Nashiruddin al-Albani Menghina Ulama’ Sekelas al-Imam as-Suyuthi Rahimahullaah


Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim

Bukan rahasia lagi apabila orang-orang dari sekte Wahhabiyyah gemar mencaci-maki dan menghina orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pada artikel kali ini akan kami sajikan sebuah fakta, dimana salah seorang ulama’nya kaum Wahhabiyyah melakukan penghinaan terhadap seorang ulama ahlussunnah wal jama’ah yaitu al-Imaam as-Suyuthi rahimahullaah.

al-Albani merendahkan al-Imam as-Suyuthi rahimahullaah dengan sebuah kalimat “يجعجع”  (Yuja’ji’u). Di dalam kamus al-Munawir, disebutkan bahwa arti Yuja’ji’u adalah suara unta yang sedang berkumpul.

Mari kita lihat fakta ini di dalam buku karya al-Albani yang berjudul as-Silsilat adh-Dha’ifah jilid 4 halaman 189 (kitab ini dapat didownload di perpustakaan digital milik wahhabi http://waqfeya.net/book.php?bid=505), dan setelah anda download yang jilid 4 silakan buka halaman 189, disitu akan tertera kalimat seperti berikut (perhatikan yang bergaris merah):

Kami tulis ulang kalimat yang bergaris bawah warna merah:

وجعجع حوله السيوطي في اللالي

“Dan as-Suyuthi bersuara seperti unta yang sedang berkumpul di sekitarnya di dalam al-Laali”

Apakah layak seorang imam sekelas as-Suyuthi rahimahullaah direndahkan dengan perkataan tak berakhlaq seperti ini????

Masih ada lagi, di dalam bukunya yang lain, yaitu as-Silsilat adh-dhaifah jilid 3 halaman 479, al-Albani juga merendahkan lagi al-Imam as-Suyuthi rahimahullah. Beliau al-Imaam as-Suyuthi rahimahullaah dikatakan sebagai “Seseorang yang tidak punya rasa malu” oleh al-Albani.

Mari kita lihat fakta ini, bagi anda yang ingin membuktikan apakah ini fakta atau fitnah, silakan anda buka kitab as-Silsilat adh-Dha’ifah jilid 3 halaman 479 (kitab ini dapat di download di http://waqfeya.net/book.php?bid=505 dan silakan pilih yang jilid 3), disitu tercantum (perhatikan kalimat yang bergaris bawah warna merah):

Arti dari kalimat yang bergaris bawah:

Aku (al-Albani)  katakan: “Sungguh mengherankan as-Suyuthi ini, dia tidak punya rasa malu menyertakan hadits buruk seperti ini di dalam kitabnya al-Jami’ as-Shaghir”

Setelah melihat fakta diatas, pasti timbul sebuah pertanyaan, apakah demikian akhlaq seseorang yang dianggap sebagai “Muhaddits” ????

Apabila beliau adalah benar-benar muhaddits (seperti yang diklaim para pengikutnya), tentunya akan sangat berhati-hati di dalam hal ini dan tidak akan merendahkan ulama lain. Namun, dikarenakan fakta yang ada menunjukkan hal-hal yang sebaliknya, beliau disamping merendahkan ulama’ lain, beliau juga sering salah dan kontradiktif di dalam menetapkan status hadits,  maka apakah layak dirinya dipercaya di dalam mentashhih dan mentadh’if hadits-hadits Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam?

Berkaitan dengan tindakan caci-maki yang dilakukan al-Albani terhadap ulama’ lainnya, kami ada pertanyaan: Apakah ada di antara para Muhaddits yang mu’tabar dan diakui keilmuannya seperti al-Imaam al-Bukhari, imam Muslim, imam Ahmad, imam an-Nasa’i, imam at-Tirmidzi dan lain-lain yang melakukan tindakan caci-maki kepada ulama’ lain????

About these ads

37 responses to this post.

  1. wahabiyun laknatullah

    Balas

    • Posted by acuy on 28 Oktober 2011 at 10:26 pm

      masya Allah,..tak layak bagi al banni tuk mengatakan spt itu,teramat sangat jauh keilmuannya dan masanya, di banding sang imam suyuthi,..imam suyuthi adalah muhaddist, sedangkan al banni hanya pentelaah kitab klasik,…ampyuun deh…

      Balas

  2. wahabi goblog….enyahlah engkau dari muka bumi ini. wouy wahabi sesat jangan engkau mencela ulama ulama ahlussunnah yang sholeh, apalaagi mencela ulama sesholeh imam suyuthi…

    Balas

    • ahhh kmu ini,,, bilang goblog k’orang lain… padahal kmu kalii yg goblog…
      kalo mo bilang “woi wahabi sesat, jangan engkau mencela ulama-ulama ahlussunnah yg soleh, dst”, langsung dong kepada yg bersangkutan bilangnya, jangan lewat sini… gimana sii… mana bahasanya kasar lagi…

      Balas

  3. Di Balik Pemujaan Wahabi
    Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW. Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi SAW adalah bagian dari mencintai Allah SWT. Beliau bersaba:
    مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ وَمَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطاَعَ اللهَ

    “Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah SWT.”

