ beliau, bahwa hadits yang beliau riwayatkan dhaif, akan tetapi hadits dhoif tersebut diterima dan diamalkan oleh ahli ilmu.

      Jadi, penguatan hadits talqin di atas telah sesuai dengan kaidah. Tentu, tidak semua orang bisa menggunakan kaidah ini secara sembarangan, karena hanya ahlinya-lah yang mengetahui kapan hadits dhaif benar-benar diterima umat Islam, hingga ia boleh diamalkan.

      Kesimpulannya, ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jama’ah dan bahkan Ibn al-Qoyyim al-Jawziyyah justru berpendapat bahwa hadits dhoif ini sah sebagai dasar dilaksanakannya amalan talqin mayyit.

      Nah, pertanyaan saya untuk antum: Ulama’ mana yang antum ikuti? Lha wong ulama’ ahlussunnah wal jama’ah saja menghukumi sah beramal talqin dengan dalil hadits dhoif ini. Dan bahkan Ibn al-Qoyyim al-Jawziyyah seorang ulama’ rujukan kaum wahhabiyyun juga berpendapat yang sama, membenarkan amalan talqin dapat diamalkan dengan berdasarkan hadits dhoif ini. Apakah antum mengikuti pendapat ulama’ kholaf dan meninggalkan pendapat ulama’ salaf? Karena para ulama’ salaf dari kalangan ahlussunnah wal jama’ah justru berpendapat yang berbalik 180 derajat dari pendapat antum dalam hal dalil talqin mayyit ini.

      Wallaahu a’lam.

      Semoga bermanfaat.

      Balas

    • si wahab kok dibilang al haqq,nama aja ente siraj,tp otak gelap ente ganti nama aja ahmaq ntu lebih pantes buat ente..ngelarang muslimin taklid,eeeh malah ente yg taklid buta,,parahnya sama orang bodoh lagi.

      Balas

  9. Posted by Dianth on 10 April 2011 at 1:19 pm

    Mantap Mas Jundu Muhammad. Salam Buat antum, terus berjuang menegakkan yang hak, sesungguhnya yang batil itu pasti akan lenyap.

    Balas

  10. sbnarnya wahabi satu ini sudah ragu dgn apa yg dia fahami,namun dia tdk mau menulis komentar yg berbau kalah apalg mengakui kekalhan dan kesalahan,krn takut hilang jatah dr komandan,tp insya Allah dia pst skrg lg giat istighfar dan sholat taubat….

    Balas

  11. yANG nAMANYA wAHABI PASTI ISINYA NGEYEL ALIAS TDK MAU MENERIMA PERBEDAAN, NGOTOT PALING BENAR, WAHABI ADALAH TETAP TERBAIK, LAH ITU BOCAH BODOH NGAKU PINTER, BERJUANG TERUS JUNDU MUHAMMAD SEPERTI WAHABI ITU NGENYEL, KALAU DIA HANYA BISA MENGJAFIRKAN SAUDARANYA DIRINYA KAFIR TIDAK TAHU, ADA ANAK BODOH TAHLILAN DIKATAKAN BID’AH, ADA ANAK BODOH YASINAN ITU DOSA POKOKNYA ORANG SEPERETI ITU SUSAH (DLM BAHASA JAWA ( mANUSIA TATANAN ANGEL) SULIT DINASEHATI NAMANYA ANAK BODOH,…

    Balas

  12. Posted by Izal on 19 Mei 2011 at 1:58 am

    Aslkm. wr.wb
    Alhamdulillah..syukran Ustd. JunduMuhammad…Ustadz menampilkan akhlaq ahlussunnah…tak sekalipun anda mencela ulama. Malah kawan salafy-wahabby tadi yg terus mencela ulama.
    Gaya bahasa nya minta ampun menyakinkan…tak mau kalah dan tak mau salah..malahan ulama yg salah, dia/ kaumnya tak boleh salah
    Apalagi ketahuan kalo salah nukil dari halaman yg tak ada…
    Lanjutkan Ustdz untuk mencerdaskan umat dengan akhlaqul karimah
    I Like This Blog

    Balas

  13. Posted by ahmad kusna on 21 Mei 2011 at 10:09 pm

    Alhamdulillah…telah terbukti kebenarannya mana yang salah dan mana yang benar sesuai dalil yang sebenarnya.terus berjuang Ustadz JunduMuhammad untuk membela yang benar.

    Balas

  14. Posted by adlan on 22 Juni 2011 at 9:30 pm

    say amu tanya….?
    apakah bid’ah itu bisa di bagi menjadi 5, seperti sumber yg saya dapatkan,,,
    menurut ahlus sunnah sndiri gmn tentang pndapat berikut :

    Sunnah dan Bi’dah Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar hal bid’ah dan sunnah. bahkan perdebatan ini menjurus pada perpecahan. Padahal tidak harus demikian, justru perbedaan itu adalah rahmat, asalkan kita mau berlapang dada. Oleh karenanya menjadi penting bagi umat muslim untuk mengetahui apakah bid’ah itu, dan bid’ah seperti apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan?
    Menurut para ulama’ bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah:
    1. Imam Syafi’i
    Menurut Imam Syafi’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunah adalah madzmumah.
    Bid’ah hasanah/mahmudah dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah bid’ah wajib seperti kodifikasi (pengumpulan) al-Qur’an pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan pengumpulan hadits ke dalam kitab-kitab besar pada zaman sesudahnya.
    Sedangkan bid’ah hasanah yang kedua adalah bid’ah sunah, seperti shalat tarawih 20 rakaat pada zaman khalifah Umar bin Khathab.
    2. Imam al-Baihaqi
    Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghairu madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunah, dan Ijma’ adalah bid’ah mahmudah atau ghairu madzmumah. Sedangkan bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah bid’ah yang tidak memiliki dasar syar’i sama sekali.
    3. Imam Nawawi
    Bid’ah menurut Imam Nawawi dibagi menjadi dua; bid’ah hasanah dan bid’ah qabihah.
    4. Imam al-Hafidz Ibnu Atsir
    Ibnu Atsir juga membagi Bid’ah menjadi dua; bid’ah yang terdapat petunjuk nash (teks al-Qur’an/hadits) di dalamnya, dan bid’ah yang tidak ada petunjuk nash di dalam¬nya.
    Jadi setiap bentuk bid’ah yang menyalahi kitab dan sunah adalah tercela dan harus diingkari. Akan tetapi bid’ah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka masuk dalam kategoti terpuji.
    Lalu bagaimana dengan hadits
    كُلُّ بٍدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ
    Setiap bid’ah adalah sesat.
    Berikut ini adalah pendapat para ulama’:
    1. Imam Nawawi
    Hadits di atas adalah masuk dalam kategori ‘am (umum) yang harus ditakhshish (diperinci).
    2. Imam al-Hafidz Ibnu Rajab
    Hadits di atas adalah dalam kategori ‘am akan tetapi yang dikehendaki adalah khash (‘am yuridu bihil khash). Artinya secara teks hadits tersebut bersifat umum, namun dalam pemaknaannya dibutuhkan rincian-rincian.
    Ada sebagian ulama’ yang membagi bid’ah menjadi lima bagian sebagai berikut,
    1. Bid’ah yang wajib dilakukan : contohnya, belajar ilmu nahwu, belajar sistematika argumentasi teologi dengan tujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang atheis dan orang-orang yang ingkar kepada agama Islam, dll.
    2. Bid’ah yang mandub (dianjurkan): contohnya, adzan menggunakan pengeras suara, mencetak buku-buku ilmiah, membangun madrasah, dan lain-lain.
    3. Bid’ah yang mubah : contohnya, membuat hidangan makanan yang berwarna warni, dan sejenisnya.
    4. Bid’ah yang makruh : contohnya, berlebihan dalam menghias mushaf, masjid dan sebagainya.
    5. Bid’ah yang haram: yaitu setiap sesuatu yang baru dalam hal agama yang bertentangan dengan keumuman dalil syar’i. misalnya solat isya tujuh rekaat dll.
    (disarikan dari buku Tradisi Amaliah NU dan Dalilnya, penerbit LTM (Lembaga Ta’mir Masjid) PBNU

    sumber dari (http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/10/27407/Ubudiyyah/Sunnah_dan_Bi_dah.html)

    Balas

    • ^_^ memang benar demikianlah adanya. Para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah memang membagi bid’ah menjadi beberapa kategori seperti sumber yang anda sebutkan distu ada ulama’ yang membagi bid’ah hanya dua macam saja, ada pula ulama’ ahlussunnah wal jama’ah yang membagi bid’ah menjadi lima yaitu al-Imaam al-Izz ibn Abdissalaam rahimahullah.

      Selain para imam yang disebutkan pada link yang anda cantumkan, masih banyak ulama ahlussunnah wal jama’ah lain dari empat madzhab yang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi beberapa macam.

      Ulama dari empat madzhab telah sepakat dengan klasifikasi Bid’ah terbagi pada lima hukum seperti yang dikemukakan oleh al-Imam al-Izz bin Abdissalam, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Berikut ini pendapat Ulama ahlussunnah wal jama’ah dari empat madzhab yang berpendapat demikian:

      1. Dari madzhab Hanafi: Al-Kirmani, Ibnu Abidin, at-Turkmani, al-Himyari dan at-Tahanawi. [Al-Kirmani, “al-Kawakib ad-Darari Syarh Shahih al-Bukhari, IX : 54, Ibnu Abidin, “al-Hasyiyah”, I : 376, I : 560, at-Turkmani, “al-Luma` fil-Hawadits wal-Bida`, I : 37, at-Tahanawi, “Kassyaf Istilahat al-Funun, I : 133-135, al-Himyari, “al-Bid`ah al-Hasanah” (hal.152-153)]

      2. Dari madzhab Maliki: at-Turtusyi, Ibnul-Hajj, al-Qarafi dan az-Zurqani.[At-Turtushi, “al-Hawadits wal-Bida`, hal. 15, 158-159, Ibnul-Hajj, “Madkhal asy-Syar` asy-Syarif, II : 115, al-Qarafi, “al-Furuq”, IV : 219, az-Zurqani, “Syarh al-Muwattha’, I : 238.]

      [Catatan tambahan untuk ulama' dari madzhab maliki: Tidak termasuk asy-Syathibi. Karena asy-Syatibhi mengingkari pembagian bid'ah menjadi beberapa macam. Pendapat asy-Syathibi inilah yang kemudian diangkat oleh Rasyid Ridha, Salim Hilali dan Muhammad Abdussalam Khadir asy-Syuqairi (murid Rasyid Ridha). Asy-Syuqairi menulis buku berjudul "as-Sunan wal-Mubtada`at al-Muta`alliqah bil-Adzkar wash-Shalawat"]

      3. Dari madzhab asy-Syafi’i: Semua berpendapat sama. [Abu Syama, “al-Ba`its `ala Inkar al-Bida` wa al-Hawadits”, hal. 93.]

      4. Dari madzab Hanbali: Generasi salaf madzhab hanbali telah sepakat dengan pendapat asy-Syafi’i.

      Kemudian dari beberapa kalangan muta’akhirin dari madzhab ini mencoba mengingkarinya dengan mengatakan bahwa pembagian asy-Syafi’i dan al-Izz ibn Abdissalam terhadap bid’ah adalah dari segi bahasa.[Ibnu Rajab, “al-Jami` fil-`Ulum wal-Hikam”, II : 50-53]. Dan pembagian bid’ah menurut bahasa adalah pendekatan yang sering dibawakan oleh golongan anti Bid’ah Hasanah untuk mendukung pendapat mereka. Mereka tetap bersikukuh bahwa semua “Bid’ah” (termasuk Bid’ah Hasanah) adalah sesat, meskipun pendapat itu bertentangan dengan realitas dan pendapat jumhur ulama.

      Pendapat asy-Syafi’i juga didukung oleh al-Imam as-Suyuthi, sebagaimana yang beliau tulis dalam risalah yang berjudul “Husnul Maqashid fi ‘Amalil-Maulid” [dapat dilihat pada link ini: Baca disini] dan “Al-Mashabih fi Shalatit-Tarawih”. Didukung pula oleh al-Imam Az-Zarqani seperti yang beliau tulis dalam kitab “Syarah al-Muwattha’, Didukung pula oleh al-Imam Ali al-Qari seperti yang beliau tulis dalam kitab “Syarhul-Misykah”. Didukung pula oleh al-Qusthallani seperti yang beliau tulis dalam kitab “Irsyadus-Sari Syarah Shahih al-Bukhari”.

      Semoga bermanfaat.

      Balas

  15. TIDAK ADA BID’AH HASANAH

    “Maka apakah orang yang BERPEGANG PADA KETERANGAN YANG DATANG DARI RABBNYA sama dengan orang yang (syaithan) menjadikan dia MEMANDANG BAIK perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad : 14)

    Imam Syaukani membantah orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan dholalah karena tidak berdasar dengan hadits Nabi yang jelas mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.
    IMAM SYAUKANI berkata: ”Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca) bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang bertentangan dengan syari’at yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang MEMBAGI BID’AH TERSEBUT KEPADA BEBERAPA MACAM, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu” (Risalah tentang Hukum Maulid oleh Asy-Syaukani).

    Allah berfirman: “Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat SEBAIK-BAIKNYA.” (QS. Al-Kahfi:103-104).
    IBNU KATSIR berkata, “Sesungguhnya ayat ini Makiyah (turun sebelum peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah), sebelum berbicara terhadap orang-orang Yahudi dan Nashara, dan sebelum adanya al-Khawarij (kaum pertama pembuat bid’ah) sama sekali. Sesungguhnya ayat ini umum meliputi setiap orang yang beribadah kepada Allah dengan jalan yang tidak diridhai Allah, dia menyangka bahwa dia telah berbuat benar di dalam ibadah tersebut padahal dia telah berbuat salah dan amalannya tertolak. (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim)

    “Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) MENGANGGAP BAIK pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Fathir : 8)

    Abdullah bin Umar berkata: “Setiap bid’ah itu sesat meskipun DIANGGAP BAIK oleh manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ilas Sunan Al-Kubra I/180 no.191, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205, dan Al-Lalika-i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah no. 126)

    Imam Malik (Imam Mazhab/Tabiut Tabi’in/guru Imam Syafi’i) rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah di dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati Risalah beliau. Karena Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”, maka segala sesuatu yang pada hari itu bukan merupakan agama maka tidak pula menjadi agama pada hari ini.” Al-‘I’tisham (1/28).

    Di dalam Sunan Ad-Darimi (210) dengan sanad yang shahih bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mendatangi manusia yang sedang berhalaqoh (duduk melingkar) di dalam Masjid. Di tangan mereka terdapat kerikil dan di antara mereka ada seorang pria yang mengatakan: “bertakbirlah seratus kali” maka orang-orang pun ikut bertakbir seratus kali dan menghitungnya dengan kerikil. Pria itu mengatakan: “bertahlil-lah seratus kali, bertasbihlah seratus kali” dan mereka pun melakukan perintahnya. Abdullah bin Mas’ud pun menemui mereka dan mengatakan : “Apa yang aku lihat kalian sedang mengerjakannya ini?” mereka mengatakan: “Wahai Abu ‘Abdirrahman! Ini kerikil yang kami menghitung dengannya takbir, tahlil dan tasbih.” Ibnu Mas’ud menukas: “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, dan aku akan menjamin bahwa kebaikan kalian tidak akan tersia-siakan sedikitpun. Sungguh celaka kalian wahai umat Muhammad! Begitu cepatnya kebinasaan kalian! Lihatlah mereka, para sahabat Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa Salam masihlah banyak, baju beliau belumlah usang dan bejana beliau belumlah pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, apakah kalian merasa bahwa kalian berada di atas millah (agama) yang lebih memberikan petunjuk dibandingkan millah Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu fitnah?” Mereka mengatakan: “Demi Alloh wahai Abu ‘Abdurrahman! KAMI TIDAKLAH MENGINGINKAN MELAINKAN KEBAIKAN.” Abdullah bin Mas’ud menjawab: “BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGINGINKAN KEBAIKAN NAMUN TIDAK MEMPEROLEHNYA…” Lihat as-Silsilah ash-Shahihah.

    Imam Syafi’i berkata: ”Barangsiapa yg MENGANGGAP BAIK suatu perbuatan berarti telah menetapkan suatu syari’at.” (Al-Mankhuul oleh Imam Ghozali hal. 374)
    Imam Syafi’i berkata: ”Sesungguhnya ANGGAPAN BAIK hanyalah menuruti selera hawa nafsu.” (Ar-Risalah hal. 507)

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    Sa’id bin Musayyab (tabi’in) melihat seseorang mengerjakan lebih dari 2 rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116)

    Sufyan bin Uyainah (tabiut tabi’in) mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas (imam mazab/tabiut tabi’in/guru imam Syafi’i) didatangi seseorang yang bertanya: Wahai Abu Abdillah dari mana saya harus melaksanakan ihram (untuk haji/umrah)? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan, saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah SAYA HANYA SEKEDAR MENAMBAH BEBERAPA MIL SAJA? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yang lebih hebat dari sikapmu yang menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kamu MENAMBAHNYA? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala: ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Nu’aim)

    Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhah al-Qurthubi dalam kitab ‘al-Bida’ dan larangannya (halaman 12) : ‘Dari ash-Shalt bin Bahran, ia berkata : ‘Ibnu Mas’ud pernah melewati seorang perempuan yang membawa alat tasbih yang digunakan bertasbih, lalu Ibnu Mas’ud memutusnya dan membuangnya. Kemudian ia melewati seorang laki-laki yang bertasbih dengan kerikil, maka Ibnu Mas’ud menendang dengan kakinya seraya berkata :’Kalian telah mendahului! Kalian menunggang bid’ah dengan kedhaliman dan kalian mengalahkan sahabat Muhammad shollallahu ’alaihi wasallam dalam ilmu.’ Juga bid’ah adalah penyelisihan terhadap petunjuk Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam. Abdullah bin Amr berkata :’Saya melihat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam menghitung ucapan tasbihnya dengan tangan kanannya.’ (HR Abu Daud (1/235) dan Tirmidzi (IV/255) dan ia menghasankannya)

    Adapun perkataan Imam Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi 2, maksudnya adalah bid’ah syariat (bid’ah yang diancam dalam agama) dan bid’ah dalam arti bahasa.
    Ibnu Katsir berkata, “Bid’ah itu ada dua macam:
    1. Bid’ah syar’iyyah (menurut pengertian syari’at) seperti dalam sabda Rasulullah, “Karena setiap (perkara) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”
    2. Bid’ah lughawiyyah (menurut arti bahasa) seperti perkataan Amirul Mukminin Umar ketika menyatukan mereka dalam shalat tarawih secara berkelanjutan, ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini’.”( Tafsir Ibnu Katsir (1/162), surat Al-Baqarah ayat 117)
    ORANG YANG BERTAQLID DENGAN PERKATAAN IMAM SYAFI’I YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM HAL MEMBENCI SELAMATAN KEMATIAN DAN DZIKIR BERJAMAAH

    Taruhlah seandainya benar perkataan Imam Syafi’i yang dimaksud adalah bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah, mengapa orang-orang yang mengambil perkataan beliau tersebut masih senang melakukan selamatan kematian dan dzikir berjamaah dengan keras selesai sholat fardhu, padahal dengan tegas Imam Syafi’i membenci kedua perkara tadi?

    Imam Syafi’i (Imam Mazhab/murid Imam Malik & Sufyan bin Uyainah/guru Imam Ahmad bin Hanbal) sendiri tidak menyukai amalan berkumpul di rumah kematian sebagaimana yang telah dikemukakan di dalam kitabnya Al-Umm, “Aku tidak suka mat’am yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat) meskipun di situ tiada tangisan karena hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan.”( Al-Umm : juz 1; hal 248) Perkataan beliau ini sesuai dengan riwayat: dari Sahabat Jarir bin Abdullah Al Bajali, dia berkata: “Kami (para sahabat Nabi) memandang berkumpul keluarga mayit dan pembuatan makanan setelah penguburannya termasuk niyahah (meratap). (HR. Ahmad dan ini lafazhnya, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh An Nawawi, Al Bushiri, dan Al Albani)

    Imam Nawawi di dalam kitab Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab dia mengatakan: “Adalah, membaca al-Qur’an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati atau sebagainya adalah tidak sampai kepada mayat yang dikirimkan menurut Jumhurul Ulama dan IMAM SYAFI’I. Keterangan ini telah diulang beberapa kali oleh imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Shohih Muslim” (as-Subuki, Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab: juz 10, hal; 426).

    Imam Syafi’i berkata:
    “Saya berpendapat bahwa seorang imam dan makmumnya hendaknya mereka berdzikir kepada Allah seusai shalat, dan hendaknya mereka merendahkan (memelankan) dzikirnya, kecuali bagi seorang imam yang ingin agar para makmumnya belajar (dzikir) darinya, maka ia boleh mengeraskan dzikirnya, hingga bila ia merasa bahwa mereka telah cukup belajar, ia kembali merendahkannya, karena Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.’ (QS Al Isra’: 110). Maksud kata ﺓﻼﺼﻟﺍ -wallahu Ta’ala a’alam- ialah: doa. Laa Tajhar: Jangan engkau mengangkat suaramu, wa laa tukhofit: Jangan engkau rendahkan hingga engkau sendiri tidak mendengarnya.“ (Al Umm, oleh Imam As Syafi’i 1/127).

    “Imam As Syafi’i –rahimahullah Ta’ala- menafsiri hadits bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengeraskan suaranya dalam beberapa waktu saja, guna mengajari sahabatnya cara berdzikir, bukan berarti mereka (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan sahabatnya) senantiasa mengeraskan suaranya. Beliau (As Syafi’i) berkata: ‘Saya berpendapat bahwa seorang imam dan makmumnya hendaknya mereka berdzikir kepada Allah, seusai menunaikan shalatnya, dan hendaknya mereka merendahkan suara dzikirnya, kecuali bagi seorang imam yang ingin agar para makmumnya belajar (dzikir) darinya, maka ia boleh mengeraskan dzikirnya, hingga bila ia sudah merasa bahwa mereka telah cukup belajar, ia kembali merendahkannya.’” (Syarah Shahih Muslim oleh An Nawawi 5/84, dan Fath Al Bari, oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 2/326. Dan baca pula Al Umm oleh As Syafi’i 1/126-127).

    Balas

    • Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

      Kalau memang anda menolak adanya bid’ah hasanah, yang notabene banyak ulama’ yang mengakui pendapat tentang adanya bid’ah hasanah, silakan saja. Para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah tersebut memiliki pengetahuan yang sangat mendalam tidak hanya dibidang hadits, akan tetapi juga sangat menguasai nahwu shorof mantiq dan balaghah. Dan kalau memang anda merasa lebih faham di dalam ilmu hadits, tolong terangkan kepada kami tentang sebagian nukilan hadist dibawah ini sesuai nahwu shorof mantiq dan balaghoh:

      كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار

      1. Dimana maudhu’ nya? Ada berapa?
      2. Dimana mahmulnya? Ada berapa?
      3. Dimana muqaddam? Ada berapa?
      4. Dimana taalinya? Ada berapa?
      5. Dimana muqaddimah shugronya? Ada berapa?
      6. Dimana muqaddimah kubronya ? Ada berapa?
      7. Tolong diqiyaskan dan dimana letak pembuangan had wasathnya sesuai syikil awal kah? Syikil tsani kah? Syikil tsalist kah? Atau syikil robi’ kah?
      8. Apakah boleh di aksul mustawikan disini sesuai kaif dan kam nya?
      9. Apakah shoh tanaqudh dibahasan ini sesuai keif dan kam nya?
      10. Saya juga minta ta’rif bid’ah sesuai had tam
      11. Sesuai had naqish
      12. Sesuai rasm tam
      13. Sesuai rasm naqish
      14. Sesuai alfazh
      15. Apakah natijahnya kulliyah mujabah?
      16. Ataukah juz-iyah mujabah?
      17. Tunjukkan dimana musnadnya?
      18. Dimana musnad ilaihnya?
      19. Adakah disini hazfu muhdhaf? Dimana?
      20. Tunjukkan dimana qosharnya?
      21. Dimana ijaz nya?
      22. Dimana ithnab nya?
      23. Adakah disini janas?
      24. kullu kepada muhdatsah itu idhofat apa?
      25. kullu kepada bid’ah itu idhofat apa?
      26. muhdatsah itu mashdar apa?
      27. bid’ah itu mashdar apa?
      28. dholalah itu mashdar apa?
      29. hurup jar pada finnar bima’na apa?
      30. fi itu muta’alliq nya kemana?

      Ingat! Yang bersabda tentang hadits “كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة” ini adalah Rasulullah yang dberikan mu’jizat Jawaami’ul Kalam, disini terdapat pembahasan ilmu nahwu, sharaf, mantiq dan balaghah yang tinggi, bukan sembarangan terjemah.

      Balas

      • wah wah kalau gegini cara debat, itu menunjukkan kelemahan Anda, jgn dilarikan ke situ donk…Kasih aja sanggahan Anda thd yg ditulis @Susanto, jgn lari dari perdebatan dengan membuka perdebatan baru..OKE??? sy di sini belajar serta menyimak dan insyaallah akan tahu mana yg berpendapat/bicara dgn menggunakan dalil secara benar

        Balas

        • Assalamu’alaikum warohmatulohi wabarokatuh…

          Untuk saudara Susanto , saya memang bukan ahli dalam hal agama, mungkin anda lebih tahu dari saya..tapi mudah2an apa yang akan saya tunjukan nanti bermamfaat dan menjadi bahan untuk kita semua agar tidak mem-bid’ah-kan semua hal/amalan yang baru dalam agama ( beribadah )..disini akan saya kutip beberapa hadist ,silakan ditelaah ..mohon di betulkan jika salah :
          ]
          “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang
          menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah
          (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-
          Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi,
          Manaqib al-Syafi’i, 1
          /469).

          Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu
          alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam
          Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang
          melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan
          barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan
          memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya
          tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

          Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama
          Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata:
          “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata:
          “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah
          selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu
          menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat
          berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

          “Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku
          pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid
          berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga
          yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu
          berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam,
          tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab.
          Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan
          mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal
          itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di
          akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang
          menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]).

          “Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu
          alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah
          imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat
          semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu
          nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]).

          Balas

  16. SIAPA YANG MENGATAKAN ZAKAT DENGAN BERAS TIDAK ADA DALILNYA (HANYA QIYAS SAJA)?
    SIAPA YANG MENGATAKAN ZAKAT PADA ZAMAN RASULULLAH HANYA BERUPA KURMA SAJA? Berkatalah dengan ilmu wahai Saudaraku, jangan berkata dengan hawa nafsu.

    Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda: “Zakat fithri satu sha’ MAKANAN, barangsiapa membawa gandum diterima, yang membawa korma diterima, yang membawa salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) diterima, yang membawa anggur kering diterima, aku mengira beliau berkata, “Yang membawa adonan diterima.” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/180 dengan sanad hasan)

    Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiyallahu ‘anhu seperti yang dituliskan dalam shahih Bukhari, berkata :”Kami mengeluarkan (zakat fithri) pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu sha’ dari MAKANAN. Ketika itu makanan kami adalah kurma, tepung syair, kismis dan keju” [Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Zakat/bab Shadaqah Fithri Satu Sha’ Dari MAKANAN 1506]

    Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu anhu berkata: “Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam) satu sha’ MAKANAN, satu sha’ gandum, satu sha’ korma, satu sha’ susu kering, satu sha’ anggur kering.” [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)]

    Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri, ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu, namun yang paling kuat lafadz di atas mencakup SELURUH YANG DIMAKAN termasuk hinthah dan jenis lainnya, tepung dan adonan, semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu sha’ MAKANAN dari anak kecil, besar, budak dan orang yang merdeka. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima, aku mengira beliau berkata, “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima, barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan, diterima.” [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180), sanadnya hasan]

    Berkata Ibnu Hajar Al Asqalani: “Sepertinya barang-barang yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Sa’id,- di mana takaran barang itu sama padahal harganya berbeda-beda- ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan BARANG-BARANG TERSEBUT DARI JENIS APA PUN (bukan harganya).”

    Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan kewajiban zakat fithri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor serta sebagai MAKANAN untuk orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud 1622 dan An Nasa’i 5/50)

    Pernah ada yang mengatakan kepada Imam Ahmad Rahimahullah : “Ada yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz (Tabi’in/Khalifah) mengambil uang dalam zakat fithri”. Maka Imam Ahmad berkomentar : “Mereka meninggalkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan “kata si Fulan”. Padahal Ibnu Umar berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandhum”. (Ibnu Taimiyah dalam Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyah)

    Berkata Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Masa’il Imam Ahmad hal. 171 masalah ke 647: “Saya mendengar bapakku, beliau membenci untuk memberikan harga dalam zakat fithri, katanya: ‘Saya khawatir apabila diganti harga tidak akan sepadan/mencukupinya.’”

    Berkata Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/65: katanya “Barangsiapa membayar zakat dengan harganya tidak akan sepadan/mencukupinya.”

    Berkata Imam Syaukani dalam Nailul Authar: ‘Zakat wajib berupa BARANG, tidak boleh diganti dengan harga/nilainya, kecuali jika tidak ada barang dan jenisnya”.

    Berkata Imam Nawawi dalan Syarah Muslim 7/60: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan BERBAGAI MACAM BARANG yang harganya bermacam-macam, dan beliau mewajibkan dari setiap jenisnya satu sho’, maka ini menunjukkan bahwa yang teranggap/diakui adalah sho’ bukan harganya”.

    Wahai orang-orang yang mengaku sebagai ASWAJA, lisan kalian mengaku CINTA RASUL, tetapi apakah perbuatan kalian benar-benar sesuai dengan Firman Allah berikut ini:
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allåh.” (QS. Al-Ahzab:21).
    “Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’” (Q.S.Al-Ahzab:32)

    Balas

  17. Sebelumnya kami mohon maaf jika ada kata-kati kami yang kurang berkenan, semoga Allah memberikan ampunan dan rahmat kepada seluruh kaum muslimin.

    Allah berfirman: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)” (QS.4:59)

    YG MENJADI HUJJAH ADALAH HADITS, BUKAN PENDAPAT ORANG (BOLEH BERTAQLID SELAMA BELUM DATANG HADITS, TETAPI SETELAH SAMPAI PADANYA HADITS MAKA PENDAPAT ORANG TADI HARUS DITINGGALKAN)

    Saya setuju kalau dalam memahami suatu ayat atau hadits kita perlu dan sangat perlu melihat tafsir mereka para Ulama. Kita boleh mengikuti pendapat ulama ASALKAN kita ketahui sumbernya bahwa ulama tersebut BERPENDAPAT DENGAN HADITS QATHI’ (rinci/jelas) bukan dengan ijtihad semata (bukan bersumber dari hadits yg qathi’). Karena adakalanya mereka berijtihad bukan dari hadits karena belum sampainya hadits atau berpegang pada hadits yang ia kira shohih tetapi menurut ulama yang lain ternyata hadits lemah (seperti ucapan imam Syafi’i kepada Ahmad yang menyatakan bahwa Ahmad lebih tahu tentang keshahihan suatu hadits).
    Imam Syafi’i berkata: ”Kalian (Imam Ahmad) lebih tahu tentang hadits dan para perawinya daripada aku.” (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i hal. 94-95, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah IX/106, dll)
    Imam Ahmad berkata: ”Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri, tetapi AMBILLAH DARI SUMBER MEREKA MENGAMBIL.” (Al-Filani hal. 113 dan Ibnul Qayyim dalam Al-I’lam II/302)
    Abu Hanifah berkata: “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil SUMBERNYA.” (Ibnu Abdul Barr dalam Al-Intiqa fi Fadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah Al-Fuqaha hal. 145, Ibnul QayyimIbnu Abidin, dll)

    Tetapi adakalanya ulama berpendapat dengan ijtihad/qiyas semata bukan dengan hadits disebabkan karena memang belum sampai kepada mereka suatu hadits tertentu (Jangan sampai ada yg mengatakan bahwa 1 ORANG ULAMA PASTI HAFAL SEMUA YG PERNAH DISABDAKAN OLEH RASULULLAH, padahal ulama tersebut tidak hadir setiap apa yang disabdakan Rasulullah). Jangan heran kalau untuk mendapatkan 1 (SATU) buah hadits saja mereka perlu melakukan perjalanan selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan (Said bin Musayyib berkata: ”Saya pernah berjalan berhari-hari demi mendapat satu buah hadits”. Jami’ Bayanil Ilmi oleh Ibnu Abdil Bar 1/113). Padahal sering sekali kalau para pengikut mereka (murid-murid mereka) menanyakan suatu permasalahan agama setiap saat kepada ulama yg menjadi guru mereka dan ulama tersebut perlu memberikan fatwa/jawaban atas permasalahan yg sangat mendesak tersebut. Sehingga TERKADANG jika telah sampai hadits maka para ulama berpendapat menggunakan hadits tersebut, tetapi jika belum sampai hadits maka ulama tersebut berpendapat menggunakan ijtihad semata.
    Misalnya:
    Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Imam Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki di dalam berwudhu, lalu dia berkata, “Hal itu bukan urusan manusia”. Dia berkata, “Maka aku meninggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit, kemudian aku berkata kepadanya: ”Kami mempunyai sebuah hadits mengenai hal itu, maka Imam Malik bertanya: “Bagaimana hadits itu”? “Aku berkata: Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Harits dari Yazid bin Amr Al-Mu’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habali dari Al Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyiyyi, ujarnya: ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu AlaihinWasallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari-jari kakinya”. Maka Malik berkata, “Hadist ini hasan, aku tidak pernah mendengarnya sama sekali kecuali kali ini. Kemudian di lain waktu, saya mendengar beliau ditanya tentang hal yang sama lalu beliau menyuruh orang itu untuk menyela-nyela jari kakinya. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim hal. 31-32 dan Baihaqi dalam Sunan-nya I/81)
    Imam Syafi’i berkata: ”Kalian (Imam Ahmad) lebih tahu tentang hadits dan para perawinya daripada aku. Apabila suatu hadits itu shahih, beri tahukanlah kepadaku biar di manapun orangnya, apakah di Kuffah, Bashrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya.” (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i hal. 94-95, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah IX/106, dll)

    Karena BENAR-BENAR KECINTAAN mereka para ulama kepada Rasulullah, sehingga mereka para ulama tersebut mewanti-wanti kepada para pengikutnya agar jika mengetahui ada pendapat mereka yang bertentangan dengan hadits shohih maka disuruh untuk meninggalkan pendapat mereka dan wajib mengikuti hadits shohih tersebut

    Sahabat Ibnu Abbas mengatakan: ”Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku menyampaikan sabda Rasulullah akan tetapi kalian membantah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 1/337)
    Imam Ahmad berkata: ”Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah semuanya hanyalah pendapat. Bagi semua pendapat sama saja, tetapi yg menjadi hujjah agama adalah yg ada pada Sunnah Nabi.” (Ibnu Abdul Barr dalam Al-Jami’ II/149)
    Imam Syafi’i berkata:“Setiap apa yang aku katakan bila bertentangan dengan riwayat yang shahih dari Nabi shollallahu ’alaihi wasallam, maka hadits Nabi lebih utama dan JANGANLAH KALIAN BERTAQLID KEPADAKU” (Ibnu Abi Hatim hal. 93, Ibnu Asakir 15/9/2)
    Imam Syafi’i berkata:“Setiap orang harus bermazhab kepada Rasulullah dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi BERTENTANGAN DENGAN PENDAPATKU, apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itulah yang menjadi pendapatku.” (Diriwayatkan oleh Hakim dalam Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)
    Imam Syafi’i berkata:“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikut perkataan seseorang.” (Ibnul Qayyim 2/361, dan Al-Fulani hal.68)
    Imam Syafi’i berkata: ”Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yg ternyata menyalahi hadits Nabi yg SHAHIH, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna.” (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Ibnu Asakir, dsb)

    Balas

  18. BOLEHKAH MENGAMALKAN HADITS DHAIF?

    Memang benar bahwa para ulama berbeda pendapat tentang menggunakan hadits dhoif (lemah) dalam fadhilah amal. Ijtihad mereka para ulama bisa benar dan bisa salah. Ulama yg salah dalam ijtihad dapat 1 pahala, sedangkan ulama yang benar dapat 2 pahala. Adapun kita (termasuk saya) para muqallid (para pengikut) harus berusaha dengan sungguh-sungguh mencari pendapat yg paling kuat yaitu yang mencocoki Hadits karena sebagai bukti kecintaannya pada Rasulullah.

    Ibnul ‘Arobi al-Maliki berkata : Mereka (Ulama Mazhab Malikiyah) berkata : berapa wilayah telah dilalui beliau dan jenazah dihadiri secara langsung oleh beliau! Kami katakan: Sesungguhnya Rabb kita adalah Maha Mampu atasnya dan sesungguhnya Nabi kitalah yang layak dengannya. Akan tetapi janganlah kalian berpendapat melainkan hanya dengan yang kalian riwayatkan, janganlah kalian membuat-buat hadits yang berasal dari diri kalian sendiri, janganlah kalian menyampaikan melainkan yang tsabat (tetap) dan TINGGALKAN YANG LEMAH, karena ia merupakan jalan kerusakan kepada sesuatu yang tidak memiliki kerusakan.” (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar (3/189) dan pula Nailul Authar karya Asy-Syaukani 4/54)

    Imam Muslim berkata dalam Muqaddimah Shahih Muslim: ”Ketahuilah bahwa yang wajib dilakukan oleh semua orang yang mengetahui cara membedakan antara riwayat yang shohih dengan yang lemah, serta membedakan antara perowi yang tsiqoh dengan yang dusta agar tidak meriwayatkan kecuali yang dia ketahui KESHOHIHAN sanadnya, dan hendaklah dia MENGHINDARI jangan sampai meriwayatkan dari orang-orang yang tertuduh berdusta, para penentang dan ahli bid’ah.” Lalu Imam Muslim menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lihat pada Kitab beliau karena pembahasan ini sangat penting. (Shohih Muslim 1/6 dst)

    Orang yang berpendapat bolehnya mengamalkan hadits dhoif beralasan karena ada KEMUNGKINAN bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah.
    Hadits lemah/dhoif itu hanya berupa kemungkinan/prasangka saja, mungkin dari Rasulullah, mungkin juga bukan dari beliau. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya melarang sesuatu yang belum benar-benar jelas kepastiannya/kebenarannya.

    Allah berfirman: ”Sesungguhnya persangkaan (Dhon) itu tidak berfaedah sedikitpun pada kebenaran.” (QS. An-Najm : 28)
    Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Jauhilah berprasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari 6064 dan Muslim 2563)

    Imam Muslim berhujjah dengan hadits berikut ini: Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia SANGKA bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Kitab Shohih beliau).

    Ibnu Hibban berkata mengomentari hadits riwayat Muslim di atas dalam Kitab Adh-Dhuafa’ 1/7-8 : ”Hadits ini menunjukkan bahwa seorang ahli hadits kalau meriwayatkan sebuah hadits yang tidak shohih dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam padahal dia mengetahuinya maka dia termasuk salah satu pendusta, padahal dhohirnya hadits tersebut menjelaskan perkara yang lebih besar lagi, di mana Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Barangsiapa menceritakan dariku sebuah hadits yang dia SANGKA bahwa itu dusta…” dan Rasulullah tidak bersabda : ”Yang dia YAKINI bahwa itu dusta” maka semua orang yang masih ragu-ragu pada apa yang dia riwayatkan apakah hadits itu shohih ataukah tidak, maka dia termasuk dalam ancaman hadits tersebut.”

    Ucapan Ibnu Hibban ini dinukil oleh Imam Ibnu Abdil Hadi dalam Ash-Shorim Al-Munki hal. 165-166 dan beliau menyepakatinya.

    Dari Hafsh bin Ashim ra berkata: Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim 5 dan Abu Dawud 4992)

    Ibnu Hibban berkata lagi dalam Kitab Adh-Dhuafa’ 1/9: ”Hadits ini merupakan ancaman bagi seseorang yang menceritakan semua yang dia dengar sampai dia mengetahui dengan pasti keshohihannya.”

    Abdullah Ibnu Mubarak berkata: ”Sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad niscaya semua orang akan bicara semaunya sendiri.” (Muqaddimah Shahih Muslim)

    Imam Nawawi mengomentari perkataan Abdullah Ibnu Mubarak dalam Kitab beliau Syarah Shahih Muslim bahwa bila sanad hadits itu dapat diterima, BILA TIDAK SHAHIH MAKA HARUS DITINGGALKAN. Dinyatakan hubungan hadits dengan sanadnya seperti antara hubungan hewan dengan kakinya (Shahih Muslim bi Syarah Imam An-Nawawi I/88 cet. Darul Fikr).

    Orang yang mengamalkan hadits dhoif, ketika ditanya apa dalilnya anda mengamalkan amalan ini, maka ia bisa saja menjawab dengan ucapan: Rasulullah bersabda ”demikian…, demikian..”. Padahal orang yang mengucapkan tersebut mengetahui bahwa hadits ini lemah dan kemungkinan besar hadits ini tidak berasal dari sabda Rasulullah, tetapi mengapa ia mengatakan dengan lantang ”Rasulullah bersabda”.

    Nabi bersabda: ”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Barangsiapa yang takut terkena ancaman hadits ini hendaknya jangan menggunakan hadits yang tidak shohih (baik yang dhoif/lemah, maudhu’/palsu, batil, munkar, tidak ada asal-usul sanadnya) kecuali jika TIDAK TAKUT DENGAN ANCAMAN RASULULLAH.

    BAHAYANYA MENGAMALKAN HADITS DHOIF/LEMAH

    Saya akan membawakan beberapa contoh hadits dhoif dan bahayanya mengamalkannya.
    A. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa yang tidak puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada keringanan yang diringankan oleh Allah, maka tidak akan bisa diganti oleh puasa satu tahun penuh seandainya pun dia melakukannya.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1987, Tirmidzi 723, Abu Dawud 2397, diriwayatkan Bukhari secara mu’allaq dan beliau mengisyaratkan akan kelemahannya)
    Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam Kitab Syarah Shohih Bukhari Fathul Bari 4/161: ”Hadits ini diperselisihkan pada Habib bin Abu Tsabit, ternyata ada 3 cacat: (1) Mudhthorib (bergoncang/tidak tetap/berubah-ubah-pen), (2) Abu Muthowwis majhul (tidak dikenal-pen), dan (3) Diapun diragukan akan mendengarnya bapaknya dari Abu Hurairah.”

    Mengamalkan hadits ini di satu sisi memang ada MANFAATNYA yaitu orang yang sudah tahu hadits ini ia akan rajin mengamalkan puasa Ramadhan dan takut sekali meninggalkannya walaupun cuma 1 hari.
    Akan tetapi di sisi lain kita dapat melihat BAHAYANYA yang terlalu besar yaitu orang yang sudah terlanjur pernah/sering meninggalkan puasa, setelah membaca hadits ini maka dia tidak akan mengqadha’/mengganti puasanya karena tahu akan sia-sia saja jika dia mengqadha’. Padahal kita semua tahu bahwa puasa Ramadhan itu merupakan kewajiban termasuk rukun Islam, dan meninggalkannya akan mendapat dosa yang besar (termasuk meninggalkan qodho’nya).
    B. Hadits Tentang Surat Yasin:
    Hadits 1: ”Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi”. (Hadits ini Lemah) Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar Al-Asqolani: Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I’tidal Adz-Dzahabi II:283).
    Hadits 2: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya”. (Hadits ini Lemah)
    Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I’tidal Adz-Dzahabi I:273-274 dan Lisanul Mizan Ibnu Hajar I : 464-465).
    Hadits 3: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”. (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247, hadits ini palsu)
    Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu’at Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal Adz-Dzahabi III/549, Lisanul Mizan Ibnu Hajar V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).
    Dan masih banyak riwayat-riwayat lain tentang keutamaan surat Yasin tetapi tidak ada yang shohih.
    Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu, semua hadits tentang itu adalah palsu. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).
    BAHAYANYA:
    Seseorang yang mengamalkan hadits dhaif ini dia akan lebih disibukkan (karena memperbanyak untuk mengejar keutamaannya) untuk membaca surat Yasin, sehingga jarang/sedikit membaca surat-surat yang lain. Banyak juga masyarakat yang sering mengamalkan membaca Surat Yasin pada hari Jum’at, sehingga dia meninggalkan membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at. Padahal merutinkan membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at jelas khabar shohih dari Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam.
    Nabi bersabda: “Barangsiapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, akan keluar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, meneranginya pada hari kiamat dan diampuni antara dua jum’at.” (HR. Hakim 2/368 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Arnauth dalam Tahqiq Zaadul Ma’aad Ibnul Qayyim I/366)
    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ’anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda : “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Alloh terangi ia dengan cahaya diantara dua jum’at.” [HR al-Hakim dan Baihaqi, shohih)

    C. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda: ”Akan tersebar banyak hadits dariku, maka apabila datang kepada kalian sebuah hadits dariku, bacalah Kitab Allah dan pelajarilah, kalau hadits itu sesuai dengan Al-Qur’an maka berarti itu saya katakan, adapun yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, berarti tidak saya katakan.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir 3/194, hadits lemah)
    Hadits ini memiliki beberapa cacat dari perowinya:
    Pertama: Wadhin, dia orang yang jelek hafalannya
    Kedua: Qotadah bin Fudhoil, Ibnu Hajar berkata dalam Taqrib: “Dia maqbul kalau untuk mutabaah.”
    Ketiga: Abu Hadhir, dikatakan oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi: “Majhul (tidak dikenal)
    Keempat: Zubair bin Muhammad ar-Rohawi, biografinya tidak ditemukan.

    BAHAYANYA mengamalkan hadits ini SANGAT BESAR SEKALI yaitu akan terjerumus ke dalam paham Qur’aniyyin/Inkarus Sunnah. Sehingga orang yang mengamalkan hadits ini, konsekuensinya ia akan
    1. Mengamalkan memakan binatang bertaring dan berkuku tajam (anjing, harimau, serigala, ular, tikus, burung gagak, elang, dsb), cicak, landak, keledai jinak, dsb, dengan alasan bahwa Al-Qur’an (QS. 2: 173) HANYA mengharamkan 4 hal yaitu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak menyebut asma Allah. Padahal As-Sunnah (HR. Bukhari, Muslim, dll) menambah jenis-jenis makanan yang diharamkan selain yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    2. Tidak mau mengamalkan mengqashar sholat (yang 4 jadi 2 rekaat) ketika dalam perjalanan dan menyalahkan orang yang mengamalkannya dengan alasan bahwa di dalam Al-Quran (QS. 4: 101) syarat qashar dalam keadaan takut. Padahal dalam As-Sunnah (HR. Muslim 1/478 no 686) telah dijelaskan bahwa walau dalam keadaan aman tetap disunnahkan mengqashar sholat.
    3. Jika laki-laki akan mengamalkan memakai perhiasan emas dengan alasan bahwa Al-Qur’an (QS. 7:32) menghalalkan memakai emas. Padahal dalam As-Sunnah (HR. Hakim), Rasulullah mengharamkan laki-laki memakai emas.
    4. Menolak hadits syafaat tentang keluarnya orang-orang mukmin dari neraka dengan berdalil dari satu sisi ayat Al-Qur’an (QS. 32: 20) tentang tidak adanya syafaat / orang kafir yang masuk neraka tidak akan bisa keluar. Dan masih banyak lagi paham-paham inkarus sunnah yang menolak hadits Nabi jika dhohirnya bertentangan dengan Al-Qur’an atau menolak hadits Nabi yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.

    Agar tidak menjadi inkarus sunnah, umat Islam harus menerima semua hadits shohih yang datang dari Nabi walaupun dhohir/kelihatannya seperti bertentangan, padahal sebenarnya tidak bertentangan karena hadits Nabi itu memperinci Al-Qur’an yang bersifat umum, menambah hukum Al-Qur’an, atau menjelaskan/menafsirkan Al-Qur’an. Sesuai kaidah yang baku berikut ini.
    “Apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya/singgasananya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi –dan ia menshahihkannya-, Ibnu Majah, at-Thahawi dan lainnya dengan sanad yang shahih).

    Dari Jabir bin Abdillah ra. berkata, Rasulullah bersabda: “Mungkin saja ada di antara kalian yang mendengar salah satu dari perkataan saya dalam keadaan berbaring kemudian berkata, ‘jauhkan kami dari semua ini, kami hanya mengikuti apa yang berasal dari al-Qur’an.” [Al-Khatib, al-Kifayah, 42, dari dua jalur. Jami’ al-Bayan, Ibnu Abdil Bar, jami’ bayan al-ilmi wafadhlihi, 2/189]

    Riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud ra. yaitu bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepadanya kemudian berkata kepadanya : “Kamukah yang berkata bahwa Allah melaknat namishaat (wanita yang mencabut rambut alis) dan mutanaamishaat (wanita yang dicabut rambut alisnya) dan waasyimaat (wanita yang membuat tato) ?”. Ibnu Mas’ud menjawab,”Ya, benar”. Perempuan tadi berkata,”Aku telah membaca Kitabullah dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan”. Maka Ibnu Mas’ud menjawab, ”Jika kamu betul-betul membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca: ”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr : 7). Aku telah mendengar Rasulullah saw.: ”Allah melaknat An-Naamishaat…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

    Ibnu Qayyim berkata: “Imam Ahmad telah menulis sebuah kitab tentang wajibnya ketaatan kepada Rasulullah, dia membantah pandangan orang yang beragumen dengan ZHAHIR al-Qur’an untuk menolak sunnah Nabi dan tidak mengakui kekuatan hukum hadits”. (I’laam Al Muwaqi’in ‘An Rabbi Al Alamin 2/290-291).

    Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi (murid Ibnu Katsir) berkata: “Walaupun dia mengaku atau menganggap mengambil dari Kitabullah tetapi tidak menerima penafsiran Kitabullah dari hadits-hadits Rasul, tidak melihat hadits-hadits, tidak pula melihat perkataan para shahabat dan pengikut mereka yang mengikuti dengan baik (tabi’in)…” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah halaman 212 cetakan ke-4).

    D. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Lindungilah diri kalian dari orang lain dengan buruk sangka.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath 1/36/1/592, Ibnu Adi 6/2398, hadits lemah sekali)
    Sisi cacatnya adalah ada perowi bernama Baqiyyah bin Walid, sedangkan dia adalah mudallis. Adz-Dzahabi berkata: “Baqiyyah mempunyai beberapa hadits gharib dan munkar.” (Ad-Dhoifah 156)
    BAHAYANYA: Orang yang mengamalkan hadits ini maka dia akan memperbolehkan untuk su’u dzon (buruk sangka) kepada orang lain sehingga pergaulan dengan orang lain/masyarakat menjadi tidak rukun/damai. Padahal kaidah yang sudah baku bahwa kita dilarang untuk berprasangka buruk terhadap orang lain.
    Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Jauhilah berprasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari 6064 dan Muslim 2563)

    E. Hadits yang menceritakan tentang keengganan Tsa’labah untuk membayar zakat.
    Sebelumnya diceritakan dalam isi hadits tersebut bahwa Sahabat Tsa’labah bin Hathib minta didoakan oleh Rasulullah agar rezeki hartanya melimpah dan Tsa’labah berjanji jika telah menjadi kaya nanti ia akan menafkahkan hartanya kepada yang berhak. Setelah benar-benar menjadi kaya, Rasulullah mengutus dua orang untuk mengambil zakat kepada Tsa’labah. Tetapi ternyata Tsa’labah menolak membayar zakat. Lalu keduanya pulang dan menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihat keduanya (pulang tidak membawa hasil), sebelum berbicara, beliau bersabda : “Celaka engkau, wahai Tsa’labah ! Lalu turun ayat :
    “Artinya : Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah : ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)”(At-Taubah : 75-76) dst. (Diriwayatkan Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8/260/7873, Ibnu Jarir At-Thobari dalam Tafsirnya 14/16987 dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir dalam tafsir beliau 2/374, hadits lemah sekali)
    Para Ulama yang melemahkan hadits-hadits ini di antaranya ialah :
    • Ibnu Hazm, ia berkata : “Riwayat ini Bathil”. (Al-Muhalla 11:207-208).
    • Al-Iraqy berkata : “Riwayat ini Dha’if”. (Lihat Takhrij Ahadist Ihya Ulumudin 3:272)
    • Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : “Riwayat tersebut Dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah”. (Lihat : Fathul Bari 3 :266).
    • Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi : “Dha’if”. (Lihat Al-Bayan wat Ta’rif 3:66-67).
    • Al-Manawi berkata : “Dha’if” (Lihat : Faidhul Qadir 4:527).
    • Al-Qurtubi dalam tafsir beliau 8/210
    • Adz-Dzahabi dalam Tajrid Asma’ Shohabah no. 623.
    RIWAYAT YANG BENAR TENTANG TSA’LABAH
    Tsa’labah bin Hathib adalah seorang shahabat yang ikut dalam perang Badar sebagaimana disebutkan oleh :
    • Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat 3:36.
    • Ibnu Abdil Barr dalam kitab Ad-Durar. halaman 122.
    • Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla 11:208
    • Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam kitab Al-Ishaabah fil Tamyiizis Shahaabah I:198
    Dalam buku At-Tasfiyah wat Tarbiyah wa Atsarihima Fisti’nafil Hayat Al-Islamiyyah (hal. 28-29) oleh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary disebutkan pembelaan terhadap shahabat Tsa’labah bin Hathib, ia berkata : “Tsa’labah bin Hathib adalah shahabat yang ikut (hadir) dalam perang Badr”.
    Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ahli Badar : Tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah”.(Hadits Riwayat Ahmad 3:396).

    BAHAYANYA:
    1. Kita berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    2. Kita menuduh shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang jelek.
    3. Kita berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.
    Memang di satu sisi, manfaat riwayat ini adalah menyuruh untuk berzakat dan mengancam orang yang tidak mau membayar zakat. Hanya saja mengapa menggunakan hadits lemah ini sebagai hujjah, padahal masih banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadits lain yang shohih yang berisi perintah membayar zakat/bersedekah.
    Menggunakan riwayat ini dalam ceramah-ceramah tentang anjuran untuk beramal sedekah/membayar zakat konsekuensinya ia telah mencela Sahabat Rasulullah yaitu Tsa’labah. Padahal Rasulullah melarang keras untuk mencela Sahabat beliau.
    Nabi bersabda: Barangsiapa mencela shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”.(Hadits Riwayat Thabrani).
    Nabi bersabda: “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan satu gunung uhud emas, hal itu tidak sebanding dengan satu mud atau bahkan setengah mud mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh tahun)”. (Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih. Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469).
    Imam Ahmad berkata: “Termasuk hujjah yang terang menyebutkan semua kebaikan-kebaikan semua sahabat-sahabat Rasulullah dan menahan diri dari menyebut-nyebut kekurangan-kekurangan mereka dan mengungkit-ngungkit pertikaian yang terjadi di antara mereka. Maka siapapun yang memaki sahabat Rasulullah atau salah seorang di antara mereka atau merendahkan, melecehkan, membeberkan aib mereka atau menghujat salah seorang dari mereka adalah pembuat bid’ah (mubtadi’), tergolong Rafidhah (Syi’ah), jahat dan menentang. Allah tidak akan menerimanya sama sekali. Bahkan mencintai mereka termasuk sunnah, mendoakan mereka termasuk ibadah. [As-Sunnah: 78]
    Imam Adz-Dzahabi berkata: “Sudah seyogyanya ditekadkan menahan diri dari banyak memperbincangkan pertikaian dan perperangan yang terjadi di antara sahabat dan riwayat-riwayat itu akan terus kita lalui dalam ensiklopedia, kitab dan artikel-artikel (ajza’) yang kebanyakan munqati’ (terputus sanadnya) dan dha’if (lemah), dan sebagian lagi adalah kebohongan belaka. [Siyar A'lam An-Nubala' X/92]

    Nah, itulah beberapa di antara bahayanya mengamalkan hadits dhoif.

    PENGHUNI KUBUR TIDAK MAMPU MENDENGAR SUARA ORANG YG HIDUP

    “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan ORANG YANG DI DALAM KUBUR DAPAT MENDENGAR.” (Q.S. Fathir:22)

    ”Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan ORANG-ORANG YANG MATI MENDENGAR dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.” (QS. An-Naml 80)

    Nabi bersabda: ”Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu bertebaran di muka bumi ini, mereka menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

    Akan tetapi terkadang Allah memperdengarkan kepada mayit suara dari salah satu Rasul-Nya untuk suatu hikmah tertentu, seperti Allah memperdengarkan suara Rasulullah kepada orang-orang kafir yang terbunuh di perang Badar, sebagai penghinaan dan penistaan untuk mereka, dan kemuliaan untuk Rasulullah. Sampai-sampai Nabi mengatakan kepada para sahabatnya ketika sebagian mereka mengingkari hal tersebut,
    “Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab” (H.R. Imam Ahmad -dan ini lafalnya- (I/27; III/104, 182, 263, dan 287), Bukhari (II/101), dan Nasa’i (IV/110).

    Lalu bagaimana dengan hadits berikut ini?
    Nabi bersabda:“Demi Allah sesungguhnya orang yang telah meninggal dari kalian (di dalam kuburnya) mendengar bunyi langkah terompah/sandal kalian.” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, An-Nasai, dan Ahmad)

    Hadits ini jelas-jelas mengatakan terompah/sandal bukan selain itu, lalu bagaimana bisa dimutlakkan/digeneralisasi/ditambah ke semua hal yg berkaitan dengan orang yg masih hidup?

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    Sa’id bin Musayyab (tabi’in) melihat seseorang mengerjakan LEBIH DARI 2 RAKAAT shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116)

    Sufyan bin Uyainah (tabiut tabi’in) mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas (imam mazab/tabiut tabi’in/guru imam Syafi’i) didatangi seseorang yang bertanya: Wahai Abu Abdillah dari mana saya harus melaksanakan ihram (untuk haji/umrah)? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan, saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah SAYA HANYA SEKEDAR MENAMBAH BEBERAPA MIL SAJA? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yang lebih hebat dari sikapmu yang menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kamu MENAMBAHNYA? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala: ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Nu’aim)

    Sahabat Ibnu Mas’ud berkata: ”SEDERHANA dalam Sunnah lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam bid’ah.” (Ad-Darimi no. 223, Hakim 1/103, Al-Lalikai, sanad jayyid)

    Adapun mayat yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meningalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pendengaran khusus yang ditetapkan oleh nash (dalil As-Sunnah hanya sebatas sandal/terompah), dan tidak lebih dari itu (TIDAK LEBIH dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu.

    APAKAH MENTALQINKAN ORANG YG SUDAH MATI DISYARIATKAN

    Menurut hadits yang jelas keshahihannya bahwa talqin adalah menuntun kalimat Laa ilaaha illallah bagi orang YANG AKAN MATI bukan orang yang sudah mati.

    Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam: ”Ajarkanlah orang yang akan mati dari antara kamu Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”…Karena barangsiapa yang akhir perkataannya Laa ilaaha illallah, niscaya dia akan masuk surga” (HR. Ibnu Hibban)

    Orang-orang yang membolehkan talqin mayit yang telah dikubur di antaranya berdalil dengan riwayat-riwayat berikut ini.

    Hadits 1: Dari Utsman, ia berkata: Adalah Rasulallah shallallahu ’alaihi wasallam apabila selesai dari mengubur mayit, ia berdiri di atas (pinggir kubur) itu dan bersabda: ”Mintakanlah ampun bagi saudara kamu dan mintakan keteguhan baginya karena ia sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Hakim)
    Hadits ini sama sekali tidak menunjukkan talqin kalimat Laa ilaaha illallah, tetapi menyuruh untuk mendoakan si mayit agar mendapat ampunan dan keteguhan (dapat menjawab pertanyaan kubur) dari Allah.

    Riwayat 2: Dari Sa’id bin Abdulloh Al-Audi, ia berkata: Saya menyaksikan Abu Umamah saat menjelang meninggal dunia, dan beliau berkata: Apabila saya meninggal dunia maka lakukanlan bagiku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk kami lakukan pada orang yang meninggal. Beliau bersabda: ”Apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia lalu kalian sudah meratakan kuburnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian berdiri pada sisi kepala kubur, lalu hendaklah dia berkata: ’Wahai Fulan anaknya Fulanah, karena dia akan mendengarnya meskipun tidak bisa menjawab’. Kemudia katakan: ’Wahai FULAN BIN FULANAH’, maka dia akan duduk sempurna. Kemudian katakan: ’Wahai Fulan anaknya Fulanah’, maka dia akan berkata : ’Berilah aku petunjuk, semoga Allah merahmati kalian’. Lalu hendaklah dia katakan: ’Ingatlah apa yang engkau bawa keluar dari dunia ini yaitu syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya, dan engkau ridho Allah sebagai Robb-mu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai Nabimu, Al-Qur’an sebagai imammu. Karena salah seorang dari malaikat Munkar dan Nakir akan mengambil tangan yang lainnya seraya berkata: ’Pergilah, tidak perlu duduk pada orang yang sudah ditalqinkan hujjahnya’. Dengan ini semua maka Allah akan menjadi hujjahnya dalam menghadapi keduanya’. Lalu ada salah seorang bertanya: ’Wahai Rasulullah, bagaimana kalau tidak diketahui nama ibunya?’ Maka Rasulullah bersabda: ’Nasabkanlah kepada Hawa, katakan FULAN BIN HAWA’.” (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Ad-Du’a dan Mu’jam al-Kabir. Hadits lemah)
    Hadits ini dilemahkan oleh para ulama:
    Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 3/45: ”Dalam sanadnya banyak perawi yang tidak saya kenal.”
    Berkata Ibnu Sholah: ”Sanadnya tidak bisa dijadikan hujjah.”
    Imam Nawawi juga melemahkannya, sebagaimana dalam Majmu’ Syarah Muhadzab 5/304 dan Al-Fatawa hal. 54.
    Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fatawa 24/296: ”Hadits ini tidak dihukumi shohih.”
    Ibnul Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad 1/523: ”Tidak shohih secara marfu.” Beliau juga berkata dalam Tahdzibus Sunan: ”Hadits ini disepakati akan kelemahannya.”
    Al-Iroqi juga melemahkannya dalam Takhrij Ihya’ 4/420.
    Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata dalam Nata’ijul Afkar dan Fathul Bari Kitab Syarah Shahih Bukhari 10/563: ”Lemah sekali.”
    Dilemahkan oleh Zarkasyi dalam Al-La’ali Al-Manstsuroh hal. 59, As-Suyuthi dalam Ad-Duror Al-Manstsuroh hal. 25 dan Imam Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam 2/114.

    KRITIK MATAN HADITS
    Syaikh Abu Ishaq Al-Huwani: ”Matan hadits ini juga munkar karena bertentangan dengan hadits yang shohih bahwa seseorang dipanggil dengan nama bapaknya, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: ’Sesungguhnya seorang pengkhianat akan diangkat benderanya pada hari kiamat dan dikatakan: Inilah pengkhianatan FULAN BIN FULAN’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari berkata: ”Bab manusia dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka.” (Majalah At-Tauhid Mesir edisi 8 tahun 29 rubrik hadits)

    Saya (penulis) berkata: Sungguh aneh sekali jika ada seorang muslim (selain para Nabi/Rasul) bisa tidak diuji (ditanyai) dalam kubur hanya karena ia ditalqinkan pada saat mati oleh orang yang masih hidup. Orang yang bisa mengucapkan Laa ilaaha illallah saat akhir hidupnya saja (yang jelas-jelas dijamin MASUK SURGA) belum tentu dia terlepas dari pertanyaan kubur, lalu bagaimana lagi orang yang ditalqinkan saat mati yang BELUM ADA JAMINAN MASUK SURGA ia bisa tidak mendapat pertanyaan maupun azab kubur. Padahal orang yang dijamin masuk surga itu lebih tinggi kedudukannya dari orang yang belum ada jaminan masuk surga. Hadits lemah ini juga bertentangan dengan kaidah baku yaitu manusia pasti tidak akan terlepas dari pertanyaan kubur berdasarkan hadits shohih.
    Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya umat ini akan diuji dalam kuburnya.” (HR. Muslim dalam Al-Jannatu wa Shifatu Na’imiha 4/2200 dan Ahmad dalam Musnad 3/3). Mungkin dikecualikan para Nabi dan Rasul, sedangkan selain mereka tidak akan bisa terlepas dari pertanyan maupun azab kubur. Wallahu a’lam.

    BAHAYANYA MENGAMALKAN HADITS TALQIN MAYIT YANG LEMAH
    Di kalangan orang yang mengamalkan hadits talqin mayit ini mungkin ada sebagian/segelintir orang (mungkin tidak semua tetapi bisa juga akan menjadi kebanyakan orang) yang merasa sudah aman dari azab kubur karena dia telah berwasiat kepada keluarganya/karib kerabatnya untuk mentalqinkannya ketika dia telah mati nanti. Sehingga pada implikasinya dalam kehidupan di dunia, dia bisa menjadi lengah/lalai dalam beribadah kepada Allah atau seminim-minimnya menjadi jarang/tidak rajin/berkurang semangatnya/tidak bersungguh-sungguh untuk beribadah kepada Allah. Mengapa? Alasannya dia sudah memiliki jaminan bahwa ia akan selamat dari pertanyaan/azab kubur karena telah berwasiat kepada keluarganya/karib kerabatnya agar mentalqinkan mayatnya setelah dikubur. Wallahu a’lam.

    Balas

  19. PEMBELAAN TERHADAP SYAIKH ALBANI

    Berikut ijazah hadits syaikh Albani:
    1. Syaikh Al-Albani memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbagh yang kepadanya beliau mempelajari ilmu hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. Syaikh Al-Albani menjelaskan tentang ijazah beliau ini pada kitab Mukhtasar al-‘Uluw (hal 72) Adz-Dzahabi dan Tahdzir as-Sajid (hal 63).
    2. Beliau memiliki ijazah tingkat lanjut dari Syaikh Bahjatul Baytar (di mana isnad dari Syaikh terhubung ke Imam Ahmad). Keterangan tersebut ada dalam buku Hayah al-Albani (biografi Al-Albani) karangan Muhammad Asy-Syaibani.
    Ijazah serupa juga dimiliki murid Syaikh Al-Albani, yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi. Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa Syaikh Albani hanya belajar dari buku, tanpa ada wewenang dan tanpa ijazah. Itulah hanya ucapan yang sama sekali tidak berdasar.

    Perjalanan syaikh Albani:
    1. Syaikhnya yang pertama adalah ayahnya, Al-Hajj Nuh An-Najjati, yang telah menyelesaikan belajar Syari’ah di Istanbul dan kembali ke Albania sebagai seorang ulama Hanafiyah. Di bawah bimbingan ayahnya, Syaikh Al-Albany belajar Quran, tajwid dan bahasa Arab, dan juga fiqh Hanafiyah.
    2. Beliau belajar fiqh hanafiyah lebih lanjut dan bahasa Arab dari Syaikh Sa’id al-Burhan.
    3. Beliau mengikuti pelajaran dari Imam Abdul Fattah dan Syaikh Taufiq Al-Barzah
    4. Syaikh Al-Albany bertemu dengan ulama hadits zaman ini, Syaikh Ahmad Syakir, dan beliau ikut berpartisipasi dalam diskusi dan penelitian mengenai hadits.
    5. Beliau bertemu dengan ulama hadits India, Syaikh Abdus Shamad Syarafuddin, yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan al-Kubra karya An-Nasai, seperti halnya karya Al-Mizzi yang monumental, Tuhfat al-Asyraf, yang selanjutnya mereka berdua saling berkirim surat tentang ilmu. Dalam salah satu surat, Syaikh Abdus Shamad menunjukkan keyakinan beliau bahwa Syaikh Al-Albany adalah ulama hadits terbesar saat ini.
    6. Syaikh selalu mengunjungi perpustakaan Dhahiriyyah (perpustakaan yang lengkap dan langka di dunia) di Damaskus, sehingga kemudian beliau diberi kunci perpustakaan, karena beliau sering berada di sana dan belajar dalam waktu yang lama. Suatu hari, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan Syaikh Al-Albany. Kejadian ini menjadikan beliau mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membuat katalog seluruh manuskrip hadits di perpustakaan agar folio yang hilang tersebut bisa ditemukan. Karenanya, beliau mendapatkan banyak ilmu dari 1000 manuskrip hadits, sesuatu yang telah dibuktikan beberapa tahun kemudian oleh Dr. Muhammad Mustafa A’dhami pada pendahuluan “Studi Literatur Hadits Awal”, dimana beliau mengatakan, “Saya mengucapkan terimakasih kepada Syaikh Nashiruddin Al-Albany, yang telah menempatkan keluasan ilmunya pada manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya”.
    7. Beliau senantiasa berkorespondensi dengan banyak ulama, terutama yang berasal dari India dan Pakistan, mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan Syaikh Muhammad Zamzami dari Maroko dan ‘Ubaidullah Rahman, pengarang Mirqah al-Mafatih Syarh Musykilah al-Mashabih.
    8. Keahliannya dalam bidang hadits diakui oleh banyak ulama yang berkompeten, baik masa lalu maupun sekarang, termasuk Dr. Amin Al-Mishri, kepala Studi Islam di Universitas Madinah yang juga termasuk salah satu murid Syaikh Al-Albany, juga Dr. Syubhi Ash-Shalah, mantan kepala bidang Ilmu Hadits di Universitas Damaskus, Dr. Ahmad Al-Asal, kepala Studi Islam di Universitas Riyadh, ulama hadits Pakistan sekarang, ‘Allamah Badi’uddien Syah As-Sindi; Syaikh Muhammad Thayyib Awkij, mantan kepala Ilmu Tasfir dan Hadits dari Universitas Ankara di Turki; belum lagi pengakuan dari Syaikh Ibnu Baaz, Ibnul ‘Utsaimin, Muqbil bin Hadi, dan banyak lagi yang lain pada masa berikutnya.
    9.Setelah sejumlah hasil karyanya dicetak, selama tiga tahun Syaikh terpilih untuk mengajar hadits di Universitas Islam Madinah, sejak tahun 1381 H sampai 1383 H, dimana beliau juga bertugas sebagai anggota dewan pengurus universitas (setelah itu beliau kembali ke tempat studi pertamanya dan mengkhidmatkan dirinya pada perpustakaan Adh-Dhahiriyyah). Kecintaan beliau pada Universitas Madinah dibuktikan dengan mewariskan seluruh koleksi perpustakaan pribadinya ke Universitas.
    10.Beliau mengajar dua kali sepekan di Damaskus, yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dan dosen universitas.
    11.Setelah menganalisa hadits-hadits pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, seorang ulama hadits India, Muhammad Musthofa A’dhami (kepala Ilmu Hadits di Makkah) (GURU PROF. DR. ALI MUSTHOFA YAQUB), memilih Syaikh Al-Albany untuk memeriksa dan mengoreksi kembali analisanya, dan pekerjaan tersebut telah diterbitkan empat jilid, lengkap dengan ta’liq (catatan, red) dari keduanya. Beliau berterima kasih dan mensifati Albani sebagai “Syaikh yang mulia, ahli hadits besar”. bahkan katanya: “Bila Syaikh Albani berbeda hukum denganku dalam masalah shohih dan lemahnya hadits, maka saya menetapkan pendapatnya, karena saya lebih percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama”. (Muqoddimah Shohih Ibnu Khuzaiman 1/6, 32 oleh Dr. Mustofa A’zhomi).

    Wafatnya Syaikh Albani:
    Abdul Lathif (putra beliau) menceritakan kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata: ”Hingga kemarin dalam kondisi sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata: Berikan Kitab Shahih Sunan Abi Dawud!”

    Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Ciri-ciri ahli bid’ah yaitu suka mengolok-olok ahlu atsar (ahli hadits), dan termasuk ciri-ciri orang zindiq (munafiq) yaitu suka menggelari ahli atsar sebagai penghafal catatan kaki, yang mereka inginkan adalah membatalkan atsar sebagai sumber hukum.” (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni, Baihaqi berkata tentang Abu Utsman: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”, 373-449 H)
    Abu ‘Utsman Ismail Ashabuni berkata: “Saya melihat bahwa ahli bid’ah yang menggelari ahlus sunnah [namun dengan karunia dari Allah, tuduhan tersebut tidaklah benar dan tidak pantas disandarkan kepada ahlus sunnah] mereka (ahli bid’ah) mengikuti jalannya musyrikin [semoga Allah melaknat mereka] yang menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan gelar-gelar yang tidak pantas. Di antaranya ada yang menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, dukun, ahli sya’ir, orang gila, orang kesurupan, pembohong, tukang nyleneh dan lain sebagainya. (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    Balas

  20. Allah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
    Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang MENSYARIATKAN untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syura: 21)

    MEMBAHAS PERKATAAN IMAM SYAFI’I YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2 MACAM : BID’AH TERCELA DAN TERPUJI

    Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113) (Perkataan Imam Syafi’i ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab Al-Hanbali di bawah nanti – pen)

    Adapun yang dimaksud bid’ah terpuji oleh Imam Syafi’i adalah bid’ah dalam arti bahasa, yaitu sunnah Rasulullah itu sendiri. Misalnya perkataan Umar bin Khothob tentang sholat tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maka ini bukanlah bid’ah yang diancam syari’at (hanya bidah bahasa) karena Rasulullah telah mencontohkan sholat tarawih berjamaah bersama para sahabat. Bahkan Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya bila seseorang shalat tarawih berjama’ah bersama imam hingga selesai maka akan dihitung baginya shalat semalam suntuk.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan dan yang lainnya, Shahih Abu Dawud (1245) serta dalam Irwaul Ghalil (447))

    Adapun masalah SYARI’AT, maka Imam Syafi’i menjelaskan dalam ucapan yang lain.
    Imam Syafi’i berkata : “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat SYARI’AT” (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

    Imam Syafi’i berkata: ”Sesungguhnya ANGGAPAN BAIK hanyalah menuruti selera hawa nafsu.” (Ar-Risalah hal. 507)

    Abu Syammah (ulama mazhab Syafi’i/guru Imam Nawawi Asy-Syafi’i) berkata: “Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang SYARI’AT adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shohih dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, dan atsar para Sahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia MENYATAKAN BAIK menurut pendapatnya. Sebab: Barang siapa yang MENGANGGAP BAIK menurut pendapatnya maka sesungguhnya dia telah membuat SYARI’AT.” (Al-Baits ‘alaa Inkaril Bida’ wal Hawadits oleh Abu Syammah, hal. 50)

    Berkata Ibnu Rojab Al-Hanbali, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminologi). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminologi (syar’iat-pen) karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267)

    Ibnu Katsir (ahli tafsir mazhab Syafi’i) berkata, “Bid’ah itu ada dua macam:
    1. Bid’ah syar’iyyah (menurut pengertian syari’at-pen) seperti dalam sabda Rasulullah, “Karena setiap (perkara) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”
    2. Bid’ah lughawiyyah (menurut arti bahasa-pen) seperti perkataan Amirul Mukminin Umar ketika menyatukan mereka dalam shalat tarawih secara berkelanjutan, ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini’.”(Tafsir Ibnu Katsir (1/162), surat Al-Baqarah ayat 117)

    Imam Syaukani mencela pembagian bid’ah menurut syariat menjadi 2.
    Imam Syaukani berkata: ”Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca) bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang BERTENTANGAN DENGAN SYARI’AT yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang MEMBAGI BID’AH (syari’at-pen) TERSEBUT KEPADA BEBERAPA MACAM, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu” (Risalah tentang Hukum Maulid oleh Asy-Syaukani).

    Maka yang dimaksud perkataan Imam Syafi’i bahwa bid’ah dibagi menjadi 2 adalah (1) Bid’ah tercela (bid’ah secara syari’at/agama), dan (2) Bid’ah terpuji (bid’ah secara bahasa). Kesimpulan ini didapat dengan melihat perkataan Imam Syafi’i yang lain dan juga penjelasan dari Ibnu Rajab Al-Hanbali dan Ibnu Katsir.

    Taruhlah benar (“saya pura-pura mengalah”) bahwa yang dimaksud Imam Syafi’i dengan kedua bid’ah yang beliau maksud adalah semua bid’ah dalam arti syariat, bukan dalam arti bahasa.

    Kalau begitu saya bertanya kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I INI BISA DIBANDINGKAN DENGAN SABDA RASULULLAH YANG MENGATAKAN BAHWA SETIAP BID’AH ITU SESAT?

    Rasulullah bersabda: “Adapun setelah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Adapun seburuk-buruk perkara adalah perkara baru yang diada-adakan dan setiap perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah dan SETIAP BID’AH ITU SESAT dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim juz 3 hal. 11, Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah)

    Rasulullah bersabda: “Dan jauhilah olehmu segala urusan yang baru/muhdats! Karena sesungguhnya, setiap urusan yang baru itu adalah bid’ah dan SETIAP BID’AH ADALAH SESAT.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Darimi, Hakim, dll. Hadits shohih)

    Maka aku takut Saudara akan terkena ancaman berikut ini:
    “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. (QS An-Nuur: 63).
    Sahabat Ibnu Abbas mengatakan: ”Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku menyampaikan sabda Rasulullah akan tetapi kalian membantah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 1/337)
    Imam Syafi’i berkata: ”Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yg ternyata menyalahi hadits Nabi yg shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna.” (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Ibnu Asakir, dsb)
    Imam Ahmad berkata: ”Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah semuanya hanyalah pendapat. Bagi semua pendapat sama saja, tetapi yg menjadi hujjah agama adalah yg ada pada Sunnah Nabi.” (Ibnu Abdul Barr dalam Al-Jami’ II/149)

    Mungkin dalam benak pikiran Saudara akan mengatakan: Bukankah Imam Syafi’i lebih mengetahui banyak hadits daripada anda? Bukankah ia lebih paham hadits tersebut daripada anda?

    Maka saya jawab: Benar sekali, bahwa Imam Syafi’i lebih banyak hafal hadits daripada saya. Beliau lebih paham hadits tersebut daripada saya. Siapakah saya dibanding beliau.

    Maka saya balik bertanya kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN GURU BELIAU, YAITU IMAM MALIK?

    Imam Malik (Imam Mazhab/Tabiut Tabi’in/Imam Darul Hijrah/Imam Penduduk Madinah) rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah di dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati Risalah beliau. Karena Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”, maka segala sesuatu yang pada hari itu (Zaman Nabi dan Sahabat-pen) bukan merupakan agama maka tidak pula menjadi agama pada hari ini.” (Al-‘I’tisham oleh Imam Asy-Syatibi 1/28).
    Imam Malik bin Anas berkata : “Tidaklah akan baik akhir ummat ini kecuali mereka mengikuti baiknya awal ummat ini.” Awal umat ini yaitu para Sahabat. Barangkali, perkataan Imam Malik ini sama seperti hadits Nabi berikut ini:
    Nabi bersabda: “Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

    Sufyan bin ‘Uyainah tatkala menafsirkan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi, “Nanti, akan keluar orang-orang dari arah timur dan barat demi menuntut ilmu, lalu mereka tidak menjumpai seorang pun yang lebih alim daripada ALIMNYA KOTA MADINAH.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Dahulu aku katakan yang dimaksud (dengan ‘alimnya kota Madinah’) dalam hadits tersebut adalah Sa’id bin Al-Musayyib, tetapi bukankah di zamannya masih ada Sulaiman bin Yassar, Salim bin Abdullah, dan yang lainnya? Maka sekarang saya katakan bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah Malik bin Anas, karena tidak ada alim lain yang menandinginya (saat itu).”
    Di lain waktu Sufyan bin Uyainah juga berkata, “Malik adalah alimnya penduduk Hijaz, dan ia adalah hujjah di zamannya.”
    Imam Asy-Syafi‘i menyambungnya seraya berkata, “Hal itu benar, dan bila ulama disebut-sebut, maka Malik-lah bintangnya.” Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan, “Bila hadits disebut-sebut maka Malik-lah bintangnya.”
    Imam An-Nasa’i berkata, “Aku tidak punya orang setelah generasi tabi‘in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik.”
    Ibnu Hibban berkata, “Malik adalah orang pertama yang memilah-milah para perawi dari kalangan fuqaha di Madinah.”

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN GURU DARI GURU DARI GURUNYA IMAM SYAFI’I [Syafi’i berguru pada Malik, Malik berguru pada Nafi’ (tabi’in), Nafi’ berguru pada Abdullah Ibnu Umar (sahabat)] ?

    Sahabat Abdullah bin Umar berkata: “SETIAP bid’ah itu sesat meskipun DIANGGAP BAIK oleh manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ilas Sunan Al-Kubra I/180 no.191, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205, dan Al-Lalika-i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah no. 126)

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN SAHABAT NABI YAITU MU’ADZ BIN JABAL?

    Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maka berhati-hatilah kalian dengan hal-hal yang diada-adakan, karena SETIAP hal yang diada-adakan adalah sesat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4611).

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN SAHABAT NABI YAITU IBNU MAS’UD?

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Ikutilah (petunjuk Nabi-pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Rasulullah-pen) itu sudah cukup bagi kalian. SEMUA bid’ah adalah sesat.” (Ath-Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al-Haitsami menyatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam Kitab Shohih)

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN SEORANG TABI’IN UMAR ABDUL AZIZ?

    Seorang lelaki menuliskan surat kepada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz (Khalifah/Tabi’in/keturunan Umar bin Khothob) menanyakan tentang permasalahan Al-Qodar, lalu beliau menjawab dengan menuliskan : “Amma Ba’du, Saya mewasiatkan kepada anda untuk senantiasa bertakwa kepada Alloh dan bersederhana di dalam menunaikan perintah-Nya serta meneladani sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, meninggalkan SEGALA HAL YANG DIADA-ADAKAN oleh kaum yang gemar mengada-adakan bid’ah setelah sunnah beliau berlalu dan terpenuhinya semua tanggung jawab beliau. Maka wajib atas anda menetapi sunnah karena sesungguhnya sunnah itu dengan izin Alloh adalah keterpeliharaan bagi anda.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4612)

    Allah berfirman: “Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat SEBAIK-BAIKNYA.” (QS. Al-Kahfi:103-104).
    Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini Makiyah (turun sebelum peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah), sebelum berbicara terhadap orang-orang Yahudi dan Nashara, dan sebelum adanya al-Khawarij (kaum pertama pembuat bid’ah) sama sekali. Sesungguhnya ayat ini umum meliputi setiap orang yang beribadah kepada Allah dengan jalan yang tidak diridhai Allah, dia menyangka bahwa dia telah berbuat benar di dalam ibadah tersebut padahal dia telah berbuat salah dan amalannya tertolak. (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim)

    Utsman bin Hadhir berkata: “Aku masuk menemui Ibnu Abbas, lalu aku berkata: “Nasehatilah aku”. Beliau (Ibnu ‘Abbas) lantas berkata: “Iya, wajib atasmu untuk bertakwa kepada Alloh dan beristiqomah, TELADANILAH dan JANGANLAH KAMU BERBUAT BID’AH.” Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (141)

    Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “TELADANILAH dan janganlah kalian berbuat bid’ah, karena kalian telah dicukupi.” Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (211).

    Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “SEDERHANA dalam Sunnah lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam kebid’ahan.” (Ad-Darimi no. 233, Al-Hakim 1/103, Al-Lalikai dalam Syarh Ushuulil I’tiqad no. 14, dengan sanad jayyid)

    Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “SETIAP IBADAH yang tidak pernah dilakukan oleh Sahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai ibadah, janganlah kamu melakukannya! Sebab, generasi pertama itu tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk berpendapat (dalam masalah agama-pen). Bertakwalah kepada Allah, wahai para qurra’ (ahlul qira’ah) dan ambillah jalan orang-orang sebelum kamu!” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitab beliau, Al-Ibaanah)

    Sa’id bin Musayyab (tabi’in) melihat seseorang mengerjakan lebih dari 2 rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116)

    Sufyan bin Uyainah (tabiut tabi’in) mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas (imam mazab/tabiut tabi’in/guru imam Syafi’i) didatangi seseorang yang bertanya: Wahai Abu Abdillah dari mana saya harus melaksanakan ihram (untuk haji/umrah)? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan, saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah SAYA HANYA SEKEDAR MENAMBAH BEBERAPA MIL SAJA? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yang lebih hebat dari sikapmu yang menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kamu MENAMBAHNYA? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala: ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Nu’aim)

    Adapun orang yang berpendapat bahwa bid’ah syariat ada 2, mereka berdalil antara lain dengan :
    1. Perkataan Umar bin Khothob: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”
    2. Pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, adanya Ilmu Nahwu
    3. Adzan hari Jum’at 2 kali pada masa Utsman bin Affan
    4. Imam Ahmad mendoakan Imam Syafi’i ketika sujud dalam sholat
    5. Sholawat Nabi hasil ijtihad Imam Syafi’i

    BANTAHANNYA
    1. Perkataan Umar bin Khothob: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”
    Kita harus mengetahui latar belakang perkataan Umar tersebut, sbb:
    Pada zaman Rasulullah, beliau pernah sholat tarawih berjamaah dengan para sahabat sebanyak 3 kali yaitu pd tgl 23, 25, dan 27. Bahkan Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya bila seseorang shalat tarawih berjama’ah bersama imam hingga selesai maka akan dihitung baginya shalat semalam suntuk.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan dan yang lainnya, Shahih Abu Dawud (1245) serta dalam Irwaul Ghalil (447)).

    Setelah Rasulullah wafat, maka kekhalifahan diganti oleh Abu Bakar. Pada masa Abu Bakar ini, banyak sekali tugas yang sangat penting yang harus beliau selesaikan, antara lain: (1) Memerangi nabi palsu Mutsailamah al-Kadzab (2) Memerangi orang yg murtad, dan (3) Memerangi orang yg tdk mau membayar zakat. Adanya tugas-tugas yg sangat penting ini telah banyak menyita waktu sahabat Abu Bakar, padahal beliau hanya memimpin sekitar 2 tahun masa kekhalifahan. Pada masa beliau sholat tarawih berjamaah dilakukan secara berkelompok-kelompok dalam satu masjid, tidak terkoordinir menjadi satu kelompok berjamaah seperti pada zaman Rasulullah dulu.

    Setelah Abu Bakar wafat maka digantikan oleh Umar bin Khottob. Umar bin Khottob mengatur agar sholat tarawih dilaksanakan berjamaah dengan 1 imam sholat dalam 1 masjid seperti pada zaman Rasulullah dahulu, yg diimami oleh beliau sendiri Umar, atau Ubay bin Ka’ab, atau Tamim Ad-Dhari. Itulah latar belakang perkataan Umar ”sebaik-baik bid’ah adalah ini” karena pada masa Rasulullah terkoordinir dlm 1 imam, lalu pada masa Abu Bakar tdk terkoordinir dlm 1 imam alias berkelompok-kelompok karena kesibukan beliau, lalu pada masa Umar dikoordinir kembali dlm 1 imam seperti pada zaman Rasulullah.

    Setelah mengetahui latar belakang tersebut, maka sholat tarawih berjamaah bukanlah termasuk bid’ah. Ucapan Umar (sebaik-baik bid’ah adalah ini) hanyalah merupakan bid’ah menurut bahasa, bukan bid’ah syariah yg diancam dlm agama karena ada petunjuknya dari Rasulullah.

    Ibnu Katsir berkata, “Bid’ah itu ada dua macam:
    1. Bid’ah syar’iyyah (menurut pengertian syari’at) seperti dalam sabda Rasulullah, “Karena setiap (perkara) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”
    2. Bid’ah lughawiyyah (menurut arti bahasa) seperti perkataan Amirul Mukminin Umar ketika menyatukan mereka dalam shalat tarawih secara berkelanjutan, ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini’.”( Tafsir Ibnu Katsir (1/162), surat Al-Baqarah ayat 117)

    2. Pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, adanya Ilmu Nahwu
    Imam Syafi’i (Imam Mazhab/murid Imam Malik/guru Imam Ahmad) berkata: ”Kami menentukan suatu hukum dengan dasar KESEPAKATAN hasil ijtihad dan juga qiyas, dan ini adalah dalil yg jauh lebih lemah bila dibanding dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi pengambilan dalil dari kesepakatan dari hasil ijtihad dan qiyas ini kami lakukan ketika dalam keadaan DARURAT. Sejatinya tidak halal berdalil dengan qiyas selama ditemukan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Ar-Risalah oleh Imam Syafi’i hal. 509-600)

    Ijtihad hanya bersifat DARURAT karena suatu sebab yg tidak muncul pada zaman Rasulullah tetapi kemudian suatu sebab tersebut muncul pada zaman sekarang. Misalnya seperti sebab banyaknya para sahabat penghafal Al-Qur’an yg terbunuh dan juga banyak munculnya hadits palsu, yg sebab-sebab tersebut belum ada pada zaman Rasulullah. Padahal untuk mengatasi permasalahan darurat tersebut perlu suatu langkah jalan keluar/solusi. Hal ini dilakukan karena syari’at tidak dapat tegak/terpelihara melainkan hanya dengan cara ini saja, tidak ada cara lain (DARURAT).

    a. Pembukuan Al-Qur’an
    Pengumpulan Al-Quran menjadi satu buku merupakan ijtihad dari sahabat Umar bin Khottob pada masa kekhalifahan Abu Bakar karena mengingat banyaknya para sahabat penghafal Al-Qur’an yang wafat di medan perang. Oleh karena itu, untuk menjaga keterpeliharaan Al-Qur’an maka harus dikumpulkan untuk dibukukan menjadi satu. Para sahabat pada mulanya ada yg tidak setuju karena hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah, tetapi akhirnya semua sahabat bersepakat (ijma’) disebabkan karena sifat DARURAT yaitu banyaknya para penghafal Al-Qur’an yg meninggal dunia.

    Pembukuan Al-Qur’an bukanlah termasuk bid’ah karena merupakan ijma’ para sahabat, sedangkan Rasulullah bersabda:
    ”Maka hendaklah kamu berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahyidin. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah olehmu segala urusan yg baru! Karena sesungguhnya setiap urusan yg baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Darimi, Hakim, dll). Rasulullah juga mengabarkan jalan golongan yg selamat yaitu: ”Ialah golongan yang mengikuti jejak-Ku dan jejak para shahabatku”. (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadist ini hasan). Jadi, apa yg menjadi ijma’ para sahabat bukan termasuk bid’ah.

    Banyaknya para sahabat penghafal Al-Qur’an yang meninggal dunia yang menjadi alasan pembukuan Al-Qur’an. Umar berpikir bahwa bagaimana cara menularkan Al-Qur’an pada generasi berikutnya sedangkan para penghafal Al-Qur’an banyak yang meninggal dalam medan perang. Beliau berpikir bahwa satu-satunya jalan untuk menularkan Al-Qur’an ke generasi berikutnya hanya dengan dibukukannya Al-Qur’an, jika tidak dibukukan maka ilmu agama ini (Al-Qur’an) akan lenyap. Syariat tidak dapat tegak melainkan hanya dengan cara ini.

    b. Pembukuan Hadits
    Pembukuan hadits dilakukan pada masa tabi’in maupun tabiut tabi’in. Sedangkan Rasulullah pernah bersabda memuji 3 generasi umat Islam yg pertama: ”Sebaik-baik generasi adalah generasiku (Sahabat), kemudian sesudahnya (Tabi’in), kemudian sesudahnya (Tabiut Tabi’in).” (HR. Bukhari Muslim). Maka apa yg menjadi ijtihad yg lalu menjadi ijma’ oleh 3 generasi terbaik ini bukanlah termasuk bid’ah.

    Pada masa tabi’in banyaknya fitnah yg muncul seperti pemalsuan hadits-hadits Rasulullah. Oleh karena itu, adanya sebab yg DARURAT untuk membukukan hadits. Syariat tidak dapat dijaga melainkan hanya dengan cara ini saja. Hadits-hadits Nabi tidak mungkin dapat dipelihara/ditularkan sampai generasi akhir melainkan hanya dengan cara dibukukannya hadits-hadits Nabi. Pada masa ini juga, hadits dipilah-pilah menjadi hadits shohih, hadits dhoif (lemah), dan juga hadits maudhu’ (palsu) yg sebelumnya pada masa Rasulullah belum ada karena pada masa Rasulullah, para sahabat mendengar langsung dari Rasulullah atau dari sahabat yg lain sehingga tidak mungkin adanya pemalsuan hadits. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Sirin (tabi’in) : ”Kami tidak pernah bertanya tentang sanad, namun tatkala muncul fitnah (pemalsuan hadits-pen), maka kami mengatakan: ’Sebutkan para perowi kalian’. Lalu dilihat kalau dia dari kalangan ahli sunnah maka haditsnya diterima, namun kalau dari ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.
    Abdullah bin Mubarok (tabi’in) juga berkata: ”Sanad (rangkaian perawi hadits-pen) adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad niscaya semua orang akan bicara semaunya sendiri.” (Muqadimah Kitab Shahih Muslim)

    c. Ilmu Nahwu
    Pertama kali munculnya ilmu nahwu adalah ijtihad dari sahabat Ali bin Abi Tholib yg termasuk dari 4 Khulafaur Rasyidin. Pada masa Ali, wilayah kekhalifahan sangat luas. Umat Islam menyebar ke mana-mana ke berbagai bangsa atau suku dengan bahasa daerah yg bermacam-macam. Umat Islam yg bukan dari bangsa Arab sangat banyak. Padahal mereka kurang mengerti bahasa Arab sedangkan wahyu turun menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, banyak umat Islam non Arab yg membaca Al-Qur’an tetapi salah dalam pengucapannya. Sedangkan jika salah sedikit saja ketika membaca tulisan arab seperti Al-Qur’an maka artinya akan sangat berbeda jauh. Lalu bagaimana jika ada yg berdoa/sholat dengan maksud untuk memohon kebaikan kpd Allah, tetapi justru ia tidak sadar kalau yg diucapkannya justru memohon kecelakaan bagi dirinya? Tentu sangat fatal bukan. Oleh karena sebab DARURAT inilah dimunculkannya ilmu nahwu agar kaum muslimin bisa membaca tulisan Arab dengan baik tanpa salah pengucapannya.

    3. Adzan Sholat Jum’at 2 kali pada masa Utsman bin Affan
    Imam Syafii berkata: “Dan aku MENYUKAI satu adzan dari seorang muadzin ketika (khatib) di atas mimbar bukan banyak muadzin”, kemudian beliau menyebutkan dari As Saib bin Yazid, bahwa pada mulanya adzan pada hari Jum’at dilaksanakan ketika seorang imam duduk di atas mimbar. (Ini terjadi) pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. (Ketika masa) pemerintahan Utsman dan kaum muslimin menjadi banyak, Utsman memerintahkan adzan yang kedua, maka dikumandangkanlah adzan tersebut dan menjadi tetaplah perkara tersebut. (Al-Umm oleh Imam Syafi’I 1/224)

    Ali bin Abi Thalib ketika berada di Kuffah, beliau mencukupkan diri dengan sunnah dan tidak menggunakan adzan yang diadakan oleh Utsman, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Qurthubi di dalam tafsirnya (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an oleh Imam Qurthubi 18/100)

    4. Imam Ahmad mendoakan Imam Syafi’i ketika sujud dalam sholat
    Ketahuilah bahwa berdoa saat sujud (selain bacaan sujud-pen) ada petunjuknya dari Nabi dan sahabat.
    Nabi bersabda: “Kedudukan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim, Abu Awanah, dan Baihaqi)
    Mungkin di benak Saudara akan bertanya: Bukankah perintah ini bersifat umum?
    Saya jawab: Benar, seratus untuk Saudara. Hadits ini masih bersifat umum, tidak ada hadits lain (setahu saya) yang memperinci hadits tersebut (Berbeda dengan dzikir berjamaah, tidak boleh menggunakan dalil umum karena ada dalil lain yang memperinci tentang tata cara dan volume suara). Doa yang diucapkan oleh Imam Ahmad tersebut merupakan hasil ijtihad beliau, sebagaimana Sahabat Abu Darda’ juga berijtihad.
    Abu Darda’ berkata: ”Aku senantiasa mendoakan untuk 70 orang dari sahabatku ketika aku dalam keadaan sujud terhadap Allah, aku sebutkan nama mereka satu-satu.”

    5. Sholawat Nabi hasil ijtihad Imam Syafi’i
    Imam Syafi’i menulis sholawat: “Allahumma sholli ‘alaa Muhammad….” Sampai kata yang diijtihadkannya, yaitu: Baik ada orang yang mengucapkannya, beliau tetap mendapat rahmat.

    Tulisan sholawat yg merupakan ijtihad Imam Syafi’i yg beliau tulis dalam kitab beliau sama sekali TIDAK MENUNJUKKAN bahwa beliau membacanya saat tahiyyat dalam sholat, atau merutinkan saat berdoa, atau saat berbicara dalam majelis, atau saat-saat khusus dlm beribadah. Lagipula Imam Syafi’i juga tidak menganjurkan orang-orang untuk membaca sholawat yg beliau ijtihadkan itu atau tidak disibukkan dengan membaca bacaan itu setiap kali beribadah.

    Bahkan Imam Syafi’i mengatakan: ”Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yg berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah itu dan TINGGALKANLAH PENDAPATKU ITU.” (Ibnu Hibban dlm Shahihnya, Nawawi dlm Majmu’, Al-Khathib, Ibnul Qayyim, dll)
    Imam Syafi’i mengatakan: ”Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yg shahih dari Nabi shollallahu ’alaihi wasallam, Hadits Nabi lebih utama dan KALIAN JANGAN BERTAQLID KEPADAKU.” (Ibnu Abi Hatim dlm Adabu Asy-Syafi’i hal. 93, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dll)

    Imam Syafi’i adalah orang alim yg memang pantas bagi dirinya untuk berijtihad. Sedangkan ijtihad itu bisa benar dan bisa juga salah.
    Imam Malik berkata mirip perkataannya sahabat Ibnu Abbas: ”Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi sendiri.” (Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Abdul Barr, Ibnu Hazm, dll)

    Berikut pendapat para ulama dari kalangan mazhab Syafi’i sendiri ttg kalimat sholawat:
    a. Imam Nawawi dlm Kitab Raudhah-nya menyatakan bahwa ucapan-ucapan sholawat Nabi yg terbaik adalah yg telah diajarkan oleh Nabi sendiri.
    ”Ucapan sholawat Nabi shollallahu ’alaihi wasallam yg paling baik adalah Allahumma sholli ’alaa Muhammad….(seperti dlm riwayat hadits tanpa tambahan kata sayyid)” (Ar-Raudhah oleh imam Nawawi 1: 265)
    b. Imam Subki menyatakan bahwa ”Brgsiapa mengucapkan kalimat sholawat semacam itu (spt dlm riwayat hadits) berarti telah mengucapkan bacaan yg benar, sedangkan orang yg mengucapkan kalimat sholawat lainnya berarti telah mengucapkan yg tdk benar”.
    c. Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i (ahli hadits pensyarah kitab Shohih Bukhari, 773-852) pernah ditanya orang tentang kalimat sholawat Nabi dalam sholat dan luar sholat, baik yang wajib atau yang sunnah.
    Orang tersebut bertanya:”Apakah dalam sholawat itu disyariatkan menggunakan kata-kata sayyid, seperti orang mengatakan Allahumma sholli ’ala sayyidina Muhammad…. Manakah yang lebih baik daripada ucapan-ucapan itu? Apakah menggunakan kata-kata sayyid atau tdk menggunakannya karena tidak tersebut dalam hadits-hadits?”
    Ibnu Hajar menjawab: ”Benar, mengucapkan lafazh-lafazh sholawat yg tersebut dalam riwayat hadits adalah yang benar. Janganlah sampai ada orang mengatakan bahwa Nabi tidak menggunakan kata-kata sayyid dalam bacaan sholawat hanya dikarenakan sikap rendah hati saja sebagaimana juga tidak layak ketika orang mendengar disebut nama Nabi tidak menyahut dengan ucapan shollallahu ’alaihi wasallam. … Saya menyatakan bahwa sekiranya benar bahwa ucapan sayyid itu ada, niscaya disebutkan dlm riwayat dari sahabat dan tabi’in. Akan tetapi saya tidak menemukan adanya riwayat semacam itu dari seorang sahabat atau tabi’in pun, padahal begitu banyak bacaan sholawat yg diterima dari mereka….” (Diriwayatkan oleh murid Ibnu Hajar, Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Gharabili)

    Oleh karenanya, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk merekayasa dzikir yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Mari kita simak hadits berikut, dengan harapan agar kita mendapat pelajaran penting tentang tata cara berdzikir:

    “Dari sahabat Al Bara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bila engkau akan berbaring tidur, hendaknya engkau berwudhu’ layaknya engkau berwudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, dan menyerahkan urusanku kepada-Mu. Dengan rasa mengharap (kerahmatan-Mu) dan takut (akan siksa-Mu) aku menyandarkan punggungku kepada-Mu. Tiada tempat perlindungan dan penyelamatan (dari siksa-Mu) melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan NABI-MU yang telah Engkau utus.” Dan jadikanlah bacaan (doa) ini sebagai akhir perkataanmu, karena bila engkau mati pada malam itu, niscaya engkau mati dalam keadaan menetapi fitrah (agama Islam).” Al Bara’ bin ‘Azib berkata: “Maka aku mengulang-ulang bacaan (doa) ini, untuk menghafalnya, dan mengatakan: aku beriman kepada RASUL-MU yang telah Engkau utus.” Nabi pun bersabda: “Katakan: Aku beriman kepada NABI-MU yang telah Engkau utus.” (Riwayat Bukhori, 5/2326 hadits no: 5952, dan Muslim 4/2081 hadits no: 2710)

    Bila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menegur kesalahan (ketidaksengajaan) Sahabat Al Bara’ bin ‘Azib mengucapkan satu kata dalam dzikir yang beliau ajarkan, maka bagaimana halnya seandainya yang dilakukan oleh Bara’ bin ‘Azib ialah dzikir hasil rekayasanya sendiri?

    Ibnu Hajar Al-Asqolani As Syafi’i (ahli hadits/ulama mazhab Syafi’i, 773-852) berkata: “Pendapat yang paling tepat tentang hikmahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membenarkan ucapan orang yang mengatakan “Rasul” sebagai ganti kata “Nabi” adalah: Bahwa bacaan-bacaan dzikir adalah bersifat TAUQIFIYYAH (HARUS ADA TUNTUNANNYA), dan bacaan-bacaan dzikir itu memiliki keistimewaan dan rahasia-rahasia yang tidak dapat diketahui dengan cara qiyas, sehingga wajib kita memelihara lafazh (dzikir) sebagaimana diriwayatkan.” (Fath Al Bari syarah Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani 11/112).

    Mubarokfuri (pensyarah Kitab Sunan At-Tirmidzi) mengomentari penjelasan Ibnu Hajar ini, ia mengatakan: ”Ini juga pilihan Imam Al-Maziri katanya: Maka dzikir-dzikir ini dibatasi pada ketentuan harus sesuai dengan lafazh yg ada dan biasanya pahalanya juga berkaitan dengan huruf-huruf dzikir itu. Atau boleh jadi kalimat-kalimat ini merupakan wahyu yg diwahyukan kepada beliau sehingga wajib pula untuk ditunaikan sesuai dengan bagaimana datangnya.

    Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini sangat baik.

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    1. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Al-’Izz bin Abdis Salaam YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 5, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBID’AHKAN TALQIN MAYIT DALAM KUBUR?
    Al-’Izz bin Abdis Salaam menyatakan bahwasanya mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah (Kitab Al-Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal. 96. Beliau adalah guru Abu Syamah, sedangkan Abu Syamah adalah guru Imam Nawawi)

    2. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Al-’Izz bin Abdis Salaam YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 5 dan BERTAQLID KEPADA Imam Nawawi YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBENCI MENGUSAP MUKA SELESAI BERDOA? (cat: selain mau tidur, karena ada contoh dari Nabi seusai membaca Surat Muawidzatain beliau meniupnya, lalu mengusap seluruh tubuhnya, tidak hanya usap muka saja)

    Al-’Izz bin Abdis Salaam berkata: “Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuai orang jahil.” (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal 46-47)
    Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir 1/369 mengatakan: Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam berkata: “Tidaklah mengusap wajahnya kecuali orang yang jahil.”

    Dalam Kitab Imam Nawawi Al-Majmu’ sebagaimana dinukil oleh Ibnu Allan dalam Syarah Al-Adzkar 2/311, beliau mengatakan: “Tidak disunnahkan mengusap (wajah) setelah berdoa di luar sholat.”

    Semua hadits tentang mengusap muka tidak ada yang shohih dari Rasulullah (wallahu a’lam) sebagaimana dilemahkan oleh para ahli hadits seperti Adz-Dzahabi, Imam Nawawi, Al-Bushiri, Ibnu Taimiyyah, Tirmidzi, Al-Baghawi, dsb. (Mungkin ahli hadits yang mereka anggap menghasankan hadits tentang usap muka adalah Ibnu Hajar, tetapi perkataan beliau perlu diteliti melihat dari Kitab beliau yang lain. Ibnu Hajar mendhoifkan perowi Hammad bin Isa Al-Juhani dalam Kitab beliau Taqrib At Tahzib : 81. Dalam kitab beliau yang lain pula Nuzhatunn Nnadhar fi Taudlih Nukhbatil Fikar 139-140, pengertian hadits hasan lighoirihi menurut beliau ialah istilah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang belum diketahui statusnya).

    Baihaqi (2/212) meriwayatkan dari Al-Basyani ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah yakni Ibnu Mubarak tentang orang yang berdoa kemudian mengusap wajahnya, beliau menjawab: “Aku tidak mendapati pijakan (dalil) yang kuat tentang persoalan itu.”

    Abu Syamah (guru Imam Nawawi/salah seorang murid Al-’Iz bin Abdissalam) berkata: “Beliau (Al-’Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak BID’AH yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut” (Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-’Iz bin Abdissalam)

    3. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Imam Syafi’i YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM PENDAPAT TIDAK SAMPAINYA BACAAN AL-QUR’AN KEPADA MAYIT?
    Imam An-Nawawi berkata: “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat.” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)
    Imam Nawawi di dalam kitab Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab dia mengatakan: “Adalah, membaca al-Qur’an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati atau sebagainya adalah tidak sampai kepada mayat yang dikirimkan menurut Jumhurul Ulama dan imam Syafi’i. Keterangan ini telah diulang beberapa kali oleh imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Shohih Muslim” (As-Subuki, Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab: juz 10 hal: 426).

    4. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Imam Syafi’i YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBENCI SELAMATAN KEMATIAN?
    Imam Syafi’i berkata dalam kitabnya Al-Umm, “Aku tidak suka mat’am yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat-pen) meskipun di situ tiada tangisan karena hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan.”( Al-Umm oleh Imam Syafi’i : juz 1; hal 248)

    Imam Nawawi (Ulama Mazhab Syafi’i) dalam kitab Al-Majmu’ syarah Muhadzdzab menyebutkan, “Penyediaan makanan yang dilakukan oleh keluarga kematian dan berkumpulnya orang yang ramai di rumahnya, adalah tidak ada nasnya sama sekali, yang jelasnya semua itu adalah bid’ah yang tidak disunatkan.” (Al-Majmu’ syarah Muhadzdzab oleh Nawawi, juz 5, hal 286)

    Dari Sahabat Jarir bin Abdullah Al Bajali, dia berkata: “Kami (para sahabat Nabi) memandang berkumpul keluarga mayit dan pembuatan makanan setelah penguburannya termasuk niyahah (meratap). (HR. Ahmad dan ini lafazhnya, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh An Nawawi, Al Bushiri, dan Al Albani)

    Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, ” Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah)

    Rasulullah bersabda: “Barangsiapa meratapinya, maka ia akan diadzab pada hari kiamat atas apa yang ia ratapi”. (HR. Bukhari III/126 Ahkaam Al-Janaaiz hal.46)

    5. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Imam Syafi’i YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBENCI MENEMBOK KUBURAN?
    Imam Syafi’i berkata: “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan. Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun di atas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm oleh Imam Syafi’i 1/277)
    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Al Hiyyaj, ia berkata: sesungguhnya Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku: “Maukah engkau aku utus untuk suatu misi sebagaimana Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam mengutusku? Yaitu janganlah engkau biarkan ada sebuah gambar pun tanpa engkau musnahkan, dan janganlah engkau biarkan ada sebuah kuburan yang menonjol kecuali engkau ratakan.” (HR. Muslim 979)
    Ibnu Hajar dalam kitab al-Minhaj dan Syarahnya, terdapat keterangan yang isinya, “Dimakruhkan menembok kuburan dan membuat bangunan di atasnya. Demikian pula menulis sesuatu di atas kuburan, karena ada larangan yang shahih terhadap ketiga perbuatan ini, baik tulisan itu berupa nama mayit yang dikubur maupun tulisan yang lain, dan baik tulisan itu di atas papan yang dipasang di atas kepala mayit maupun di tempat yang lain.”

    KESIMPULAN:
    Imam As-Syafi’i dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam yang juga bermadzhab syafiiyah yang dituduh mendukung bid’ah hasanah ternyata tidak mendukung bid’ah-bid’ah hasanah yang sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i.

    PERHATIAN:
    Pada tulisan saya ini, saya tidak menjelek-jelekkan Imam Syafi’i. Beliau adalah salah seorang imam Ahlus Sunnah seperti para imam Ahlus Sunnah yang lain. Justru sebaliknya, saya berprasangka baik kepada beliau dengan menganggap bahwa yang beliau maksud bid’ah terpuji adalah bid’ah dalam arti bahasa bukan dalam arti syariat melihat dari perkataan beliau yang lain, dan juga penjelasan Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tentang perkataan Imam Syafi’i tersebut. Buktinya beliau membenci perbuatan bid’ah hasanah seperti yang dipraktekkan orang-orang yang mengaku bermazhab Syafi’i. Dengan ini berarti Imam Syafi’i tidak menyalahi hadits Nabi yang menyatakan bahwa semua bid’ah itu sesat dan beliau telah berlepas diri dari orang-orang yang mengaku mengikuti beliau.

    Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan permisi mohon undur diri.

    PANTUN:
    Beli mainan di Pasar Legi
    Jika ada kalimat yang kurang berkenan jangan dimasukkan dalam hati.

    Balas

    • Assalamu’alaikum warohmatulohi wabarokatuh :

      Maaf saudara saya yang bodoh ini sedang belajar dari isi tag ini . agar tahu mana yang benar dan mana yang salah , jadi akan lebih baik saudara menjawab dulu setiap pertanyaan atas diri anda sebagaimana orang telah menjawab apa yang anda tanyakan..terima kasih

      Balas

  21. Posted by herry on 22 Juli 2011 at 5:20 pm

    @susanto:
    koment ente itu…Subhanalloh…….bujubuneng….busyet…
    ane mohon sama ente… itu pertanyaan dari moderator tolong dijawab masalah nahwu shorof, balaghoh, dan mantiq dari hadist yang ente sampaikan. Biar clear gitu.

    kalau belum dapat dapat jawabannya, mintalah sama guru ente pencerahan buat ngejwabnya. abis itu, copas dech ke forum ini.

    Pleeeeeassssseeeeeee…… itu dah dari tgl 17 juli 2011 lho.
    kalau tulisan ente yang selanjutnya (TGL 20 jULI 2011), masa g baca yang sebelumnya….
    anda memang pinter dalam menulis dan bercerita. Top markotop.

    Balas

  22. kebiasaan wahabiyyun, tidak tuntas dalam menjawab pertanyaan, tetep kekeh copy paste tanpa mengerti esensi apa yang dipaste :)

    Terima kasih ya JunduMuhammad, I like this blog!

    Balas

  23. Posted by romadhon on 28 Juli 2011 at 11:57 pm

    wahabiyyun(atau apalah sebutan buat mereka)…lebih bijaksana klo kalian(wahabiyyun) menjelaskan sesuatu tu secara systematis..belum kelar penjelasan yang satu lari ke penjelasan yang lain…sejauh mana ilmu kalian? sebanyak apa guru kalian?berapa kitab yang kalian hafal diluar kepala kalian?apa pantas kalian menyebut nama ulama2 terkemuka dengan mulut kotor kalian…mereka lebih mulia disisi ALLAH SWT daripada kalian…sadar dunk…

    Balas

  24. Posted by Super Nova on 29 Juli 2011 at 1:58 pm

    all wahabiyyun tolong bantu susanto atas pertanyaan mas jundumuhammad on 17 Juli 2011 at 6:35 pm

    kalo diskusi jangan asal copas keliatan antum tidak layak untuk diskusi

    Balas

  25. Posted by Pembela Sunnah on 15 Agustus 2011 at 2:03 pm

    gue mau bikin buku…….”BUKU BODOH BERDEBAT DENGAN NU”

    Balas

    • Posted by azzam on 22 Agustus 2011 at 11:40 pm

      aswaja tunggu kebodohan ente

      Balas

    • Posted by kangtsabit@yahoo.com on 26 Agustus 2012 at 8:33 pm

      kebanyakan debat sama mas “wahaby” jadi ikut ikutan oOn ..ini ga boleh itu ga boleh … ga nyadar mas “wahaby” sendiri sering kejedot bid’ah …………. gkgkgkg capcay deeeeeeeeeeeeehh !!

      Balas

  26. Posted by sopyan shaury on 22 Agustus 2011 at 10:30 pm

    Susanto,, typikel debat kusir,, dan mesin foto copy…
    belum tentu dia ngerti dengan apa yang dia copy kan…

    Balas

  27. Posted by Mahfud Nologareng on 23 Agustus 2011 at 10:00 am

    Terus menulis Mas Jundu .. saya banyak belajar dari blog ini

    Balas

  28. Posted by wong fae hung on 26 Agustus 2011 at 9:48 am

    buat semua wahabiyyun salam bid’ah yo”pengumuman di makasar ae pya temen yg terkena wahabisalafi,mereka mau beat thoriqoh naqsabandi,dan pada buat buku true story dri wahabiy ke thoriqoh akan dicetak diyogya isunya 50 ribu eksemplar oleh seorang donatur mantan salafi,ini hrus diberhentikan wahai wahabiy

    Balas

  29. Posted by hudaf on 27 Agustus 2011 at 4:16 pm

    pening baca tulisan orang wahabi ini (susanto) copas sana sini dak jelas, esensi debat/diskusi dengan pemilik blognya tidak sesuai, lebh baik belajar lagi jangan copas sana sini orang wahabi yang satu ini,

    Balas

  30. Posted by fauzan on 30 Agustus 2011 at 11:28 pm

    Assalamualaikum wr.wb
    Beli Bukunya dimana nih

    Balas

  31. hehehe,,, wahabi,, wahabi,,, kapan pinternya ya,,, ^__^

    Balas

  32. Assalamulaikum.
    Permisi melihat perdebatan ini saya merasa makin bodo aja, untuk utstad jundumuhammad sebagai moderator, saya memang tidak memliki mendalam tentang hadist dll seperti anda hahwu shorof dll, saya juga bukan pembela wahabi, tapi saya suka perdebatan yang ilmiah dan memang memiliki ilmunya, dan itu sudah pantas jika anda mendebat. ketimbang komen2 yang mendukung anda yang hanya bikin memperkeruh suasa. ndak tau ilmu tapi mung asbun aja.

    hanya saya tidak sependapat tentang argumen anda yang saya simpulkan, yaitu memperbolehkan beramal asalkan bersumber dari Alquran. Dan dikuatkan dengan amalan2 yang dikerjakan pada jaman Rosul. dan Rosul sebelumnya tidak mencotohkan spt beberapa alaman yang anda tulis diantaranya

    -Tentang alaman Bilal salat sunah 2 rakaat setelah wudhu
    Bacaaan

    -Bacaan “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fîhi

    -Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,
    Ada seorang laki-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata dst…

    kenapa saya tidak sependapat, karena bukankah alaman2 yang menjadi agama itu memang tidak saja bersumber dari Rosul, kadang juga dari sahabat beliau.Amalan2 itu bukan bid’ah karena telah mendapat istilahnya pengakuan dari Rosul dan Rosul memperbolehkannya dan saat itu memang masih ditunggui oleh Rosul. Timbul pertanyaan.. kenapa kalo begitu Bilal tidak bertanya dulu pada Rosul kalo beramal harus dicontohkan dulu.? Karena saat masa Rosul hidup, dan agama atau wahyu itu masih turun. dan dari sinilah sunah berasal, tidak mungkin sunah yang sekarang bersumber dari bid’ah dan pastinya Allah sudah meghedaki demikian. Bukankah nabi juga pernah melarang sahabatnya mengamalkan seseatu setelah mereka bertanya. karena apa ya karena agama masih berkemkembang, adanya mansukh dan nansih Ayat Alquran.

    Namun ketika nabi telah wafat, barulah kita diperintahkan untuk mengerjakan yang telah dicontohkan nabi. dan meninggalkan yang tidak dicontohkan bahkan dilarang.
    Nah bid;ah baru muncul setelah sepeninggalannya beliau. karena saat itu memang wahyu sudah ditutup, selesai, agama sudah jadi.
    saya ingat ada hadist yang yang isinya kelak di akherat kaum muslim berbondong mengikuti NAbi,dan ada bekas sujud di kening mereka.Oleh nabi dipersilahkanuntu minum air di telaga akutsyar namun tatkala sebagian dari mereka mau minum, dicegah oleh ALlah, Mereka bukan umatmu, engkau tidak tau setelah sepeninggalmu mereka telah memperbaharui agama.(Sunah)

    Kalo dengan pengertian anda boleh beramal yang tidak dicontohkan Rosul asalkan bersumber dari agama, kalo begitu boleh dong kalo seseoarang beramal misalkan mirip dengan solat, hanya diam ato bagaimana gitu yang penting diambil do’a dan bacaannya dari alquran atau hadist, misal sujudnya baca salawat. atau apalah gitu, kan yang penting sumbernya dari Agama.
    Mungkin anda akan bilang km itu bodo gak tau agama.

    Kalo memang dengan dasar2 dalil yang anda kemukakan, berdasarkan juga ilmu nahwu dan ilmu hadist memperbolehkan bid’ah yang spt anda maksud, saya pikir anda tidak tepat dengan memberikan contoh bid;ah dengan contoh2 yang anda tulis diatas.

    kalo saya pribadi saya kerjakan apa2 yang dicontohkan saja lah, kalo mau nambah2 karena saya gak punya ilmu. daripada beramal tapi gak tenang karena diluar diperdebatkan gak selesai2 teruss terusan.

    Balas

    • Posted by herry on 20 Oktober 2011 at 1:39 am

      “….. kalo begitu boleh dong kalo seseoarang beramal misalkan mirip dengan solat, hanya diam ato bagaimana gitu yang penting diambil do’a dan bacaannya dari alquran atau hadist, misal sujudnya baca salawat. atau apalah gitu, kan yang penting sumbernya dari Agama…..”

      ngasih contoh kok pakai andai….andai…. yang pasti dong bos contohnya. kalau sudah ditentukan contoh pastinya, tinggal anda cari dalilnya di Quran dan hadist. kalau dah dapat dalilnya, tingal dech…..anda mikir lagi.Apakah anda memiliki kapasitas untuk menjadi seorang mujtahid?.

      “kalo saya pribadi saya kerjakan apa2 yang dicontohkan saja lah, kalo mau nambah2 karena saya gak punya ilmu….” BERARTI….
      - zakat fitrah = kurma ato gandum
      - nikah g perlu ke KUA (semoga anda belum nikah, karena kalo sudah= anda melakukan bid’ah)
      - di rumah anda g ada muskhaf AlQuran kan…
      - apa lagi ya….

      Balas

  33. untuk ustadz jundu muhammad,and tenang aj,,kita memeng benar2 ada dalam jalur ahlu sunnah walajamaah,,JGN GOYAH,,,gak ada untungnya debat sama orang orang wahabi dan pengikutnya,,mereka adalah orang bodoh yang gak tau tntng islam,,tnyain sm mrka yng mencela mauludan,tahlilan,yasinan dan yg lainnya.,udah nympe mana ilmu mereka,apakh mreka udh nguasai alquran seluruhnya brkt tafsir iafsirnya,apakah mereka sudah mengetahui semua hadist hadist baik itu yg diriwayatkn oleh pra imam bukhori,muslim dan deretan para ulama ulama sholeh yg lainya,,demi ALLAH kaum wahabi adalh orang orang sesat sesat sesat sesat dgtu juga pra pngikutnya,,merka adlh pra pengkritik yg bodoh..
    udh mas jundu,,sbr aj, ttp kibarkan terus beNdera ahlu sunnah waljamaah,kita para laskar FPI DAN DERETAN PARA ULAMA BAIK ITU DARI KALANGAN NU, HABAIB MAUPUN DRI KALANGAN IMAM IMAM DAN PARA ULAMA DUNIAI ASWAJA SELALU BERSAMA ANDA.
    UNTUK PARA WAHABI DAN PENGIKUTNYA,KALIAN SEMUA SESAT. BERTAUBATLAH

    SLAM KNAL DARI SAYA HAFIDZ ANAK KUNINGAN JWA BARAT

    Balas

  34. untuk ustadz jundu muhammad,and tenang aj,,kita memeng benar2 ada dalam jalur ahlu sunnah walajamaah,,JGN GOYAH,,,gak ada untungnya debat sama orang orang wahabi dan pengikutnya,,mereka adalah orang bodoh yang gak tau tntng islam,,tnyain sm mrka yng mencela mauludan,tahlilan,yasinan dan yg lainnya.,udah nympe mana ilmu mereka,apakh mreka udh nguasai alquran seluruhnya brkt tafsir tafsirnya,apakah mereka sudah mengetahui semua hadist hadist baik itu yg diriwayatkn oleh pra imam bukhori,muslim dan deretan para ulama ulama sholeh yg lainya,,demi ALLAH kaum wahabi adalh orang orang sesat sesat sesat sesat dgtu juga pra pngikutnya,,merka adlh pra pengkritik yg bodoh..
    udh mas jundu,,sbr aj, ttp kibarkan terus beNdera ahlu sunnah waljamaah,kita para laskar FPI DAN DERETAN PARA ULAMA BAIK ITU DARI KALANGAN NU, HABAIB MAUPUN DRI KALANGAN IMAM IMAM DAN PARA ULAMA DUNIAI ASWAJA SELALU BERSAMA ANDA.
    UNTUK PARA WAHABI DAN PENGIKUTNYA,KALIAN SEMUA SESAT. BERTAUBATLAH

    SLAM KNAL DARI SAYA HAFIDZ ANAK KUNINGAN JWA BARAT

    Balas

  35. Posted by andri al faqir on 22 Oktober 2011 at 2:56 pm

    salam kenal upadz….ilmu anda luas dan tidak tempramental…..menghadapi wahabism…

    Balas

    • wahaby sadarlah berapa banyak lagi anda akan mencela para ulama,, anda mengatakan para ulama ahlussunnah wal jama’ah imannya,amaliyahnya sesat, apakah anda seorang tuhan atau sejajar dengan Alloh SWT hingga berani menilai amaliyah seseorang sesat/rusak. yang berhak menilai amal seseorang hanya Alloh SWT bukan mahluk,, jadi jangan sibuk mencari kesalahan ibadah orang dengan sebut bid’ah,syirik, sesat dll……….

      Balas

  36. Posted by Hamba Allah on 3 November 2011 at 9:16 pm

    Sesungguhnya saya berilmu lebih rendah dan kecil daripada seekor semut.
    Kepada para Ahli Al Qur`an saya mohon di abad yg lebih maju ini ,lebih berhati hati dlm menela ah isi kandungan dr Al Qur`an yg suci .Dimana ada beberapa Hadist yg menerjemahkan isi Al Qur`an dg tidak pantas.contoh :
    Allah ta’ala berfirman,
    وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا ومن كفر فإن الله غنى عن العالمين (٩٧)

    “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang kufur/mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97).

    Al Hasan Al Bashri rahimahullah dan ulama selain beliau berkata tatkala menafsirkan ayat ini,
    إن من ترك الحج وهو قادر عليه فهو كافر

    “Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan kewajiban berhaji dan dia mampu menunaikannya, dialah orang yang kafir/mengingkari kewajiban haji.”
    (Tafsir Al Qurthubi 4/153; Asy Syamilah)

    di dlm Firman Allah yg Maha Suci dan Maha Mengetahui Allah tidak menyebutkan orang yg mampu tapi tidak naik haji bahwa mereka itu kafir.jadi dari salah satu contoh ini bahwa orang yang mampu naik haji tapi tidak menunaikan haji adalah kafir,berarti orang tersebut akan wajib kita perangi.

    Maha Agung lagi Maha Besar Allah SWT.
    dari sisi pandang saya,dari Firman Allah tersebut menunjukan Janganlah bersombong dari kekaya an.Sesungguhnya Allah Maha Kaya…. Amin.

    Balas

  37. Maaf, sy copas sebaris kata (yg “kebetulan” -krn banyak banget yg harus dibaca- dan sempat sy baca) dlm penjelasan ttg bid’ah. Berikut copasannya:
    “Anda kalau zakat fitrah pake apa? Seharusnya mesti pakai korma dong. Rasul SAW mengatakan tidak pernah pakai beras.”

    Siapa yg mengharuskan cuma pakai kurma, atau melarang pakai beras?
    Kalimat -copas- itu hanyalah kata2 anda yg bertujuan melemahkan berbagai pendapat wahabi terkait definisi bid’ah.?
    Jika semua Wahabi -dan juga anda- berzakat dg beras (bukan dg kurma) maka mslh tsb tdklah cukup -jika tdk ingin dikatakan cuman nyari2 kesalahan Wahabi yg juga berzakat dg beras- utk melemahkan menguatkan pendapat anda ttg definisi bid’ah.

    Perhatikan hadits berikut yg menjelaskan bhw berzakat adlh dg makanan pokok, cuma dg kurma!
    Shohih Muslim No. 1642:
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar dari Isma’il bin Umayyah ia berkata, telah mengabarkan kepadaku Iyadl bin abdullah bin Sa’d bin Abu sarh bahwa ia mendengar Sa’id Al-Khudri berkata: Kami mengeluarkan zakat fithrah pada masa Rosululloh Shollalloohu ‘alayhi wa Sallam yakni dari setiap anak kecil dan besar, merdeka atau hamba sahaya, berupa tiga bahan MAKANAN POKOK, yaitu: satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju atau satu sha’ gandum. Kami senantiasa membayarnya seperti itu hingga pada masa pemerintahan Mu’awiyyah. Menurutnya, bahwa dua mud gandum Syam adalah setara dengan satu sha’ kurma. Abus Sa’id Al-Khudri berkata: “Adapun saya tetap saja membayarnya seperti biasanya.”

    Makanan pokok kita disini adlh beras. Meskipun tiga bahan makanan pokok yg disbt hadits diatas telah bisa kita dapatkan disini, tetap saja ketiganya bukan -dan sampai skrg tidak bisa dianggap sbg- makanan pokok kita.

    Dan, mengganti ketiga bahan makanan pokok -sbgmn hadits- tsb dg beras tidak tepat dijadikan contoh ketika anda menjelaskan ttg perilaku bid’ah. Sbb, selain menyebut tiga jenis makanan, Rosululloh Shollalloohu ‘alayhi wa Sallam juga menyebutkan kata2 “makanan pokok”. Dan makanan pokok kita disini adlh beras!

    Balas

  38. Ralat.
    Tertulis:
    Perhatikan hadits berikut yg menjelaskan bhw berzakat adlh dg makanan pokok, cuma dg kurma!
    Yang benar:
    Perhatikan hadits berikut yg menjelaskan bhw berzakat adlh dg makanan pokok, bukan cuma dg kurma!

    Balas

  39. sipppp bagus banget artikelny, mhn ijin sy mhn jawaban dari 30 pertanyaan ny kang utk nambah ilmu, kan org wahabi kagak bs jawab,jd jawabanny bagaimana nuhun .

    Balas

  40. geli juga melihat komentar-komentar yg mencela wahabi padahal tidak mengerti apa itu wahabi .
    jika menurut kalian wahabi itu sesat karena meninggalkan tradisi nenek moyang ya sudah tidak usah di ikuti ? tidak perlu kebakaran jenggot dan ngotot membela tardisi turun temurun .

    Balas

    • Bertakwalah kalian kepada Allah ta`ala. Siapa ahlusunnah wal jamaah siapa salafy siapa wahhabi? Kita semua hanya mengikuti atau taklid, dan kalian atau saya juga bukan ulama. Buku yang diterbitkan mengenai trik menghadapi wahhabi adalah bukti bahwa kita lebih senang untuk menjatuhkan wibawa seorang muslim daripada menunjukkannya menuju kebenaran. Marilah kita berbuat lebih baik dengan cara menuntut ilmu, mendirikan sekolah, dan berdakwah kepada al quran dan assunnah sebagaimana yang difahami oleh para pendahulu kita (salafusshalih), karena merekalah orang2 yang telah dijamin masuk surga. amin.

      Balas

      • loh semua yang disebutkan oleh ustdaz JunduMuhmmad itu kan perilaku yang dilaksanakan oleh salafusshalih, dibaca saja mulai dari ujung atas artikel ini sampai ujung paling bawah… sepertinya tidak ada yang khalaf sama sekali…

        Balas

  41. Talqien itu artinyamengajar,maksudnya pada sisi ahli talqien,ialah mengajar simati buat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh malaikat kepadanya,atau mengajar simati agar dapat menjawab semua pertanyaan malaikat yang menanyai didalam kubur.
    Mentalqienkan si mati tidak diperintahkan oleh ajaran Islam.Allah Swt dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan kepada kita untuk mentalqienkan orang yang telah wafat.Dan hal itu tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw dan sahabatnya.Adapun tentang hadits talqien yang digunakan oleh banyak orang adalah hadits yang tidak ada asal usulnya sekurang-kurang nya lemah yang tidak boleh dijadikan sandaran.
    Imam Izzuddien berkata:Talqien bid`ah,tidak shah ditentang itu satupun (riwayat dari Nabi Saw).
    Imam Ahmad berkata:Saya tidak pernah lihat seorang berbuat talqien itu,kecuali orang-orang syam dihari Abul-Mughirah meninggal,yaitu dating seorang lalu ia berbuat begitu.
    Kata pengarang kitabul Manar:Sesungguhnya orang yang tahu ilmu hadits tidak akan syak tentang kepalsuan hadits talqien.
    Kata pengarang kitabur-ruh:Sesungguhnya hadits talqien dha`if.
    Imam Zainuddin Al-Iraqi berkata:Hadits talqien Abi Umamah itu dha`if.
    Imam Ibnu Qaiyim berkata:Hadits talqien itu tidak shah datangnya dari Nabi Saw.
    Imam Ash-Shan-aanie:Ringkasnya perkataan imam-imam ahli tahqiq yang telah periksa sungguh-sungguh,bahwa hadits talqien itu lemah dan mengerjakan talqien itu bid`ah,dan juanganlah kita tertipu dengan sebab banyak orang yang mengerjakannya.
    Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami berkata:Diantara rawi-rawi hadits itu (hadits talqien) ada orang yang aku tidak kenal (majhul),ini berarti lemah.Lihat Nailul Authar 4:139.
    Tersebut dalam kitab Asnal-Muthalib 86,bahwa hadits talqien itu dilemahkan oleh Imam Ibnush Shalah,Imam an-Nawawi,Ibnu Qaiyim dan Ibnu Hajar.
    Tersebut dalam kitab Tam-yiezush-shahih Minal-Khabiets halaman 56,karangan imam Asy-Syibani Asy-Syafi`I berkata didalam kitabnya:Talqien mayit sesudah tanam itu,diriwayatkan oleh Thabranie dengan sanadnya kepada Abi Umamah,bahwa Abi Umamah ucapkan hadits itu diwaktu ia dalam naza……
    Naza itu artinya waktu hampir mati,sedang menarik nafas-nafas yang penghabisan.Hadits yang diucapkan ketika dalam keadaan sakarat itu tidak boleh diambil atau tidak boleh dijadikan sandaran.Hadits itu telah dilemahkan oleh kebanyakan ulama ahli hadits dan ada sebagian ulama ahli hadits ada yang beranggapan hadits talqien itu palsu.Sedangkan hadits lemah saja tidak boleh dijadikan sandaran apalagi hadits palsu,fikirkanlah dengan tenang dan seksama jikalau kita ingin berada diatas jalan yang lurus.Sebagaimana Firman Allah Ta`ala:
    Dan sesungguhnya ini adalah jalan ku yang lurus,maka ikutila dia,dan janganlah kamu mengikutu jalan-jalan (yang lain),karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan nya.yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.(QS.Al-An`am:153).
    Pembaca:Hadits talqien itu tidak boleh diamalkan karena hadits itu teramat lemah dan ada ulama ahli hadits mengatakan bahwa hadits itu palsu,jadi selayaknya tidak boleh kita mengamalkan hadits talqien itu.Kami (penulis)berpandangan bahwa hadits talqien itu adalah hadits palsu dengan alasan bahwa hadits talqien itu bertentangan dengan ayat al-Qur`an yang menerangkan bahwasanya kita tidak bisa membuat dengar (mengajar) orang yang telah mati.Sebagaimana Firman Allah Ta`ala:
    “Sesungguhnya tidak bisa engkau membikin dengar orang-orang yang sudah mati.”(QS.An-Naml:80).
    “Bukan engkau orang yang bias bikin dengar orang-orang yang didalam kubur.”(QS.Fathir:22).
    sementara hadits itu malah memerintahkan kita untuk mengajar orang yang telah mati.jelas sekali hadits talqien itu bertentangan dengan ayat al-Qur`an maka gugurlah hadits itu dan tidak boleh sama sekali diamalkan.Menurut kaidah ilmu hadits,hadits yang shahih itu matan nya tidak boleh bertentangan dengan ayat al-Qur`an sementara hadits talqien itu matan nya bertentangan dengan Qur`an.
    “Dan sebagian daripada tanda hadits palsu itu adalah berlawanan dengan nash Al-Qur`an atau sunnah yang mutawatir atau ijma yang betul-betul atau akal yang tegas,jika demikian ta` dapat dita`wil.(Al-Baiqunaiyah 82)
    “Hadits shahih itu barang yang selamat lafazhnya dari pada kejanggalan dan selamat ma`nanya dari pada menyalahi satu ayat Qur`an atau satu khabar mutawatir,atau sanadnya berhubungan dengan perantara rawi yang adil dan kuat ingatannya.(At-Ta`riefat 58)
    Untuk sekedar renungan bagi para pembaca yang ingin mencari kebenaran dan benar-benar ingin mengikuti sunnah Nabi Saw,maka perhatikanlah renungan kami dibawah ini.
    1.Hadits talqien itu adalah lemah menurut pengakuan ulama ahli hadits dan tidak boleh diamalkan.
    2.Sebagian ulama ahli hadits ada yang mengatakan bahwa hadits talqien itu palsu,masih inginkah kita mengamalkan hadits palsu yang tidak ada sumbernya dari Rasulullah Saw?
    3.Tidak ada ulama ahli hadits yang menshahihkan hadits itu,masihkah kita ingin meng amalkan hadits yang tidak diakui keshahihan nya?
    4.Semua ulama ahli hadits melemahkan hadits itu.
    5.Hadits talqien itu bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur`an?
    6.Tidak ada satupun didalam al-Qur`an Allah memerintahkan kepada kita untuk mengajar orang yang telah mati.
    7.Tidak ada hadits Nabi Saw yang shahih yang memerintahkan kita untuk mentalqienkan orang yang telah wafat.
    8.Tidak ada riwayat dari sahabat-sahabat Nabi Saw yang melakukan talqien itu.
    9.Imam Empat dan ulama-ulama ahli fiqih tidak pernah melakukan talqien pada mayit bahkan imam Ahmad bin Hanbal mengatakan talqien itu bid`ah.

    Balas

    • Posted by andi abdulloh ad-dausry on 15 Januari 2012 at 11:43 pm

      ane tambahin dikit wahai saudaraku kalau da hadits yang bener- bener shohih tentang talqein tolong tunjukan kpada kami,,,apalagi mentalqien orang yang sudah mati sebanyak 1000 atau 100 atau seterunya,,,??? adakah hadits dr Rosululloh shollahu;alaihi salam,,,atau ayat???? tunjukkan kpda kami….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

      Balas

  42. Posted by andi abdulloh ad-dausry on 15 Januari 2012 at 11:13 pm

    subhaanalloh,,,syaikh Muhammad bin abdul Wahab adalah pembaharu umat ini,,, dakwahnya tidak lain hanyalah seperti dakwahnya para nabi yaitu mentauhidkan Alloh,,,memurnikan tauhid hanya kpd Alloh,,,memberantas kesyrikan….dan barang sipa yang menolak dakwahnya beliau berarti menolak dakwahnya para Nabi Alloh subhanahu wa ta’ala…dan barang siapa yang menyebarkan kesyirikan maka mereka mendakwahkan dakwahnya Syaithon yang terkutuk,,, ” Janganlah kalian berbuat syirik karena perbuatan tersebut akan menghapuskan semua amalan-amalan kalian yang telah kalian amalkan”…
    maka dari itu jauhilah bid’ah karena bid’ah akan menghantarkan kpd jaln kesyirikan dan kesyirikan akan menghantarkan jalan menuju Neraka…
    ya ikhwah sedikit amal dsertai ilmunya lebih baik dari pada banyak beramal tp tdk tau ilmunya…
    kalian tidak akan di azab oleh Alloh dgn sebab kalian mengamalkan bid’ah akan tetapi kalian akan di azab alloh dengan sebab kalian telah menyelisihi Rosul NYA…

    “berILMU sebelum berAMAL dan berKATA-KATA”

    Balas

    • Posted by ibu dyah on 16 April 2012 at 9:38 pm

      “Dan barang siapa mengadakan  sebuah bid’ah dhalaalah (sesat), yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.”

      (HR. Tirmidzi)

      Dalam hadits di atas disebutkan, “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalaalah (yang sesat).” Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Andaikata semua bid’ah sesat, tentu Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung bersabda:

      “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah.”

      Dan tidak akan menambahkan kata dhalaalah dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut kalimat “Bid’ah dhalaalah (yang sesat),” maka logikanya ada bid’ah yang tidak dhalaalah (yang tidak sesat).

      Maaf, terpaksa saya paste lg tulisan ustadz Jundu spy kaum Wahabi bisa lebih obyektif dalam memahami kata bid’ah

      Balas

    • Posted by netral tapi memihak on 11 September 2012 at 11:15 pm

      masya Allah..muhamad bin abdul wahab dan antek2 cs,, atas nama pemurnian ulama2 mu’tabar salaf seperti imam nawawi, imam ibnu hajar dll.. dkatakan sesat oleh si wahab n kroni2x..pdhal ilmu x sngat jauh dan tdk ad apa2x dbnding ulama2 yg d anggb x sesat tsb. Memang pengikut2 wahabi ini otakx sdh dplot/cuci otak oleh wahab cs dgn pemahaman2x yg sesat!! dberi pencerahan malah ngeyel..kacean deh lo..

      Balas

    • Opo neh ki,, wis, wis,, mbok nak golek guru kuwi sing nduwe sanad dus, dus,,, golek ulama’ ojo ulama wahabi, stocke terbatas dus,, tur intelektualnya rata-rata imitasi dus,, sadar yo dus,,,,

      Balas

  43. Posted by damil jarot on 11 Maret 2012 at 10:19 am

    argumen yang dibangun wahabiyyun itu-itu aja. membosankan dan sulit mematahkan pendangan ustadz JunduMuhammad. dikit-dikit bid’ah. emang Wahabiyyun ahli bid’ah

    Balas

  44. Posted by agung on 12 April 2012 at 7:56 pm

    Untuk pendukung Al-Bani. Apa syarat seorang dapat dikatakan muhadist?

    Balas

  45. dikit – dikit bid’ah , SEDIKIT – SEDIKIT BID’AH ……. APA’AN

    emangnya isi dunia ini hanya bid’ah , MIKIR – MIKIR WAHABI PANDIR BIN KEN -

    THIR !!!

    Balas

  46. tolong kepada orang2 yang berilmu, pertanyaan yang belum di jawab dijawab dulu…biar sitematis
    tentang sebagian nukilan hadist dibawah ini sesuai nahwu shorof mantiq dan balaghoh:
    كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار

    1. Dimana maudhu’ nya? Ada berapa?
    2. Dimana mahmulnya? Ada berapa?
    3. Dimana muqaddam? Ada berapa?
    4. Dimana taalinya? Ada berapa?
    5. Dimana muqaddimah shugronya? Ada berapa?
    6. Dimana muqaddimah kubronya ? Ada berapa?
    7. Tolong diqiyaskan dan dimana letak pembuangan had wasathnya sesuai syikil awal kah? Syikil tsani kah? Syikil tsalist kah? Atau syikil robi’ kah?
    8. Apakah boleh di aksul mustawikan disini sesuai kaif dan kam nya?
    9. Apakah shoh tanaqudh dibahasan ini sesuai keif dan kam nya?
    10. Saya juga minta ta’rif bid’ah sesuai had tam
    11. Sesuai had naqish
    12. Sesuai rasm tam
    13. Sesuai rasm naqish
    14. Sesuai alfazh
    15. Apakah natijahnya kulliyah mujabah?
    16. Ataukah juz-iyah mujabah?
    17. Tunjukkan dimana musnadnya?
    18. Dimana musnad ilaihnya?
    19. Adakah disini hazfu muhdhaf? Dimana?
    20. Tunjukkan dimana qosharnya?
    21. Dimana ijaz nya?
    22. Dimana ithnab nya?
    23. Adakah disini janas?
    24. kullu kepada muhdatsah itu idhofat apa?
    25. kullu kepada bid’ah itu idhofat apa?
    26. muhdatsah itu mashdar apa?
    27. bid’ah itu mashdar apa?
    28. dholalah itu mashdar apa?
    29. hurup jar pada finnar bima’na apa?
    30. fi itu muta’alliq nya kemana?

    Ingat! Yang bersabda tentang hadits “كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة” ini adalah Rasulullah yang dberikan mu’jizat Jawaami’ul Kalam, disini terdapat pembahasan ilmu nahwu, sharaf, mantiq dan balaghah yang tinggi, bukan sembarangan terjemah.

    tentu pertanyaan ini sangat di tujukan kepada para mereka yang dikatakan pengikut wahabi
    tolong segera di jawab…!!!!!

    Balas

  47. bawah – atas BID’AH , kanan – kiri BID’AH ———–memang BID’AHMU GUA PIKIRIN !!!
    pesan saya kamu WAHABI fokus saja kepada pengentasan kemiskinan , RANCU

    Balas

  48. Alhamdulillah, kesimpulannya: hujjah kawan2 yg dicap wahabi lebih kuat. Jika kalian berselisih, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah)…Gitu aja kok repot…

    Balas

  49. Posted by kangtsabit@yahoo.com on 26 Agustus 2012 at 7:56 pm

    gara gara wahaby ______ kedamaian terganggu ..ini sejak ada wahaby yang so cerewet ………. berlindung lah dari kedengkian wahaby ____!!

    Balas

  50. Posted by paklik on 5 September 2012 at 3:56 pm

    rame

    Balas

  51. Rame…!
    Aq skrg ada di arab…!setau aq dsni mayoritas wahabi,klu emg wahabi itu sesat mgnpa Imam2nya masjid harom ama masjid nabawi…mereka dari golongan wahabi,yg jadi makmum umat sedunia,mengapa bukan dari Ahlus sunnah wal jamaah

    yg bnar yg mn ya……!?

    Balas

  52. Posted by Aquarius on 2 Oktober 2012 at 2:21 pm

    AAaaPaaaaAAAAA……ternyata (Syaich Sulaiman ibn Abdul Wahhab rahimahullah)SAUDARA SEKANDUNG nya sendiri yg BILANG:

    - KALO Muhammad ibn Abdul Wahhab itu sesat dan menyesatkan…

    bukan hanya itu, BAHKAN (asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i rahimahullah)GURU nya sendiri yg BILANG:

    - KALO Muhammad ibn Abdul Wahhab itu sesat dan menyesatkan….

    murid macam aaaappa itu’,,sampai2 GURU nya bilang begitu….

    Balas

  53. Posted by Abdul Fulan on 28 Oktober 2012 at 10:11 pm

    sesat itu kalo tidak sesuai dengan al qur’an dan hadits… sebagaimana sabda nabi : lantadhillu matamasaktum bikitabillah wa sunnatin nabiyih… (maaf kalo salah, kurang ahli…)

    Balas

  54. Posted by wahid on 5 November 2012 at 2:16 am

    jundumuhammad babak belur ni ye

    Balas

  55. Ini perdebata yang natang, menurut saya, hanyatidakimbang karena pihai Wahabihanya mengandalkan fanatisme pada ulamanya. Bahkan ketika sumber utamanya befbeda dengan keyakinannya, ia tunggalkan. Ibnu Taymyah soal talqin ia tinggalkan dan ia pilih pendapat Bin Baz atau Usaimin. Analisa saya, mereka tak dilengkapi penuinujang imu seperti usul fiqih, mustalah hadis, balagha, dan lain sebagainya sehingga memahami agama dengan taklid buta kepada ulamanya saja. Allahummahdihim fainnahum jahiluna la ya’lamuna dinaham.

    Balas

  56. KO MALAH DEBAT ….AHLUSSUNAH DENGAN WAHABI LAGI..!G TAU YAH SIAPA AHLUSSUNA DAN SIAPA WAHABI?JANGAN2 YANG MENGAAKU AHLUSSUNAH DIA BUKAN AHLUSSUNAH…..makanya kalau belajar jangan tanggung2…alatuuul biar pemahamannya g salah kaprah,….OC….!

    Balas

  57. Posted by rusman on 29 Desember 2012 at 1:41 pm

    wahabi….adalah pintu masuk arang-orang barat/kuffar yang mengobok -obok islam dari dalam dengan mematri keislaman seseorang dri pendidikan islam yang bersumber dari barat.hebatnya lagi dia kelihatan anti terhadap barat terutama Amerika.Apa mungkin mreka tidak sadar kalau dia adalah peluruh barat.lihat saja mereka ”kebanyakan mereka belajar ke Amerika dan skutunya” baru setelahnya meraba-raba islam hingga ke Mekah dan Madinah.Akibatnya “mereka berfatwa” islam uda hancur karena tidak sesuai dg islam di amerika dll yang demokrasinya menguasai dunia. Saya hawatir baitullah nantinya juga dipinda ke A.S atau ke Bali.
    Cari lagi dalil yang banyak….tuh..! kalau tujuannya mau menghancurkan tatanan beragama,bermasyarakat,berbangsa dan bernegara hanya demi berwahabi toh akhirya kandas juga.semoga anda cepat dapat hidayah hingga anda sadar sesadar-sadarnya,moga bermanfaat .amiiiiin
    mu kenal..Rusman Di pasongsongan sumenep.( tapi endak perlu kau kenal aku, yang penting saya kenal ello gitu)

    Balas

  58. Posted by ikbal on 27 Januari 2013 at 1:53 pm

    uda mas-mas ga usa pada ribut, orang wahabi emang begitu, setiap ga ada contoh dari rosul di bilang bidah. lah sampeyan sendiri sudah melakukan bidah , wong zaman rosul belum ada internet. sekarang malah browsing, apa itu contoh rosul????
    kalau semua bidah, surga nya kosong mas,

    Balas

  59. mas-mas.. jus ‘amma aja belum hafal. masih juga bikin blog yang lucu-lucu.

    Balas

  60. saya org awam,,,
    tadz saya mw brtanya.n jgn balik tnya.
    1. apakah prbdaan hasil dri ijtihad dan hasil dari kebid’ahan?
    2. tolong berikan contoh kebid’ahan2 wahabi, kebid’ahan2 golongn ustdz sndiri,dn golongn2 yg ustadz sangka bid’ah…
    3. tolong berikan ilmu agama yg shohih kepada sya. tnpa ada hasil keruhya fikirn ustad.

    mudh2n ustdz pnjng umur, saya berlindung dri jahat’a pemikiran saya sndiri n dri pmhaman ustdz n manusia yg jahil. kebnran hnya milik allah. qta tdk mksum..

    Balas

  61. Yang di tanya malaikat tuh

    “Apa Agamamu? ” bukan ” Apa Aliranmu?”

    Nah simple aja …

    yang yakin pendapatnya benar, maka lanjutkan …

    sekarang ane mau tanya …

    Sholat ente udah bener belom ??
    Ibadah Ente udah pasti diterima gitu ??

    malah ngebahas nyang laen2 ….

    kalo RUKUN ISLAM kalian 5 …. Berarti sama2 aja ….
    berdamailah islam ,,,

    islam itu indah ..

    Balas

  62. Posted by sundanesse on 7 April 2013 at 10:05 pm

    Hmmmm….MATAK LIEUR kana HULU tungtungna mah….heu,heuuu……..
    saya mah takLid ke ULAMA2 JUMHUR aja de ah….

    (ane pengagum SYEIKH ABDUL QODIR JAILANI )

    Balas

  63. sama saya pengagum syaih abdul kodir jaelani dan para ulama mazhab dari pada ngaku ijtihad eee malah taklid al bani dan ibnu taimiyah yang disangsikan ilmunya

    Balas

  64. Ass, Wr, Wb.
    Saya pemirsa yang paling beruntung, sebab saya jadi tahu mana bid’ah dan yang bukan. Ini sangat bermanfa’at bagi saya.
    Cuma ingin saya katakan di sini,bahwa saya pernah mendengar :
    1. Akmalul mu’miniina iimaanan ahsanuhum khuluqon
    2. Man kana yu’minu billahi walyaumil akhiri falyaqul khoiron au liyashmut

    Jadi Jadikanlah rasululloh sebagai cermin dalam berbuat, jangan sampai identitas umat muhammad ternoda dengan kata-kata makian, terutama kepada safush-sholih, sebab kita ini tidak ada apa-apanya, sedangkan mereka sudah dikenal oleh halayak akan keilmuan dan kezuhudannya. Sementara kita masih terbungkus oleh riya’ dan takabbur. Na’udzubillahi min dzalik

    Balas

  65. memang dasar kepala batu ngaku ahlu sunnah tapi membenci sunnah dan orng islam yang menghidupkan sunnah mengaku ahlu tauhid tapi pergi kekuburan minta2 sama sama orangyang sudah mati dan bertawasul dengan perantara jin dengan mantra2 di kamuflase ayat2 alquran dan hadist2 dhoif

    Balas

  66. MEREKA YANG SUKA MEMBENCI SUNNAH DAN ORANG YANG MENGAMALKAN SUNNAH MENGAKU AHLU SUNNAH ASWAJA BAHKAN BUKAN CUMA MEMBENCI TAPI MENCELA DAN MEPEROLOK2 ,APA IMAM SYAFI I YANG KATANYA MAHZAB MEREKA MENGAJARI SEPERTI INI YA?….

    Balas

  67. APA SAMA ORANG YANG MENGIKUTI ULAMA DENGAN DALIL2 DARI AL QURAN DAN HADIST YANG SHOHEH DENGAN MENGIKUTI YANG( KATANYA ULAMA ) TANPA MENCOCOKAN PENDAPATULAMA ITU DENGAN DALIL2TERSEBUT .APA SAMA ITIBA/MENGIKUTI AL HAQ DENGAN TAQLID/MEMBEBEK KEPADA KYAI TANPA MAU MELIHAT DASARNYA? DENGAN ALASAN MENGORMATI ULAMA KYAI? MELEBIHI ALLAH SWT

    Balas

  68. kalo memang kamu benar berada di atas sunnah kenapa kamu tidak menghidupkan sunnah2 rasulullah yang sudah banya dilupakan orang dan mencintai orang yang menjalankanya?kamu pengen beribadah banyak2 tapi yang sedikit kelihatanya aja kamu nggak konsisten,coba kamu perhatikan sholat yang wajib 5 waktumu dimasjid2 yang di imami oleh kelompokmu ASWAJA sholatnya cepetnya persis kaya patuk ayam, tapi kalo kamu sholat ato ziarah di kuburan2 wali2 mu khusyu melebihi takut sama Allah swt,Astaqfirullahal adzim…

    Balas

  69. Posted by aqsha on 9 Mei 2013 at 7:49 am

    saya bersaksi bahwa tiada Rabb selain Allah
    dan nabi Muhammad saw utusan Allah
    sedih mellihat umat sepeninggalan Rasulullah dan sahabat>>>
    simpang siur…..

    Balas

  70. Posted by Pejuang Al-Asy'arie on 31 Mei 2013 at 5:40 pm

    Assalamu’alaikum Akhi Jundu Muhammad. Salam mesra dari saya. Teruslah berjuang akhi, sudah di ceritakan Baginda yang mulia Rasulullah bahwa fitnah dqn tanduk syaithon akan muncul dari al-Nadj.

    Balas

  71. Jawaban Susanto cukup ilmiyah. Ada referensinya juga. Tinggal JunduMuhammad menjawab dengan ilmiyah pula. Komen yang tidak suka dengan Susanto jangan asal komen. Tapi merefer lah ke jawaban Susanto. Sebab yang ditanyakan sudah dijelaskan sebelumnya. Aneh kalau anda komen dengan komen yang tidak ilmiyah.

    Contoh:
    1) …sejauh mana ilmu kalian? sebanyak apa guru kalian?berapa kitab yang kalian hafal diluar kepala kalian?apa pantas kalian menyebut nama ulama2 terkemuka dengan mulut kotor kalian…mereka lebih mulia disisi ALLAH SWT daripada kalian…sadar dunk…

    2) wahaby sadarlah berapa banyak lagi anda akan mencela para ulama,,

    Dimana itu? Tolong tunjukkan. Susanto tidak mencela, karena beliau hanya mengutip pernyataan ulama lainnya dengan referensi tempat pengambilannya. Ini sudah amanat ilmiyah.

    Susanto juga sudah memberikan statement:

    PERHATIAN:
    Pada tulisan saya ini, saya tidak menjelek-jelekkan Imam Syafi’i. Beliau adalah salah seorang imam Ahlus Sunnah seperti para imam Ahlus Sunnah yang lain. Justru sebaliknya, saya berprasangka baik kepada beliau dengan menganggap bahwa yang beliau maksud bid’ah terpuji adalah bid’ah dalam arti bahasa bukan dalam arti syariat melihat dari perkataan beliau yang lain, dan juga penjelasan Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tentang perkataan Imam Syafi’i tersebut. Buktinya beliau membenci perbuatan bid’ah hasanah seperti yang dipraktekkan orang-orang yang mengaku bermazhab Syafi’i. Dengan ini berarti Imam Syafi’i tidak menyalahi hadits Nabi yang menyatakan bahwa semua bid’ah itu sesat dan beliau telah berlepas diri dari orang-orang yang mengaku mengikuti beliau.

    Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan permisi mohon undur diri.

    Jadi sepertinya yang komen menjadi tidak ilmiyah karena anda hanya komen atas dasar ta’ashub. Maaf jika tidak berkenan, saya hanya mengajak untuk berpikir lebih terbuka dan meninggalkan dulu fanatisme dengan niat mengkaji statement masing-masing dari sisi ilmiyah.

    Balas

  72. Posted by hasanudin on 26 Juni 2013 at 6:19 pm

    intinya….. SELAMA ENTE MASIH SHALAT 5 WAKTU, BERPUASA DI bULAN rAMADHAN, MENGAMALKAN RUKUN ISLAM YANG 5, MENYAKINI RUKUN IMAN YANG 6… MAKA SAUDARALAH KITA… DAN JANGAN BIKIN KEGADUHAN… Kalopun ada yang berbeda biarkan perbedaan itu,, karena dosa ditanggung sendiri… dan jangan selalu memberikan MINYAK ke api .
    Got it?
    Ara seo??
    ngarti??
    mengerti???

    Balas

  73. Posted by yuda on 19 Juli 2013 at 12:02 pm

    subhanallah….luar biasa!
    AKU BANGGA JADI ASWAJA…

    Balas

  74. Posted by Sayyid AlMakky on 10 Agustus 2013 at 12:00 pm

    Saya selalu mengikuti postingan Ustadz di atas. Saya juga penikmat Buku2 dari Kyai M.Idrus Ramli. Bisa ga ya di bahas masalah Dalil atau fatwa para ulama kita ( Aswaja Asy’arie ) tentang masalah memperindah kuburan. Karena para Salaffiqir-Wahabberz selalu menyudutkan kami, karena kami selalu merawat makam leluhur kami Yaitu Kyai Guru Modjo dan Syaikhuna KH. Achmad Rifai’ie Asy-Asyafi’ie Al-Kendali… Mohon bantuannya…

    Balas

  75. Posted by mukhlas on 13 Oktober 2013 at 6:55 pm

    Dalam bahasan bidah itu berlaku untuk rukun islam atau ibadah mahdah sedang ibadah amaliah tidak ada larangan. oleh karena itu berdzikir setelah sholat secara berjemaah bukanlah lah bidah. Jangankan berdzikir anda main sepak bola kaya ivan dimas pun tak ada larangan .. gitu aja kok repot…

    Balas

    • Assalamu alaikum wr wb.

      Masya Allah… Seru jg komen2nya. Saya juga seorang yang fanatik terhadap guru saya yang saya anggap sebagai rujukan karena sebuah hadist bahwa penerus nabi adalah ulama, maka saya pegang teguh pendapat itu. Mau benar ataupun salah, saya berserah diri kepada Allah atas maghfirahNya. Perbedaan pendapat atas masalah ini telah saya dengar sebelumnya. Terlepas benar atau salah, wa Allahu a’lam bishawab. Dan aku berlindung dari segala kesalahan kpd Allah. Setidaknya amalan2 yang telah ada memudahkan muslimin/at mendapat kemanfaatan. Namun amat disayangkan dengan bantahan para wahabiyun yg ga mau jg disebut wahabi sambil bawa salafinya ditambah ngaku bagian dari shalafus shaleh. Bikin semua jd kaku nerima hukum islam, hukum jadi miris liat umat islam yang sana sini dianggap kufur dan dianggap musyrik. Seneng banget ngecap seseorang buruk, hingga terpecah belah umat karena kesinggungan dengan caranya. Sampai saya bertemu dengan orang2 salafi melihat saya seperti barang najis karena tidak sehaluan dengan mereka. Terlihat bengis dibandingkan dengan wajah penuh rahmah. Lihat ulamanya salafi kayak liat jawara didaerah saya. Bawaannya bukan adem liatnya, malah pengen nempeleng aja. Klo ga sependapat, dibilangnya kamu sesat dan menyesatkan. Enteng banget klo ngomong sesat itu. Ga jaga hati orang klo ngomong. Terlihat egoisnya dibandingkan sebagai pendengar yang baik karena terjaga hatinya. Lisannya tajam bagai silet yanh disiapkan untuk muslim lainnya yang bersebrangan dengan pendapatnya. Islam ditangan mereka terlihat menakutkan dimata umat muslim yang awam maupun selain umat selain muslim. Tidak menunjukan islam yang rahmatan lil ‘aalamiin..
      Untuk admin, saya suka artikel ustadz. .Semoga saya kita semua selalu dalam rahmat Allah, dan dengan rahmatNya pula kita menjadi rahmat bagi orang2 sekitar kita. Dan semoga doa saya ini ga dianggap bid’ah jg… Sekedar berbagi doa sesama muslim.

      Balas

  76. Berpegang teguhlah pada Qur’an dan sunnah. jika perkara itu baik, tentu Allah sudah mengatur di dalam kitabnya. Jika perkara itu baik, tentu Rasulullah sudah mencontohkannya. Jika perkara itu baik, tentu sahabat, tabi’in dan tabi’at sudah melakukannya. Mereka adalah generasi terbaik islam. Baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah dan Rasulnya.

    Balas

  77. Posted by yahya on 23 Januari 2014 at 12:52 pm

    To wahabis, kenapa dzikir anda anggap sebagai ibadah mahdah (baku)?
    wajar saja kalau semuanya tampak bid’ah dimata anda.

    Balas

  78. Posted by andi hamdika on 23 Februari 2014 at 2:28 pm

    alhamdulillah banyak ilmu saya dapat baik dari aswaja maupun salafy….dan saya yg awam bisa baca dan membedakan mana yang hanya ikut pendapat / ijtihaj ulamanya atau mengikuti hadist soheh Rosulullah dan sahabat-sahabatnya….dan saya lebih amannya memilih ulama yg berpendapat diatas hadist Rosululloh dan sunnahnya para sahabat…makasih tuan Jundullah dan para ustad salafy yg telah membuka cakrawala berpikir saya…

    Balas

  79. perbedaan itu indah kalau masing masing saling menjalankan apa yang diyakininya tanpa menyinggung dan menyenggol yang tidak sejalan dengannya, karena kebenaran itu mutlak ada pada Allah, Islam itu luaaasssss…………… jangan kita memagarinya dengan pengetahuan kita yang sedikit, wahyu Allah itu tidak cuma Al Qur’an dan Hadits, alam semesta ini dan yang ada di dalamnya adalah wahyu Allah yang masih sedikit sekali tersentuh ilmunya manusia. berbuat benar dan untuk kebenaran itu adalah mulia dan baik sekali, namun kalau sudah merasa diri kita benar itu adalah suatu hal yang naif, karena hanya Allahlah yang lebih tau kebenaran kita dan juga kebenaran orang lain apalagi kalau pengetahuan kita sedikit sekali akan hal itu, mari kita jalankan dengan sebaik baiknya apa yang menurut kita sesuai dengan keyakinan kita tanpa harus saling klaim kebenarannya. Rasulullah SAW. membawa islam dengan penuh kesejukan dan kedamaian dan kita semua yang mengaku ummat Nabi tetap di akui sebagai ummat Nabi tanpa dilihat golongan dan alirannya apa, Allahlah tempat penghakiman benar dan salah bukan pada kita makhluk yang dlaif dan lemah ini, kita semua berdoa semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT. aamiin…………….

    Balas

  80. Posted by ali on 30 Mei 2014 at 11:17 am

    Mantap ustadz Jundu, urun rembug. menurut aku hiruk pikuk dunia nyata dan maya tentang bid’ah itu karena ada pihak yang selalu menuduh pihak lain adalah tukang ahli bid’ah dan akan masuk neraka karena mengamalkan apa yang tidak diamalkan kanjeng nabi, nuduhnya pake radio, ceramah, tulisan dan buku2 hasil tulisan satu pihak. Nah orang2 awam yang mendengar itu jadi kuatir amalan mereka salah akhirnya mereka mengadu ke ulama mereka, akhirnya yang terjadi di satu pihak menuduh ahli bid’ah, ahli syirik dll di satu pihak bertahan bahwa amalan mereka ada dalilnya. ANDAIKATA pihak yang satu jika tidak setuju suatu amalan lalu berdakwah dengan lemah lembut dan mengajak dialog ulama dipihak lain , saya pikir akibatnya tidak sedahsyat sekarang ini. Seperti para imam madzab mereka berbeda pemahaman meskipun murid dan guru, tapi mereka tidak menjatuhkan satu sama lain, dan mereka berkomentar “Saya lebih suka tidak mengamalkan ini atau pendapat ini lebih aku sukai” karena ingat dalil “Janganlah kamu mengolok-olok suatu kaum, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok”
    Santun menyejukan …………… heee.heee

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: