Kebohongan Wahabi Seputar Kenduren dan Selamatan Kematian


Oleh: Muhammad Idrus Ramli (Alumnus Ponpes Sidogiri)

Dalam acara diklat internalisasi ASWAJA di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman Yogyakarta, tanggal 23 Juli 2011, seorang peserta diklat mengajukan pertanyaan tentang hukum selamatan kematian seperti tujuh hari dan seterusnya menurut madzhab Syafi’i. Penanya tersebut menyerahkan selebaran foto copy yang dibagi-bagikan secara gratis ke rumah warga oleh kaum Wahabi di Sleman.  Selebaran tersebut berjudul Imam Syafie Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan.

Setelah saya memeriksa selebaran tersebut, ternyata isinya penuh dengan kebohongan dan pemalsuan terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi’i.  Saya menjadi heran, bukankah selama ini kaum Wahabi sangat keras menyuarakan penolakan terhadap hadits dha’if dan palsu, akan tetapi mengapa mereka sendiri justru kreatif memalsu pernyataan para ulama? Di antara kebohongan dan pemalsuan selebaran tersebut adalah pernyataannya yang berulang-ulang bahwa Imam Syafi’i dan madzhab Syafi’i mengharamkan “kenduri arwah” yang lebih dikenali dengan berkumpul beramai-ramai dengan hidangan jamuan (makanan) di rumah si Mati. Kemudian selebaran tersebut mengutip pernyataan ulama dalam kitab I’anah al-Thalibin, Hasyiyah al-Qulyubi wa ‘Amirah dan Mughni al-Muhtaj. Anehnya, semua kutipan dari ketiga kitab tersebut menyatakan bahwa selamatan kematian selama tujuh hari atau lainnya itu dihukumi makruh. Akan tetapi penulis selebaran tersebut menegaskan bahwa tradisi selamatan kematian tersebut dihukumi haram. Sepertinya penulis selebaran tidak mengerti perbedaan antara hukum makruh dan hukum haram.

Sebenarnya apabila pernyataan para ulama madzhab Syafi’i dalam ketiga kitab tersebut dikaji secara mendalam, tidak akan menyimpulkan vonis hukum yang berat, yaitu hukum haram, akan tetapi sebatas pada hukum makruh. Apabila kita mengkaji hadits yang menjadi dasar kemakruhan tradisi selamatan kematian, boleh jadi hukum makruh akan berganti menjadi hukum mubah. Hadits tersebut teksnya begini:

“Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka sedang ditimpa keadaan yang menyibukkan (kesusahan)”. (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Berdasarkan hadits tersebut, madzhab Syafi’i menetapkan bahwa keluarga yang berduka cita, karena terdapat anggota keluarganya meninggal dunia, sunnat diberi makanan yang cukup bagi mereka selama sehari semalam. Oleh karena, keluarga yang berduka cita sunnat diberi makanan yang cukup selama sehari semalam, maka apabila yang terjadi justru sebaliknya, yaitu keluarga yang berduka cita menyiapkan makanan untuk orang-orang yang berta’ziyah, tentu hukumnya menjadi makruh, karena menyelisihi sunnah. Hal tersebut tidak melahirkan hukum haram, karena memang tidak menyelisihi hukum wajib.

Kalau kita memperhatikan tradisi masyarakat nusantara dalam menghadapi tetangga yang sedang berduka cita, mereka telah melakukan sunnah dengan memberi sumbangan beras, lauk pauk dan uang. Apabila sumbangan tetangga itu dikumpulkan, maka tidak hanya mencukupi untuk kebutuhan selama sehari semalam. Bahkan mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga si mati selama beberapa bulan. Persoalannya sekarang, bagaimana seandainya keluarga si mati itu memberikan makanan dari hasil sumbangan tetangga untuk acara selamatan tujuh hari, apakah masih dihukumi makruh? Tentu saja hukum makruh menjadi hilang. Dalam konteks ini, Syaikh Abdul Karim al-Mudarris al-Baghdadi, ulama madzhab Syafi’i dari Baghdad berkata dalam kitabnya Jawahir al-fatawa sebagai berikut:

اِنِ اجْتَمَعَ الْمُعِزُّوْنَ الرُّشَدَاءُ وَأَعْطَى كُلٌّ مِنْهُمْ بِاخْتِيَارِهِ مِقْدَارًا مِنَ النُّقُوْدِ أَوْ جَمَعُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ مَا يُكْتَفَى بِهِ لِذَلِكَ الْجَمْعِ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ وَالْمَشْرُوْبَاتِ وَأَرْسَلُوْهُ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ أَوْ إِلَى أَحَدِ جِيْرَانِهِمْ وَتَنَاوَلُوْا ذَلِكَ بَعْدَ الْوُصُوْلِ اِلَى مَحَلِّ التَّعْزِيَةِ فَلاَ حَرَجَ فِيْهِ هَذَا وَاللهُ الْهَادِيْ إِلَى الْحَقِّ وَالصَّوَابِ

“Apabila orang-orang yang berta’ziyah yang dewasa berkumpul, masing-masing mereka menyerahkan sejumlah uang, atau mereka mengumpulkan uang yang mencukupi konsumsi perkumpulan (selamatan kematian) berupa kebutuhan makanan dan minuman, dan mengirimkannya kepada keluarga si mati atau salah satu tetangganya, lalu mereka menjamahnya setelah sampai di tempat ta’ziyah itu, maka hal tersebut tidak mengandung hukum kesulitan (tidak apa-apa). Allah lah yang menunjukkan pada kebenaran.” (Jawahir al-Fatawa, juz 1, hal. 178).

About these ads

97 responses to this post.

  1. Ngomentari wahaby, Capek deeh…

    Balas

    • gak ada tu yg nama nya tetangga gasih makm ke orng banyak, insa allah keluwarga yg meninggal, gemana jika orng tua meninggal dan dia memiliki anak, apa harus BIKIN TUMPENG KAYAK ORNG MAU MEMELUK AGAMA HINDU,,sarat nya emang bawa tumpeng baruh sah bragama hindu, KYAI HARAM HUKUM NYA MEMAKAN HARTA ANK YATIM, ok

      Balas

      • Posted by toelprabangkara on 2 April 2013 at 12:49 pm

        Dasar otak jahiliyah, pernyataannya jauh dari Artikel yang disajikan Admin
        Apakah Syarat memeluk Agama Hindu harus Bikin Tumpeng??

        Balas

        • ntu orang ga baca artikelnya dengan baik,…ngasih komentar ngaco. dengan kita berkumpul di tempat orang yg sedang berduka cita, membaca tahlil dan mengaji insya Allah dapat mengurangi kesedihan mereka…itu tujuannnya. masalah makanan yang dihidangkan, adalah hal yang wajar tuan rumah menyediakan makanan bagi tamunya,..itupun kalau ada kalau ngga ada ya ngga masalah.

          Balas

          • Posted by abdullah on 17 Mei 2013 at 11:05 am

            ya itu menyalahi hukum coba pikir orang udah susah di bikin dusah.mungkinmereka mengharamkan karna afda keterangan menyatakan bidah mungkarot yaitu jatuh nya haram.coba klw kamupikir itu kan hanya tradisi bukan hukum.lagi yg disuruh taziyah.bukan ngerepotin kita disuruh bawa sesuatu klw punya tuk mereka bukan si pinta lg tuk yg kumpul2 pikirkan klw punya yatim.

            Balas

  2. Kaya nya ngomentari Wahabi salah, apalagi dibiarin aje juga lebih salah. Ya udah yg kedua aja, he he he….

    http://ummatipress.com/2011/10/10/firanda-pendusta-murokkab-berhujjah-dengan-hujjah-dusta-dan-palsu/

    Balas

  3. Posted by gondrong on 11 Oktober 2011 at 8:12 pm

    Assalamualaikum ustadz,..
    mohon izin menimba ilmu di blog ustadz,….
    wassalam..

    Balas

  4. Posted by aji on 13 Oktober 2011 at 4:44 pm

    assalamualaikum..
    pertanyaan dr seorang pencari kebenaran akh.
    Apakah Seputar Kenduren dan Selamatan Kematian itu sunnah nabi atau minimal sahabat pernah melakukannya??

    afwan tp ana tanya ke mereka hal itu tdk pernah dilakukan , sbg contoh saat setelah rosul wafat, tdk ada yg berbuat Kenduren dan Selamatan Kematian atau ketika abu bakar umar, utsman ato ali wafat jg tidak ada yg melakukan. lha saya jadi bingung mana yg benar..

    jadi saya tanya kepada antum akh, kalo jawaban antum bagaimana???
    jazakallahu khoir..

    Balas

    • Posted by jhoe on 9 Januari 2012 at 11:32 am

      Iya betul juga para sahabat tidak pernah melakukan 40, 100, 1000 hari itu yang saya tau kebiasaan orang hindu…..Coba deh yg punya blog ini merenung sejenak….kalau anda menulis sebanyak ini saya yakin anda ngerti hadis nabi….juga apakah ibadah itu perlu ada dasarnya….atau segedar ibadah aja….Semoga hati kita dilembutkan…amin :)

      Balas

      • Anda bisa membedakan IBADAH dengan ‘URF ndak?

        Balas

        • Posted by andi abdulloh ad-dausry on 16 Januari 2012 at 12:23 am

          betul kayak agama hindu,,tuhakah anda ajaran seperti itu(selamatan) merupakan peninggalan ajaran hindu jaman dahulu,,,kalu sekarang namanya islam kejawen ,,padahal tradisi bukanlah agama,,, kalo tradisi di jadikan agama wah amburadul donnkk,,,hehehe,,,apa kalian takut akan kehilangan pengikut atau jamaah,,, kalau antum tau tentang ilmu yang haq maka sampaikanlah y ustd, bukanya menyebunyikan ilmu tersbut,,, apa cuman bisa mengatakan bahwa ajaran itu dari nenek moyang”…???? sipakah nenek moyang qta? apakah ingin seperti jaman jahiliah? apakah gak ingin selamat dr neraka?

          Balas

          • satuujjuuu mas… ^_^ …..

            Balas

          • Posted by omar on 31 Juli 2012 at 8:55 am

            ya memang selalu begitu…. yang namanya wahabi ila yaumil qiyamah tidak mau menerima kebenaran dari orang lain. karena selain golongan mereka dianggap sebagai orang musyrik, padahal diantara mereka saling mengkafirkan sekte wahabi satu sama lain

            Balas

            • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 6:13 am

              aku setuju sekali. golonngan mana yang bertanda takhliq selain wahabi? ini nash nabi lo. jadi kesimpulannya,wahabi adalah fitnah besar di dalam islam. bagaimana tidak? mereka lebih percya dan taqlid kepada tukang reparasi jam dari pada imam Bukhori, Muslim,Abu Daud dan ahli hadits yang lain dalam urusan hadits

              Balas

  5. Assalamu`alaikum…salam ukhuwa,,artikel memberikan informasi yang mendalam untuk umat islam khususnya,,ini sangat bagus dan bis dijadikan pegangan. jazakallah syukron katsir untuk artikelnya. Bagus..sekalian ana mohon izin untuk copy and share
    Ahlul-Kisa

    Balas

  6. Posted by tarno on 23 November 2011 at 1:27 pm

    sudah menjadi hal umum dan tidak di pertentangkan tentang jamuan yg seperti di bahas di tulisan di atas di berbagai lingkungan muslim indonesia maupun saudi arabia,

    Balas

  7. al hamdulillah semoga pembela -pembela aswaja yang notabene adalah faham Rosululloh SAW dan para sahabat semakin bermunculan di dunia maya agar kaum wahabi yang selalu mentahrif mendistorsi syariat dan meresahkan umat semakin sempit ruang geraknya

    Balas

  8. Posted by hameed assegaf on 13 Desember 2011 at 6:41 am

    saya pernah lihat video raja saudi yang bertakziah sambil makan minum di tempat sohibul musibah

    Balas

  9. Posted by Mas on 20 Desember 2011 at 8:22 pm

    Sudah ayo kita sepakat islam adalah sumbernya Al Qur’an dan Hadits sudah cukup dan sempurna, betulkan? itu ada Imam Siapa dan Kyai siapa tidak usah untuk rujukan sumber hukum,setuju……….!

    Balas

    • Posted by riyanto on 20 Januari 2012 at 2:43 pm

      kita belajar Alquran dan hadist…emang lewat siapa..kalo tidak lewat mulut para imam,kyai ato ulama…maka berbahaya sekali..orang2 yang langsung menimba ilmu dari Alqur’an dan Hadist tanpa seorang guru…..sesat

      Balas

      • Posted by edi on 24 Februari 2012 at 1:03 pm

        sekarang tu kalau mau cari guru / ulama yang ndak sesat semakin sulit mas.. apalagi jaman sekarang gampang sekali masyarakat kita memberi gelar semisal kyai atau ulama pada seseorang .. padahal orang tersebut belum tentu mumpuni dalam bidang agama… pokoknya pake sorban terus punya kelebihan dalam hal ilmu ghoib bisa merajah bisa ngasih ilmu kebal dan sebagainya.. sudah pasti dianggap ulama… padahal setau saya rosul saja ndak kebal tu.. kesimpulannya kalau kita belajar pada ulama yang punya kelebihan2 akan ilmu ghoib itu akan lebih berbahaya…

        Balas

        • Posted by yahya on 29 Agustus 2013 at 2:02 pm

          Lebih baik sekarang langung merujuk ke kitab-kitab ulama seperti kitab nya Imam Syafi’i dll. Soalnya bnyk yg ngaku pengikut imam syafi’i tapi gak tau ajarannya. Pada semangat mengamalkan yang di makruhkan. malah yg sunnah dari Rasul tidak dilaksanakan. Di tempat saya shalat jama’ah masjid sepi. Tp kalau selametan rame. Tp gak ada selametan pun emang masyarakatnya gak mau jama’ah di masjid. Seharusnya ustadz2 yg membolehkan selametan dan menghukumi itu makruh juga kasih tau juga ke masyarakat kalau itu makruh. soalnya kebanyakan masyarakat taunya itu sesuatu yang harus di lakukan. Makruh kok dilestarikan.

          Balas

    • Posted by riyanto on 20 Januari 2012 at 2:44 pm

      makanya saya ragu menimba ilmu pada kawan2 salafi wahaby..karena belajarnya gak mau pake guru…tapi langsung Quran hadist….

      Balas

    • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 6:17 am

      mereka bukan “kawan 2 salafy wahabi” tapi musuh-musuh kita yakni orang-orang wahabi – yang ndak punya guru selain tukang reparasi jam ya kan?

      Balas

  10. Posted by Bima AsSyafi'i on 21 Desember 2011 at 7:02 am

    @Mas
    Anda hebat sekali bisa mengambil sumber langsung dari Qur’an dan Hadits. Tidak melampau Imam dan Kyai. Saya hanya ingin share saja, bahwa Imam dan Kyai itu mengambil sumber dari Qur’an dan Hadits. Contoh Imam Syafi’i belajar kepada Imam Malik yang juga pakai sumber Qur’an dan Hadits. Demikian juga Imam Malik belajar Qur’an dan Hadits berdasarkan pemahaman Tabi’in dan Shohabat, kaena mereka yang lebih mengerti Qur’an dan Hadits. Anda tidak mengikuti Imam, lalu ikut siapa? Baca buku? Karangan siapa? apakah karangan ulama. Mana yang tinggi ulama itu dengan Imam? Mohon jawab, agar kami juga bisa meniru mengambil sumber dari Qur’an dan Hadits menurut versi Anda. Terima kasih.

    Balas

    • Posted by Rustumi Al Batawi on 25 Desember 2011 at 5:02 pm

      @Bima
      Maklumin aja mas mungkin dia memang gak perlu Imam dan Kyai.. dengan mesin waktu dia lompat ke Jaman Nabi Sholallahu ‘alaihi wasalam trus belajar ngaji deh..

      Balas

    • Posted by edi on 24 Februari 2012 at 1:11 pm

      saya ndak tau siapa yang salah memberikan informasi pada anda bahwa kaum yang anda cap wahabi tidak merujuk pada ulama2 terdahulu…mereka sering mengadakan kajian2, diskusi dan sebagainya.. mereka juga punya buku atau kitab2 rujukan seperti kelompok anda….

      Balas

      • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 6:25 am

        tetapi rujukan anda sudah terlalu banyak yang dirubah seperti kebiasaan orang-orang yahudi merubah kitab.ulam2 dahulu yang anda ikuti siapa? imam syafiii? oo jauh sekali Bilau mau tabearuk dan ziarah ke makam imam Hanafi. kalau pengikutmu Imam ibn Taimiyah – penghujat Ali, atau tukang jam tangan yang tak berguru, memang itu ulama mu.

        Balas

      • Posted by sunthree on 28 Desember 2013 at 10:30 am

        wahabi ooh wahabi ………….merubah kitab kitab ulama untuk bikin puas nafsu mereka doang, umat islam di indonesia cuma 2 % yang muslim sejati cuma genk wahabi doang ………coba mikir jangan pake dngkul wa …gayanya “kembali kepada Qur’an Hadist” emang ente bisa faham Qu’an Hadits tau dari siapa Wa ..?? keren banget yo

        Balas

  11. Posted by Bima AsSyafi'i on 25 Desember 2011 at 11:15 pm

    @Akhi Rustami Al Batawi
    Ha ha ha ha …. ketawa ampe sakit perut. Betul tuh kayaknya mereka pemain sinetron “lorong waktu”.

    Balas

  12. apasih malah pada berantem? kafirun senang tuh!

    Balas

  13. Posted by Abubim on 31 Desember 2011 at 3:16 pm

    Pak Kyai …, mohon maaf …

    Tetapi judul tulisan di atas “Kebohongan Wahabi Seputar Kenduren dan Selamatan Kematian” mungkin kurang sesuai dengan isi sebenarnya dari judul tulisan.

    Kenapa wahabi dikatakan berbohong?
    Di bagian mana kebohongan wahabi dari tulisan di atas?

    Mohon jika berkenan bisakah dikutipkan bagian dari kitab yg disebut di atas “Kemudian selebaran tersebut mengutip pernyataan ulama dalam kitab I’anah al-Thalibin, Hasyiyah al-Qulyubi wa ‘Amirah dan Mughni al-Muhtaj.”

    Sebelumnya, terima kasih.

    Balas

  14. Posted by juhaiman on 8 Januari 2012 at 7:21 am

    haaa … kalau mau jujur .. ritual tersebut dicampurkan dengan ritual agama sebelum islam masuk di nusantara.

    Ritual islam dicampurkan / disesuaikan dengan ritual agama sebelumnya…
    Jadilah islam gado gado.

    Tradisi gado gado tersebut bukan dihilangkan …malah dilestarikan dengan alasan alasan yang tak masuk akal .

    Sama kejadiannya dengan masuknya kristen di ROMA jaman pagan dahulu.
    Untuk mengikat hati roma .. dicampurlah ritual kristen dengan ajaran PAGAN…
    Masuklan orang roma menjadi kristen …karena merasa sesuai dengan ajaran terdahulu.

    Mass …kalau mau berislam berislamlah secara kaffah… ambilah ajaran islam dengan ihklas .. tanpa syarat……..
    ISLAM SUDAH SEMPURNA MASS !!!!!!!

    Balas

    • betul, Islam sudah sempurna.

      Dan harap dibedakan antara IBADAH (ibadah ada 2 macam: mahdhoh dan ghoiru mahdhoh) dengan ‘URF (kebudayaan masyarakat/tradisi).

      Untuk masalah ‘urf, maka urf tersebut dapat jatuh ke dalam hukum yang 5: Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Haram. Apabila berkaitan dengan mu’amalah maka ditambah lagi Sah dan Batal.

      Balas

    • Posted by riyanto on 20 Januari 2012 at 2:48 pm

      dari dulu islam juga kaffah…tapi orang yang tahlilan dkk…tidak pernah menambahkan rukun islam jadi 6 yang ke 6 adalah tahlilan…dan tidak pernah menganggap rukun iman itu 7…..lalu dari sisi mana kamu menuduh orang yang suka tahlilan menambah2 syariat….dan perlu di ingat mas juhaimin…kalo Rasulullah SAW saja tidak melarang…kamu jangan sok pintar melarang2 apa yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasulnya…

      Balas

    • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 6:36 am

      kalau anda benar mau islam secara kaffah, tinggalkan masjid yang bermenara karena itu bangunan meniru pemujaan kaum majusi. tinggalkan baca Alquran binnadhor karena qur’an yang yang ada sekarang sudah bukan tulisan yang dulu lagi.

      Balas

  15. Posted by juhaiman on 8 Januari 2012 at 8:02 am

    INGAT SEGALA PERBUATAN ANDA AKAN DIMINTA PERTANGGUNG JAWABAN.
    GIGITLAH SUNNAH RASULMU SEKUAT TENAGA DIJAMAN FITNAH INI.
    BERISLAMLAH DENGAN IKLHAS TANPA SYARAT INI DAN ITU.
    DALAM BERIBADAH .. APAH YANG DIKERJAKAN RASUL KERJAKANLAH .. APA YG TIDAK DICONTOHKAN TINGGALKAN LAH.
    APA YANG MENURUT SEBAGIAN UMAT BAIK , TAPI TAK ADA CONTOHNYA DARI RASUL ..TINGGALKANLAH ….. INSYALLAH AKAN SELAMAT DUNIA AKHIRAT
    JANGAN MENGAKU NGAKU PENCINTA RASUL , TETAPI MALAH MENGINGKARI SUNNAH SUNNAH RASUL.

    Balas

    • Posted by riyanto on 20 Januari 2012 at 2:52 pm

      dan apa yang tidak dilarang oleh Rasulullah SAW…jangan sekali kali kalian melarangnya

      Balas

      • Posted by edi on 24 Februari 2012 at 1:14 pm

        rosul tidak melarang karena rosul sudah wafat.. seandainya rasululallah masih ada pasti rasul akan melarangnya..

        Balas

        • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 6:39 am

          baik kalau begitu saya kasih contoh, pada malam tanggal 14 pada haji wada’ Rasulullah saw bermalam di Abtoh, engkau dan ustad-ustadmu bermalam dimana?

          Balas

  16. Posted by Bima AsSyafi'i on 8 Januari 2012 at 11:04 am

    @Juhaimin
    Saya belum pernah mendengar nama Anda dalam kalangan para penghafal hadits, tapi anda telah mengeluarkan fatwa yang seolah melebihi keilmuan para imam
    Saya belum pernah mendengar nama Anda sebagai ahli sejarah, tetapi anda telah mencatatkan isi sejarah, khususnya agama-agama di Nusantara
    Apakah Anda merasa lebih hebat dari Imam Nawawi dan Imam Suyuti?
    Kata anda : INGAT SEGALA PERBUATAN ANDA AKAN DIMINTA PERTANGGUNG JAWABAN. GIGITLAH SUNNAH RASULMU SEKUAT TENAGA DIJAMAN FITNAH INI.
    Ana mengingatkan : Kalimat tersebut dapat tertuju pula kepada Anda. Jika “selamatan kematian” merupakan amal sholeh yang diterima Allah, maka Anda telah berbohong atas nama Allah. Dan orang-orang yang anda larang melakukan hal tersebut, akan menuntut kepada Anda di yaomil akhir nanti.
    Semoga rahmat dan hidayah Allah bersama kita.

    Balas

    • Posted by edi on 24 Februari 2012 at 1:17 pm

      sepertinya anda yakin sekali bahwa selamatan kematian pasti diterima…

      Balas

      • Kalo cuma ngomong dg tanpa sejarah..ORANG GILAPUN BISA.sedang sjarah wahabi/salafi…terputus dari sejarah…hanya sampai di muh.bn abd alwahbi. apalagi background…alias engga jelas putus dari jalur Mazhabiyyin..,jadi seribu X anda bicara Firman dan As-sunnah…penjelasannya yg ada cuma sekitar idiologi sesat dan menyesatkan.TAUBAT AJALAH KALIAN SEBELUM KO’IT.

        Balas

  17. Posted by juhaiman on 9 Januari 2012 at 5:27 am

    Saya bukan seorang penghafal hadist apalagi mengeluarkan fatwa , dan hanya seorang biasa saja..
    Bagitu pula dengan anda … saya juga belum pernah membaca nama anda sebagai penghafal hadist dan pengeluar fatwa.

    Saya bukan ahli sejarah nusantara … ..seperti klaim anda yang merasa ahli Sejarah Nusantara ..
    Saya juga tidak merasa lebih hebat dari Imam Namawi dan Imam Sayuti ….
    Saya hanya bersandar pada Al quran dan Hadist dari rasullah …( Apakah itu salah ??? )
    Apakah ada yang salah dengan kata kata ” INGAT SEGALA PERBUATAN ANDA AKAN DIMINTA PERTANGGUNG JAWABAN. GIGITLAH SUNNAH RASULMU SEKUAT TENAGA DIJAMAN FITNAH INI. ” ….
    Tolong jelaskan … saya hanya mengingatkan dalam beribadah hanya perlu DALIL … bukan pada rekaaan rekaan saja .

    Balas

    • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 6:49 am

      menanggapi wahabi memang ndak ada habisnya. dibiarkan juga malah menjadi-jadi. utk itu gempur terus pengikut qonu syetthon ini dengan hujjah lembut ataupun kasar karena mereka sudah menganggap kita sebagai musyrikan.

      Balas

  18. Posted by juhaiman on 9 Januari 2012 at 5:37 am

    Justru pertanyaan saya …… anda mengaku SEORANG PENGAGUM RASULULLAH tapi mempertanyakan statemen ” GIGITLAH SUNNAH RASULMU SEKUAT TENAGA DIJAMAN FITNAH INI.”,
    Apakah ini kontradiksi dengan semboyan anda sendiri ??? …

    Balas

  19. Posted by ucep on 9 Januari 2012 at 9:00 pm

    yang gak setuju kenduri dan selamatan atas meninggalnya seorang muslim ya udah, memang mengganggu apa, gak usah bilang bid’ah atau apalah yang penting aman dan tenteram.
    Kalau ane sih tetap kenduri dan selamatan, wong yang meninggal saudara atau orang tua. yang dikerjain juga baca Al Qur’an dan zikir, gak pesta2.

    Balas

  20. Posted by dodo on 10 Januari 2012 at 5:26 am

    mas …. baca alquran dan zikir ada adabnya …
    Karena itu merumakan ibadah mas … harus ada tuntunannya .
    Tuntunannya dari Nabi kita …. segala sesuatu yang menyangkut ibdah kita wajib itiba kepada nabi kita.
    Coba tanyakan pada guru anda …..

    Balas

    • Posted by riyanto on 20 Januari 2012 at 2:55 pm

      kalo saya sambil jaga pos ronda baca Alqur’an bidah apa nggak mas…takutnya Rasulullah tidak pernah jaga pos ronda sambil baca Alqur’an…

      Balas

  21. Posted by andi abdulloh ad-dausry on 16 Januari 2012 at 12:39 am

    apakah anda yakin mengatakan sebgai pengagum Rosululloh???? kalo mengagumi Beliau Rosululloh sholallohu’alaihisalam,,,maka harus mengikuti beliau apapun itu,,bukanya membuat-buat,,,kalo namanya membuat itu lebih pantes sebgai pengerusak,,,knapa? karena mengkaburkan yang haq,,,udahlah kalo qt sbagai umat Rosululloh ngikut ajalah kapad beliau,,,ngikut itu lebih mudah dari pd membuat-buat yang tdak jelas malahn akan pusing yang didapatnya,,,ayooo sama-sama ‘ittiba’ kpd Rosululloh budayakan sunnah Belaiu !!! kalo mengamalkan sesuatu sesuai dgn sunnahnya,maka anda pantas disebut dg pengagum Rosululloh sholallohu’alaihisalam,,,
    maukah anda disebut pengikut Rosululloh shollahu’alaihisalam???

    Balas

    • MODAL ENTE NGIKUT ROSUL ITU APA?
      ENTE TAU YG HAK ITU YG MANA DR MANA?
      ENTE BS NGERTI KLO ENTE UDH NGIKUT ROSUL SAW TU DR MANA?
      AL QURAN N HADITS ITU PAKE BHS ARAB,WONG BELAJAR BHS ARAB AJA BHS ARAB TKW/TKI NGAKU NGAKU IKUT ROSUL.APA GK TERLALU KE PD AN?
      KLO MAU JAUH LBH BS KAMI YG NYANTRI DR PADA ENTE YG BLJRNYA من انت؟ انا اند عبد الله ITUMAH BHS ARAB TKW.
      HEHE…SY PERNAH NANYA MINYAK WANGI SAMA PENJUAL MINYAK WANGI YG KBTULAN ORG SALAFI,MAS MSH ADA MINYAK KASTURI PUTIHNYA, DIA JAWAB NA’AM DI JAOZ ANA,(MAKSUDNYA IA ADA SAMA ISTRI SAYA)HAHAHAHA
      INI KISAH NYATA SY ALAMI SENDIRI,
      YANG KYK GINI KOK NGAKU2 PALING NGIKUT ROSUL…
      HMMMMMMM…. BOCAH…….

      Balas

      • ga boleh seperti itu. maksud dia bagus kok mengungkapkan dengan bahasa arab. blm tentu jg anda bagus bahasa arabnya. drmana anda tahu kl spsrti itu bhs arab TKW.cb berbicara itu dengan ilmu bukan dengan emosi.kedewasaan lah yg penting.setiap menjawab, gunakan kata2 yang baik

        Balas

  22. Posted by mamad on 16 Januari 2012 at 7:11 pm

    semua pendapat benar selama punya alasan…..tidak usah saling ejek mana yang kamu yakini jalankan saja kawan tak usah saling mengganggu…..oke

    Balas

  23. Posted by Shalman on 21 Januari 2012 at 5:40 pm

    Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah??

    Nabi Muhammad Shalalallahu Alaihi Wassalam gurunya adalah Malaikat Jibril, nte wahabi langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mempelajari Al-Qur’an tanpa seorang guru, gurunya adalah setan,…

    Wahabi klo nte mau berguru liat dulu guru nte atau ulama panutan nte..sesuai tidak akhlaqnya dengan Nabi Muhammad Shalalallahu Alaihi Wassalam..cari sampe mati seorang guru yang akhlaqnya mendekati Beliau, klo dah ketemu baru liat sisi ilmunya tapi klo males ya udah… ikutin aja Abdul Wahab yang membunuh keturunan Rasululloh sampe mati…Naudzubillah min dzalik…

    Balas

  24. Posted by munir on 21 Januari 2012 at 7:43 pm

    ngapain kita repot ngerembuk mslah “ibadah” yang kedua belah pihak pengen membenarkan diri masing-masing. padahal dengan kita beribadah dari kecil “baligh” sampek tua dan sangat sesuai dengan tuntunan hadits dan al-qur’an, hal tsb blm menjamin org tsb msk surga (al-hikam: ibnu ‘ato’illah). jadi, apa yg kita yakini kita lakukan tnpa memandang org salah org lain yg beda dengan kita, karena islam itu rohmatal lil ‘alamin bukan fitnatan lil ‘alamin.

    Balas

  25. Posted by hamba yg dhoif on 13 Maret 2012 at 11:41 pm

    assalamu’alaikum…
    Debat sama wahabi mah jng pake mulut, kasih aja golok…,
    paling LUCU liat tampang2 orang wahabi, pake celana pada ngatung,(dia kira rosululloh pakeannya kaya gitu), jidat pada item, PeDe sm jenggot (walau cuma 3 lembar), yg lucunya jadi satpam di kantor orang nasrani… Hahahahaha… Aya2 wae jaman kiwari mah nya…!!!!!

    Balas

  26. Posted by tata on 3 April 2012 at 1:39 pm

    sikat habis wahabiyyun… daripada makin merajai laila…hehehe. yang jelas ALLAH SWT dah ber-Firman : Innallaaha laa yahdil qaumaddhaalimiiin/faasiqiin.. (Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk (hidayah) kepada/bagi orang-orang (kaum) yang berbuat dhalim/fasiq… ane mau tanya nie sekarang… sejarah wahabi dicatat dengan tinta kelam… (kalau sekarang istilahnye “Kena black lis/dusky dari para ‘Ulama) kira-2 wahabi ngaku-2 dapat hidayah/petunjuk darimane tuuhh…. ???, wahai para wahabiyyun janganlah ente belajar untuk menerima doktrin, … tetapi belajarlah untuk mencari kebenaran darimanapun…

    Balas

  27. Posted by tata on 3 April 2012 at 1:52 pm

    Para wahabiyyun, termasuk pemimpinya M. Abdul Wahab dah terbiasa menerima sumbangan daripara penguasa Su’ud, mulutnya juga yang kasih makan kan Raja-nya ama kafir-2 inggris, perancis, amerika dan israel… besarnya aje pada pergi nuntut ilmu ke Barat sonoo, kalow enggak, enggak bakalan jadi sekutunya kaum kafir buat ngabisin muslim lain yang enggak sepaham ame dia.. MARILAH KITA BERKACA PADA SEJARAH… !!! SEJARAH ADALAH GURU PALING BAIK BUAT KITE UNTUK BELAJAR MENENTUKAN/MEMILAH MANA YANG BENAR DAN MANA YANG UDAH PADA KELUAR JALUURR !!.. ane marah ama wahabi bukan karena ape-2, tuh wahabi kental banget pelukin kafiirr.. tapi saudaranya sendiri (se-iman) malah dibunuh !!. TOBATLAH ENGKAU WAHAI PARA WAHABIYYUN……..

    Balas

  28. Posted by hariyono on 4 April 2012 at 10:52 am

    kalau terjadi perselisihan diantara kamu maka kembalikanlah kepada allah dan rosulnya. apakah allah memerintahkan dlm alquran atau rosul melakukan tahlilan dl;m hadistnya. kalau allah tdk menyuruh, nabi tidak melakukan. apakah nabi kurang pintar apa kita yg kepintaran , lha wong ibadah sebaik ini tdk dilakukan nabi. coba kita periksa diri sendiri.

    Balas

  29. WARNING – PERINGATAN :

    PENGUMUMAN HARAP BER-HATI2 DENGAN @ JUHAIMAN SI MINORITAS .
    ( MAWAS DIRI ).

    Balas

  30. Posted by UD_aja on 8 Mei 2012 at 3:19 pm

    kebetulan saya punya bukti kebohongan para wahabi ttg pemotongan kitab ianah diatas….

    http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul di rumah keluarga si mayit, dan dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah, yang akan diberi pahala bagi orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan kukuhlah kaidah-kaidah agama, dan dengannya dapat mendukung Islam dan muslimin” (I’anatuth Thalibin, 2/165)

    Teks arabnya ;

    (نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر)

    liat baik2 disitu….
    neh saya kasih text lengkapnya…

    وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

    “Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitu mengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaanbahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

    أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
    “Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده, Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.

    “Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah,yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta umat Islam”

    nah liatkan bagian terakhir dipotong sehingga mnjadi salah mksd…

    Balas

  31. Posted by UD_aja on 8 Mei 2012 at 3:20 pm

    Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan (بأنهم ينتظرون الطعام) di tempat ahlu (keluarga) yang terkena mushibah kematian, akal sehat pun akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa yang menghentikan kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun, karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani untuk menetapkan hokum “Haram” kecuali jika memang ada dalil yang jelas dan sebab-sebabnya pun luas.

    Balas

  32. Posted by UD_aja on 8 Mei 2012 at 3:24 pm

    masih di sumber yang sama

    ini kata wahabi…..

    “Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah BID’AH YG TDK DISUKAI AGAMA, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”

    Teks arabnya ;

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة

    kita lihat kecurangannya….. tet tot!!!

    Berikut teksnya (yang benar),

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
    “Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir ra, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) ”.

    hayooo… بدعة مكروهة mau dipelintir neh :D….

    Balas

  33. Posted by UD_aja on 8 Mei 2012 at 3:26 pm

    msih ada byk ustadz…tpi segitu dulu cukup uat nonjok muka wahabi….

    Balas

  34. Posted by Anto on 9 Juni 2012 at 5:22 pm

    Pengakuan dari ROMO PINANDHITA SULINGGIH WINARNO, (sarjana agama hindu(s1)&pendeta berkasta brahmana, kasta brahmana adalah kasta/tingkatan tertinggi pada umat hindu) bahwa banyak umat Islam yang memelihara tradisi orang Hindu. Dapat dilihat:

    http://feehas.wordpress.com/2012/05/01/lebih-200-dalil-dari-kitab-wedha-kitab-suci-umat-hindu-tentang-selamatan-1710100-harinyewu-dll/

    Saya sebagai seorang muslim benar-benar malu ada orang Islam kok bisa membela mati-matian ajaran agama lain.

    Balas

    • Posted by prass on 29 Juli 2012 at 11:30 pm

      @anto

      benar tidak yaa…..JANGAN MAU DI BOHONGIN….

      http://generasihindu.blogdetik.com/2011/09/11/menggugat-kesaksian-ustadz-ida-sagus-abdul-aziz/

      http://myquran.org/forum/index.php?topic=73346.0

      http://www.sarkub.com/2011/abd-aziz-mantan-hindu-ustad-provokator-ditangkap-polisi/

      isi sebagiannya…

      “Selanjutnya soal cerita kebohongannya, waktu di mapolres ditanya nama ayahnya, katanya bernama ketut blablabla padahal tadi waktu ceramah bilang ayahnya bernama made blablabla.

      Menurut pendeta yang ikut menyergap, kasta brahmana tidak ada yang bernama ketut yang tadi di ceramahnya mengaku kasta brahmana. Terus ditanya ayahnya belajar agama hindu di pure mana? ia menjawab belajar di lumajang pure A. Pak Kapolres yang asli Lumajang tahu kalau pure itu belum lama dibangun… bohong lagi deh.. Waktu ceramah ia bilang katanya puasa 7 hari 7amalam membaca mantra blablabla,

      ternyata kata pak pendeta itu mantra yang dibaca dul aziz itu salah…bohong lagi.. Ketika ditanya KTP, katanya tidak punya KTP juga, sampai pak kapolres agak emosi memukul meja.

      Kemudian dari pihak NU di mapolres menunjukan CD dan menerangkan bahwa si abdul itu menghina ibu Sinta Nuriyah (istri Gus Dur) dan memusyrikan amalan-amalan warga NU.

      Ya begitulah kelihatanya menyeru takbir, kalimat tauhid dan mengklaim paling mengikuti sunnah, ternyata cuma akal busuk & tukang bohong dalam berdakwah menghalalkan segala cara untuk mencari pengikut.”

      BOHONG TEYUUUUUS…………

      Balas

    • Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 7:05 am

      kebohongan wahabi pasti terbongkar. kalau begitu siapa yang suka dengan hindu? kami yang berdzikir atau wahabi yang berargumen dengan ROMO PINANDHITA SULINGGIH WINARNO, (sarjana agama hindu(s1)&pendeta berkasta brahmana, kasta brahmana adalah kasta/tingkatan tertinggi pada umat hindu

      Balas

  35. Posted by aan on 5 Juli 2012 at 9:10 pm

    mas juhaiman sama mas anto itu lupa islam itu di bawa ke nusantara oleh siapa?terus cara dakwahnya bagaimana?di baca dong jangan asal ngomong doang anda bisa islam kan juga lewat perantara mereka juga kali masa bisa”nya ngomong kaya gtu!!

    Balas

  36. Posted by pengamat on 25 Juli 2012 at 11:42 pm

    yg baca komen2 ini tolong dilihat dan di nilai mana yg mengaku muslim sbg umat Rasulullah,..anda bisa lihat dari cara bertutur kata,…ga perlu panjang lebar dulu masalah Ikhtilafnya,..kita liat dulu adab2 dlam berbicaranya saja..silahkan menyimak

    Balas

  37. Posted by dikhyah on 14 Agustus 2012 at 7:27 am

    yuk kita hajar terus wahabi dngan hujjah dan golok. ingat kawan-kawan, jangan sampe peristiwa saudi menimpa bangsa indonesia. habisi dulu sebelum pengikut tukang reparasi jam itu melangkah

    Balas

  38. Posted by slamet on 9 September 2012 at 1:51 pm

    Assalamu’alaikum. Dizaman akhir ini mari kita hati2 thd fitnah yg dah menjadi sunnatullah. Mau yg model mau yg istiqamah, mau yg usil mau yg istiqamah. semua terpulang anda. Yg penting ingat, hati-hati thd virus wahhabi yg nmpk murni padahal guobloooooooooognya ngaku sama dg ulama, melarang taqlid dia taqlid buta kpd tukang jam, katanya ikut sunnah malah hanya bikin resah.

    Balas

  39. Sayang sekali punya otak tidak bisa untuk menalar yang benar dan yang salah, punya hati tidak bisa untuk memilih yang baik dari yang buruk, diperturutkan hawa nafsu, males mengikuti allah dan rasul, takut kehilangan pengikut. sayang sekali hidup cuma sekali waktu diisi dengan emosi. Santun dan rendah hati yang bisa memaklumi dan memaafkan….itu sedikit dari mencontoh akhlaq rasululah. Demi kebenaran janganlah males untuk bernalar, dan demi kebaikan / keyakinan terhadap kebenaran nalar janganlah males hati untuk memahami. Bukan mata yang buta, tetapi hati di dalam dada. Mari mawas diri….

    Balas

  40. Anugerah potensi berfikir itu hak setiap hamba, yang langsung difirmankan Allah kepada pembaca Al Quran, perintah berfikir disampaikan lewat rosulullah, tetapi hakekat berfikir, adalah tanggung jawab hamba dalam menyikapi perintah Allah. Hasilnya tidak bisa diukur dengan pemikiran orang lain, baik jaman dulu maupun yang akan datan. Sampai hasil berfikir trerburuk, mengkafiri ayat-ayat Allahpun (QS 18/29) masih dikasi kesempatan hidup di bumi. Hasil pikir tidak harus sama atau lebih rendah dari jaman nabi atau para sahabat sampai 4 imim besar. Keluasan berfikir karena sangat tinggi, dan akan mampu membongkar bukti kekuasaan Allah, maka Allah sendiri yang memerintahkan kepada hamba, bukan rasulullah. Sunnah rasul merupakan contoh hasil berfikir rasul saat itu, terbaik dijamanya, penuh harapan dimasa depan, merumuskan konsep berfikir bukan mengunci hasil pemikiran. Marilah berfikir atau bernalar cerdas menggapai kebenaran dan berhati bening untuk menggapai keyakinan yang dilandasi fakta kebenaran buah penalaran. Agama diperuntukkan bagi orang yang mau menggonakan akalnya. Sebuah renungan.

    Balas

  41. Aku makin yakin bahwa Salafi wahabi itu yang lebih benar,mereka tidak taqlid kepada Ulama-Ulama kecuali kepada Rasulullah.
    Lain halnya dengan mereka yang bermazhab,mereka bertaqlid buta terhadap Ulama mereka.
    Padahal ulama merupakan pelantara untuk memahami Alquran & As-sunnah.
    Saudaraku, Ulama-Ulama itu Tidak ma’sum dan Rasulullah MA’SUM,
    apabila ada ulama yang pemahamannya bertentangan dengan Alquran & Sunnah NABI Muhammad maka kewajiban kita meninggalkannya,dan mengikuti Ulama yang pemahamannya sesuai dengan Alquran & Sunnah NABI Muhammad.

    Maaf bukan berarti saya menghina Para Ulama,akan tetapi kita dudukkan Para Ulama tersebut pada tempatnya,kita menghormatinya sebagaimana semestinya,karena Ulama adalah pewaris Nabi,apabila kita meninggalkan pemahamannya karena tidak sesuai dengan Alquran & As-sunnah ala fahmis salafus sholeh bukan berarti menghinanya….!

    AREK MADUREH

    Balas

    • Posted by abu tsur on 9 Desember 2012 at 1:51 am

      Tradisi Masyarakat Islam Yang
      Bersumber Dari Ajaran Agama Hindu Bismillah..
      Kita mengenal sebuah ritual
      keagamaan di dalam masyarakat
      muslim ketika terjadi kematian adalah
      menyelenggarakan selamatan
      kematian/kenduri kematian/tahlilan/ yasinan (karena yang biasa dibaca
      adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40,
      100, dan 1000 harinya. Disini kami
      mengajak anda untuk mengkaji
      permasalahan ini secara praktis dan
      ilmiah. Setelah diteliti ternyata amalan selamatan kematian/kenduri kematian/ tahlilan/yasinan (karena yang biasa dibaca adalah surat Yasin) di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 hari, bukan berasal dari Al Quran, Hadits (sunah rasul) dan juga Ijma
      Sahabat, malah kita bisa melacaknya
      dikitab-kitab agama hindu. Disebutkan bahwa kepercayaan yang
      ada pada sebagian ummat Islam,
      orang yang meninggal jika tidak
      diadakan selamatan (kenduri: 1 hari, 3
      hari, 7 hari, 40 hari dst, /red ) maka
      rohnya akan gentayangan adalah jelas-jelas berasal dari ajaran agama
      Hindu. Dalam agama Hindu ada syahadat yang dikenal dengan Panca Sradha (Lima Keyakinan). Lima keyakinan itu meliputi percaya kepada Sang Hyang Widhi, Roh leluhur, Karma Pala, Samskara, dan Moksa. Dalam keyakinan Hindu roh leluhur (orang mati) harus
      dihormati karena bisa menjadi dewa terdekat dari manusia [Kitab Weda Smerti Hal. 99 No. 192]. Selain itu dikenal juga dalam Hindu adanya Samskara (menitis/reinkarnasi). Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : “Termashurlah selamatan
      yang diadakan pada hari pertama,
      ketujuh, empat puluh, seratus dan
      seribu. Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”. Telah jelas bagi kita pada awalnya
      ajaran ini berasal dari agama Hindu,
      selanjutnya umat islam mulai
      memasukkan ajaran-ajaran islam
      dicampur kedalam ritual ini. Disusunlah
      rangkaian wirid-wirid dan doa-doa serta pembacaan Surat Yasin kepada
      si mayit dan dipadukan dengan ritual-
      ritual selamatan pada hari ke 7, 40,
      100, dan 1000 yang tidak pernah
      diajarkan oleh Nabi dan para
      sahabatnya. Apakah mencampur- campur ajaran seperti ini
      diperbolehkan?? Iya, campur mencampur ajaran ini
      tanpa sadar sudah diajarkan dan
      menjadi keyakinan nenek moyang kita
      dulu yang ternyata sebagian dari kaum
      muslimin pun telah mewarisinya dan
      gigih mempertahankannya. Lalu apakah kita lebih memegang
      perkataan nenek moyang kita
      daripada apa-apa yang di turunkan
      Allah kepada RasulNya? Allah berfirman : ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﺗَّﺒِﻌُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻞْ ﻧَﺘَّﺒِﻊُ ﻣَﺎ ﺃَﻟْﻔَﻴْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺁﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺑَﺎﺅُﻫُﻢْ ﻻ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻻ َﻥﻭُﺪَﺘْﻬَﻳ ”Dan apabila dikatakan kepada
      mereka :”Ikutilah apa yang telah
      diturunkan Allah”. Mereka menjawab :
      ”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti
      apa yang telah kami dapati dari
      (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga,
      walaupun nenek moyang mereka itu
      tidak mengetahui suatu apapun, dan
      tidak mendapat petunjuk?” (QS Al
      Baqoroh ayat 170) Allah berfirman : ﻭَﻻ ﺗَﻠْﺒِﺴُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻃِﻞِ ﻭَﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﺗ “Dan janganlah kamu
      mencampuradukkan Kebenaran
      dengan Kebatilan dan janganlah kamu
      sembunyikan kebenaran sedangkan
      kamu mengetahuinya” (QS Al Baqarah
      42) Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh
      kita untuk tidak boleh
      mencampuradukkan ajaran agama
      islam (kebenaran) dengan ajaran
      agama Hindu (kebatilan) tetapi kita
      malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh,
      Apa manusia itu lebih pintar dari
      Allah??? Selanjutnya Allah berfirman : ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴِّﻠْﻢِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﻻ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﺪُﻭٌّ ٌﻦﻴِﺒُﻣ “Hai orang-orang yang beriman,
      masuklah kamu ke dalam Islam secara
      keseluruhannya, dan janganlah kamu
      turut langkah-langkah setan.
      Sesungguhnya setan itu musuh yang
      nyata bagimu”.(QS. Albaqoroh : 208). Allah menyuruh kita dalam berislam
      MENYELURUH, tidak setengah-
      setengah… TIDAK SETENGAH
      HINDU…SETENGAH ISLAM… http://www.abuayaz.blogspot.com/

      Balas

      • Posted by abu tsur on 9 Desember 2012 at 2:20 am

        Setelah kita ketahui bhw tradisi kenduri dan selamatan kematian itu berasal dari ajaran hindu,tntunya kita sbg seorang muslim untuk meninggalkannya.Jgn smpai kt trmsuk dari golongan mereka.
        “Barangsiapa menyerupai suatu kaum,
        maka ia termasuk dari mereka.” (HR.
        Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat
        Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma,
        dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
        dalam Shahih Al-Jami’ no. 6025) (Diringkas dari kitab Iqtidha Ash-Shirathil
        Mustaqim juz 1, hal. 93, 94, dan 550)

        Balas

        • Posted by Ul Haq on 22 Desember 2012 at 2:04 pm

          Wahai saudaraku Abu Tsur. Janganlah saudaraku menggunakan hadist untuk menyudutkan golongan lain tanpa menjelaskan asbabul hadist tersebut. Mengikuti adat kebiasaan suatu golongan tidak seluruhnya sesat. Seperti anda pakai celana, pakai sarung, pakai peci, pakai topi, pakai dasi dan jas, pakai alrogi, pakai HP, apakah semua itu berasal dari kebiasaan para sahabat, syech, imam, dan alim ulama tentunya tidak, pakai celana dasi dan jas, topi, alrogi, HP, koputer dll adalah dari dunia barat apakah dengan memakai itu kita termasuk golongan mereka tentu tidak, kita tetap sebagai ummat islam.
          Ingatlah: “Jangan lah kamu mencela suatu kaum karena belum tentu kamu lebih baik dari kaum yang kamu cela, dan semua itu kamu lakukan hanya karena kebencian di hatimu terhadap kaum itu”. Mohon Maaf jika aku salah, Karena Hanya Allah yang Al Haq.

          Balas

          • Posted by ali hasan on 30 Desember 2012 at 2:37 pm

            ente bodoh yee,,,,, pakaian itu tuntutan zaman,,teknologi itu tuntutan zaman dan bukan aqidah,emang ada orang pale hape aqidah nya rusak?, kalo tahlilan itu baru perkara aqidah sesat.

            Balas

            • Posted by Ul Haq on 9 Januari 2013 at 11:42 am

              Alhamdulillah ada yang mengatakan saya bodoh, semoga Allah SWT melimpahkan amal ibadahnya untukku yang dhaif ini.
              Dari kalimat yang saudara ku tulis sudah tercermin jelas derajat ke ilmuan yang saudara kuasai.
              Saudaraku menghubungkan tahlilan dengan aqidah, itu jauh sekali tahlilan bukan aqidah. Tahlilan hanyalah salah satu dari bentuk ibadah amaliah. Sedang aqidah itu berhubungan dengan i’tikat hati akan ketauhidan.

              Balas

    • yang jelas wahabi itu taqlid pada bin baz , albani, utsaimin

      Balas

  42. Posted by Ul Haq on 22 Desember 2012 at 1:28 pm

    Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Begitu panjang saudara kita CICI menjelaskan tentang kebudayaan atau adat hindu masuk kedalam ajaran islam.
    Saya bukan orang alim karena yang alim hanya Allah. saya hanya berpendapat menurut fikiran ku yang dhaif dan bodoh. Karena jika ada seorang manusia merasa dirinya Alim dan ber ilmu maka ia telah menyekutukan sifat Alim-Nya.

    Memang benar di indonesia ini banyak budaya dan adat terdahulu yang masih dipraktikkan oleh ummat islam, hal itu tidak bisa terlepas dari sejarah penyebaran islam di indonesia. Pada jaman dahulu dikiranya mudah menyebarkan islam di indonesia ini yang kepercayaan animesme dan dinamisme yang sudah begitu kental tertanam ribuan tahun. Di pulau jawa begitu susah payahnya para kiai dan para Sunan menyebarkan agama islam. Sehingga berbagai cara dan upaya mereka laksanakan, dari pertama yang hanya menanamkan tauhid menyatakan tuhan cuma satu Allah SWT saja susah apatah lagi mengubah kebiasaan lainnya. Sehingga mereka salah satu cara adalah mereka merobah makna sebuah kegiatan dari yang tadinya menyekutukan Allah menjadi sebuah islami tanpa menyekutukan Allah lagi. Seperti halnya upacara selamatan kematian 3,7,25 dst, kenduri dll yang dahulunya adalah sebuah adat istiadat yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat kita kalau para sunan dan penyebar islam dahulu menentang itu maka akan menyebabkan gesekan keras dengan masyarakat. Dan dengan mengikuti adat istiadat serta menjadikan kebudayaan itu islami terbukti berhasil.

    Dan jangan anda katakan mereka para Sunan dan ulama dahulu itu salah, karena tanpa mereka belum tentu kita ini generasi sekarang memeluk islam. Kalau saja para Sunan dan para Ulama terdahulu gagal dalam menyebarkan islam di indonesia boleh jadi kita-kita masih memeluk aga hindu dan budha.

    Jadi menurut aku sebuah adat budaya orang terdahulu walau sekarang masih kita kerjakan itu bukan suatu masalah karena sudah berobah nilainya menjadi kegiatan yang bersifat islami. Seperti selamatan 3,7,25 hari dst kalau dijaman hindu bersifat pemujaan terhadap para arwah, maka telah berobah menjadi islami dengan di isi pembacaan Al-Quran hingga khatam, zikir dan shalawat. Kalau ada yang mengatakan ini sesat silahkan kaum muslimin menilai sendiri.

    Kemudian dikatakan semua adat budaya itu tidak pernah di contohkan oleh Rasulullah SAW sehingga dikatakan BID’AH. Tidak semudah dan segampang itu membuat hukum dan memponis Bid’ah. Dalam hal muamat dan ibadah secara umum tidak ada itu bid’ah selama tidak menyekutukan Allah (contoh membaca surah yaasiin hingga 10000 kali hal ini tidak pernah di lakukan oleh rasulullah tapi kalau kita melakukannya apakah sebuah kesesatan “Bid’ah” tentu tidak). Lain halnya dengan ibadah yang sudah ada ketentuannya dari Allah dan Rasulnya semisal Shalat magrib 3 raka’at kemudian ditambah jadi 4 raka’at karena ingin banyak pahala, ini sudah pasti kesesatan “Bid’ah”.

    Oleh sebab itu janganlah kita terlalu cepat membuat hukum dan memponis sesuatu adat kebiasaan adalah sebuah kesesatan “Bid’ah”. Lihat dahulu nilai kandungan islaminya. Disana terdapat ukhwah islamiyah yang kuat, silaturrahmi yang kental, unsur dakwah juga ada, orang yang tadinya jarang berzikir jadi ikut berzikir dan membaca Al Qur’an dll.

    Sekali lagi pelajarilah dengan hati yang tawadu’ sebelum kita berpendapat dan menentukan hukum. Jangan kita terbawa emosi karena panatisme terhadap suatu faham dan hanya ingin menang sendiri untuk mempertahankan faham dari golongannya. Karena sudah pasti faham suatu golongan merasa dirinya lah yang paling benar sehingga menutup mata terhadap kebenaran yang dibawa oleh orang lain. Dan ingatlah Kebenaran hakiki ada disisi Allah dan Rasul-Nya.

    Innamal a’amalu binniat.

    Wassalamu’alaiku.

    Balas

    • Posted by Ul Haq on 22 Desember 2012 at 5:48 pm

      Mohon maaf atas kesalahan ketik di atas maksud saya begitu panjang lebar saudaraku Abu Tsur menerangkan di atas tentang kebudayaan hindu masuk ke agama kita islam.

      Balas

  43. Posted by ali hasan on 30 Desember 2012 at 2:32 pm

    ya,,,kalo memberi bekal untuk keluarga yang beduka itu tidak menjadi soal,,yang menjadi soal adalah setelah kematian itu,, selamatan 7 hari, 40 hari. Jelas ini adalah bentuk bid’ah yang nyata.karena persis sama dengan orang hindu,,sedang kita tahu bahwa ”mengikuti suatu kaum berarti kita adalah kaum tersebut”. Bergaya ala barat saja udah kena cap fasiq.apalagi perkara aqidah. Bisa KAFIR juga lama lama.

    Balas

    • Posted by Ul Haq on 9 Januari 2013 at 12:26 pm

      Semoga Allah selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Saudara begitu mudah mengatakan orang yang melakukan tahlilal di waktu2 tertentu itu akan kafir (a’uzubillah hi min zhalik). Bentuk tahlilan ini sudah dilaksanakan oleh ummat islam di indonesia sejak ratusan tahun yang silam belum pernah tau tu ada yang kafir karenanya.
      Saudaraku kenapa faham wahabi salafi selalu menyerang faham-faham ummat islam yang mayoritas, Apa faham ini telah disetting untuk memecah belah ummat islam. Faham ini begitu mudah mengatakan kalian kafir. Seperti kalimat saudara di atas “mengikuti suatu kaum berarti kita adalah kaum tersebut” kalimat ini sama saja mengkafirkan ummat islam yang melakukan tahlilan. Padahal hadist dari Rasullah yang menyebutkan hal tersebut pasti memiliki asbabul wurud nya, dan yang dimaksud oleh Rasulullah SAW aku yakin bukanlah tahlilan yang isinya bentuk ibadah semua.
      Orang-orang Wahhabi berkata: “Bahwa Tradisi selamatan tujuh hari itu mengadopsi dari orang-orang Hindu. Sudah jelas kita tidak boleh meniru-niru orang Hindu.”
      Pernyataan orang Wahhabi ini tentu saja tidak wajar. Ada perbedaan antara
      tradisi Hindu dengan Tahlilan. Dalam tradisi Hindu, selama tujuh hari dari
      kematian, biasanya diadakan ritual selamatan dengan hidangan makanan yang
      diberikan kepada para pengunjung, disertai dengan acara sabung ayam,
      permainan judi, minuman keras dan kemungkaran lainnya.
      Sedangkan dalam tahlilan, tradisi kemungkaran seperti itu jelas tidak ada. Dalam
      tradisi Tahlilan, diisi dengan bacaan al-Qur’an, dzikir bersama kepada Allah SWT
      serta selamatan (sedekah) yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit. Jadi,
      antara kedua tradisi tersebut jelas berbeda.
      Sedangkan berkaitan dengan acara tujuh hari yang juga menjadi tradisi Hindu,
      dalam Islam sendiri, tradisi selamatan tujuh hari telah ada sejak generasi
      sahabat Nabi SAW.. Al-Imam Sufyan, seorang ulama salaf berkata: “Dari Sufyan,
      bahwa Imam Thawus berkata, “Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji
      di dalam kubur selama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf)
      menganjurkan bersedekah makanan untuk keluarga yang meninggal selama
      tujuh hari. tersebut.” (HR al-Imam Ahmad dalam al-Zuhd al-Hafizh Abu Nu’aim,
      dalam Hilyah al-Auliya’ juz 4, hal 11 dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-
      ‘Aliyah, juz5, hal 330).
      Riwayat di atas menjelaskan bahwa tradisi selamatan selama tujuh hari telah
      berjalan sejak generasi sahabat Nabi Sudah barang tentu, para sahabat dan
      generasi salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orang Hindu
      tidak ada di daerah Arab.
      Dan seandainya pun tradisi selamatan tujuh hari tersebut teradopsi dari tradisi Hindu, maka hukumnya jelas tidak haram, bahkan bagus untuk dilaksanakan, mengingat acara dalam kedua tradisi tersebut sangat berbeda. Dalam selamatan
      tujuh hari, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang Hindu
      melakukan kemungkaran. Dalam hadits shahih Rasulullah bersabda:
      “Dari Ibn Mas’ud Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berdzikir kepada Allah
      di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di
      antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan.” (HR. al-Thabarani
      dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath. Alhafizh al-Suyuthi menilai
      hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir).

      Dan seandainya tasyabuh dengan orang Hindu dalam selamatan tujuh hari tersebut
      dipersoalkan, Rasulullah SAW telah mengajarkan kita cara menghilangkan tasyabuh (menyerupai orang-orang ahlul kitab) yang dimakruhkan dalam agama,
      Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:
      “Ibn Abbas berkata: “Setelah Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan
      memerintahkan kaum Muslimin juga berpuasa, mereka berkata: “Wahai
      Rasulullah, hari Asyura itu diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.”
      Rasulullah SAW menjawab: “Kalau begitu, tahun depan, kita berpuasa pula
      tanggal sembilan.” Ibn Abbas berkata: ‘Tahun depan belum sampai ternyata
      Rasulullah SAW telah wafat” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
      Dalam hadits di atas, para sahabat menyangsikan perintah puasa pada hari
      Asyura, di mana hari tersebut juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan
      Nasrani. Sementara Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya agar selalu
      menyelisihi (mukhalafah) orang-orang Yahudi dan Nasrani. Temyata Rasulullah
      memberikan petunjuk, cara menyelisihi mereka, yaitu dengan berpuasa sejak
      sehari sebelum Asyura, yang disebut dengan Tasu’a’, sehingga tasyabbuh
      tersebut menjadi hilang.

      Balas

      • Posted by jasmine on 10 Januari 2014 at 6:57 am

        utk ikhwan UI Haq,ana sdh bertahun2 mnuntut ilmu kpd ustadz2 salafy/wahabi.tp ana gak pernah mndengar mereka(para ustadz wahabi)mengatakan “kelompok si fulan kafir,si anu kafir”akan tetapi yg mereka katakan”perbuatan ini bisa menyebabkan pelakunya jatuh pd kekafiran,perbuatan itu sesat,plakunya di ancam dgn api neraka”.demikian yg selalu mrk katakan.perkataan tersebut di tujukan/di ingatkan kpd seluruh umat islam termasuk kami santri2 nya.tapi mungkin ada diantara ikhwan akhwat salah faham,maka tersebarlah fitnah. CONTOH KASUS:pd suatu kesempatan seorang akhwat brtanya: ustadz bolehkah wanita sholat di masjid? ustadz menjawab: boleh, tapi lebih utama dirumah.krn ROSULULLOH bersabda ” sebaik2 masjid bagi wanita adalah dirumah mrk” demikian jwb ustadz.tp di kemudian hari muncul fitnah yg mngatakan “ustadz salafy melarang wanita sholat di masjid!”. demikian coment saya.INSYA ALLOH kita sambung lagi

        Balas

  44. Posted by pembunuh syirik on 18 Maret 2013 at 11:30 pm

    Blog Pengagum kubur nich kaya’y ….. ayo minta ma kuburan spya kalian cepat kaya hahahha mantap tuch

    Balas

  45. mikir sing bener

    Balas

  46. Keputusan Masalah Diniyyah NU No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926 Tentang
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH , apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    Keterangan :
    1. Dalam kitab I’anatut Thalibin, Kitabul Janaiz : MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”Kami menganggap berkumpul di ( rumah keluarga ) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    2. Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan : “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?
    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    “Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN ORANG-ORANG BODOH” agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris). ”

    SUMBER: AHKAMUL FUQAHA, SOLUSI PROBLEMATIKA HUKUM ISLAM, KEPUTUSAN MUKTAMAR, MUNAS, DAN KONBES NAHDLATUL ULAMA (1926-2004 M), hal. 15-17, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

    Balas

    • Lebih lanjut di Kitab I’anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu’in, juz 2, hal.145 –Kitab rujukan Nahdlatul Ulama (NU) – disebutkan:
      نَعَمْ , مَايَفْعَلُهُ النَّاسَ مِنَ اْلإِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلىَ مَنْعِهَا
      “Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID’AH MUNGKARAT yang bagi orang yang mencegahnya akan diberi pahala.”

      Balas

  47. Posted by ali on 17 Juli 2013 at 1:40 pm

    Assalamu’alaikum Wr Wb.
    sungguh menghabiskan energi ummat ttg perdebatan ini, saya tidakpunya ilmu agama seperti kalianyg hebat2 dan danpunya dall2, tapi saya saya berani mengharamkan kenduri orang mati karena lebih banyak mudharatnya.disaat kalian berdebat habis2an umat di akr rumput malah mewajibkan kenduri dan tak datupun diantara kalian dan ustad2 kalian yg datang membenarkan ini bahkan mendiamkannya, saya katakan wajib karena bilamana ada keluarga yg meninggal, keluarganya akan pontang panting menyediakan makanan untuk orang yg dtang dan setetah fardu jkifayahnya selesai tinggalllah para ahli musibah memikirkan bagaimana cara menutupi hutang dari semua makanan itu sementara uang STM tidak seberapa dan orang2 dengan lahapnya menikmati hidangan tsb sebagai pembayar doa2 dan bacaan2 yg dibacanya.karena kalo tidak dikendurikan akan dipergunjingkan bahkan diempat saya bertugas dulu pihak yang tidak mengkendurikan keluarganya yg meninggal akn menjadi hutang bagi ahli warisnya yang HARUS dibayar (dilaksanakan)
    Bila tidak, hajatan2 keluargatsb (mis.perkawinan dll) takkan ada yg mengurus, mau kawin, kawin lah sana sendiri ke KUA.

    Balas

  48. Posted by sunthree on 28 Desember 2013 at 10:32 am

    yang Islam cuma wahabi doang (titik) yang laen kafir , musyrik , yang masuk sorga cuma genk wahabi doang (titik)

    Balas

  49. Posted by jasmine on 10 Januari 2014 at 6:29 am

    pd comment hadist dloif,hadist shohih mulu.acara selametan ada hadistnya gak?klo tradisi jd agama,ntar tiap negara,tiap suku,tiap masjid,tiap rumah,islam nya beda-beda dong.sebab masing2 punya tradisi sendiri.kalo bid’ah hasanah itu di benarkan,ane ente juga bisa bikin sendiri.klo gitu buat apa belajar hadist.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: