Nazhom Sifat Dua Puluh dalam Bahasa Indonesia


Inilah adalah Nazhom Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu Sifat Dua Puluh bagi Allah Ta’aala. Sangat bagus untuk diajarkan kepada anak-anak sejak dini untuk menanggulangi aqidah mujassimah. Nazhom ini disajikan dalam bahasa Indonesia.

Isu Gus Nuril Menghina Habaib, Ini Isi Ceramah Lengkap Gus Nuril di Masjid As-Su’ada Jatinegara


Astaghfirullah setelah melihat langsung video ceramah Gus Nuril Arifin ternyata postingan dan status yang mengatakan bahwa beliau memuji ahok dan menghina habaib hanyalah FITNAH YANG KEJAM yang timbul dari rasa kedengkian semata. Silahkan saksikan sendiri videonya.

Berita atau informasi itu bisa benar dan bisa salah. Untuk membuktikannya maka harus mengadakan riset (bahasa Inggris research) atau penelitian atau “tashawwur ( تصور ) atau tabayun” terlebih dahulu secara seksama, cermat, dan tuntas berdasarkan kaidah-kaidah ilmu mantiq (logics) atau metodologi riset. Jadi, tashawwur atau tabayun merupakan jalan terbaik untuk membuktikan kebenaran suatu masalah secara ilmiah. Kata kaidah Ushul Fiqih: .

الحكم فرع بعد تصوره
Artinya
———–
“Hukum itu merupakan cabang setelah dilakukannya penelitian (tashawwur atau tabayun)”.

Tanpa tashawwur atau tabayyun, sudah barang tentu kita akan terjebak dengan berita atau issu-issu itu, apalagi issu-issu itu dihembuskan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab dan tidak senang terhadap Islam. Begitupula halnya dengan munculnya issu-issu aktual yang berkembang saat ini tentang video “Ceramah Gus Nuril di Masjid “Assu’ada” Kaum Jatinegara, 20 Februari 2015″.

Berikut ini adalah klarifikasi dari ketua panitia pelaksana Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid As-Su’ada pada 20 Februari 2015:

Surat Pernyataan dari Panitia Pengajian di Masjid As-Su'ada Jatinegara

Mudah-mudahan polemik dan kesimpang-siuran ini segera berakhir.

 

Ceramah Habib Thohir Al-Kaaf Waktu Haul Al-Habib Ali Al-Habsyi di Masjid Riyadh Solo 11 Februari 2015


Sholahuddin al-Ayyubi, Sang Panglima Perang Bermadzhab asy-Syafi’iyyah al-Asy’ariyyah dan Bertasawwuf


shalahuddin-al-ayyubiBeliau adalah AL-WAZIR AL-MASYHUUR NIZHAM AL-MULK, AS-SULTHAN AL-‘ADIL AL-‘ALIM AL-MUJAHID SHALAHUDDIN AL-AYYUBI :

Dilahirkan pada tahun 532 H, beliau –semoga Allah merahmati beliau- seorang penganut Madzhab Asy’ari dalam aqidah dan pengamal Mazhab Syafi’i dalam fiqih, seorang yang berilmu, shalih, dan mutawadli’ (rendah hati), wara’, beragama, bersahaja (zuhud), sangat rajin untuk shalat berjama’ah, tekun dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah dan shalat malam, memperbanyak dzikir, senang mendengar bacaan al Qur’an, hatinya khusyu’, banyak meneteskan air mata (karena sedih meratapi kekurangannya), teman yang pengasih, lemah lembut dan suka memberi nasehat, adil, menyayangi rakyatnya, belas kasihan dan suka menolong kepada orang-orang yang dizhalimi dan orang-orang yang lemah, pemberani, pemurah, penyabar, akhlaqnya mulia, hafal al Qur’an, hafal kitab Tanbih dalam fiqih Syafi’i, banyak bertalaqqi hadits-hadits, selalu berdo’a kepada Allah dan tidak membuatnya gentar -dalam berjuang di jalan yang diridloi Allah- celaan orang yang mencela.

Wilayah kekuasaannya dari ujung Yaman sampai Maushil, dari Tripoli barat sampai Naubah, diserahi tampuk pemerintahan untuk seluruh daerah Syam, Yaman dan cakupannya seperti Emirat, Qatar, Bahrain, Oman, juga seluruh Hijaz, seluruh daerah di Mesir, banyak membangun dan menyemarakkan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, menyemarakkan benteng di gunung, pagar di Kairo, membangun Kubah makam Imam Syafi’i, menghapus penarikan pajak, membuka sekitar tujuh puluh lebih kota dan benteng-benteng, membebaskan Quds (palestina) dan menyucikannya setelah dikuasai selama 90 tahun oleh orang-orang kafir.

Lanjutkan membaca

Menurut Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA): Diperbolehkan Sholat Jum’at Sendirian


Berikut ini adalah video dari pendapat Bapak Drs. Ahmad Sukina (MTA) tentang bolehnya sholat jum’at sendirian, tidak berjamaah.

Tentunya pendapat yang seperti ini tidak memenuhi syarat sahnya ibadah sholat jumat. Di dalam kitab Safinatu an-Najaah disebutkan:

Lanjutkan membaca

Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alaihi Wa Sallam Bagian 09


[Catatan Penting: Fasal-fasal yang kami jelaskan kali ini adalah penjelasan tentang tata cara sholat sebagaimana diajarkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alaih wa sallam, yang mana tata cara ini sudah umum dilakukan oleh kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan bukan Pembahasan Mengenai Tata Cara Sholat Menurut Nashiruddin al-Albani]

Lanjutan Pembahasan Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

10. Duduk di antara dua sujud

Duduk di antara dua sujud termasuk rukun dalam sholat, sebagai pemisah antara sujud pertama dengan sujud kedua. Caranya adalah dengan mengangkat kepala dari posisi sujud dibarengi dengan mengucapkan bacaan takbir dan berakhir ketika telah duduk secara sempurna, dan cara duduk yang dianjurkan adalah iftirasy yaitu duduk diatas kaki yang kiri dan meluruskan kaki yang kanan kemudian membaca do’a, sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali di dalam Bidayah al-Hidayah: Lanjutkan membaca

Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alaihi Wa Sallam Bagian 08


[Catatan Penting: Fasal-fasal yang kami jelaskan kali ini adalah penjelasan tentang tata cara sholat sebagaimana diajarkan oleh Nabi Shollallaahu ‘alaih wa sallam, yang mana tata cara ini sudah umum dilakukan oleh kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan bukan Pembahasan Mengenai Tata Cara Sholat Menurut Nashiruddin al-Albani]

Lanjutan Pembahasan Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

9. Sujud Pertama di Setiap Raka’at

Sujud termasuk rukun di dalam sholat yang dilakukan setelah i’tidal dengan sempurna. Ketika turun untuk sujud disertai dengan membaca takbir dan tanpa mengangkat kedua tangan.

Di dalam kitab Bidayah al-Hidayah dijelaskan:

“Kemudian turun untuk sujud disertai membaca takbir namun tanpa dengan mengangkat kedua tangan. Yang pertama kali diletakkan di atas tempat sujud adalah kedua lututmu, kemudian kedua tanganmu, kemudian dahimu dalam keadaan terbuka, kemudian hidungmu dan dahi bersama-sama disentuhkan diatas tempat sujudmu.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)

Lanjutkan membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 495 pengikut lainnya.