Bid’ah Hasanah dan Dalilnya


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Tulisan pada gambar ini adalah pemahaman bid'ah menurut Wahhabi, benarkah pemahaman mereka?

Tulisan pada gambar ini adalah pemahaman bid'ah menurut Wahhabi, benarkah pemahaman mereka?

Bid’ah hasanah adalah persoalan yang tidak pernah selesai dibicarakan. Hal ini di samping karena banyak inovasi amaliah kaum Muslimin yang tercover dalam bingkai bid’ah hasanah, juga karena adanya kelompok minoritas umat Islam yang sangat kencang menyuarakan tidak adanya bid’ah hasanah dalam Islam. Akhirnya kontroversi bid’ah hasanah ini selalu menjadi aktual untuk dikaji dan dibicarakan. Toh walaupun sebenarnya khilafiyah tentang pembagian bid’ah menjadi dua, antara bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, tidak perlu terjadi. Karena di samping dalil-dalil Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan adanya bid’ah hasanah cukup banyak dan sangat kuat, juga karena konsep bid’ah hasanah telah diakui sejak generasi sahabat pada masa Khulafaur Rasyidin. Namun apa boleh dikata, kelompok yang anti bid’ah hasanah tidak pernah bosan dan lelah untuk membicarakannya. 

Dalam sebuah diskusi dengan tema Membedah Kontroversi Bid’ah, yang diadakan oleh MPW Fahmi Tamami Provinsi Bali, di Denpasar, pada bulan Juli 2010, saya terlibat dialog cukup tajam dengan beberapa tokoh Salafi yang hadir dalam acara tersebut. Dalam acara itu, saya menjelaskan, bahwa pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, merupakan keharusan dan keniscayaan dari pengamalan sekian banyak hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang shahih dan terdapat dalam kitab-kitab hadits yang otoritatif (mu’tabar). Karena meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ:  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَالْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةُ

(رواه مسلم)

“Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara, adalah perkara yang baru. Dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR. Muslim [867]).

Ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رضي الله عنه  قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

رواه مسلم

“Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

Dalam hadits pertama, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan, bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Tetapi dalam hadits kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan pula, bahwa barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya. Dengan demikian, hadits kedua jelas membatasi jangkauan makna hadits pertama “kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)” sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Nawawi dan lain-lain. Karena dalam hadits kedua, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan dengan redaksi, “Barangsiapa yang memulai perbuatan yang baik”, maksudnya baik perbuatan yang dimulai tersebut pernah dicontohkan dan pernah ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau belum pernah dicontohkan dan belum pernah ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Di sisi lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seringkali melegitimasi beragam bentuk inovasi amaliah para sahabat yang belum pernah diajarkan oleh beliau. Misalnya berkaitan dengan tatacara ma’mum masbuq dalam shalat berjamaah dalam hadits shahih berikut ini:

عَنْ عَبْدِالرَّحْمنِ بْنِ أَبِيْ لَيْلَى قَالَ: (كَانَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ وَقَدْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ الصَّلاَةِ أَشَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ فَصَلَّى مَا فَاتَهُ ثُمَّ دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ ثُمَّ جَاءَ يَوْمًا مُعَاذٌ بْنُ جَبَلٍ فَأَشَارُوْا إِلَيْهِ فَدَخَلَ وَلَمْ يَنْتَظِرْ مَا قَالُوْا فَلَمَّا صَلَّى النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم ذَكَرُوْا لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم «سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ».وَفِيْ رِوَايَةِ سَيِّدِنَا مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ: (إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوْا). رواه أبو داود وأحمد ، وابن أبي شيبة، وغيرهم، وقد صححه الحافظ ابن دقيق العيد والحافظ ابن حزم

“Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menegur Mu’adz dan tidak pula berkata, “Mengapa kamu membuat cara baru dalam shalat sebelum bertanya kepadaku?”, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mu’adz sesuai dengan aturan shalat berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam. Dalam hadits lain diriwayatkan:

وَعَنْ سَيِّدِنَا رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ  رضي الله عنه قَالَ : كُنَّا نُصَلِّيْ وَرَاءَ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ (مَنِ الْمُتَكَلِّمُ؟) قَالَ : أَنَا قاَلَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا»

رواه البخاري

“Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

Kedua sahabat di atas mengerjakan perkara baru yang belum pernah diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenarkan perbuatan mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan, karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat memuji kepada Allah. Oleh karena itu al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam Fath al-Bari (2/267), bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membuat dzikir baru dalam shalat, selama dzikir tersebut tidak menyalahi dzikir yang ma’tsur (datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam), dan bolehnya mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain. Seandainya hadits “kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)”, bersifat umum tanpa pembatasan, tentu saja Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan melarang setiap bentuk inovasi dalam agama ketika beliau masih hidup.

Selanjutnya pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, juga dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, termasuk Khulafaur Rasyidin. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  رضي الله عنه  لَيْلَةً فِيْ رَمَضَانَ إلى الْمَسْجِدِ فَإِذًا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ t: إِنِّيْ أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِيْ نَامُوْا عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ

رواه البخاري

“Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu. Kemudian Umar radhiyallahu anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

وَعَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ  رضي الله عنه  قَالَ: كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلهُ إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم  وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ  رضي الله عنه  وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلىَ الزَّوْرَاءِ وَهِيَ دَارٌ فِيْ سُوْقِ الْمَدِيْنَةِ

رواه البخاري

“Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]).

Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat, sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’, tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah, tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya.

Selanjutnya, beragam inovasi dalam amaliah keagamaan juga dipraktekkan oleh para sahabat secara individu. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan, beberapa sahabat seperti Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, al-Hasan bin Ali dan lain-lain menyusun doa talbiyah-nya ketika menunaikan ibadah haji berbeda dengan redaksi talbiyah yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Para ulama ahli hadits seperti al-Hafizh al-Haitsami meriwayatkan dalam Majma’ al-Zawaid, bahwa Anas bin Malik dan al-Hasan al-Bashri melakukan shalat Qabliyah dan Ba’diyah shalat idul fitri dan idul adhha.

Berangkat dari sekian banyak hadits-hadits shahih di atas, serta perilaku para sahabat, para ulama akhirnya berkesimpulan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i berkata:

اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩

“Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

Pernyataan al-Imam al-Syafi’i ini juga disetujui oleh Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (juz. 20, hal. 163).”

Setelah saya memaparkan penjelasan di atas, Ustadz Husni Abadi, pembicara yang mewakili kaum Salafi pada waktu itu, tidak mampu membantah dalil-dalil yang saya ajukan. Anehnya ia justru mengajukan dalil-dalil lain yang menurut asumsinya menunjukkan tidak adanya bid’ah hasanah. Seharusnya dalam sebuah perdebatan, pihak penentang (mu’taridh) melakukan bantahan terhadap dalil-dalil yang diajukan oleh pihak lawan, sebagaimana diterangkan dalam ilmu Ushul Fiqih. Apabila pihak penentang tidak mampu mematahkan dalil-dalil pihak lawan, maka argumentasi pihak tersebut harus diakui benar dan shahih.

Ustadz Husni Abadi berkata: “Ustadz, dalam soal ibadah kita tidak boleh membuat-buat sendiri. Kita terikat dengan kaedah al-ashlu fil-ibadah al-buthlan hatta yadulla al-dalil ‘ala al-’amal, (hukum asal dalam sebuah ibadah adalah batal, sebelum ada dalil yang menunjukkan kebenaran mengamalkannya)”.

Mendengar pernyataan Ustadz Husni, saya menjawab: “Kaedah yang Anda sebutkan tidak dikenal dalam ilmu fiqih. Dan seandainya kaedah yang Anda sebutkan ada dalam ilmu fiqih, maka kaedah tersebut tidak menolak adanya bid’ah hasanah. Karena Anda tadi mengatakan, bahwa dalam soal ibadah tidak boleh membuat-buat sendiri. Maksud Anda tidak boleh membuat bid’ah hasanah. Lalu Anda berargumen dengan kaedah, hukum asal dalam sebuah ibadah adalah batal, sebelum ada dalil yang menunjukkan kebenaran mengamalkannya. Tadi sudah kami buktikan, bahwa bid’ah hasanah banyak sekali dalilnya. Berarti, kaedah Anda membenarkan mengamalkan bid’ah hasanah, karena dalilnya jelas.”

HA berkata: “Ustadz, dalam surat al-Maidah, ayat 3 disebutkan:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ

“Pada hari ini aku sempurnakan bagimu agamamu dan aku sempurnakan bagimu nikmat-Ku.” (QS. al-Maidah : 3)”

Ayat di atas menegaskan bahwa Islam telah sempurna. Dengan demikian, orang yang melakukan bid’ah hasanah berarti berasumsi bahwa Islam belum sempurna, sehingga masih perlu disempurnakan dengan bid’ah hasanah.”

Saya menjawab: “Ayat 3 dalam surat al-Maidah yang Anda sebutkan tidak berkaitan dengan bid’ah hasanah. Karena yang dimaksud dengan penyempurnaan agama dalam ayat tersebut, seperti dikatakan oleh para ulama tafsir, adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan kaedah-kaedah agama. Seandainya yang dimaksud dengan ayat tersebut, tidak boleh melakukan bid’ah hasanah, tentu saja para sahabat sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak akan melakukan bid’ah hasanah. Sayidina Abu Bakar menghimpun al-Qur’an, Sayyidina Umar menginstruksikan shalat tarawih secara berjamaah, dan Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, serta beragam bid’ah hasanah lainnya yang diterangkan dalam kitab-kitab hadits. Dalam hal ini tak seorang pun dari kalangan sahabat yang menolak hal-hal baru tersebut dengan alasan ayat 3 surat al-Maidah tadi. Jadi, ayat yang Anda sebutkan tidak ada kaitannya dengan bid’ah hasanah. Justru bid’ah hasanah masuk dalam kesempurnaan agama, karena dalil-dalilnya terdapat dalam sekian banyak hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan perilaku para sahabat.”

HA berkata: “Ustadz, hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali, tidak tepat dijadikan dalil bid’ah hasanah. Karena hadits tersebut jelas membicarakan sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Bukankah redaksinya berbunyi, man sanna fil Islaam sunnatan hasanatan. Di samping itu, hadits tersebut mempunyai latar belakang, yaitu anjuran sedekah. Dan sudah maklum bahwa sedekah memang ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan Sunnah. Jadi hadits yang Ustadz jadikan dalil bid’ah hasanah tidak proporsional.”

Saya menjawab: “Untuk memahami hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut kita harus berpikir jernih dan teliti. Pertama, kita harus tahu bahwa yang dimaksud dengan sunnah dalam teks hadits tersebut adalah sunnah secara lughawi (bahasa). Secara bahasa, sunnah diartikan dengan al-thariqah mardhiyyatan kanat au ghaira mardhiyyah (perilaku dan perbuatan, baik perbuatan yang diridhai atau pun tidak). Sunnah dalam teks hadits tersebut tidak bisa dimaksudkan dengan Sunnah dalam istilah ilmu hadits, yaitu ma ja’a ‘aninnabiy shallallahu alaihi wa sallam min qaulin au fi’lin au taqrir (segala sesuatu yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan maupun pengakuan). Sunnah dengan definisi terminologis ahli hadits seperti ini, berkembang setelah abad kedua Hijriah. Seandainya, Sunnah dalam teks hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut dimaksudkan dengan Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits, maka pengertian hadits tersebut akan menjadi kabur dan rancu. Coba kita amati, dalam teks hadits tersebut ada dua kalimat yang belawanan, pertama kalimat man sanna sunnatan hasanatan. Dan kedua, kalimat berikutnya yang berbunyi man sanna sunnatan sayyi’atan. Nah, kalau kosa kata Sunnah dalam teks hadits tersebut kita maksudkan pada Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits tadi, maka akan melahirkan sebuah pengertian bahwa Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam itu ada yang hasanah (baik) dan ada yang sayyi’ah (jelek). Tentu saja ini pengertian sangat keliru. Oleh karena itu, para ulama seperti al-Imam al-Nawawi menegaskan, bahwa hadits man sanna fil islam sunnatan hasanatan, membatasi jangkauan makna hadits kullu bid’atin dhalalah, karena makna haditsnya sangat jelas, tidak perlu disangsikan.

Selanjutnya, alasan Anda bahwa konteks yang menjadi latar belakang (asbab al-wurud) hadits tersebut berkaitan dengan anjuran sedekah, maka alasan ini sangat lemah sekali. Bukankah dalam ilmu Ushul Fiqih telah kita kenal kaedah, al-’ibrah bi ’umum al-lafzhi la bi-khusush al-sabab, (peninjauan dalam makna suatu teks itu tergantung pada keumuman kalimat, bukan melihat pada konteksnya yang khusus).”

HA berkata: “Ustadz, menurut al-Imam Ibn Rajab, bid’ah hasanah itu tidak ada. Yang namanya bid’ah itu pasti sesat.”

Saya menjawab: “Maaf, Anda salah dalam mengutip pendapat al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali. Justru al-Imam Ibn Rajab itu mengakui bid’ah hasanah. Hanya saja beliau tidak mau menamakan bid’ah hasanah dengan bid’ah, tetapi beliau namakan Sunnah. Jadi hanya perbedaan istilah saja. Sebagai bukti, bahwa Ibn Rajab menerima bid’ah hasanah, dalam kitabnya, Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam fi Syarth Khamsin Haditsan min Jamawi’ al-Kalim, beliau mengutip pernyataan al-Imam al-Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua. Dan seandainya al-Imam Ibn Rajab memang berpendapat seperti yang Anda katakan, kita tidak akan mengikuti beliau, tetapi kami akan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mengakui adanya bid’ah hasanah.”

HA berkata: “Ustadz, dalil-dalil yang Anda ajukan dari Khulafaur Rasyidin, seperti dari Khalifah Umar, Utsman dan Ali, itu tidak bisa dijadikan dalil bid’ah hasanah. Karena mereka termasuk Khulafaur Rasyidin. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan kita mengikuti Khulafaur Rasyidin, dalam hadits ‘alaikum bisunnati wa sunnatil khulafair rasyidin al-mahdiyyin (ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh petunjuk). Dengan demikian, apa yang mereka lakukan sebenarnya termasuk Sunnah berdasarkan hadits ini.”

Saya menjawab: “Ustadz Husni yang saya hormati, menurut hemat kami sebenarnya yang tidak mengikuti Khulafaur Rasyidin itu orang yang menolak bid’ah hasanah seperti Anda. Karena Khulafaur Rasyidin sendiri melakukan bid’ah hasanah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita mengikuti Khulafaur Rasyidin. Sementara Khulafaur Rasyidin melakukan bid’ah hasanah. Berarti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita melakukan bid’ah hasanah. Dengan demikian kami yang berpendapat dengan adanya bid’ah hasanah itu sebenarnya mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin. Oleh karena itu, mari kita ikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin dengan melakukan bid’ah hasanah sebanyak-banyaknya.”

HA berkata: “Ustadz Idrus, kalau Anda mengatakan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah maknanya terbatas dengan artian bahwa sebagian bid’ah itu sesat, bukan semua bid’ah, lalu apakah Anda akan mengartikan teks berikutnya, yang berbunyi wa kullu dhalalatin finnar, dengan pengertian yang sama, bahwa sebagian kesesatan itu masuk neraka, bukan semuanya. Apakah Ustadz berani mengartikan demikian?”

Saya menjawab: “Ustadz Husni yang saya hormati, dalam mengartikan atau membatasi jangkauan makna suatu ayat atau hadits, kita tidak boleh mengikuti hawa nafsu. Akan tetapi kita harus mengikuti al-Qur’an dan Sunnah pula. Para ulama mengartikan teks hadits kullu bid’atin dhalalah dengan arti sebagian besar bid’ah itu sesat, karena ada sekian banyak hadits yang menuntut demikian. Sedangkan berkaitan teks berikutnya, wa kullu dhalalatin finnar (setiap kesesatan itu di neraka), di sini kami tegaskan, bahwa selama kami tidak menemukan dalil-dalil yang membatasi jangkauan maknanya, maka kami akan tetap berpegang pada keumumannya. Jadi makna seluruh atau sebagian dalam sebuah teks itu tergantung dalil. Yang namanya dalil, ya al-Qur’an dan Sunnah. Jadi membatasi jangkauan makna dalil, dengan dalil pula, bukan dengan hawa nafsu.” Demikianlah dialog saya dengan Ustadz Husni Abadi, di Denpasar pada akhir Juli 2010 yang lalu.

Di Islamic Center Jakarta Utara

Ada kisah menarik berkaitan dengan bid’ah hasanah yang perlu diceritakan di sini. Kisah ini pengalaman pribadi Ali Rahmat, laki-laki gemuk yang sekarang tinggal di Jakarta Pusat. Beliau pernah kuliah di Syria setelah tamat dari Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember. Ali Rahmat bercerita, “Pada pertengahan 2009, kaum Wahhabi mengadakan pengajian di Islamic Center Jakarta Utara. Tampil sebagai pembicara, Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat, dua tokoh Wahhabi di Indonesia.

Pada waktu itu, saya sengaja hadir bersama beberapa teman alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, antara lain Ustadz Abdussalam, Ustadz Abdul Hamid Umar dan Ustadz Mishbahul Munir. Ternyata, sejak awal acara, dua tokoh Wahhabi itu sangat agresif menyampaikan ajarannya tentang bid’ah. Setelah saya amati, Ustadz Yazid Jawas banyak berbicara tentang bid’ah. Menurut Yazid Jawas, bid’ah hasanah itu tidak ada. Semua bid’ah pasti sesat dan masuk neraka. Menurut Yazid Jawas, apapun yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus ditinggalkan, karena termasuk bid’ah dan akan masuk neraka.

Di tengah-tengah presentasi tersebut saya bertanya kepada Yazid Jawas. “Anda sangat ekstrem dalam membicarakan bid’ah. Menurut Anda, apa saja yang belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu pasti bid’ah dan akan masuk neraka. Sekarang saya bertanya, Sayidina Umar bin al-Khaththab memulai tradisi shalat tarawih 20 raka’at dengan berjamaah, Sayidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, sahabat-sahabat yang lain juga banyak yang membuat susunan-susunan dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sekarang saya bertanya, beranikah Anda mengatakan bahwa Sayidina Umar, Sayidina Utsman dan sahabat lainnya termasuk ahli bid’ah dan akan masuk neraka?” Mendengar pertanyaan saya, Yazid Jawas hanya terdiam seribu bahasa, tidak bisa memberikan jawaban.

Setelah acara dialog selesai, saya menghampiri Yazid Jawas, dan saya katakan kepadanya, “Bagaimana kalau Anda kami ajak dialog dan debat secara terbuka dengan ulama kami. Apakah Anda siap?” “Saya tidak siap.” Demikian jawab Yazid Jawas seperti diceritakan oleh Ali Rahmat kepada saya.

Kisah serupa terjadi juga di Jember pada akhir Desember 2009. Dalam daurah tentang Syi’ah yang diadakan oleh Perhimpunan Al-Irsyad di Jember, ada beberapa mahasiswa STAIN Jember yang mengikutinya. Ternyata dalam daurah tersebut, tidak hanya membicarakan Syi’ah. Tetapi juga membicarakan tentang bid’ah dan ujung-ujungnya membid’ah-bid’ahkan amaliah kaum Muslimin di Tanah Air yang telah mengakar sejak beberapa abad yang silam.

Di antara pematerinya ada yang bernama Abu Hamzah Agus Hasan Bashori, tokoh Salafi dari Malang. Dalam kesempatan tersebut, Agus menyampaikan bahwa bid’ah itu sesat semua. Yang namanya bid’ah hasanah itu tidak ada. Apa saja yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus kita tinggalkan, karena itu termasuk bid’ah dan akan masuk neraka. Demikian konsep yang dipaparkan oleh Agus.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang mahasiswa dari Jember tadi ada yang bertanya: “Kalau konsep bid’ah seperti yang Anda paparkan barusan, bahwa semua bid’ah itu sesat, tidak ada bid’ah hasanah, dan bahwa apa saja yang tidak ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam harus kami tinggalkan, karena termasuk bid’ah. Sekarang bagaimana Anda menanggapi doa-doa yang disusun oleh para sahabat yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Bagaimana dengan doa al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujud ketika shalat selama 40 tahun yang berbunyi:

قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ

الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ۲/۲٥٤

“Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).

Doa seperti itu sudah pasti tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in. Tetapi al-Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya selama empat puluh tahun.

Demikian pula Syaikh Ibn Taimiyah, setiap habis shalat shubuh, melakukan dzikir bersama, lalu membaca surat al-Fatihah berulang-ulang hingga Matahari naik ke atas, sambil mengangkat kepalanya menghadap langit. Nah, sekarang saya bertanya, menurut Anda, apakah para sahabat, al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Syaikh Ibn Taimiyah termasuk ahli bid’ah, berdasarkan konsep bid’ah yang Anda paparkan tadi? Karena jelas sekali, mereka melakukan sesuatu yang belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Mendengar pertanyaan tersebut Agus ternyata tidak mampu menjawab dan malah bercerita tentang bid’ah hasanah Ibn Taimiyyah secara pribadi. Kisah ini diceritakan oleh beberapa teman saya, antara lain IS dan AD yang mengikuti acara daurah tersebut.

Demikianlah, konsep anti bid’ah hasanah ala Wahhabi sangat lemah dan rapuh. Tidak mampu dipertahankan di arena diskusi ilmiah. Konsep anti bid’ah hasanah ala Wahhabi akan menemukan jalan buntu ketika dihadapkan dengan fakta bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melegitimasi amaliah-amaliah baru yang dilakukan oleh para sahabat. Konsep tersebut akan runtuh pula ketika dibenturkan dengan fakta bahwa para sahabat sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam banyak melakukan inovasi kebaikan dalam agama sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits yang otoritatif (mu’tabar).

Dari “Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi” karya Ust. Muhammad Idrus Ramli, alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1424/2004.

Semoga bermanfaat.

77 tanggapan untuk posting ini.

  1. Posted by anjahu royyan on 17 Maret 2011 at 10:04 pm

    mas yai njenengan jangan ngawur ya sdh jelas dalil di masing-masing fermasalahan. samfean jangan mencamfur adukkan dalil. dalil sholat ya untuk sholat. kalau dalil bid ah ya sdh jelas bid ah nya. sesat ya sesat jangan di flintir-flintir lagi.

    Balas

    • Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      Insya’ Alloh saya tidak ngawur, saya hanya mengikuti ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jama’ah yang mu’tabaar di dalam memahami permasalahan bid’ah. Insya’ Alloh apa yang sudah dijelaskan oleh para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah mengenai bab bid’ah sudah tepat seperti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullaah Shollallaah ‘alaih wa sallam mengenai sabda beliau tentang hal bid’ah.

      Para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah di dalam menjelaskan bid’ah sudah berdasarkan dalil-dalil yang qoth’i. Lihat saja bagaimana al-Imaam Asy-syafi’i rahimahullaah menjelaskan persoalan bid’ah, tidaklah mungkin beliau al-Imaam Asy-syafi’i rahimahullah di dalam menjabarkan persoalan bid’ah mengikuti hawa nafsu, wal ‘iyaadzu billaah. Melihat keluasan samudera ilmu diinul-Islaam beliau, pastilah di dalam menjabarkan bab bid’ah sudah berlandaskan dalil-dalil qoth’i yang shohih dan shorih. Maka berdasarkan dalil-dalil qoth’i tersebut, beliau rahimahullah men-taqsim (membagi) bahwa bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullaah Shollallaah ‘alaih wa sallam terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.

      Hanya orang-orang yang tertutup hatinya saja yang tidak mampu menerima penjelasan para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah tentang hal bid’ah ini.

      Baiklah kalau antum tidak mau menerima pembagian bid’ah menjadi dua macam, dan menurut antum bahwa hadits kullu bid’atin dholaalatun wa kulla dholaalatin finnaar hanya diartikan apa adanya, tidak memerlukan penjelasan apapun ataupun tidak perlu dibagi menjadi 2 macam atau lebih.

      Untuk mengetahui arti bid’ah secara lughawi/bahasa, coba antum buka kamus bahasa Arab Al Munjid, disitu tercantum:

      اَلْبِدْعَةُ ج بِدَع: مَا اُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ

      Bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

      Dan baca pula hadits Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam yang menjadi pegangan golongan antum di dalam bab bid’ah berikut ini:

      اِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

      “Berhati-hatilah kalian terhadap muhdatsaat (hal-hal baru), karena sesungguhnya semua muhdats (yang baru) itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”

      (HR.  Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah)

      Menurut golongan antum bahwa semua bid’ah itu sesat. Tidak perlu adanya pentakhsisan/taqsim/pembagian. Maka, jika saya mengikuti pendapat golongan antum, saya dapat berkata demikian:

      1. Antum sendiri adalah bid’ah, karena di jaman Nabi tidak ada antum.
      2. Antum pasti sering menggunakan barang-barang yang di zaman Rasul belum ada, misal: Mobil, Sepeda Motor, Komputer, Handphone. Itu semua adalah bid’ah.

      3. Antum pasti sering ikut kajian-kajian/daurah ilmiyyah yang diadakan oleh golongan salafy bukan? perlu diketahui daurah ilmiyyah yang dilaksanakan golongan antum itu juga bid’ah, karena Rasul tidak pernah memerintahkan adanya daurah ilmiyyah.

      4. O ya, golongan antum juga memiliki ma’had-ma’had. Perlu diketahui pula, ma’had itu juga bid’ah, karena di zaman Rasul tidak ada ma’had. Kalaupun mendirikan ma’had adalah kebaikan tentu Rasul dan Shahabat akan mendirikan ma’had.

      5. Satu lagi contoh, Al Quran yang antum baca tiap hari, itu khan ada tanda harokatnya, di zaman Nabi harokat itu belum ada dan Nabi tidak memerintahkan memberi harokat di dalam Al Quran, lha wong di zaman Nabi Al Quran saja belum dicetak / dibukukan.

      Baiklah, kita analisis 5 contoh dari saya diatas.
      a. Contoh 1 dan 2, tentu antum akan mengatakan itu bukan bid’ah karena itu berkaitan dengan hal duniawi.
      Menurut saya: bagaimanapun juga kesemuanya itu tetap bid’ah (dengan merujuk makna bid’ah sebagai hal-hal/sesuatu yang baru dan di zaman Nabi belum ada). Maka dapat disimpulkan point 1 dan 2 adalah bid’ah juga.

      b. Untuk contoh 3, 4 dan 5, sengaja pada contoh 3,4, dan 5 ini saya sajikan disini, mengingat contoh 3,4,5 ini adalah bid’ah yang terkait erat dengan bidang agama.

      Ingat Sabda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam terkait bid’ah di bidang agama:

      Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

      مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

      (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

      Jika yang dimaksud bid’ah oleh hadits Rasul tersebut adalah bid’ah di bidang agama, maka pada contoh 3, 4, 5 ini saya sajikan contoh bid’ah di bidang agama yang dilakukan juga oleh golongan Wahhabi.

      Daurah Ilmiyyah adalah bid’ah di bidang agama, di zaman Nabi belum ada, dan Nabi tidak memerintahkan untuk mengadakan Daurah Ilmiyyah.

      Mendirikan ma’had-ma’had juga termasuk bid’ah di bidang agama, karena di zaman Nabi belum ada dan Nabi tidak memerintahkan mendirikan ma’had.

      Membukukan Al Quran dan memberi harokat juga bid’ah di bidang agama, karena di zaman Nabi belum ada dan Nabi tidak memerintahkan.

      Nah, apabila bid’ah tidak dijabarkan menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, maka akan terjadi kekacauan. Lihat saja poin-poin 1 s.d 5 di atas.

      Untuk poin 1, pasti antum tidak mau dong wajah antum dikatakan bid’ah hanya karena di zaman Nabi wajah antum belum nongol.
      Untuk poin 2, wah kalau parasarana dunia yang bermanfaat baik ini tidak digolongkan bid’ah hasanah, maka penggunaan alat-alat tersebut jadi sesat dong.
      Untuk poin 3,4 dan 5, kalau Daurah Ilmiyyah, Mendirikan Ma’had, Membukukan Al Quran dan memberi harokat tidak digolongkan bid’ah hasanah, maka tidak ada gunanya kegiatan-kegiatan keagamaan tersebut. Karena pasti tertolak dikarenakan Rasul tidak mencontohkan dan tidak memerintahkan. Dan apa jadinya kalau mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut justru mengantarkan pelakunya ke Neraka, karena dalil yang dipakai golongan antum: Kullu bid’atin dholaalatun, wa kulla dholaalatin finnar.

      Oleh sebab itulah, sejak awal para imaam Mujtahid ahlussunnah wal jama’ah sudah melakukan taqsim/pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah dengan tujuan agar kelak di kemudian hari tidak terjadi kesimpang-siuran pemahaman tentang bid’ah.

      Semoga bermanfaat.

      Balas

  2. Posted by abu fatih on 22 Maret 2011 at 10:21 am

    wah … ternyata … ente tidak ngerti bid’ah … udah tau ente …. tapi kalah ama hawa nafsu …. pokoke… bid’ah itu sesat, letaknya sesat ya di NERAKA ….

    Balas

    • Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      Membaca komentar antum, justru yang tidak mengerti bid’ah itu antum. Antum-lah yang mengikuti hawa nafsu di dalam persoalan bid’ah ini, yang mana antum malah mengikuti pendapat syekh-syekh wahhabiyyin yang jauh dari kelurusan manhaj ahlussunnah Wal Jama’ah. Mana dalilnya kalau “SEMUA BID’AH ITU SESAT TANPA KECUALI?” Buktikan disini!

      Insya’ Alloh di dalam memahami persoalan bid’ah, saya cukup dengan mengikuti ijtihad al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah, yang insya’ Alloh ijtihad al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah tersebut sudah sesuai dengan pengertian bid’ah yang diinginkan oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih Wa sallam.

      Insya’ Alloh di dalam persoalan bid’ah ini, al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah tidak mengikuti hawa nafsu, dan wal ‘iyaadzu billah dari prasangka buruk yang demikian.

      Berikut ini adalah dalil-dalil shohih yang akan membantah pernyataan antum diatas (harap dibaca dengan hati yang jernih):

      Makna Bid’ah secara lughawi:
      Di dalam Kamus Bahasa Arab Al-Munjid disebutkan arti bid’ah secara bahasa:

      اَلْبِدْعَةُ ج بِدَع: مَا اُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ

      Bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

      Sedangkan bid’ah menurut kalangan wahhabi adalah “Semua bentuk peribadatan yang tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam.”

      Baik mari kita analisis. Menurut golongan antum, “Semua bentuk peribadatan yang tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam” adalah bid’ah, dan itu berarti semua bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. Apakah demikian?

      Coba kita simak hadits-hadits shohih Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berikut ini:

      Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah bersabda:

      مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ اِنَّ اَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَاَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِىْ النَّارِ

      “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada siapa pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tiada siapa pun dapat memberinya hidayah (petunjuk). Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah muhdatsaat (hal-hal baru), dan semua muhdats (yang baru) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka.”

      (HR. An-Nasaa’i)

      اِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

      “Berhati-hatilah kalian terhadap muhdatsaat (hal-hal baru), karena sesungguhnya semua muhdats (yang baru) itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”

      (HR.  Abu Dawud , Ahmad dan Ibnu Majah)

      Hadits tersebut adalah senjata golongan Wahhabi di dalam persoalan bid’ah. Hadits di atas memang benar, tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa memutuskan bahwa semua bid’ah sesat. Untuk dapat memahaminya dengan benar, kita harus mengkaji semua Hadits yang berhubungan dengannya. Sehingga, kita tidak terjerumus pada penafsiran yang salah. Masih ada hadits-hadits lain yang menjelaskan tentang pembagian bid’ah menurut Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam.

      Coba simak hadits-hadits penjelasan tentang bid’ah berikut ini:
      Dalam hadits “kullu bid’atin dhalaalatun” yang tercantum diatas, di sana ada sesuatu yang dikecualikan. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

      مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

      (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

      Perhatikan kalimat “Yang tidak bersumber darinya (agama).” Inilah kalimat yang menjelaskan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Berdasarkan sabda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam di atas, maka hadits “Kullu bid’atin dhalaalatun,” dapat diartikan sebagai berikut: “Semua bid’ah itu sesat kecuali yang bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah.”

      Setelah memahami keterangan di atas, mari kita pelajari arti muhdatsat (hal-hal baru) dalam hadits sebelumnya. Para ulama menyatakan bahwa kata muhdatstaat (hal-hal baru) dalam hadits tersebut artinya adalah segala hal baru yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Pernyataan ini didukung oleh beberapa hadits. Coba Anda simak sabda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam berikut:

      وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ تُرْضِيْ اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ اثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

      “Dan barang siapa mengadakan  sebuah bid’ah dhalaalah (sesat), yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.”

      (HR. Tirmidzi)

      Dalam hadits di atas disebutkan, “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalaalah (yang sesat). Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Andaikata semua bid’ah sesat, tentu Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung bersabda:

      “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah.”

      Dan tidak akan menambahkan kata dhalaalah dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut kalimat “Bid’ah dhalaalah (yang sesat),” maka logikanya ada bid’ah yang tidak dhalaalah (yang tidak sesat).

      Disamping itu, dalam sabdanya yang lain, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

      مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak terdapat di dalam agama, maka dia tertolak.”

      (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

      مَنْ اَحْدَثَ فِيْى اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

      (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

      Coba perhatikan, dalam hadits di atas Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menambahkan kalimat “Yang tidak bersumber dari agama,” dan kalimat “Yang tidak terdapat di dalam agama.” Akankah sama jika kalimat tersebut dihilangkan. Coba perhatikan perbedaan keduanya (yang masih utuh dengan yang sudah dipotong)

      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.”

      Bandingkan dengan kalimat berikut:

      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, maka dia tertolak.”

      Jika kita perhatikan dengan baik, kedua kalimat di atas sangat berbeda. Kalimat pertama memberitahukan bahwa hanya hal baru yang tidak bersumber dari agama saja yang ditolak sedangkan kalimat kedua menyatakan bahwa semua yang baru tertolak.

      Kini jelaslah bahwa penambahan kalimat “Yang tidak bersumber darinya (agama),” merupakan bukti bahwa tidak semua yang baru sesat. Hanya hal baru yang tidak bersumber dari agama sajalah yang sesat. Andaikata semua hal baru adalah sesat, tentu Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak akan menambahkan kalimat tersebut. Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung berkata, “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, maka ia tertolak,” tetapi hal itu tidak beliau lakukan.

      Kesimpulannya, selama hal baru tersebut bersumber dari Al Qur’an atau Hadits, maka dia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah dan diterima oleh Rasul-Nya Shollallaah ‘alaih wa sallam.

      Apakah antum tidak pernah membaca riwayat-riwayat shohih tentang amalan-amalan yang dicetuskan oleh para shohabat yang tidak pernah dicontohkan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam dan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam merestui amalan tanpa perintah dan contoh Nabi tersebut?

      Berikut ini contoh amalan para shohabat Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam di dalam menciptakan amalan baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam dan Rasulullah merestuinya:

      1.  Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh), “Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompahmu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku bersuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersuciku itu”. 

      Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam berkata kepada Bilal, “Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga?” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melainkan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).”

      Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhari & Muslim).” Dan Adz Dzahabi mengakuinya.

      Hadits di atas menerangkan secara mutlak bahwa sahabat ini (Bilal) melakukan sesuatu dengan maksud ibadah yang sebelumnya tidak pernah dilakukan atau ada perintah dari Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam.

      2.  Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddits lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu.
      Dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam, maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi). Setelah selesai shalat, Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.”

      Ibnu Hajar berkomentar, “Hadits itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam) jika ia tidak bertentangan dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

      3. Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,

      Ada seorang laki-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:

      اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً

      Setelah selesai shalat, Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi? Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah, aku tidak mengucapkannya melainkan menginginkan kebaikan.” Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”

      Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.”

      Dalam riwayat an-Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”

      Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda demikian.”

      Di sini diterangkan secara jelas bahwa seorang sahabat menambahkan kalimat dzikir dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat yang tidak/ belum pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Dan reaksi Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam pun membenarkannya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa.

      Alhasil, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan.

      4. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata,

      “Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Teman-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan.

      Ketika mereka mendatangi Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam, mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “Hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku mencintainya.”

      Maka Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”

      Demikianlah sunnah dan jalan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya. Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam.

      Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap. Sebab apa yang kontinyu dilakukan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-praktik seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam tidak berarti ia bid’ah (sesat).

      5. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallaah ‘anhaa, bahwa Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam mengutus seseorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengan surah al-Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam, maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat ar-Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).

      Demikianlah, apa yang dilakukan para shahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam, namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakunya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya.

      Kesimpulannya, pendapat/ijtihad al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah di dalam pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah sudah sesuai dengan yang dimaksud Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan berdasarkan dengan hadits-hadits shohih.

      Dan pendapat antum yang mengatakan bahwa pembagian bid’ah menjadi bidah hasanah dan bidah sayyi’ah hanya mengikuti hawa nafsu tidak terbukti. Yang terbukti adalah pembagian bid’ah ke dalam bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah justru berdasarkan dalil-dalil shohih.

      Wa lillaahi at-taufiq.

      Balas

      • Posted by Jani on 20 Oktober 2011 at 10:01 pm

        عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
        رواه مسلم

        “Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

        Maksud hadist yang di riwayatkan oleh Muslim tersebut adalah untuk hal-hal baru yang BUKAN masalah ibadah (hal-hal menyangkut masalah duniawi), Tidak mungkin bin mustahil Nabi SAW akan mengeluarkan satu statemen yang saling bertentangan maksudnya atau bahasa sononya plin-plan. Secara logika orang-orang yang suka berbuat bid’ah dalam hal ibadah seolah-olah menuduh Allah dan RasulNya masih kurang dalam memberikan tuntunan,padahal Islam adalah agama yang sempurna dalam segala hal. Islam adalah agama yang mudah hanya sebagian umatnya yang suka mempersulit hal-hal yang sudah dimudahkan oleh Allah dan Rasulnya.

        Balas

        • Posted by tarno on 22 November 2011 at 10:19 pm

          si jani biar tarno yang nanggepin, benar sekali s jani, benar benar goblok males membaca, dah ada dan teramat jelas sekali penjelasannya, malah mutar muter lagi, kalau pusing membacanya coba minum bodrex satu kardus…

          Balas

        • Posted by achmad abdollah on 26 Maret 2012 at 1:27 pm

          Setuju dengan saudara dalam isu solat tarawih, Penulis lupa (atau sengaja tidak pasti) memaklumkan sebenarnya Rasullah pernah mengimamkan solat Tarawih (kerana ramai mula ikut baginda) namun berhenti pada ketika waktu sebab dibimbangi menjadi wajib (kemestian). Ini bermakna Umar bukan melakukan perkara Bida’ah tetapi melaksanakan amalan Rasulullah yang tidak melarang pengikutnya berjemaah bersama baginda walaupun secara sebentar masanya.

          Balas

    • Posted by mamo cemani gombong on 26 Maret 2011 at 12:09 pm

      yang namanya Wahabi gitu goblog tapi dikasih tau ngeyel ……..kalau nggak ngeyel ya bukan wahabi …….@jundu muhammad lajut terus sikaaaat wahabi….

      Balas

  3. Alhamdulillah wasyukrulillah, Mas Jundu Muhammad mantab kokoh argumennya, semoga ilmunya berkah dunia akhirat, dhohiron wa batinan, amin….

    Balas

  4. Terimakasih ustads…Ilmu saya bertambah lagi di malam ini…dari mantan aktivis wahabi.

    Balas

  5. Posted by abu aghnia Bandung on 25 Maret 2011 at 6:41 pm

    Jazakallahu ustadz… pemaparannya sungguh mencerahkan semoga Allah merahmati kita semua amien..
    saudaraku yg salafi… kalo antum tetap berpendapat seperti itu monggo silahkan, berdoalah semoga yg salah diantara kita diampuni Allah dan tetap dimasukkan dalam jannah-Nya amien.
    Sekali lagi jazakallahu ustadz..

    Balas

  6. Posted by Andri al faqir on 2 April 2011 at 8:42 am

    salam ….wahabisme mau obok-obok umat islam….”bagaimana mungkin memberikan obat pada orang-orang yang telah mati”…

    Balas

  7. Posted by Alkautsar on 8 April 2011 at 8:22 am

    assalammualaikum, sesama muslim bersaudara, masalah ini ko dibahas sampe kiamat tdk akan selesai, wasalammualaikum

    Balas

  8. Intan Mutiara tidak akan berubah menjadi batu hitam walau SERIBU manusia bodoh seperti salafi (salah fikir)alias wahabi(wah ada babi)mengatakan klo dia batu hitam bukan intan mutiara,,فلاجل ذالك فا صبروا وتوجهوا فانكم منصورون,والله يقول في كتابه العزيز:ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم..majuuuuuuuuuuu……!!!!!!hajar sampai mati ustadz para penentang NABI KITA YG MULIA…اللهم صل وسلم .وبارك على سيدنا وحبيبنا وقرة اعيننا ومولانا محمد

    Balas

    • justru orang2 yang melakukan bid’ah lah yang telah menjadi penentang nabi,“Jika Allâh Ta’âla telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mewafatkan Nabi-Nya, maka apakah perlunya pemikiran/pendapat baru, padahal Allâh Ta’âla telah menyempurnakan agama-Nya. Jika menurut keyakinan mereka pemikiran baru itu termasuk agama, maka agama ini menurut mereka belum sempurna; kecuali dengan pemikiran mereka. Yang berarti bahwa keyakinan mereka ini membantah al-Qur’ân. Jika itu bukan dari agama, maka apa gunanya menyibukkan diri dengan perkara yang tidak termasuk agama. Ini adalah argumen yang sangat kuat dan bukti yang agung. Orang yang membuat pemikiran baru tidak mungkin membantahnya dengan bantahan apapun selamanya. Maka jadikanlah ayat yang mulia ini (Qs al-Mâidah ayat 3) pertama kali untuk menampar wajah ahli ra’yi (pengagung akal), menghinakan mereka, dan menghancurkan hujjah mereka

      Balas

  9. Ustadz,,,mhn seri kajian kitab mafahim di tulis sampai tuntass,kami di batam sangat membutuhkan kajian kitab ini,smg Allah SWT,snntiasa mmbrikan umur panjang,sht wal ‘afiyat,ilmu yg berkah,rizqi yg melimpah ruah halal serta barokah buat Ustadz & keluarga.amiiin….

    Balas

  10. Posted by MURSIDI on 18 April 2011 at 7:11 pm

    maju terus jundumuhammad….pertahankan apa yang menjadi keyakinan kita bersama, bahwa ulama’ salaf dan ulama’ sholeh tidak akan pernah menjerumuskan umatnya. kita tau bahwa ketika seseorang memaknai alqur’an hanya dengan tulisan latin tanpa di barengi ilmu nahwu sorof tidak akan benar memaknainya,tingkatan ilmu seseorang berbeda-beda ada yang ahli syariat saja, namun ada yang lebih paham tentang ilmu hakikat dan ma’rifat. tentu kita belum sampai pada ilmu ma’rifat. torikot aja sulit di pahami dan diamalkan…..hanya ulamak salaf yang tahu tentang ilmu ma’rifat. tapi itu semua hanya contoh. yang penting kita meyakini bahwa apa yang di ajarkan ulamak salaf dan sholeh itu benar dan tidak akan pernah menyesatkan umat.

    Balas

  11. Posted by MURSIDI on 18 April 2011 at 8:00 pm

    abu fatih kwi le ngaji neng ngendi to…???? kok ora pinter babar blas…..ning yoben gae pepak-pepak ndonyo…..yen ora ono deweke…ketoke mbesuk neroko ora gayeng……utowo leh moco tulisane jundu muhammad ora bener ya’e…..utowo ming separo…..terus gregeten…muring-muring…yo tho…terus tambah muni-muni…..ho’oh to,,,hayo ngaku…????

    Balas

  12. Posted by Ayiiipz,,, on 30 Juni 2011 at 9:06 am

    coba carikan dalil tentang bid’ah!

    Balas

  13. penjelasan adanya bid’ah hasanah http://www.youtube.com/watch?v=jipqxIBf79c

    semoga bermanfaat

    Balas

  14. Bid’ah itu cuma masalah agama/syariat saja Mas Jundu Muhammad. Adapun masalah dunia bukan termasuk bid’ah. Berikut dalilnya:

    Allah berfirman: ”Dia-lah Allah, yang menjadikan SEGALA YANG ADA DI BUMI untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

    Di dalam Kitab Shohih Muslim terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas rodhiyallohu ‘anhu: bahwasanya ketika sampai di Madinah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melewati suatu kaum (dari kalangan sahabat anshor) yang sedang mengawinkan pohon kurma, maka beliau berkata: ”Sekiranya kalian tidak melakukannya niscaya itu lebih baik.” Anas melanjutkan: ”kemudian (mereka tidak melakukannya) sehingga hasilnya jelek (gagal). Tatkala Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kembali melewati mereka, beliau bertanya kepada mereka: ”Bagaimana dengan pohon-pohon kurma kalian?” Mereka berkata: ”Bukankah anda yang mengatakan begini dan begitu (mereka mengikuti perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tersebut meskipun hasilnya jelek). Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Kalian lebih tahu dengan urusan DUNIA kalian”.

    Adapun masalah agama, tidak boleh membuat hal-hal baru.

    Allah berfirman: ”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka AGAMA yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syuura: 21)

    Balas

    • Posted by shindo on 18 April 2012 at 10:24 pm

      Wahabi said:
      Adapun masalah agama, tidak boleh membuat hal-hal baru.

      Allah berfirman: ”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka AGAMA yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syuura: 21)

      Komentarku:
      Oalaaah…ayat buat orang kafir koq buat pendalilan ke sesama muslim to mas…gak nyambung .
      Mbok ya jangan asal nyatut ayat…
      Itu ayat asbabun nuzulnya ttg apa ya? Koq main ambil buat nampar ke sesama muslim ..

      Balas

  15. Allah berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
    Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang MENSYARIATKAN untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Asy-Syura: 21)

    MEMBAHAS PERKATAAN IMAM SYAFI’I YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2 MACAM : BID’AH TERCELA DAN TERPUJI

    Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113) (Perkataan Imam Syafi’i ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab Al-Hanbali di bawah nanti – pen)

    Adapun yang dimaksud bid’ah terpuji oleh Imam Syafi’i adalah bid’ah dalam arti bahasa, yaitu sunnah Rasulullah itu sendiri. Misalnya perkataan Umar bin Khothob tentang sholat tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maka ini bukanlah bid’ah yang diancam syari’at (hanya bidah bahasa) karena Rasulullah telah mencontohkan sholat tarawih berjamaah bersama para sahabat. Bahkan Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya bila seseorang shalat tarawih berjama’ah bersama imam hingga selesai maka akan dihitung baginya shalat semalam suntuk.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan dan yang lainnya, Shahih Abu Dawud (1245) serta dalam Irwaul Ghalil (447))

    Adapun masalah SYARI’AT, maka Imam Syafi’i menjelaskan dalam ucapan yang lain.
    Imam Syafi’i berkata : “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat SYARI’AT” (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

    Imam Syafi’i berkata: ”Sesungguhnya ANGGAPAN BAIK hanyalah menuruti selera hawa nafsu.” (Ar-Risalah hal. 507)

    Abu Syammah (ulama mazhab Syafi’i/guru Imam Nawawi Asy-Syafi’i) berkata: “Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang SYARI’AT adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shohih dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, dan atsar para Sahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia MENYATAKAN BAIK menurut pendapatnya. Sebab: Barang siapa yang MENGANGGAP BAIK menurut pendapatnya maka sesungguhnya dia telah membuat SYARI’AT.” (Al-Baits ‘alaa Inkaril Bida’ wal Hawadits oleh Abu Syammah, hal. 50)

    Berkata Ibnu Rojab Al-Hanbali, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminologi). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminologi (syar’iat-pen) karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267)

    Ibnu Katsir (ahli tafsir mazhab Syafi’i) berkata, “Bid’ah itu ada dua macam:
    1. Bid’ah syar’iyyah (menurut pengertian syari’at-pen) seperti dalam sabda Rasulullah, “Karena setiap (perkara) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”
    2. Bid’ah lughawiyyah (menurut arti bahasa-pen) seperti perkataan Amirul Mukminin Umar ketika menyatukan mereka dalam shalat tarawih secara berkelanjutan, ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini’.”(Tafsir Ibnu Katsir (1/162), surat Al-Baqarah ayat 117)

    Imam Syaukani mencela pembagian bid’ah menurut syariat menjadi 2.
    Imam Syaukani berkata: ”Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca) bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang BERTENTANGAN DENGAN SYARI’AT yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang MEMBAGI BID’AH (syari’at-pen) TERSEBUT KEPADA BEBERAPA MACAM, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu” (Risalah tentang Hukum Maulid oleh Asy-Syaukani).

    Maka yang dimaksud perkataan Imam Syafi’i bahwa bid’ah dibagi menjadi 2 adalah (1) Bid’ah tercela (bid’ah secara syari’at/agama), dan (2) Bid’ah terpuji (bid’ah secara bahasa). Kesimpulan ini didapat dengan melihat perkataan Imam Syafi’i yang lain dan juga penjelasan dari Ibnu Rajab Al-Hanbali dan Ibnu Katsir.

    Taruhlah benar (“saya pura-pura mengalah”) bahwa yang dimaksud Imam Syafi’i dengan kedua bid’ah yang beliau maksud adalah semua bid’ah dalam arti syariat, bukan dalam arti bahasa.

    Kalau begitu saya bertanya kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I INI BISA DIBANDINGKAN DENGAN SABDA RASULULLAH YANG MENGATAKAN BAHWA SETIAP BID’AH ITU SESAT?

    Rasulullah bersabda: “Adapun setelah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Adapun seburuk-buruk perkara adalah perkara baru yang diada-adakan dan setiap perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah dan SETIAP BID’AH ITU SESAT dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim juz 3 hal. 11, Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah)

    Rasulullah bersabda: “Dan jauhilah olehmu segala urusan yang baru/muhdats! Karena sesungguhnya, setiap urusan yang baru itu adalah bid’ah dan SETIAP BID’AH ADALAH SESAT.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Darimi, Hakim, dll. Hadits shohih)

    Maka aku takut Saudara akan terkena ancaman berikut ini:
    “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. (QS An-Nuur: 63).
    Sahabat Ibnu Abbas mengatakan: ”Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku menyampaikan sabda Rasulullah akan tetapi kalian membantah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 1/337)
    Imam Syafi’i berkata: ”Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yg ternyata menyalahi hadits Nabi yg shahih, ketahuilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna.” (Ibnu Abi Hatim dalam Adabu Asy-Syafi’i, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Ibnu Asakir, dsb)
    Imam Ahmad berkata: ”Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah semuanya hanyalah pendapat. Bagi semua pendapat sama saja, tetapi yg menjadi hujjah agama adalah yg ada pada Sunnah Nabi.” (Ibnu Abdul Barr dalam Al-Jami’ II/149)

    Mungkin dalam benak pikiran Saudara akan mengatakan: Bukankah Imam Syafi’i lebih mengetahui banyak hadits daripada anda? Bukankah ia lebih paham hadits tersebut daripada anda?

    Maka saya jawab: Benar sekali, bahwa Imam Syafi’i lebih banyak hafal hadits daripada saya. Beliau lebih paham hadits tersebut daripada saya. Siapakah saya dibanding beliau.

    Maka saya balik bertanya kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN GURU BELIAU, YAITU IMAM MALIK?

    Imam Malik (Imam Mazhab/Tabiut Tabi’in/Imam Darul Hijrah/Imam Penduduk Madinah) rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah di dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati Risalah beliau. Karena Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”, maka segala sesuatu yang pada hari itu (Zaman Nabi dan Sahabat-pen) bukan merupakan agama maka tidak pula menjadi agama pada hari ini.” (Al-‘I’tisham oleh Imam Asy-Syatibi 1/28).
    Imam Malik bin Anas berkata : “Tidaklah akan baik akhir ummat ini kecuali mereka mengikuti baiknya awal ummat ini.” Awal umat ini yaitu para Sahabat. Barangkali, perkataan Imam Malik ini sama seperti hadits Nabi berikut ini:
    Nabi bersabda: “Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

    Sufyan bin ‘Uyainah tatkala menafsirkan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi, “Nanti, akan keluar orang-orang dari arah timur dan barat demi menuntut ilmu, lalu mereka tidak menjumpai seorang pun yang lebih alim daripada ALIMNYA KOTA MADINAH.” Sufyan bin Uyainah berkata, “Dahulu aku katakan yang dimaksud (dengan ‘alimnya kota Madinah’) dalam hadits tersebut adalah Sa’id bin Al-Musayyib, tetapi bukankah di zamannya masih ada Sulaiman bin Yassar, Salim bin Abdullah, dan yang lainnya? Maka sekarang saya katakan bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah Malik bin Anas, karena tidak ada alim lain yang menandinginya (saat itu).”
    Di lain waktu Sufyan bin Uyainah juga berkata, “Malik adalah alimnya penduduk Hijaz, dan ia adalah hujjah di zamannya.”
    Imam Asy-Syafi‘i menyambungnya seraya berkata, “Hal itu benar, dan bila ulama disebut-sebut, maka Malik-lah bintangnya.” Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan, “Bila hadits disebut-sebut maka Malik-lah bintangnya.”
    Imam An-Nasa’i berkata, “Aku tidak punya orang setelah generasi tabi‘in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik.”
    Ibnu Hibban berkata, “Malik adalah orang pertama yang memilah-milah para perawi dari kalangan fuqaha di Madinah.”

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN GURU DARI GURU DARI GURUNYA IMAM SYAFI’I [Syafi’i berguru pada Malik, Malik berguru pada Nafi’ (tabi’in), Nafi’ berguru pada Abdullah Ibnu Umar (sahabat)] ?

    Sahabat Abdullah bin Umar berkata: “SETIAP bid’ah itu sesat meskipun DIANGGAP BAIK oleh manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ilas Sunan Al-Kubra I/180 no.191, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205, dan Al-Lalika-i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah no. 126)

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN SAHABAT NABI YAITU MU’ADZ BIN JABAL?

    Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maka berhati-hatilah kalian dengan hal-hal yang diada-adakan, karena SETIAP hal yang diada-adakan adalah sesat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4611).

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN SAHABAT NABI YAITU IBNU MAS’UD?

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Ikutilah (petunjuk Nabi-pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Rasulullah-pen) itu sudah cukup bagi kalian. SEMUA bid’ah adalah sesat.” (Ath-Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al-Haitsami menyatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam Kitab Shohih)

    Saya juga akan bertanya lagi kepada Saudara:
    APAKAH PERKATAAN IMAM SYAFI’I BISA DIBANDINGKAN DENGAN PERKATAAN SEORANG TABI’IN UMAR ABDUL AZIZ?

    Seorang lelaki menuliskan surat kepada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz (Khalifah/Tabi’in/keturunan Umar bin Khothob) menanyakan tentang permasalahan Al-Qodar, lalu beliau menjawab dengan menuliskan : “Amma Ba’du, Saya mewasiatkan kepada anda untuk senantiasa bertakwa kepada Alloh dan bersederhana di dalam menunaikan perintah-Nya serta meneladani sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, meninggalkan SEGALA HAL YANG DIADA-ADAKAN oleh kaum yang gemar mengada-adakan bid’ah setelah sunnah beliau berlalu dan terpenuhinya semua tanggung jawab beliau. Maka wajib atas anda menetapi sunnah karena sesungguhnya sunnah itu dengan izin Alloh adalah keterpeliharaan bagi anda.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4612)

    Allah berfirman: “Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat SEBAIK-BAIKNYA.” (QS. Al-Kahfi:103-104).
    Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini Makiyah (turun sebelum peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah), sebelum berbicara terhadap orang-orang Yahudi dan Nashara, dan sebelum adanya al-Khawarij (kaum pertama pembuat bid’ah) sama sekali. Sesungguhnya ayat ini umum meliputi setiap orang yang beribadah kepada Allah dengan jalan yang tidak diridhai Allah, dia menyangka bahwa dia telah berbuat benar di dalam ibadah tersebut padahal dia telah berbuat salah dan amalannya tertolak. (Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim)

    Utsman bin Hadhir berkata: “Aku masuk menemui Ibnu Abbas, lalu aku berkata: “Nasehatilah aku”. Beliau (Ibnu ‘Abbas) lantas berkata: “Iya, wajib atasmu untuk bertakwa kepada Alloh dan beristiqomah, TELADANILAH dan JANGANLAH KAMU BERBUAT BID’AH.” Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (141)

    Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “TELADANILAH dan janganlah kalian berbuat bid’ah, karena kalian telah dicukupi.” Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (211).

    Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “SEDERHANA dalam Sunnah lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam kebid’ahan.” (Ad-Darimi no. 233, Al-Hakim 1/103, Al-Lalikai dalam Syarh Ushuulil I’tiqad no. 14, dengan sanad jayyid)

    Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “SETIAP IBADAH yang tidak pernah dilakukan oleh Sahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai ibadah, janganlah kamu melakukannya! Sebab, generasi pertama itu tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk berpendapat (dalam masalah agama-pen). Bertakwalah kepada Allah, wahai para qurra’ (ahlul qira’ah) dan ambillah jalan orang-orang sebelum kamu!” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitab beliau, Al-Ibaanah)

    Sa’id bin Musayyab (tabi’in) melihat seseorang mengerjakan lebih dari 2 rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116)

    Sufyan bin Uyainah (tabiut tabi’in) mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas (imam mazab/tabiut tabi’in/guru imam Syafi’i) didatangi seseorang yang bertanya: Wahai Abu Abdillah dari mana saya harus melaksanakan ihram (untuk haji/umrah)? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan, saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah SAYA HANYA SEKEDAR MENAMBAH BEBERAPA MIL SAJA? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yang lebih hebat dari sikapmu yang menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kamu MENAMBAHNYA? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala: ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Nu’aim)

    Adapun orang yang berpendapat bahwa bid’ah syariat ada 2, mereka berdalil antara lain dengan :
    1. Perkataan Umar bin Khothob: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”
    2. Pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, adanya Ilmu Nahwu
    3. Adzan hari Jum’at 2 kali pada masa Utsman bin Affan
    4. Imam Ahmad mendoakan Imam Syafi’i ketika sujud dalam sholat
    5. Sholawat Nabi hasil ijtihad Imam Syafi’i

    BANTAHANNYA
    1. Perkataan Umar bin Khothob: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”
    Kita harus mengetahui latar belakang perkataan Umar tersebut, sbb:
    Pada zaman Rasulullah, beliau pernah sholat tarawih berjamaah dengan para sahabat sebanyak 3 kali yaitu pd tgl 23, 25, dan 27. Bahkan Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya bila seseorang shalat tarawih berjama’ah bersama imam hingga selesai maka akan dihitung baginya shalat semalam suntuk.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan dan yang lainnya, Shahih Abu Dawud (1245) serta dalam Irwaul Ghalil (447)).

    Setelah Rasulullah wafat, maka kekhalifahan diganti oleh Abu Bakar. Pada masa Abu Bakar ini, banyak sekali tugas yang sangat penting yang harus beliau selesaikan, antara lain: (1) Memerangi nabi palsu Mutsailamah al-Kadzab (2) Memerangi orang yg murtad, dan (3) Memerangi orang yg tdk mau membayar zakat. Adanya tugas-tugas yg sangat penting ini telah banyak menyita waktu sahabat Abu Bakar, padahal beliau hanya memimpin sekitar 2 tahun masa kekhalifahan. Pada masa beliau sholat tarawih berjamaah dilakukan secara berkelompok-kelompok dalam satu masjid, tidak terkoordinir menjadi satu kelompok berjamaah seperti pada zaman Rasulullah dulu.

    Setelah Abu Bakar wafat maka digantikan oleh Umar bin Khottob. Umar bin Khottob mengatur agar sholat tarawih dilaksanakan berjamaah dengan 1 imam sholat dalam 1 masjid seperti pada zaman Rasulullah dahulu, yg diimami oleh beliau sendiri Umar, atau Ubay bin Ka’ab, atau Tamim Ad-Dhari. Itulah latar belakang perkataan Umar ”sebaik-baik bid’ah adalah ini” karena pada masa Rasulullah terkoordinir dlm 1 imam, lalu pada masa Abu Bakar tdk terkoordinir dlm 1 imam alias berkelompok-kelompok karena kesibukan beliau, lalu pada masa Umar dikoordinir kembali dlm 1 imam seperti pada zaman Rasulullah.

    Setelah mengetahui latar belakang tersebut, maka sholat tarawih berjamaah bukanlah termasuk bid’ah. Ucapan Umar (sebaik-baik bid’ah adalah ini) hanyalah merupakan bid’ah menurut bahasa, bukan bid’ah syariah yg diancam dlm agama karena ada petunjuknya dari Rasulullah.

    Ibnu Katsir berkata, “Bid’ah itu ada dua macam:
    1. Bid’ah syar’iyyah (menurut pengertian syari’at) seperti dalam sabda Rasulullah, “Karena setiap (perkara) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”
    2. Bid’ah lughawiyyah (menurut arti bahasa) seperti perkataan Amirul Mukminin Umar ketika menyatukan mereka dalam shalat tarawih secara berkelanjutan, ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini’.”( Tafsir Ibnu Katsir (1/162), surat Al-Baqarah ayat 117)

    2. Pembukuan Al-Qur’an dan Hadits, adanya Ilmu Nahwu
    Imam Syafi’i (Imam Mazhab/murid Imam Malik/guru Imam Ahmad) berkata: ”Kami menentukan suatu hukum dengan dasar KESEPAKATAN hasil ijtihad dan juga qiyas, dan ini adalah dalil yg jauh lebih lemah bila dibanding dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi pengambilan dalil dari kesepakatan dari hasil ijtihad dan qiyas ini kami lakukan ketika dalam keadaan DARURAT. Sejatinya tidak halal berdalil dengan qiyas selama ditemukan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Ar-Risalah oleh Imam Syafi’i hal. 509-600)

    Ijtihad hanya bersifat DARURAT karena suatu sebab yg tidak muncul pada zaman Rasulullah tetapi kemudian suatu sebab tersebut muncul pada zaman sekarang. Misalnya seperti sebab banyaknya para sahabat penghafal Al-Qur’an yg terbunuh dan juga banyak munculnya hadits palsu, yg sebab-sebab tersebut belum ada pada zaman Rasulullah. Padahal untuk mengatasi permasalahan darurat tersebut perlu suatu langkah jalan keluar/solusi. Hal ini dilakukan karena syari’at tidak dapat tegak/terpelihara melainkan hanya dengan cara ini saja, tidak ada cara lain (DARURAT).

    a. Pembukuan Al-Qur’an
    Pengumpulan Al-Quran menjadi satu buku merupakan ijtihad dari sahabat Umar bin Khottob pada masa kekhalifahan Abu Bakar karena mengingat banyaknya para sahabat penghafal Al-Qur’an yang wafat di medan perang. Oleh karena itu, untuk menjaga keterpeliharaan Al-Qur’an maka harus dikumpulkan untuk dibukukan menjadi satu. Para sahabat pada mulanya ada yg tidak setuju karena hal ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah, tetapi akhirnya semua sahabat bersepakat (ijma’) disebabkan karena sifat DARURAT yaitu banyaknya para penghafal Al-Qur’an yg meninggal dunia.

    Pembukuan Al-Qur’an bukanlah termasuk bid’ah karena merupakan ijma’ para sahabat, sedangkan Rasulullah bersabda:
    ”Maka hendaklah kamu berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahyidin. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah olehmu segala urusan yg baru! Karena sesungguhnya setiap urusan yg baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Darimi, Hakim, dll). Rasulullah juga mengabarkan jalan golongan yg selamat yaitu: ”Ialah golongan yang mengikuti jejak-Ku dan jejak para shahabatku”. (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadist ini hasan). Jadi, apa yg menjadi ijma’ para sahabat bukan termasuk bid’ah.

    Banyaknya para sahabat penghafal Al-Qur’an yang meninggal dunia yang menjadi alasan pembukuan Al-Qur’an. Umar berpikir bahwa bagaimana cara menularkan Al-Qur’an pada generasi berikutnya sedangkan para penghafal Al-Qur’an banyak yang meninggal dalam medan perang. Beliau berpikir bahwa satu-satunya jalan untuk menularkan Al-Qur’an ke generasi berikutnya hanya dengan dibukukannya Al-Qur’an, jika tidak dibukukan maka ilmu agama ini (Al-Qur’an) akan lenyap. Syariat tidak dapat tegak melainkan hanya dengan cara ini.

    b. Pembukuan Hadits
    Pembukuan hadits dilakukan pada masa tabi’in maupun tabiut tabi’in. Sedangkan Rasulullah pernah bersabda memuji 3 generasi umat Islam yg pertama: ”Sebaik-baik generasi adalah generasiku (Sahabat), kemudian sesudahnya (Tabi’in), kemudian sesudahnya (Tabiut Tabi’in).” (HR. Bukhari Muslim). Maka apa yg menjadi ijtihad yg lalu menjadi ijma’ oleh 3 generasi terbaik ini bukanlah termasuk bid’ah.

    Pada masa tabi’in banyaknya fitnah yg muncul seperti pemalsuan hadits-hadits Rasulullah. Oleh karena itu, adanya sebab yg DARURAT untuk membukukan hadits. Syariat tidak dapat dijaga melainkan hanya dengan cara ini saja. Hadits-hadits Nabi tidak mungkin dapat dipelihara/ditularkan sampai generasi akhir melainkan hanya dengan cara dibukukannya hadits-hadits Nabi. Pada masa ini juga, hadits dipilah-pilah menjadi hadits shohih, hadits dhoif (lemah), dan juga hadits maudhu’ (palsu) yg sebelumnya pada masa Rasulullah belum ada karena pada masa Rasulullah, para sahabat mendengar langsung dari Rasulullah atau dari sahabat yg lain sehingga tidak mungkin adanya pemalsuan hadits. Sebagaimana perkataan Muhammad bin Sirin (tabi’in) : ”Kami tidak pernah bertanya tentang sanad, namun tatkala muncul fitnah (pemalsuan hadits-pen), maka kami mengatakan: ’Sebutkan para perowi kalian’. Lalu dilihat kalau dia dari kalangan ahli sunnah maka haditsnya diterima, namun kalau dari ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.
    Abdullah bin Mubarok (tabi’in) juga berkata: ”Sanad (rangkaian perawi hadits-pen) adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad niscaya semua orang akan bicara semaunya sendiri.” (Muqadimah Kitab Shahih Muslim)

    c. Ilmu Nahwu
    Pertama kali munculnya ilmu nahwu adalah ijtihad dari sahabat Ali bin Abi Tholib yg termasuk dari 4 Khulafaur Rasyidin. Pada masa Ali, wilayah kekhalifahan sangat luas. Umat Islam menyebar ke mana-mana ke berbagai bangsa atau suku dengan bahasa daerah yg bermacam-macam. Umat Islam yg bukan dari bangsa Arab sangat banyak. Padahal mereka kurang mengerti bahasa Arab sedangkan wahyu turun menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, banyak umat Islam non Arab yg membaca Al-Qur’an tetapi salah dalam pengucapannya. Sedangkan jika salah sedikit saja ketika membaca tulisan arab seperti Al-Qur’an maka artinya akan sangat berbeda jauh. Lalu bagaimana jika ada yg berdoa/sholat dengan maksud untuk memohon kebaikan kpd Allah, tetapi justru ia tidak sadar kalau yg diucapkannya justru memohon kecelakaan bagi dirinya? Tentu sangat fatal bukan. Oleh karena sebab DARURAT inilah dimunculkannya ilmu nahwu agar kaum muslimin bisa membaca tulisan Arab dengan baik tanpa salah pengucapannya.

    3. Adzan Sholat Jum’at 2 kali pada masa Utsman bin Affan
    Imam Syafii berkata: “Dan aku MENYUKAI satu adzan dari seorang muadzin ketika (khatib) di atas mimbar bukan banyak muadzin”, kemudian beliau menyebutkan dari As Saib bin Yazid, bahwa pada mulanya adzan pada hari Jum’at dilaksanakan ketika seorang imam duduk di atas mimbar. (Ini terjadi) pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. (Ketika masa) pemerintahan Utsman dan kaum muslimin menjadi banyak, Utsman memerintahkan adzan yang kedua, maka dikumandangkanlah adzan tersebut dan menjadi tetaplah perkara tersebut. (Al-Umm oleh Imam Syafi’I 1/224)

    Ali bin Abi Thalib ketika berada di Kuffah, beliau mencukupkan diri dengan sunnah dan tidak menggunakan adzan yang diadakan oleh Utsman, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Qurthubi di dalam tafsirnya (Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an oleh Imam Qurthubi 18/100)

    4. Imam Ahmad mendoakan Imam Syafi’i ketika sujud dalam sholat
    Ketahuilah bahwa berdoa saat sujud (selain bacaan sujud-pen) ada petunjuknya dari Nabi dan sahabat.
    Nabi bersabda: “Kedudukan terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim, Abu Awanah, dan Baihaqi)
    Mungkin di benak Saudara akan bertanya: Bukankah perintah ini bersifat umum?
    Saya jawab: Benar, seratus untuk Saudara. Hadits ini masih bersifat umum, tidak ada hadits lain (setahu saya) yang memperinci hadits tersebut (Berbeda dengan dzikir berjamaah, tidak boleh menggunakan dalil umum karena ada dalil lain yang memperinci tentang tata cara dan volume suara). Doa yang diucapkan oleh Imam Ahmad tersebut merupakan hasil ijtihad beliau, sebagaimana Sahabat Abu Darda’ juga berijtihad.
    Abu Darda’ berkata: ”Aku senantiasa mendoakan untuk 70 orang dari sahabatku ketika aku dalam keadaan sujud terhadap Allah, aku sebutkan nama mereka satu-satu.”

    5. Sholawat Nabi hasil ijtihad Imam Syafi’i
    Imam Syafi’i menulis sholawat: “Allahumma sholli ‘alaa Muhammad….” Sampai kata yang diijtihadkannya, yaitu: Baik ada orang yang mengucapkannya, beliau tetap mendapat rahmat.

    Tulisan sholawat yg merupakan ijtihad Imam Syafi’i yg beliau tulis dalam kitab beliau sama sekali TIDAK MENUNJUKKAN bahwa beliau membacanya saat tahiyyat dalam sholat, atau merutinkan saat berdoa, atau saat berbicara dalam majelis, atau saat-saat khusus dlm beribadah. Lagipula Imam Syafi’i juga tidak menganjurkan orang-orang untuk membaca sholawat yg beliau ijtihadkan itu atau tidak disibukkan dengan membaca bacaan itu setiap kali beribadah.

    Bahkan Imam Syafi’i mengatakan: ”Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yg berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah itu dan TINGGALKANLAH PENDAPATKU ITU.” (Ibnu Hibban dlm Shahihnya, Nawawi dlm Majmu’, Al-Khathib, Ibnul Qayyim, dll)
    Imam Syafi’i mengatakan: ”Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yg shahih dari Nabi shollallahu ’alaihi wasallam, Hadits Nabi lebih utama dan KALIAN JANGAN BERTAQLID KEPADAKU.” (Ibnu Abi Hatim dlm Adabu Asy-Syafi’i hal. 93, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir, dll)

    Imam Syafi’i adalah orang alim yg memang pantas bagi dirinya untuk berijtihad. Sedangkan ijtihad itu bisa benar dan bisa juga salah.
    Imam Malik berkata mirip perkataannya sahabat Ibnu Abbas: ”Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi sendiri.” (Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Abdul Barr, Ibnu Hazm, dll)

    Berikut pendapat para ulama dari kalangan mazhab Syafi’i sendiri ttg kalimat sholawat:
    a. Imam Nawawi dlm Kitab Raudhah-nya menyatakan bahwa ucapan-ucapan sholawat Nabi yg terbaik adalah yg telah diajarkan oleh Nabi sendiri.
    ”Ucapan sholawat Nabi shollallahu ’alaihi wasallam yg paling baik adalah Allahumma sholli ’alaa Muhammad….(seperti dlm riwayat hadits tanpa tambahan kata sayyid)” (Ar-Raudhah oleh imam Nawawi 1: 265)
    b. Imam Subki menyatakan bahwa ”Brgsiapa mengucapkan kalimat sholawat semacam itu (spt dlm riwayat hadits) berarti telah mengucapkan bacaan yg benar, sedangkan orang yg mengucapkan kalimat sholawat lainnya berarti telah mengucapkan yg tdk benar”.
    c. Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i (ahli hadits pensyarah kitab Shohih Bukhari, 773-852) pernah ditanya orang tentang kalimat sholawat Nabi dalam sholat dan luar sholat, baik yang wajib atau yang sunnah.
    Orang tersebut bertanya:”Apakah dalam sholawat itu disyariatkan menggunakan kata-kata sayyid, seperti orang mengatakan Allahumma sholli ’ala sayyidina Muhammad…. Manakah yang lebih baik daripada ucapan-ucapan itu? Apakah menggunakan kata-kata sayyid atau tdk menggunakannya karena tidak tersebut dalam hadits-hadits?”
    Ibnu Hajar menjawab: ”Benar, mengucapkan lafazh-lafazh sholawat yg tersebut dalam riwayat hadits adalah yang benar. Janganlah sampai ada orang mengatakan bahwa Nabi tidak menggunakan kata-kata sayyid dalam bacaan sholawat hanya dikarenakan sikap rendah hati saja sebagaimana juga tidak layak ketika orang mendengar disebut nama Nabi tidak menyahut dengan ucapan shollallahu ’alaihi wasallam. … Saya menyatakan bahwa sekiranya benar bahwa ucapan sayyid itu ada, niscaya disebutkan dlm riwayat dari sahabat dan tabi’in. Akan tetapi saya tidak menemukan adanya riwayat semacam itu dari seorang sahabat atau tabi’in pun, padahal begitu banyak bacaan sholawat yg diterima dari mereka….” (Diriwayatkan oleh murid Ibnu Hajar, Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Gharabili)

    Oleh karenanya, tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk merekayasa dzikir yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Mari kita simak hadits berikut, dengan harapan agar kita mendapat pelajaran penting tentang tata cara berdzikir:

    “Dari sahabat Al Bara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Bila engkau akan berbaring tidur, hendaknya engkau berwudhu’ layaknya engkau berwudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, dan menyerahkan urusanku kepada-Mu. Dengan rasa mengharap (kerahmatan-Mu) dan takut (akan siksa-Mu) aku menyandarkan punggungku kepada-Mu. Tiada tempat perlindungan dan penyelamatan (dari siksa-Mu) melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan NABI-MU yang telah Engkau utus.” Dan jadikanlah bacaan (doa) ini sebagai akhir perkataanmu, karena bila engkau mati pada malam itu, niscaya engkau mati dalam keadaan menetapi fitrah (agama Islam).” Al Bara’ bin ‘Azib berkata: “Maka aku mengulang-ulang bacaan (doa) ini, untuk menghafalnya, dan mengatakan: aku beriman kepada RASUL-MU yang telah Engkau utus.” Nabi pun bersabda: “Katakan: Aku beriman kepada NABI-MU yang telah Engkau utus.” (Riwayat Bukhori, 5/2326 hadits no: 5952, dan Muslim 4/2081 hadits no: 2710)

    Bila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menegur kesalahan (ketidaksengajaan) Sahabat Al Bara’ bin ‘Azib mengucapkan satu kata dalam dzikir yang beliau ajarkan, maka bagaimana halnya seandainya yang dilakukan oleh Bara’ bin ‘Azib ialah dzikir hasil rekayasanya sendiri?

    Ibnu Hajar Al-Asqolani As Syafi’i (ahli hadits/ulama mazhab Syafi’i, 773-852) berkata: “Pendapat yang paling tepat tentang hikmahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membenarkan ucapan orang yang mengatakan “Rasul” sebagai ganti kata “Nabi” adalah: Bahwa bacaan-bacaan dzikir adalah bersifat TAUQIFIYYAH (HARUS ADA TUNTUNANNYA), dan bacaan-bacaan dzikir itu memiliki keistimewaan dan rahasia-rahasia yang tidak dapat diketahui dengan cara qiyas, sehingga wajib kita memelihara lafazh (dzikir) sebagaimana diriwayatkan.” (Fath Al Bari syarah Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani 11/112).

    Mubarokfuri (pensyarah Kitab Sunan At-Tirmidzi) mengomentari penjelasan Ibnu Hajar ini, ia mengatakan: ”Ini juga pilihan Imam Al-Maziri katanya: Maka dzikir-dzikir ini dibatasi pada ketentuan harus sesuai dengan lafazh yg ada dan biasanya pahalanya juga berkaitan dengan huruf-huruf dzikir itu. Atau boleh jadi kalimat-kalimat ini merupakan wahyu yg diwahyukan kepada beliau sehingga wajib pula untuk ditunaikan sesuai dengan bagaimana datangnya.

    Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini sangat baik.

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    1. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Al-’Izz bin Abdis Salaam YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 5, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBID’AHKAN TALQIN MAYIT DALAM KUBUR?
    Al-’Izz bin Abdis Salaam menyatakan bahwasanya mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah (Kitab Al-Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal. 96. Beliau adalah guru Abu Syamah, sedangkan Abu Syamah adalah guru Imam Nawawi)

    2. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Al-’Izz bin Abdis Salaam YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 5 dan BERTAQLID KEPADA Imam Nawawi YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBENCI MENGUSAP MUKA SELESAI BERDOA? (cat: selain mau tidur, karena ada contoh dari Nabi seusai membaca Surat Muawidzatain beliau meniupnya, lalu mengusap seluruh tubuhnya, tidak hanya usap muka saja)

    Al-’Izz bin Abdis Salaam berkata: “Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuai orang jahil.” (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal 46-47)
    Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir 1/369 mengatakan: Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam berkata: “Tidaklah mengusap wajahnya kecuali orang yang jahil.”

    Dalam Kitab Imam Nawawi Al-Majmu’ sebagaimana dinukil oleh Ibnu Allan dalam Syarah Al-Adzkar 2/311, beliau mengatakan: “Tidak disunnahkan mengusap (wajah) setelah berdoa di luar sholat.”

    Semua hadits tentang mengusap muka tidak ada yang shohih dari Rasulullah (wallahu a’lam) sebagaimana dilemahkan oleh para ahli hadits seperti Adz-Dzahabi, Imam Nawawi, Al-Bushiri, Ibnu Taimiyyah, Tirmidzi, Al-Baghawi, dsb. (Mungkin ahli hadits yang mereka anggap menghasankan hadits tentang usap muka adalah Ibnu Hajar, tetapi perkataan beliau perlu diteliti melihat dari Kitab beliau yang lain. Ibnu Hajar mendhoifkan perowi Hammad bin Isa Al-Juhani dalam Kitab beliau Taqrib At Tahzib : 81. Dalam kitab beliau yang lain pula Nuzhatunn Nnadhar fi Taudlih Nukhbatil Fikar 139-140, pengertian hadits hasan lighoirihi menurut beliau ialah istilah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang belum diketahui statusnya).

    Baihaqi (2/212) meriwayatkan dari Al-Basyani ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah yakni Ibnu Mubarak tentang orang yang berdoa kemudian mengusap wajahnya, beliau menjawab: “Aku tidak mendapati pijakan (dalil) yang kuat tentang persoalan itu.”

    Abu Syamah (guru Imam Nawawi/salah seorang murid Al-’Iz bin Abdissalam) berkata: “Beliau (Al-’Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak BID’AH yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut” (Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-’Iz bin Abdissalam)

    3. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Imam Syafi’i YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM PENDAPAT TIDAK SAMPAINYA BACAAN AL-QUR’AN KEPADA MAYIT?
    Imam An-Nawawi berkata: “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat.” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)
    Imam Nawawi di dalam kitab Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab dia mengatakan: “Adalah, membaca al-Qur’an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati atau sebagainya adalah tidak sampai kepada mayat yang dikirimkan menurut Jumhurul Ulama dan imam Syafi’i. Keterangan ini telah diulang beberapa kali oleh imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Shohih Muslim” (As-Subuki, Taklimatul Majmu’, Syarah Muhazzab: juz 10 hal: 426).

    4. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Imam Syafi’i YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBENCI SELAMATAN KEMATIAN?
    Imam Syafi’i berkata dalam kitabnya Al-Umm, “Aku tidak suka mat’am yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat-pen) meskipun di situ tiada tangisan karena hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan.”( Al-Umm oleh Imam Syafi’i : juz 1; hal 248)

    Imam Nawawi (Ulama Mazhab Syafi’i) dalam kitab Al-Majmu’ syarah Muhadzdzab menyebutkan, “Penyediaan makanan yang dilakukan oleh keluarga kematian dan berkumpulnya orang yang ramai di rumahnya, adalah tidak ada nasnya sama sekali, yang jelasnya semua itu adalah bid’ah yang tidak disunatkan.” (Al-Majmu’ syarah Muhadzdzab oleh Nawawi, juz 5, hal 286)

    Dari Sahabat Jarir bin Abdullah Al Bajali, dia berkata: “Kami (para sahabat Nabi) memandang berkumpul keluarga mayit dan pembuatan makanan setelah penguburannya termasuk niyahah (meratap). (HR. Ahmad dan ini lafazhnya, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh An Nawawi, Al Bushiri, dan Al Albani)

    Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, ” Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah)

    Rasulullah bersabda: “Barangsiapa meratapinya, maka ia akan diadzab pada hari kiamat atas apa yang ia ratapi”. (HR. Bukhari III/126 Ahkaam Al-Janaaiz hal.46)

    5. ORANG YANG BERTAQLID KEPADA Imam Syafi’i YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM MEMBENCI MENEMBOK KUBURAN?
    Imam Syafi’i berkata: “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan. Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun di atas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm oleh Imam Syafi’i 1/277)
    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Al Hiyyaj, ia berkata: sesungguhnya Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku: “Maukah engkau aku utus untuk suatu misi sebagaimana Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam mengutusku? Yaitu janganlah engkau biarkan ada sebuah gambar pun tanpa engkau musnahkan, dan janganlah engkau biarkan ada sebuah kuburan yang menonjol kecuali engkau ratakan.” (HR. Muslim 979)
    Ibnu Hajar dalam kitab al-Minhaj dan Syarahnya, terdapat keterangan yang isinya, “Dimakruhkan menembok kuburan dan membuat bangunan di atasnya. Demikian pula menulis sesuatu di atas kuburan, karena ada larangan yang shahih terhadap ketiga perbuatan ini, baik tulisan itu berupa nama mayit yang dikubur maupun tulisan yang lain, dan baik tulisan itu di atas papan yang dipasang di atas kepala mayit maupun di tempat yang lain.”

    KESIMPULAN:
    Imam As-Syafi’i dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam yang juga bermadzhab syafiiyah yang dituduh mendukung bid’ah hasanah ternyata tidak mendukung bid’ah-bid’ah hasanah yang sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i.

    PERHATIAN:
    Pada tulisan saya ini, saya tidak menjelek-jelekkan Imam Syafi’i. Beliau adalah salah seorang imam Ahlus Sunnah seperti para imam Ahlus Sunnah yang lain. Justru sebaliknya, saya berprasangka baik kepada beliau dengan menganggap bahwa yang beliau maksud bid’ah terpuji adalah bid’ah dalam arti bahasa bukan dalam arti syariat melihat dari perkataan beliau yang lain, dan juga penjelasan Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tentang perkataan Imam Syafi’i tersebut. Buktinya beliau membenci perbuatan bid’ah hasanah seperti yang dipraktekkan orang-orang yang mengaku bermazhab Syafi’i. Dengan ini berarti Imam Syafi’i tidak menyalahi hadits Nabi yang menyatakan bahwa semua bid’ah itu sesat dan beliau telah berlepas diri dari orang-orang yang mengaku mengikuti beliau.

    Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan permisi mohon undur diri.

    PANTUN:
    Beli mainan di Pasar Legi
    Jika ada kalimat yang kurang berkenan jangan dimasukkan dalam hati.

    Balas

  16. Posted by joko lelono on 20 Juli 2011 at 5:40 pm

    Waduh, mbulet wae , wis dijelaskan dari depan, kata2 “kullu bid’atin” itu bukan “kullu kullin” tetapi “kullu kulliyatin”, sebab ada nash2 lain yang memalingkannya.

    Jadi perkataan sahabat dan tabi’in dengan redaksi “kullu…..” itu artinya “tiap-tiap” tetapi tidak menepis adanya pengecualian.

    seperti ayat “wa ja’alnaa minal maai kulla syai’in hayyin”, ternyata ada yang hayyin tetapi tidak dari maa’.

    Wis mas nek copas2 tok capek sing moco, sebab gak ada alur berfikirnya blas

    Balas

  17. Posted by joko lelono on 20 Juli 2011 at 6:42 pm

    Mas Susanto copas :

    “Abu Syammah (ulama mazhab Syafi’i/guru Imam Nawawi Asy-Syafi’i) berkata: “Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang SYARI’AT adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shohih dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, dan atsar para Sahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama”.

    Namun kalimat itu Artinya :
    “Jika ada perisitiwa di tengah2 masyarakat, yang secara shorih tidak disebut dalilnya, maka seorang ‘alim harus menggali hukumnya dari Qur’an dan Sunnah, bukan dengan hawa nafsunys”. Jadi tidak bisa disimpulkan seluruh bid’ah itu dholalah.

    Mas Sus Copas :

    ” Berkata Ibnu Rojab Al-Hanbali, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminologi). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminologi (syar’iat-pen) karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267).

    Comment :

    Nah lo, Ibnu Rojab menyetujui bid’ah madzmumah adalah yang tidak ada dasar sama sekali, Bid’ah mahmudah adalah yang ada dasarnya. Berarti ada dasarnya pun bisa dikatakan bid’ah, namun bid’ah mahmudah. Jadi peringatan maulid nabi, peringatan isro’ mi’roj, tahlilan mendo’akan mayat, adalah tradisi2 baru, berarti bid’ah secara bahasa, dan tergolong bid’ah mahmudah sebab tradisi baru yang ada kesesuaiannya dengan syari’at ( silakan lihat posting mas Jundu Muhammad tentang masalah2 ini, semuanya bid’ah –secara bahasa — namun mahmudah sebab sesuai dengan sunnah ).

    Mas Sus Copas :

    “Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Ikutilah (petunjuk Nabi-pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Rasulullah-pen) itu sudah cukup bagi kalian. SEMUA bid’ah adalah sesat.” (Ath-Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al-Haitsami menyatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya adalah para perawi yang dipakai dalam Kitab Shohih)”.

    Comment :
    “Semua bid’ah ( kullu bid’ah ) disini sepadan dengan “wa ja’alna minal maa’ kulla syaiin hayyin”, artinya ada yang hidup dicipta tidak dari air, dan ada yang bid’ah namun tidak dholalah, yakni hal2 baru yang di-ijtihadkan aatau ada dalilnya dari nash.

    Mas sus “Ijtihad” :

    Setelah mengetahui latar belakang tersebut, maka sholat tarawih berjamaah bukanlah termasuk bid’ah. Ucapan Umar (sebaik-baik bid’ah adalah ini) hanyalah merupakan
    bid’ah menurut bahasa, bukan bid’ah syariah yg diancam dlm agama karena ada petunjuknya dari Rasulullah.

    Comment :
    Rasulullah tidak pernah memerintahkan sholat tarawih berjamaah setiap malam, namun sahabat Umar memprakarsai setiap malam, dan ini bid’ah.

    Bid’ah lughowiyah atau bid’ah terminologis ? Jika bid’ah lughowiyah mengapa dicari-carikan dalil bahwa Rosul dulu juga jama’ah tarawih ? Kan bid’ah lughowiyah ini tidak perlu ada dalilnya ? Jika bid’ah terminologis berarti Umar dholalah –astaghfirullah. Lagi pula adakah Rasul pernah menyebut istilah “tarawih” ? Berarti istilah sholat tarawhih bid’ah dong ? Lalu mengapa kitab2 hadits dan fiqh menyebut tarawih ? Jelaslah ini juga bid’ah namun bid’ah mahmudah sebab ada kesesuaian dengan nash.

    Ending : Ungkapan “Bid’ah syariah” itu tidak tepat dalam struktur bahasa Arab, dan tidak bisa diterjemahkan “bid’ah secara syar’i” . Entah dari mana mas sus memperoleh istilah “Bid’ah Syari’ah ” ini.

    Balas

  18. “Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan permisi mohon undur diri.”

    Kok langsung undur diri? mbok diminum dulu kopi-nya dan monggo di santap kue2 ala kadarnya…..:)

    Balas

  19. asalamualaikum,,,
    berbagai macam ragam cara ibadah yang diajarkan oleh para ulama,kyai,dai,ustadz dan mualim. Namun masih saja banyak perbedaan satu dengan yang lainnya. Bahkan perbedaan itu membawa perselisihan umat. padahal sumber utama yang mengajarkan segala ibadah itu hanya 1 orang. yaitu rasulallah SAW. jadi yang seharusnya jadi panutan itu Rasulallah SAW, bukan ulama/kyai/ustadz/dai. jadi marilah kita bersatu dalam sunnah rasul.
    rasul bersabda : “Aku (Rasul) tinggalkan 2 perkara kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya. yaitu kitabullah ( Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW” ( HR. MUSLIM)
    dan apa bila kalian tetap kekeh dg pendapat masing-masing jalani saja apa yang menjadi keyakinan kalian,,semoga ALLAH meridhoi..
    ISLAM rahmatan lil ‘alamin, jangan biarkan kita tercerai-berai/saling menghina/menghujam/mengolok-olok.
    besarkan umat islam dengan saling menghargai,,

    salam perdamaian bagi kaum muslimin semua.

    Balas

  20. salam alikum.islam adalah agama yang ajaran nya ilmiah bukan doktriniyyah…sekte wahabi adlh sekte yang menjadikan islam sebagai ajaran doktriniyyah.berhati hati lah

    Balas

    • Alloh SWT telah menutup hati para wahabiyah ini terbukti seberapa lama n banyak dijelaskan tentang kebenaran mereka tetap ngeyel tidak mau terima bahkan menghujat para ulama ahlussunnah wal jama’ah, bahkan berani menilai amaliyah seseorg sesat,syirik dll seolah mereka tuhan yang berhak menilai amal seseorg,,,naudzubillah,,,sikap mereka persis sama dengan sikap para yahudi yang selalu ngeyel,…

      Balas

  21. Posted by seyyun on 12 November 2011 at 1:22 pm

    penjelasan tentang bidaah hasanah sudah jelas disisi ulama mka yg syubht kyak wahabi gak bisa dipakai

    Balas

  22. Posted by Jani on 17 November 2011 at 12:40 am

    Para pelaku bid’ah di dalam syariat islam termasuk orang-orang munafik tulen. Mereka buta dan tuli, biar dikasih pemahaman apa pun akan tetap begitu….

    Balas

  23. Posted by sedangsepi on 26 November 2011 at 11:51 am

    KOMPARASI MAKNA BID’AH SECARA LUGHAWI DAN SYAR’I

    1. Pengertian bid’ah dalam kacamata bahasa (lughah) lebih umum dibanding makna syar’inya. Antara dua makna ini ada keumuman dan kekhususan yang mutlak, karena setiap bid’ah syar’iyyah masuk dalam pengertian bid’ah lughawiyyah, namun tidak sebaliknya, karena sesungguhnya sebagian bid’ah lughawiyyah seperti penemuan atau pengada-adaan yang sifatnya materi tidak termasuk dalam pengertian bid’ah secara syari’at [Lihat Iqhtidlaush Shirathil Mustaqim 2/590]

    2. Jika dikatakan bid’ah secara mutlak, maka itu adalah bid’ah yang dimaksud oleh hadits “Setiap bid’ah itu sesat”, dan bid’ah lughawiyyah tidak termasuk di dalamnya, oleh sebab itu sesungguhnya bid’ah syar’iyyah disifati dengan dlalalah (sesat) dan mardudah (ditolak). Pemberian sifat ini sangat umum dan menyeluruh tanpa pengecualian, berbeda dengan bid’ah lughawiyyah, maka jenis bid’ah ini tidak termasuk yang dimaksud oleh hadits : “Setiap bid’ah itu sesat”, sebab bid’ah lughawiyyah itu tidak bisa diembel-embeli sifat sesat dan celaan serta serta tidak bisa dihukumi ditolak dan batil.

    [Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]
    sumber : al manhaj.or.id

    Balas

  24. orang orang wahabi memang pada gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Balas

  25. Memahami pro dan kontra tentang bid’ah meski menarik, namun juga, seperti melelahkan, cenderung lagha, yang dalam Surat Al-Mukminuun ayat 3, yang orang mukmin harus menghindarinya. Masing-masing berdiri pada pijakan dalil, pembenaran kebiasaan, membela golongan yang dianut selama ini. Kesan saya dalam membaca perdebatan ini, kok –maaf ya–, tidak menambah kedekatan atau taqarrub kepada Allah. Jelas dalam ayat Al-Qur’a bahwa, barangsiapa mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah).
    Sebenarnya mempertahankan bid’ah dengan mengusung sejumlah dalil, intinya hanya ingin mengatakan bahwa kebiasaan yang mereka lakukan selama ini adalah benar, meski Rasulullah sendiri selama hidupnya tidak pernah melakukannya. Demikian juga sahabat Khulafaaur Rasyidin, seperti dalam hal peringatan Maulid Nabi. Masak Rasulullah memperingati ulang tahun kelahirannya? Tidak akan ditemuklan kebiasaan itu di operiode sahabat khulafaur rasyidiin.
    Namun, karena sudah terlanjur dilakukan segolongan kaum muslimin sejak abad ke-empat Hijriyah, ya, dibela mati-matian. Astaghfirullah. Apakah tidak takut kepada Allah dan takut hisab di akhirat, yang saat itu Rasulullah menjadi saksi. Kenapa manusia itu lebih takut dan malu kepada manusia dan tidak lebih takut dan malu kepada Allah?
    Saya lebih memilih takut kepada Allah dan itba’ Rasulullah, dalam kasus seperti peringatan maulid itu.
    Dalam hal ini, ternyata kebiasaan yang kita lakukan selama ini –entah karena pengaruh golongan dimana kita berada, yang ternyata tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah, membuat diri kita menjadi repot. Belum lagi nanti di hadapan Allah harus mempertanggungjawabkan atas perbuatan itu dengan saksi Rasulullah. Dan semua kita mengetahui bahwa Rasulullah dan para sahabat khulafaaur rasyidin tidajk pernah melakukan itu. Dalam Kitab Shahih Bukhari Muslim dan juga kutubus sittah, tak akan dijumpai secuil hadist pun tentang perintah atau contoh peringatan maulid nabi itu.
    Namun, saya menyadari, membuka masalah ini akan “membakar jenggot” para kyai, ulama, habaib dan mereka yang mempraktekkannya. Dan sudah dapat diduga, mereka akan mengusung argumentasi aqliyah, karena tak didapati naqliyah.
    Saya hanya ingin saudaraku kaum muslimin dan mukminin menjadi lebih mencintai Allah dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah. Karena hanya dengan cara itu “yuhbibkumullah”. Dan sudah pasti qath’i, Rasulullah tidak pernah memperingati ulang tahun kelahirannya, demikian para Khulafaur Rasyidiin.

    Balas

    • Rasulullah juga tidak pernah berdakwah via internet kang. Khulafaur Rasyidin juga tidak pernah SMS-an tausiyah via Handphone….

      Maulid Nabi bukan kewajiban, tidak merubah rukun Islam, tidak berdosa jika tidak melakukan dan ternyata, maulid Nabi membawa banyak kebaikan. Kalau mau tau kebaikannya, datanglah kepada salah satu dari kami yang sudah merasakan seribu satu kebaikan di dalam maulid Nabi. Terlalu sempit ruangan ini untuk menjelaskan.

      Balas

    • tambahan ya ….
      apakah njenengan pernah mendiskusikan langsung bersama para kyai dan ulama soal hal ini? jangan2 hanya dugaan saja, beliau akan kebakaran jenggot. :)

      maulid nabi adalah salah satu contoh bidah namun inilah contoh nyata bidah yang membawa kebaikan, bidah hasanah. Apakah kehidupan kita sehari2 ini tidak diliputi bidah? sekarang sebutkan dalil berdakwah via internet. Internet ini menggunakan software komputer. Software ini dibuat oleh ahli komputer dari Amerika. Kita bahkan mungkin menggunakan sofware windows bajakan, tidak membeli. Pemiliknya seorang nasrani atau yahudi. Berdakwah adalah ibadah dan perintah jelas dalam al qur’an.

      pertanyaan saya, apakah hukum berdakwah via internet? saya menduga jawaban saudara adalah boleh. Karena internet hanya sarana saja. Soal duniawi, Islam menyerahkan kepada kita bagaimana baiknya. JIka ini jawaban Anda, anda harus meralat prinsip bidah/sesat dalam maulid nabi atau amalan lainnya yg selama ini dianggap bidah/sesat. Kenapa? Fikirlah sendiri. :)

      Balas

      • Terima kasih atas tanggapannya. Saran Anda apa saya sudah berdiskusi dengan ulama dan atau kyai itu saya hargai. Namun, menurut Anda sendiri apa ulama dan atau kyai itu derajatnya lebih tinggi ketimbang Rasulullah, kenapa tidak langsung berdiskusi dengan Rasulullagh dengan menyimak kitab-kitab Sunnah? Apa ulama dan kyai itu mempunyai hak untuk membuat syari’at? Bukankah ulama itu pewaris Rasulullah dan Rasulullah tidak pernah mewariskan ulang tahun kelahirannya sebagai syariat bagi ummatnya. Kok berani-beraninya mereka itu mempelopori peringatan ulang tahun kelahiran dan mengatakan bahwa ini syariat Rasulullah?
        Akan halnya demikian banyaknya kebaikan dari memperingati maulud itu, kalaulah ada hanya baik menurut akal Anda. Dan pasti tidak baik menurut Rasulullah. Sebab, bila baik menurut Rasulullah, pastilah beliau mensyariatkan. Jadi, baik menurut Anda itu sebenarnya tidak baik menurut syariat Rasulullah. Nanti, di akhirat, Anda akan sangat menyesal bila mendasarkan syariat hanya kepada akal Anda. Demikian juga ulama, kyai dan habaib yang memperingati maulid itu akan menyesal semua. Karena telah lancang mengamalkan peringatan maulid dan itu di klaim sebagai syariat Rasulullah. Barangsiapa yang berbohong atas nama ku (Rasulullah), maka tempatnya hanya pantas di neraka.

        Balas

        • Silakan datang dulu ke para kyai, ulama dan habib yang menganjurkan maulid Nabi…karena beliau2 orang-orang yang sholeh dan juga mengikuti kitab2 sunnah….Jadi sampeyan butuh dalil tentang Maulid nabi? Monggo minta ke mas admin situs ini. Gak perlu susah2 harus bertemu Rasulullah jika hanya ingin dalil2…karena ketika kita bersholawat dan memberi salam kepada Beliau SAW pun, Rasulullah akan menjawab doa dan salam kita…ingin merasakan kehadiran Rasulullah? silakan datang ke majlis sholawat dan dzikir…:)

          Balas

          • Rasulullah bersabda, “taraktu fiikum amraini, faintamasaktum bihimaa lan tadhillu, kitabullah wasunnatii”, Aku (Rasulullah) tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh pada keduanya tidak akan sesat, kitabullah dan sunnahku”. Jadi, apa habib atau ulama itu tetap harus –bahkan wajib–, berpegang teguh pada keduanya agar supaya tidak sesat. Jadi, supaya tidak sesat itu caranya merujuk kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah.

            Balas

            • insha Allah, peringatan Maulid sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, bahkan terdapat di dalam Al Qur;an. Para kyai, ulama dan habib pun tentu sudah mempelajarinya. Saya hanya mengajak teman-teman, saudara2 yang belum bisa memahami betapa pentingnya peringatan Maulid Nabi SAW ini untuk berfikir dengan jernih, dengan hati, tidak didasarkan kepada ego. Saya memahami, mereka yang tidak setuju dengan amalan seperti ini, karena kekhawatiran mereka termasuk umat yang mengada2kan amalan yang tidak ada tuntunannya dan terjebak dalam amalan bidah yang sesat. Saya sangat paham, karena saya juga mantan aktivis ormas keagamaan yang juga menentang maulid dll sampai detik ini. Tetapi berkat Hidayah Allah swt, mata hati saya terbuka, ketika semua ego pengetahuan terbatas saya, dikesampingkan dulu. Dengan bertanya kepada seorang kyai/ulama yang cukup intelektual namun tawaddu’, saya ditunjukkan betapa mulianya amalan2 seperti ini. Artinya saya bertanya secara seimbang. Baik kepada yang menentang, maupun kepada yang menganjurkan. Berniatlah sungguh-sungguh mencari kebenaran, bukan pembenaran. Sangat sayang jika ummat meninggalkan peringatan maulid Nabi SAW, hanya karena anggapan yang keliru dan ketakukan yang berlebihan….banyak hal yang seharusnya kita takuti dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih berbahaya dari anggapan sesat peringatan Maulid nabi saw, tp kita tidak menyadarinya….wallahua’lam.

              Balas

              • Terima kasih atas nasehat Mas Nindrianto. Saya memahami apa yang Anda kemukakan. Namun, saran Anda itu mendekati ke taklid, percaya sepenuhnya kepada tokoh agama, tanpa cek kebenarannya dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah. Dalam beragama, kita itu tidak boleh taklid. Sebab, nanti di akhirat kita harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan selama di dunia. Setiap amal perbuatan yang disandarkan kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah, hanya itu yang selamat.
                Jadi, sebenarnya saya menunggu-nunggu dalil naqli tentang maulud yang bersumber dari kedua kitab tersebut. Kalau memang ada, tolong segera bagikan, daripada muter-muter pakai akal.

              • jika belum puas juga, silakan ke sini
                http://agus-mustofa.blogspot.com/2008/07/dalil-tentang-maulid-nabi-muhammad-saw.html

                saya kira semua itu akan belum cukup, jika kita masih mengedepankan akal dan ego…astaghfirullah..

            • saudara irchamni menulis:
              [Rasulullah bersabda, “taraktu fiikum amraini, faintamasaktum bihimaa lan tadhillu, kitabullah wasunnatii”, Aku (Rasulullah) tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh pada keduanya tidak akan sesat, kitabullah dan sunnahku”. Jadi, apa habib atau ulama itu tetap harus –bahkan wajib–, berpegang teguh pada keduanya agar supaya tidak sesat. Jadi, supaya tidak sesat itu caranya merujuk kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah.]

              betul, memang ada hadits shohih seperti yang saudara kutip. akan tetapi,
              apakah saudara irchamni lupa atau mungkin tidak tahu, atau mungkin sengaja menyembunyikan adanya hadits shohih lain, yaitu ada hadits shohih yang menyebutkan juga untuk berpegang teguh dengan ‘itrah/keturunan ahl al-bait Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam?

              Di dalam Kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi no.3788 disebutkan :
              حدثنا علي بن المنذر كوفي حدثنا محمد بن فضيل قال حدثنا الأعمش عن عطية عن أبي سعيد و الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن زيد بن أرقم رضي الله عنهما قالا : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الآخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض وعترتي أهل بيتي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما
              Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya”

              Jadi, mengikuti Sunnah Rasul dan berpegang dengan itrah keturunan Rasul juga merupakan perintah dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

              ‘itrah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam akan ada terus hingga tiba saatnya mereka semuanya nanti akan berkumpul dan mendatangi Rasulullah di telaga Haudh pada hari kiamat.

              Jika saudara irchamni menganggap mengikuti kepada para habib itu adalah hal yang salah dan sesat, maka dapat dipastikan justru yang pendapat yang melarang untuk mengikuti kepada para habib itulah pendapat yang salah karena bertentangan dengan hadits Shohih ini.

              =====
              tentang merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah itu betul dan benar. akan tetapi cara untuk merujuk kepada al-Quran dan Sunnah itu TIDAK BISA HANYA DENGAN MENGANDALKAN AKAL PIKIRAN KITA SENDIRI. Kenapa? Karena kita hanyalah orang-orang awam.

              Mengenai al-Quran, Saya tanya kepada saudara irchamni:
              1. sudah hafalkah al-Quran 30 Juz?
              2. sudah fahamkah asbab an-nuzul atas ayat-ayat al-Quran?
              3. sudah fahamkah tafsirnya?
              4. ada berapa macam qira’at al-Quran?
              5. sudah fahamkah ilmu tajwid?
              6. dapatkah saudara membaca al-Quran yang tanpa syakal/harokat dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid?

              Mengenai as-Sunnah, saya mau tanya kepada saudara irchamni:
              1. sudah berapa hadits shohih yang saudara hafalkan lengkap dengan hukum sanad dan matannya?
              2. sudahkah saudara faham ilmu diroyah dan mustholahul hadits?
              3. sudahkah saudara faham ilmu asbabul wurud atas suatu hadits?
              4. sudahkah saudara faham ilmu nahwu, sharaf, badi’, ma’ani?

              pertanyaan-pertanyaan saya diatas hanya sebagian kecil saja dari ilmu-ilmu yang diperlukan untuk memahami al-Quran dan as-Sunnah.

              Jika, saudara irchamni tidak memiliki ilmu-ilmu yang saya sebutkan diatas, maka dapat dipastikan, saudara irchamni di dalam merujuk al-Quran dan as-Sunnah hanya menurut akalnya sendiri yang bodoh.

              Sangat berbeda sekali jika di dalam merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah dengan mengikuti para Ulama’ yang sudah jelas kapasitas keilmuannya, maka kita jauh lebih mendekati kepada kebenaran daripada mengikuti pendapat akal orang-orang awam seperti kita.

              Jangan lupa, al-Quran tidak menyuruh kita memahami al-Quran dengan akal sendiri, justru al-Quran menyuruh bertanya kepada ulama’: “Fas’aluu ahladzdzikri inkuntum laa ta’lamuun.” –bertanyalah kepada ulama’ jika kalian tidak mengetahui.

              Balas

              • Insha Allah saya tidak taklid buta. Saya bukan ahli hadist atau ahli tafsir, namun saya bisa tunjukkan salah satu rujukan dalil2 Maulid :

                Tidak jauh2 ke situs ini saja (maaf kalo melancangi sdr Jundu Muhammad :)

                http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/03/09/sejarah-singkat-maulid-dan-sanggahan-bagi-kalangan-anti-maulid/

                atau ke sini..

                http://www.madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=1&var=detail&id=327

                atau ke … para ulama, ahli hadist/tafsir yang menganjurkan pentingnya Maulid Nabiyullah Muhammad Salallahu alaihi wassalam..

                Sejak semula saya mengajak membuka hati, bukan akal. Mudah2an hati kita senantiasa terbuka dan mendapat petunjuk Allah swt. Amiin.

              • Mas Nindrianto, terima kasih web site-nya. Justru disitu jelas, mulainya abad ke 7 Hijriah, jadi jauh setelah Rsulullah wafat. Maka itu, tidak bakalan ada hadist dari Rasulullah tentang peringatan maulid nabi.
                Tentang ‘ulama yang pro-maulid, mereka akan mempertanggungjawabkan pendapatnya kepada Allah di hari hisab nanti. Karena Rasulullah memang tidak men-sunnahkannya. Maka, nanti di akhirat ada segolongan ummat yang dijauhkan dari telaga dan Rasulullah berseru, “ummatii, ummatii”. Kemudian ada suara,”Muhammad, kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu.”

              • oh begitu ya? hehehe. Itulah jika akal dikedepankan…:)

              • Mas Abdullah Fakir, terima kasih banyak. Tentang itrah, itu seperti yang Anda sebutkan dalam hadist yang Anda kutip, yaitu “…Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga.” Artinya, itrah yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah. Bila ada itrah yang menyesihi keduanya, itu pasti itrah yang sesat. Anda tulis, “… akan tetapi cara untuk merujuk kepada al-Quran dan Sunnah itu TIDAK BISA HANYA DENGAN MENGANDALKAN AKAL PIKIRAN KITA SENDIRI. Kenapa? Karena kita hanyalah orang-orang awam.” Justru itu, — supaya tidak hanya mengandalkan akal saja– saya bertanya kepada Anda, mana dalil dari kitabullah dan As-Sunnah yang memerintahkan maulid nabi. Dan, insya Allah tidak bakalan ada.

  26. Posted by Nahl Muslim on 29 Januari 2012 at 9:10 pm

    Ini sebenarnya sudah mewakili jawaban untuk mAS iRCHANMI Posted by abdullah al-faqiir on 5 Januari 2012 at 8:27 am

    Mas Irchanmi ini lucu lho…kalau dikatakan tanya kyai dan Habib…selalu dibenturkan dengan ” Lebih baik mana dengan Rosululloh” ….mas mas…sampeyan ini polos benar,..yang namanya ikut sunnah itu wajib..tapi harus ada yang menjelaskan , ya yang menjelaskan itu ya ulama.. anda ndak bisa ujug ujug membaca hadist dipahami sendiri , mengambil hukum sendiri…obatnya kebodohan itu bertanya pada ulama. Karena anda dengan hadist Rosululloh itu terpisah 1400 tahun lebih…ya yang menyampaikan hadist dan menjelaskannya hingga sampai ke kita itu ya Ulama…Coba dibaca lagi postingan mas jundu diatas…semoga antum diberi kepahaman…melihat komen-komen antum itu terlihat anda tidak membaca dan memahami postingan diatas. Semoga Alloh memberi kepahaman kepada kita semua ..AAmiin.

    Balas

  27. Di Islamic Center Jakarta Utara

    Ada kisah menarik berkaitan dengan bid’ah hasanah yang perlu diceritakan di sini. Kisah ini pengalaman pribadi Ali Rahmat, laki-laki gemuk yang sekarang tinggal di Jakarta Pusat. Beliau pernah kuliah di Syria setelah tamat dari Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember. Ali Rahmat bercerita, “Pada pertengahan 2009, “”kaum Wahhabi”" mengadakan pengajian di Islamic Center Jakarta Utara. Tampil sebagai pembicara, Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat, dua tokoh “”Wahhabi”" di Indonesia

    yang ingin saya tanyakan kepada antum sebagai Ustadz, anda tahu tentang kebenaran WAHABI yang sudah mendogma di tanah air ini?? yang antum maksud WAHABI itu yang mana, kepada Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum atau kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, jika stigma WAHABI anda tunjukan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab semoga kebaikan akan selalu tertuju kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

    Balas

  28. Posted by Al Fikri Al Faqir on 9 Februari 2012 at 11:21 am

    Jadi Orang Islam itu yang bisa mengikuti jaman, jaman Rasullullah jelas berbeda peradabannya dengan jaman sekarang, kalo kita tidak bisa mengikuti perkembangan jaman maka kita akan terlindas oleh orang-orang orientalis dan nasrani yahudi.
    OTAK DAN PERADABAN boleh mengikuti jaman, Tapi Akhlak dan Akhidah serta Hati tetap Pada ALLAH Subhanahu wa ta’ala dan Rasululllah Muhammad Shalalallahu ‘Alaihi Wassalam.,,,
    Kalo SEMUA BID’AH SESAT…..berarti para Wali yang mensiarkan agama Islam di Tanah jawa adalah PENGHUNI NERAKA????? ……. na’udhzubilahi mindzalid….
    jadi saya menghimbau kepada seluruh umat islam di seluruh dunia….jaga amanah rasul….jaga ukuwah islam….bagi saya….urusan Bid’ah adalah urusan Mulia…selama bid’ah itu baik untuk beribadah pada Allah…
    .
    YANG JELAS BID’AH SESAT ADALAH MENYEMBAH SELAIN PADA ALLAH.. INGKAR KEPADA ALLAH DAN RASULLNYA.

    Balas

    • Posted by shindo on 18 April 2012 at 10:56 pm

      Perbedaan di kalangan umat Islam adalah rahmat.

      Tapi ketika perbedaan yg sifatnya furu’ dijadikan alasan untuk melabeli “sesat”, “kuburuyyin”, “syirik” maka itulah yg bid’ah (dholalah).

      Balas

  29. pendapat anda ro’yi

    Balas

    • Hidayah dari Allah itu tidak lain dan tidak bukan, hanya dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, saudaraku. Itulah yang terbijak. Istilah kapasitas saya, adalah hanya tunduk dan patuh kepada kedua warisan Rasulullah tersebut.
      Memang, dalam kehidupan di dunia ini, yang paling berat adalah meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena sudah terlanjur mengamalkannya, dan menganggap hal itu sebagai benar. Dan, setelah diingatkan dengan yang haq dan sabar (watawaa shauu bil haq watawaa shauu bish shabr), maka selanjutnya adalah istighfar.Saya berani karena Allah, dan takut karena Allah, dan –maaf– tidak kepada manusia, apa pun dia itu ulama atau habib atau apa pun.

      Balas

      • Bang Irchamni yang terhormat,
        Tentu tidak semua ulama dan habib kita ikuti, ini adalah persoalan dasar. Tetapi jika Anda bilang Anda harus patuh kepada Al Quran dan Hadist, itu pun juga hal dasar. Kita tidak perlu berdebat soal hal ini.

        Jika Anda patuh kepada Al Quran dan Al Hadist/Assunnah, maka Anda pun seharusnya mengerti bahwa kita memerlukan pembimbing untuk mengaplikasikan, Ini pun ada di Al Quran dan Al Hadist. Tentu Saudara tau atau sudah lupa?

        Bahkan Anda belajar penggolongan hadist pun dari ulama bukan? Anda tau dari mana soal ilmu2 agama, terjemah Al Quran atau ilmu hadist? Apakah langsung dari Allah dan Rasulullah ? :)

        Balas

  30. Ada perbedaan jelas antara ilmu dan pengetahuan…dengan ilmu, kita bisa lebih santun, lebih menghargai, lebih senang sibuk introspeksi diri….dengan pengetahuan, kita bisa lebih tahu. Tetapi pengetahuan tanpa ilmu, kita lebih cenderung menjadi sombong dan selalu merasa diri paling benar….dalam hal ini, mari kita cari ilmu dalam Islam, bukan sekedar pengetahuan belaka..persoalan bidah sejak dulu ramai diperbincangkan…kenapa tidak ramai memperbincangkan tentang mengapa kita masih santai ketika adzan berkumandang? mengapa kita jarang sholat tahajjud, mengapa bibir kita dibiarkan kering tanpa dzikrullah….mengapa pula kita jarang duduk bersama dengan para ulama dan guru2 agama yang sholeh…?

    Balas

  31. Posted by abid on 20 Februari 2012 at 10:48 pm

    web antum akan di flag wahaby sehingga dihapus dari wordpress seperti blog saya, segera backup atau bikin blog backup nya

    Balas

  32. Saya jadi semakin heran, kenapa orang Islam itu kalau diajak merujuk ke Rasulullah dan Al-Qur’an, demikian berat. Berat ke akalnya. Ada saja alasan, ya Ulama lah, ya habib lah, ya kyai lah. Ini pertanda apa? Pantesan Rasulullah sendiri dalam Al-Qur’an pernah “wadul” ke Allagh, ” yaa rabbii, inna qaumit takhiduu hadzal qur’aani mahjuura”., ya Rabb, sesungguhnya kaumku tidak serius memahami dan mengamalkan Al-Qur’an”. Mereka main-main, tidak sepenuh hati.
    Alasannya 1400 abad harus ada “alat bantu”. Justru 1400 tahun atau sampai kapanpun Al-Quran itu tetap orisinil, authentic, karena Allah sendiri yang menjaga dan menjamin.
    Saya heran, manusia itu diberi akal, kitabullah dan As Sunnah, kok maunya taklid buta.
    Terus, kalau kalah argumentasi, ngeloyor ke topik lain yang nggak relevan.

    Balas

  33. Posted by hadinata on 22 Februari 2012 at 5:28 pm

    Ulama itu kan pewaris Nabi ya kalau gak nanya kepada ulama mau gimana nanya sama tukang bakso? Kalau mau tau sesuatu pastinya kita ke ahli bukan ke siapa2. Terang2 ulama itu ambilnya dari mana kalau bukan Rasulullah juga??

    Balas

    • Ulama itu memang pewaris para nabi. Harap hati-hati perbedaan antara keduanya, yang nabi itu ma’shum dan yang ulama itu tidak ma’shum. Ulama yang benar-benar “sami’na wa atho’na” kepada Allah dan Rasulullah, itulah yang sebenarnya ulama. Itulah yang disebutkan dalam akhir Surah Al-Baqarah. Bagaimana agar kita mampu mengenalinya? Sederhana saja, baca Tafsir Al-Qur’an (misalnya Tafsir Ibnu Katsier atau Al-Qurthubi) dan Shahih Bukhari dan Muslim (Kitab Al-Lu’Lu’u wal marjaan), syukur bila menyimak Kutubus Sittah. Bila tingkah laku mereka sesuai dengan keduanya, itulah ulama. Bila ada selisih antara Al-Quran dan As Sunnah dengan ulama atau habib, tetap pilih Allah dan RasulNya. Jangan sebaliknya, sudah tahu selisih dan salah tetap saja mati-matian membela. Astaghfirullah.
      Dengan cara seperti itu, insya Allah kita akan selamat di dunia dan di akhirat.
      Kenapa prinsip hidup seperti ini penting, karena setiap keputusan kita dalam beragama bahkan setiap tindakan yang kita atas namakan agama, kita akan –mau tidak mau– harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah kelak di akhirat. Dan, kita tidak bertanggungjawab mendasarkan tindakan kita kepada selain keduanya. Ada banyak peringatan Allah tentang hal ini.
      Adalah sikap yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat apabila kita taklid begitu saja menyandarkan tanpa reserve kepada seseorang yang telah terlanjur diberi label ulama oleh orang banyak.
      Orang banyak atau kebanyakan orang itu disebutkan Allah “…yudhilluuka ‘an sabilihi”, menyesatkan kalian dari jalan Allah.
      Ahli bid’ah itu, jarang yang bertobat. Jarang yang mau mengakui kekhilafan bid’ahnya. Nggak percaya, lihat saja nanti di akhirat.

      Balas

      • Dari komentar Anda, rupanya Anda tidak percaya jika ulama yang kami ikuti adalah orang2 yang taat mengikuti Al Qur’an dan Assunnah ya? Sebegitu hebatkah ilmu Anda sehingga meragukan ulama2 itu? Bisakah Anda sebutkan ulama2 mana yang kami anut tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah?

        Sebelum anda membid’ah2kan amalan orang lain, lebih baik Anda introspeksi dulu lah….

        Golongan Anda pun begitu sombong kok, tau ilmu sedikit, sudah berani mengkafirkan yang lain…dan jarang yang mau mengakui kesombongannya…nggak percaya kan? Sekarang saja sudah terbukti kok. Gak percaya juga kan? Lihat saja nanti di akhirat…:)

        Balas

        • Sebenarnya, yang mem-bid’ahkan itu bukan saya, apalah kapasitas saya. Akan tetapi Rasulullah sendiri, juga para sahabat, para tabi’in dan para tabi’it tabi’in. Mau tahu buktinya? Semua mereka itu tidak pernah memperingati hari lahir Rasulullah. Mereka tidak pernah merayakan ulang tahun. Kenapa, karena Rasulullah -selama kerasulanbeliau selama kurang lebih 23 tahun–tidak pernah mensyari’atkan agar ummatnya memperingati hari lahir beliau alias berulang tahun, apalagi ulang tahun kematian alias khaul, yang bayak dipraktekkan sebagian ummat Islam di Indonesia. Yang berhak menyampaikan syariat itu Rasulullah, karena beliau mendapat tugas untuk itu dari Allah. Maaf, syariat itu bukan dari ulama atau habib atau siapapun. Itu pun, Rasulullah itu hanya menyampaikan. Dan apa semua yang disampaikan (tabligh) Rasulullah itu dari Allah (laa yantiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyu yuukhaa).
          Status ‘ulama sebagai pewaris para nabi itu, artinya patuh mutlak tanpa syarat atas syariat yang dibawa Rasulullah, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama sekali tidak ada hak bagi ulama untuk membuat syariat Islam. Prinsip ini perlu disampaikan secara jelas dan tegas.
          Perlu saya sampaikan, bila benar media berbagi pendapat ini untuk mencari ridho Allah, maka dalam berargumentasi masalah agama itu tidak usah pakai marah segala, Dalam Al-Qur’an disebutkan, ciri orang mukmin itu adalah mereka yang mampu menahan amarahnya. Apalagi yang saya sampaikan itu dari Al-Qur’an dan As Sunnah. Coba simak sekali lagi dengan kepala dingin dan dengan hati yang penuh mengharap hidayah dari Allah. Insya Allah dengan cara begitu, kita akan lebih dekat dengan Allah alias taqwa.

          Balas

          • Tidak ada yang marah, saudaraku..
            Saya hanya mengikuti alur komentar Anda. Coba disimak lagi isi postingan ini, yang khusus menjelaskan tentang dasar2 Bidah Hasanah.

            Jika Anda memang mengakui “APALAH KAPASITAS SAYA” seharusnya anda harus bertanya lebih dahulu, bukan malah membawa nama Rasulullah saw untuk dijadikan alat memvonis, hanya semata Anda tidak mampu memahami sesuatu.

            Secara tersirat juga, kelihatan, komentar Anda tidak konsisten. Jika memang Anda seorang yang rendah ilmu, maka, Anda pun terlalu berani mengatakan bahwa ulama2 yang menganjurkan Maulid Nabi SAW itu adalah ulama2 yang tidak sejalan dengan syariat yang dibawa Rasulullah saw. Padahal di awal komentar, anda sudah mengatakan “APALAH KAPASITAS SAYA”. Ini pun anda sudah tidak konsisten.

            JIka anda menyadari kekurangan ilmu, termasuk saya yang memang bukan siapa2, maka jalan terbijak yang harus kita lakukan adalah janganlah memvonis sesuatu yang berbeda, akan tetapi bertanyalah dengan rendah hati kemudian mengharap hidayah dari Allah swt.

            Balas

          • Posted by shindo on 18 April 2012 at 11:38 pm

            Mas numpang tanya…
            Sunnah itu kan asalnya dari hadist to ya?
            Hadist yg ngumpulin para imam…contoh Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dsb

            Lha para imam yg ngumpulin hadist itu pastinya lebih tau hadist drpd sampeyan to? Mereka tentunya lebih tau bid’ah itu apa…apakah ada yg hasanah atau ndak.
            Lha kalau setiap mau nulis hadist imam Bukhari wudhu dulu dan shalat 2 raka’at…itu bid’ah nggak menurut sampeyan???
            Kalau perkataan sampeyan semua bid’ah itu sesat dan pelakunya masuk neraka…berarti imam Bukhari itu sesat dan masuk neraka ya?
            Naudzubillamindzalik…

            Balas

  34. Posted by muflihin on 7 Maret 2012 at 12:57 pm

    beda itu indah kang…..
    “perbedaan pendapat diantara ulama itu rahmat bagi umat ”
    kira-kira spt itu….
    akang-akang sedayana lakukan menurut pengetahuan kalian dan ulama(imam) kalian, SEBAB TIDAK BOLEH MELAKUAKAN TANPA PENGETAHUAN. dan kami yakin para ulama kami tidak sembarangan berkata dan berbuat,melainkan mereka mengetahui dasar keilmuan dan pengetahuany, jadi tak usahlah mengkafirkan dan mengolok-olok yang melakukan bid’ah toh mereka ada imamnya sendiri-sendiri,
    manusia akan dimasukan ke surga dengan berbagai (macam-macam) golongan, ada yang cinta dzikir (tahlil kita niatkan dzikir lho…) ,ada yang gemar shodaqoh(sodaqoh tidak selalu yang berbentuk benda lho…..), dll. dan yakinlah insya Allah kita yang percaya ALLAH dAN ROSULnya akan masuk surga, cuman kita ga tahu duluan dul wahab apa kang Syafi’ie…. pernahkah kita membaca dalam al-Qur’an “amal kami untuk kami dan amal kalian untuk kalian”?….. ;():p#Close

    Balas

  35. Posted by aswaja selalu on 14 Maret 2012 at 4:18 pm

    sayangnya wahabiyun mempunyai jargon ” kullu bid’atin dholalah”……ga mau mengaitkan lagi dg Hadits yg lain….ingatlah akang-2 wahabiyun, semua Hadits Nabi saw saling berkaitan, TIDAK ADA P E R T E N T A N G A N………..

    Jika Logika & Hawa Nafsu menguasai pikiran wahabiyun…yaaaah ente semua seperti nafsu untuk minum air langsung dari galon….mungkin galonnya diangkat ke mulutnya, diminum deh, emang sih banyak air yg bisa diminum, tapi jadi cepat kenyang, malah bisa-2 tumpah-2an kemana-2 , ke baju, ke lantai…hehehehehe…pada mau takwil komentar saya ini ga yah?

    coba minumnya pake gelas…..gampang kan? ga tumpah-2an, sesuai aturan, bisa minum pelan-2 dan menyehatkan…..

    Naaahh sekarang, para wahabiyun itu pintar sekali mengartikan sendiri Qur’an dan Hadits, jadinya yaaah seperti minum air langsung dari galon……ngerti kan maksud saya ????

    Kalo ane sih minumnya butuh gelas sbg perantara dari galon ke mulut saya…..

    Balas

  36. kalau boleh ini keterangan yang sangat dibutuhkan oleh kita ,tolong yang faham wahabi bikin sendiri jangan ngributin kita yang lagi butuh keterangan yang benar, jadi tidak semrawut. Terima kasih Ustad, kami sangat merasa bertambah ilmu, akan saya sebarluaskan kepada saudara-saudara kita yang masih wahabi insya’allah pada ikut kepada keterangan ustad seperti keluarga dan saudara-saudara kita yang merasa ditunjukan oleh ustad kepada kebenaran.

    Balas

  37. Posted by shindo on 19 April 2012 at 12:14 am

    Saya pengen tanya sm kaum Wahabi, kenapa hadist ini gak disebut2 sama ustadz2 dan syekh2 Wahabi???

    وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ تُرْضِيْ اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ اثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

    “Dan barang siapa mengadakan  sebuah bid’ah dhalaalah (sesat), yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.”

    (HR. Tirmidzi)

    Berarti Rosulullah Saw mengakui adanya bid’ah hasanah…

    Balas

  38. jundu muhammad ana mendukung mu….. bagaimanapun hakikat tidak akan berubah, walau salafi / wahabi berkoar-koar dengan tuduhan sesatnya dan kejinya itu.. malah semakin banyak yang meramaikan bid’ah Hasanah.. hehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.