    Cinta haruslah disertai dengan penghormatan dan pengagungan. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan manusia agar mengagungkan sosok Baginda Nabi SAW. Allah SWT berfirman:
    إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

    “Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya dan mengagungkan Rasul-Nya.”

    Cinta para sahabat kepada Baginda Rasul SAW adalah cinta yang patut diteladani. Dalam hadits-hadits disebutkan bagaimana para sahabat saling berebut bekas air wudhu Baginda Nabi SAW. Meski hanya tetesan air, namun air itu telah menyentuh jasad makhluk yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena itulah mereka begitu memuliakannya dan mengharap berkah yang terpendam di dalamnya. Ketika Baginda Nabi SAW mencukur rambut, para sahabat senantiasa mengerumuni beliau. Mereka ingin mendapatkan potongan rambut beliau meski sehelai. Dengan rambut itu mereka hendak mengenang dan mengharap berkah Nabi SAW. Demikianlah rasa cinta para sahabat kepada Baginda Nabi SAW.

    Primitif

    Apa yang berlaku saat ini di Bumi Haramain adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kaidah cinta. Di sana orang-orang Wahabi mengaku mencintai Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sama sekali tidak menghormati beliau SAW. Mereka bahkan melecehkan beliau dan melakukan perbuatan yang teramat tidak pantas kepada sosok sebesar beliau. Bayangkan saja, rumah yang ditempati beliau selama 28 tahun, yang semestinya dimuliakan, mereka ratakan dengan tanah kemudian mereka bangun di atasnya toilet umum. Sungguh keterlaluan!

    kebiadaban WahabiFakta ini belakangan terkuak lewat video wawancara yang tersebar di Youtube. Adalah Dr. Sami bin Muhsin Angawi, seorang ahli purbakala, yang mengungkapkan fakta itu. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mencari situs rumah Baginda Nabi SAW. Setelah berhasil, ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak yang berwenang.

    Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar yang mengantongi gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan. Ketika ditanya oleh pewawancara mengenai bangunan apa yang didirikan di atas lahan bersejarah itu, Sami Angawi terdiam dan tak mampu berkata-kata. Si pewawancara terus mendesaknya hingga akhirnya ia mengakui bahwa bangunan yang didirikan kelompok Wahabi di atas bekas rumah Baginda Nabi SAW adalah WC umum. Sami Angawi merasakan penyesalan yang sangat mendalam lantaran penelitiannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia. Ia kemudian mengungkapkan harapannya, “Kita berharap toilet itu segera dirobohkan dan dibangun kembali gedung yang layak. Seandainya ada tempat yang lebih utama berkahnya, tentu Allah SWT takkan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal Rasul SAW dan tempat turunnya wahyu selama 13 tahun.”

    Ulah jahil Wahabi itu tentu saja mengusik perasaan seluruh kaum muslimin. Situs rumah Baginda Nabi SAW adalah cagar budaya milik umat Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka sama sekali tidak berhak untuk mengusik tempat terhormat itu. Ulah mereka ini kian mengukuhkan diri mereka sebagai kelompok primitif yang tak pandai menghargai nilai-nilai kebudayaan. Sebelum itu mereka telah merobohkan masjid-masjid bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah, tempat Syajarah ar-Ridhwan, Masjid Salman Alfarisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Hamzah bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002 lalu, mereka meluluhkan masjid cucu Nabi, Imam Ali Uraidhi menggunakan dinamit dan membongkar makam beliau.

    Wahabi tidak rela Masjid cucu Nabi berada di Madinah

    Selama ini kelompok Wahabi berdalih bahwa penghancuran tempat-tempat bersejarah itu ditempuh demi menjaga kemurnian Islam. Mereka sekadar mengantisipasi agar tempat-tempat itu tidak dijadikan sebagai ajang pengkultusan dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemusyrikan. Akan tetapi dalih mereka agaknya kurang masuk akal, sebab nyatanya mereka berupaya mengabadikan sosok Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Mereka mendirikan sebuah bangunan yang besar dan mentereng untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Syekh al-Utsaimin. Bandingkan perlakuan ini dengan perlakuan mereka kepada Baginda Nabi SAW. Mereka merobohkan rumah Baginda Nabi SAW dan menjadikan tempat yang berkah itu sebagai WC umum, kemudian membangun gedung megah untuk Al-Utsaimin. Siapakah sebetulnya yang lebih mulia bagi mereka? Baginda Rasulullah SAW ataukah Syekh al-Utsaimin?

    Kacamata UsaiminBangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.”

    pena terakhir yang dikeramatkanSungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

    Haul Wahabi

    Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

    ‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

    Utsaimin yang dikultuskan Wahabi

    Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:
    وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ

    “Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

    Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

    Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam.

    Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah hal 161. Di situ ia menulis:
    وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ

    “Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….! Ibnu KhariQ
    sungguh wahabi memang sesat. wouy wahabi sesat kapan lu pinternya

    Balas

  4. di ambil dari forum santri sunniyah salafiyah

    Balas

  5. Albani, Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi

    Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

    Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

    Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.

    Siapakah Nashirudin al- Albani?

    Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

    Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).

    Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

    Penyelewengan Albani

    Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’

    1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

    2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

    3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

    4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

    5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

    6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

    7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

    8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

    9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

    10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

    Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:

    1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

    2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

    3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

    4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

    5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

    6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

    7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

    8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

    9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

    10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

    Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.

    sumber; http://www.forsansalaf.com/2011/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/

    wahabi itu sesat

    Balas

  6. Semoga semua umat muslimin mengetahui fakta ini.dan mereka segera kembali kejalan kebenaran,kejalan Nabi SAW.,sehingga faham wahabi segera lenyap dari muka bumi ini,.

    Balas

  7. Posted by seyyun on 12 November 2011 at 1:48 pm

    dari tulisan di atas maka jelas wahabi adalah celaka punya aliran dan fahamn

    Balas

  8. Posted by Ahmad Rabani on 15 November 2011 at 11:08 am

    naudzu billah
    albani yg tiada akhlak

    Balas

  9. Posted by che mat on 22 November 2011 at 11:46 am

    al-Albani adalah seorang muhaddith ulung abad ini.

    Balas

  10. Benar bagus syubhat para pembenci Al-Albany…Hebat…!!!! namun syubhat basi seperti ini adalah norak….bukankah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam menjami neraka bagi siapa yang berdusta atas nama beliau, ,,,,dan termasuk menyebarkan hadits Maudu’ (palsu) dan menguatkannya dan menganggapnya shahih sehingga bersebrangan tarjih dengan yang lebih ahli darinya semisal imam al-’uqaily….maka pantaslah (sebagai bukti kecemburuan terhadap sunnah) untuk mencela kekeras kepalaan karena tarjih yang keliru dan bertentangan dengan menghukumi hadirs ini dengan maudu’ dari ahlinya (al-imam ‘uqaily yang lebih tahu tentang rowi dho’if dan maudhu’ (palsu))….

    Bagus , bergabunglah bersama ulama’ pembenci al-albany…berbarislah teratur dan kibarkanlah bendera perang (ilmiah) kepada salafiyyun…kami menunggu kalian di medan ilmiah….

    Dan dari uslub kalian adalah mengutip setengah-setengah..dan sejumlah kecil….dan kalian tahu bahwa kitab syaikhuna al-albany sangat banyak dan berbobot…hanya karena kebencian dan taqlid membuat kalian menjatuhkan dan mencari-cari kekeliruannya…mungkin demi materi, mungkin demi dakwah hizb kalian, atau apalah

    Balas

  11. BERTAUBATLAH KAU PARA WAHABI, DAN JUGA PARA PENGIKUT-PENGIKUTNYA

    WAHABI LAKNATULLAH

    Balas

  12. Penyimpangan Akidah Syeikh al Albâni al Wahhâbi as Salafi
    Posted on Januari 18, 2011 by abusalafy

    Penyimpangan Akidah Syeikh al Albâni al Wahhâbi as Salafi

    Tidak sedikit penyimpangan yang terjadi dalam akidah para pembesar masyâikh Wahhâbi-Salafi, khususnya tentang akidah ketuhanan yang banyak membutuhkan akal sehat dan tidak sekedar menelan mentah-mentah asal riyawat yang diatas-namakan Nabiyyul Islam Muhammad saw. atau atsar sahabat!

    Syeikh Albâni menukil pendapat sebagin kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) seraya membenarkan bahwa: .
    من قال عن الله ‏‏”ويُرى لا في جهة ” فليُراجع عقله.
    وقال الالباني “إن اريد بالجهة امر عدمي ‏وهو ما فوق العالم فليس هناك الا الله وحده”.

    “Barang siapa berkata tentang Allah, ‘Dia dilihat tidak di sebuah jihah/sudut/sisi tertentu.’ Hendaknya ia mengoreksi akalnya.” [1] Albani berkata, “Jika yang dimaksud dengan jihah adalah perkara ketiadaan dan di adalah di atas alam semesta ini, maka di sana tidak ada selain Allah sendirian.” [2]

    Abu Salafy Berkata:

    Demikianlah akidah Salafi yang dibanggakan kaum Salafiyyûn Wahhabiyyûn yang diyakini Syeikh agung mereka yang sering linglung dalam mentashih atau mentadh’if hadis!

    Coba bandingkan dengan akidah ulama Islam seperti yang dirangkum oleh Imam ath Thahawi dalam Aqîdah-nya:

    .
    لا تحويه – أي الله – الجهات الست كسائر المبتدعات

    “Allah tidak dimuat oleh enam sisi seperti halnya makhluk.”

    .

    Maksudnya Maha Suci Allah dari berada di sisi tertentu, sebab yang demikian itu meniscayakan bertempat dan dibatasi oleh batas dan segala konsekuensinya, seperti gerak, diam dll dari sifat makhluk.

    Dengan omongannya itu Syeikh Albâni telah menuduh para ulama Islam tidak berakal. Dan pada waktu yang sama ia telah membuktikan bahwa ia telah menyimpang dari akidah Islam yang diyakini para imam Ahlusunnah. Sedangkan Rasulullah saw. telah bersabda:

    .
    ‏ عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان ‏مع الواحد وهو من الاثنين أبعد فمن أراد بُحبوحة الجنة فليلزم الجماعة} رواه ‏الترمذي.

    “Hendaknya kamu bersama Jama’ah, dan hati-hatilah kamu dari perpecahan, sebab setan bersama satu orang dan dari dua orang ia lebih jauh. Barang siapa menginginkan kebahagiaan kehidupan surga hendaknya ia bersama Jama’ah.” HR Turmudzi.

    ____________________

    [1]. Mukhtashar al Ulu, hal, 7, 156, 285

    [2]. Al Aqidah Ath Thahawiyah Syarah Wa Ta’liq Al Albani, hal. 25
    Suka
    Be the first to like this post.

    Filed under: Akidah Tajsim & Tasybih, Dongeng Wahabi, Fatwa Jenaka Wahabi, Fatwa Pensesatan, Fatwa Wahabi-Salafy, Kajian Hadis, Kenaifan K

    Balas

  13. Posted by abu aisyah on 9 Desember 2011 at 4:20 pm

    IJAZAH HADITS SYEIKH AL ALBANY : Syaikh Al-Albany memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbagh yang kepadanya beliau mempelajari ilmu hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. Syaikh Al-Albany menjelaskan tentang ijazah beliau ini pada kitab Mukhtasar al-‘Uluw (hal 72) dan Tahdzir as-Sajid (hal 63). Beliau memiliki ijazah tingkat lanjut dari Syaikh Bahjatul Baytar (dimana isnad dari Syaikh terhubung ke Imam Ahmad). Keterangan tersebut ada dalam buku Hayah al-Albany (biografi Al-Albany) karangan Muhammad Asy-Syaibani. Ijazah ini hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar ahli dalam hadits dan dapat dipercaya untuk membawakan hadits secara teliti. Ijazah serupa juga dimiliki murid Syaikh Al-Albany, yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi. Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa Syaikh hanya belajar dari buku, tanpa ada wewenang dan tanpa ijazah.

    Dalam pembahasan ini, saya pikir tidak mengapa untuk memberikan sedikit gambaran tentang kehidupan dan pekerjaan Syaikh Al-Albany agar kita lebih yakin perihal kedudukan beliau dalam bidang ilmu hadits, semisal penghormatan dari ulama-ulama lain yang ditunjukan kepada beliau. Mungkin satu atau dua penjelasan pendek belumlah mencukupi, meski begitu, saya berharap informasi ini cukup menarik dan dapat memberi semangat kepada para pembaca:

    1. Syaikh Al-Albany dilahirkan pada taun 1914 M di Asykodera, ibukota pertama Albania.
    2. Syaikhnya yang pertama adalah ayahnya, Al-Hajj Nuh An-Najjati, yang telah menyelesaikan belajar Syari’ah di Istanbul dan kembali ke Albania sebagai seorang ulama Hanafiyah. Di bawah bimbingan ayahnya, Syaikh Al-Albany belajar Quran, tajwid dan bahasa Arab, dan juga fiqh Hanafiyah.
    3. Beliau belajar fiqh hanafiyah lebih lanjut dan bahasa Arab dari Syaikh Sa’id al-Burhan.
    4. Beliau mengikuti pelajaran dari Imam Abdul Fattah dan Syaikh Taufiq Al-Barzah
    5. Syaikh Al-Albany bertemu dengan ulama hadits zaman ini, Syaikh Ahmad Syakir, dan beliau ikut berpartisipasi dalam diskusi dan penelitian mengenai hadits.
    6. Beliau bertemu dengan ulama hadits India, Syaikh Abdus Shamad Syarafuddin, yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan al-Kubra karya An-Nasai, seperti halnya karya Al-Mizzi yang monumental, Tuhfat al-Asyraf, yang selanjutnya mereka berdua saling berkirim surat tentang ilmu. Dalam salah satu surat, Syaikh Abdus Shamad menunjukkan keyakinan beliau bahwa Syaikh Al-Albany adalah ulama hadits terbesar saat ini.
    7. Sebagai pengakuan terhadap keilmuannya mengenai hadits, pada tahun 1955 Syaikh Al-Albany ditugaskan di Fakultas Syariah Universitas Damaskus untuk menganalisa dan meneliti secara terperinci mengenai hadits-hadits jual beli dan yang berhubungan dengan transaksi bisnis lain.
    8. Syaikh Al-Albany memulai pekerjaannya secara resmi pada bidang hadits dengan men-transkrip karya monumental Al-Hafidz al-Iraqy, yaitu Al-Mughni ‘an Hamlil-Ashfar -sebuah studi tentang beragam hadits- dan riwayat-riwayat pada karya terkenal Al-Ghazali, Ihya’ Ulumudin. Pekerjaan ini sendiri mencakup lebih dari 5000 hadits.
    9. Syaikh selalu mengunjungi perpustakaan Dhahiriyyah di Damaskus, sehingga kemudian beliau diberi kunci perpustakaan, karena beliau sering berada di sana dan belajar dalam waktu yang lama. Suatu hari, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan Syaikh Al-Albany. Kejadian ini menjadikan beliau mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membuat katalog seluruh manuskrip hadits di perpustakaan agar folio yang hilang tersebut bisa ditemukan. Karenanya, beliau mendapatkan banyak ilmu dari 1000 manuskrip hadits, sesuatu yang telah dibuktikan beberapa tahun kemudian oleh Dr. Muhammad Mustafa A’dhami pada pendahuluan “Studi Literatur Hadits Awal”, dimana beliau mengatakan, “Saya mengucapkan terimakasih kepada Syaikh Nashiruddin Al-Albany, yang telah menempatkan keluasan ilmunya pada manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya”.

    10. Syaikh Al-Albany kadang-kadang terlihat keadaannya yang amat miskin selama hidupnya. Beliau mengatakan sering mengambil sobekan-sobekan kertas dari jalan –biasanya berupa kartu undangan pernikahan-, yang kemudian digunakan untuk menulis haditsnya. Seringkali, dia membeli potongan-potongan kertas dari tempat pembuangan dan membawanya ke rumah untuk dipakai.

    11. Beliau senantiasa berkorespondensi dengan banyak ulama, terutama yang berasal dari India dan Pakistan, mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan Syaikh Muhammad Zamzami dari Maroko dan ‘UbaiduLlah Rahman, pengarang Mirqah al-Mafatih Syarh Musykilah al-Mashabih.

    12. Keahliannya dalam bidang hadits diakui oleh banyak ulama yang berkompeten, baik masa lalu maupun sekarang, termasuk Dr. Amin Al-Mishri, kepala Studi Islam di Universitas Madinah yang juga termasuk salah satu murid Syaikh Al-Albany, juga Dr. Syubhi Ash-Shalah, mantan kepala bidang Ilmu Hadits di Universitas Damaskus, Dr. Ahmad Al-Asal, kepala Studi Islam di Universitas Riyadh, ulama hadits Pakistan sekarang, ‘Allamah Badi’uddien Syah As-Sindi; Syaikh Muhammad Thayyib Awkij, mantan kepala Ilmu Tasfir dan Hadits dari Universitas Ankara di Turki; belum lagi pengakuan dari Syaikh Ibn Baaz, Ibnul ‘Utsaimin, Muqbil bin Hadi, dan banyak lagi yang lain pada masa berikutnya.

    13. Setelah sejumlah hasil karyanya dicetak, selama tiga tahun Syaikh terpilih untuk mengajar hadits di Universitas Islam Madinah, sejak tahun 1381 H sampai 1383 H, dimana beliau juga bertugas sebagai anggota dewan pengurus universitas (setelah itu beliau kembali ke tempat studi pertamanya dan mengkhidmatkan dirinya pada perpustakaan Adh-Dhahiriyyah). Kecintaan beliau pada Universitas Madinah dibuktikan dengan mewariskan seluruh koleksi perpustakaan pribadinya ke Universitas.

    14. Beliau mengajar dua kali sepekan di Damaskus, yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dan dosen universitas. Di sini, Syaikh menyelesaikan pengajarannya pada karya klasik dan modern (edited):

    * Fath al-Majid, karya Abdur Rahman bin Hushain Alu Syaikh
    * Raudhah an-Nadiyyah karya Siddiq Hasan Khan
    * Minhaj al-Islamiyah karya Muhammad As’ad
    * Ushul al-Fiqh, karya al-Khallal
    * Mustholah at-Tarikh, karya Asad Rustum
    * Al-Halal wa al-Haram karya Yusuf Qardhawi
    * Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq
    * Ba’its al-Hadits karya Ahmad Syakir
    * At-Taghib wa at-Tarhib karya Al-Hafidz Al-Mundziri
    * Riyadh ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi
    * Al-Imam fi Ahadits al-Ahkam, karya Ibnu Daqiqil ‘Ied

    15. Setelah menganalisa hadits-hadits pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, seorang ulama hadits India, Muhammad Musthofa A’dhami (kepala Ilmu Hadits di Makkah), memilih Syaikh Al-Albany untuk memeriksa dan mengoreksi kembali analisanya, dan pekerjaan tersebut telah diterbitkan empat jilid, lengkap dengan ta’liq (catatan, red) dari keduanya. Ini adalah tazkiyah dari ulama yang lain atas keilmuan hadits Syaikh Al-Albany.

    16. Pada edisi dari himpunan hadits terkenal, Misykah al-Mashabih, penerbit Maktabah Islamy meminta Syaikh Al-Albany untuk memeriksa pekerjaan mereka sebelum diterbitkan. Pihak penerbit telah menulis pada bagian pendahuluan, ”Kami meminta kepada ulama hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany, untuk membantu kami dalam memeriksa Misykat dan bertanggung jawab untuk memberi tambahan hadits-hadits yang diperlukan dan meneliti serta memeriksa kembali sumber-sumber dan keasliannya pada tempat-tempat yang diperlukan, dan membetulkan kesalahan-kesalahan…”

    17. Hasil karya Syaikh yang telah dicetak, terutama pada bidang hadits dan ilmu perangkatnya (seperti ilmu Mustholah Hadits, Jarh wa Ta’dil, Rijalul Hadits, edit.) berjumlah sekitar 112 buku. Tujuh belas diantaranya sebanyak 45 jilid. Beliau meninggalkan manuskrip minimal tujuh puluh karangan.

    18. Telah terekam suatu kejadian (dan kejadian ini terdapat pada dua kaset – murid-murid beliau sering merekam pelajaran beliau), bahwa seorang laki-laki telah mengunjungi Syaikh Al-Albany di rumahnya di Yordania dan menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Nabi! Bagaimana reaksi kita ketika berada pada situasi ini? Syaikh Al-Albany meminta lelaki itu duduk dan mendiskusikan pernyataannya tersebut dalam waktu yang lama (seperti yang saya katakana: ada pada dua kaset), sehingga pada akhirnya, si tamu tersebut bertaubat dari klaimnya itu dan semua yang hadir, termasuk Syaikh turut menangis. Pada kenyataannya, sudah berapa sering terdengar Syaikh Al-Albany menangis ketika berbicara mengenai Allah, Rasul-Nya, dan muamalah antar Muslim?

    19. Pada kejadian yang lain, beliau dikunjungi tiga orang yang kesemuanya menuduh Syaikh Al-Albany kafir. Ketika waktu sholat tiba, mereka menolak untuk bermakmum kepada Syaikh, karena tidak mungkin bagi seorang kafir menjadi imam sholat. Syaikh menerima hal ini, dan mengatakan bahwa menurut pandangannya, ketiga orang ini adalah Muslim, sehingga salah satu dari mereka berhak menjadi imam sholat. Tak lama kemudian, mereka bertiga berdebat lama sekali mengenai perbedaan di antara mereka sendiri, dan ketika waktu sholat berikutnya telah tiba, ketiga laki-laki ini mendesak untuk ikut sholat di belakang Syaikh Al-Albany !

    20. Selama hidupnya, Syaikh telah meneliti dan men-ta’liq lebih dari 30.000 silsilah perawi hadits (isnaad) pada hadits-hadits yang tidak terhitung jumlahnya, dan menghabiskan waktu enam puluh tahun untuk belajar buku-buku hadits, sehingga buku-buku tersebut menjadi sahabat sekaligus berhubungan dengan ulama-ulamanya (pengarang kitab-kitab Sunnah tersebut, pent) (wbmstr Jilbab Online)

    sumber: http://www.troid.org

    Penerjemah: Webmaster Jilbab Online (2003)

    Muroja’ah: Abu Hudzaifah

    Balas

    • Posted by fendi on 27 Januari 2013 at 3:18 am

      Sebagian besar pengagumnya dan para pemujinya memang banyak dari kalangan wahabi itu sendiri,, dan seidkit sekali dr kalangan sunni (kecuali mereka yg tak jelas)
      ya… maklum..!! krn kebesaran sesuatu hy diatas hizbx aja..!!

      Balas

  14. Posted by herry on 17 Desember 2011 at 1:23 am

    @ abu aisyah, tulisan anda beberapa kali saya baca dan temukan di beberapa situs internet. Mungkin benar apa yang anda tulis tersebut. Tetapi,…yang jadi permasalahan disini adalah :
    Apakah bukti yang disampaikan oleh admin di atas benar atau salah?

    Jadi menurut saya, tidak usah panjang lebar bertele-tele ngalor ngidul g jelas. Kalau menurut anda bukti yang ada di atas adalah benar, maka anda…. Kalau menurut anda bukti di atas salah, maka tunjukkanlah kepada kita semua yang benar itu seperti apa dan sertakan dengan buktinya.

    Berargumenlah dengan baik dan benar. Baik, berarti dengan kata-kata yang sopan dan bijaksana, Benar, berarti kita harus menunjukkan bukti bahwa apa yang kita sampaikan ada faktanya. tapi ingat! Jangan sampai OOT :).

    @ abu aisyah, apa yang anda tulis itu namanya pengalihan isu, jadinya OOT.

    Begitu juga dengan @Thullab salafi. Ngomong gak jelas tanpa fakta.

    Balas

  15. Posted by andri on 27 Desember 2011 at 8:07 am

    tidak ada ulama dari ahli sunnah waljamaah (4 mazhab) yg memuji syeh al bani kecuali dari para murid murid.a syeh al bani dan keturunan.a :)
    mau bukti nie
    http://ummatipress.com/2011/09/27/bul-kibal-kibul-tentang-pujian-ulama-kepada-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab/

    Balas

  16. Posted by andri on 27 Desember 2011 at 8:15 am

    mohon maaf
    pujian untuk guru.a Muhammad bin Abdul Wahhab guru.a syeh al bani
    semoga beliau di ampuni segala dosa-dosa.a oleh ALLAH SWT
    dan semoga murid2.a tidak terlalu fanatik terhadap beliau .
    amin

    Balas

  17. Posted by izul taimia on 17 Januari 2012 at 1:00 pm

    oh…tidak bisa malah insya allah dia akan berkibar untuk memberantas kesyirikan.

    Balas

  18. Posted by fitrah on 23 Januari 2012 at 10:14 am

    assalam’ualaikum
    hai orang mukmin yang diberi Allah Akal dan perasaan. Seharusnya sebelum mencela seorang Ulama sekaliber Syeikh Al-Albani hendaklah tidak menuruti hawa nafsu. pelajari biografi beliau dengan benar dan fahami hadist yang beliau shahih atau dhaif kan. mencaci maki sampai melaknat seorang ulama adalah suatu kebodohan. seorang ulama adalah yang memberi ilmu dalam Agama yang hanif dan yang haq ini. di katakan dia seorang ulama karena yang menilai dia adalah seorang ulama juga. jadi sebagai orang awam yang terbatas keilmuan nya tidaklah boleh mencaci maki sebelum ada fakta yang menguatkannya bukan caci maki yang di ada-adakan atau dibuat-buat oleh orang membenci atas dakwah nya atau iri dengan keilmuannya pada seorang ulama.
    Saya ingatkan lagi bahwa kita hidup hanyalah sebentar tidak lama di atas dunia ini. cari lah ilmu yang benar dalam Agama Islam sesuai apa yang Nabi Muhammad ajarkan kepada umatnya supaya kita selamat dunia dan akhirat terutama di akhirat yang abadi.

    Balas

    • Posted by fendi on 27 Januari 2013 at 2:54 am

      nashiruddin al bani_sekaliber menurut kaum wahabi… tdk untuk yg lain
      yg jelas.. seorg al albani tak pantas mendapat kemulyaan dikalangan ummat islam..
      krn dalam menilai islam menggunakan tafsiran2 terhadap alqur`an dan hadits sesuai hawa nafsunya… diamping suka mencaci ulama2 lain (sunni) baca : Kitab2 alabani red. insya`Allah bila anda faham… maka jauhilah anggapan keliru anda seperti di atas. semoga

      Balas

  19. Posted by negaraindonesia on 16 Februari 2012 at 12:42 am

    http://almanhaj.or.id/content/2332/slash/0
    smoga bermanfa’at.. ^_^ …

    Balas

  20. Posted by hamba Allah on 3 April 2012 at 7:34 pm

    bukan mencari kesalahan, balasan yang Allah berikan kepada pencela orang2 sholeh itu sendiri.. justru ini lah pembenaran dari pelkurusan bagi yang merasa benar untuk menmbah pengikut dalam tubuh islam sendiri

    Balas

  21. ” AWAS BAHAYA LATENT SYEIKH AL – ALBANI ”

    ” AWAS BAHAYA LATENT SYEIKH AL – ALBANI ”

    ” AWAS BAHAYA LATENT SYEIKH AL – ALBANI “

    Balas

  22. Pernah saya baca artikel di internet bahwa al albani membid’ahkan keputusan khalifah utsman mengenai azan sholat jumat 2 kali. Padahal para shahabat mengikuti keputusan khalifah utsman dan tidak ada yang membidahkan..

    Jika ini benar, saya jadi bingung.. yang lebih paham agama itu apakah khalifah utsman beserta para shahabat nabi ataukah syaikh al albani?
    Benarkah al albani membid’ahkan sayidina utsman beserta para sahabat nabi? Kalau benar buat saya itu benar2 woooowwww….!!!!

    Balas

  23. Posted by hamba Allah (andi) on 6 Februari 2013 at 5:23 pm

    jika kalian melihat sesuatu yang buruk pada para ulama jangan dibongkar aibnya… kalian perlu menyadari kalau kalian juga memiliki aib2 tersendiri.. berdoalah untuk mereka agar diridhoi oleh Allah… “siapa yang menyebutkan keburukan orang lain itu sama dengan ghibah, dan aib orang. niscaya Allah akan membuka aib orang( yang suka membuka aib orang lain) diakhirat nanti.” malu lah kepada Allah. perhatikanlah amal kita, setiap manusia itu khilaf. apakah kalian yang mengomentari para ulama ini tidak pernah khilaf. jika mereka wahabi, jangn caci mereka, tetapi doalah untuk mereka agar Allah memberi petunjuk yang lurus buat mereka.

    Balas

  24. kalau urusan mengkafirkan, membid’ahkan, memfitnah buat salafi mah biasa… klu tdk percaya coba cari sj d toko buku karangan albani yg menyerang sahabat nabi n para imam hadis… pengajiannya klu tidak menghujat yg memfitnah org / paham yg tdk sama dgn mereka…

    Balas

  25. Posted by sayfuddin on 18 April 2013 at 10:02 am

    Kalau masalah mencaci-maki ulama lain memang itu perbuatan yang tercela. Tapi apakah makna tulisannya secara menyeluruh. Saya lihat sebab mencaci adalah kesalahan pihak yang dicaci menyertakan hadits palsu. Jelas hadits palsu adalah bentuk khianat terhadap beliau Rasulullah Muhammad saw. Dan siapapun yang memalsukan hadits, neraka jaminannya, dan bau surga tidak sampai kepadanya.

    Balas

  26. perlu saudara ketahui semua nya….mungkin saudara hanya mempelajari nya sepenggal2 saja,
    jelas sudah ulama2 yg membenci dan menyerang syaikh albani adalah ulama2 dari kalangan orang2 sufi, tasawuf, filsafat, mereka lah yg suka mengarang2 hadits dlm beribadah dan mengikuti hawa nafsunya, kita2 ini belum lah berilmu………maka tidak layak kita mencela syaikh albani sbg muhadits ygh telah diakui oleh ulama madina dan makkah…..seperti sabda rasulullah ; iman akan kembali ke madinah sebagaimana ular kembali ke dalam sarang nya”
    maka jelas ilmu yg tidak berasal dari dua negri itu jelas ilmu yg dikarang oleh mereka sendiri, syaihk bukan nya tdk belajar, beliau jelas belajar dengan org2 berilmu yg ada jordan atau pun di arab saudi dan madinah…

    Balas

  27. Posted by Muslin Kampung on 4 Juni 2013 at 10:38 am

    Jika memang mereka benar, kenapa diberitakan oleh Rosulullah saw, Bahwa mereka akan menjadi penentang pertama Imam Mahdi di Akhir Zaman, berusaha membunuh Al Mahdi. Dan kenapa negara pertama yang diperangi oleh Al Mahdi adalah tanah Hijaz atau Arab saudi dengan pemerintahannya sekarang. apakah kalian tidak ercaya berita itu…..

    Balas

  28. salafi emang salah fikir… jadi pada santai aja… dan untuk syi’ah yg mengelola blog ini gwe ucapin selamat.. nt berhasil bro

    Balas

  29. Posted by Aan Rosadi on 12 Juli 2014 at 1:06 pm

    andi ,apa kamu tahu persis penulis blg ini seorang Syiah ? saya tunggu jawabanmu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: