Fakta Sejarah Hitam Sekte Wahabi


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Pada kesempatan kali ini akan kami ketengahkan fakta sejarah munculnya sekte wahhabiyyah agar para pembaca semua mengetahui bagaimana sekte ini muncul.

Permulaan munculnya Muhammad ibn Abdil Wahhab ini ialah di wilayah timur sekitar tahun 1143 H. Gerakannya yang dikenal dengan nama Wahhabiyyah mulai tersebar di wilayah Nejd dan daerah-daerah sekitarnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab meninggal pada tahun 1206 H. Ia banyak menyerukan berbagai ajaran yang ia anggap sebagai berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah. Ajarannya tersebut banyak ia ambil atau tepatnya ia hidupkan kembali dari faham-faham Ibn Taimiyah yang sebelumnya telah padam, di antaranya; mengharamkan tawassul dengan Rasulullah, mengharamkan perjalanan untuk ziarah ke makam Rasulullah atau makam lainnya dari para Nabi dan orang-orang saleh untuk tujuan berdoa di sana dengan harapan dikabulkan oleh Allah, mengkafirkan orang yang memanggil dengan “Ya Rasulallah…!”, atau “Ya Muhammad…!”, atau seumpama “Ya Abdal Qadir…! Tolonglah aku…!” kecuali, menurut mereka, bagi yang hidup dan yang ada di hadapan saja, mengatakan bahwa talak terhadap isteri tidak jatuh jika dibatalkan. Menurutnya talak semacam itu hanya digugurkan dengan membayar kaffarah saja, seperti orang yang bersumpah dengan nama Allah, namun ia menyalahinya. Baca lebih lanjut

Iklan

Mengucapkan Sayyidinaa Ketika Menyebut Nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Sebagian orang membid’ahkan panggilan Sayyidinaa atau Maulana didepan nama Muhammad Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, dengan alasan bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sendiri yang menganjurkan kepada kita tanpa mengagung-agungkan dimuka nama beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam Memang golongan ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan tanpa melihat motif makna yang dimaksud Bid’ah itu apa. Mari kita rujuk ayat-ayat Ilahi dan hadits-hadits Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yang berkaitan dengan kata-kata sayyid.

Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul panjang yaitu Dala’ilul-Mahabbah Wa Ta’dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam ‘An Sayyidil-Anam dengan tegas mengatakan: Menyebut nama Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan tambahan kata Sayyidina (junjungan kita) didepannya merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang mencintai beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah Subhanahu wa ta’aala memerintahkan ummat Islam supaya menjunjung tinggi martabat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam Allah Subhanahu wa ta’aala berfirman :

“Janganlah kalian memanggil Rasul (Muhammad) seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian”. (QS.An-Nur : 63). Baca lebih lanjut

Kenali Tanda-tanda Aliran Sesat


Kenali Tanda-tanda Aliran Sesat di Sekitar Kita

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Pada beberapa waktu yang lalu, Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang sesatnya aliran Ahmadiyah. Terdapat sekian banyak dalil yang diajukan oleh MUI sebagai bukti-bukti kesesatan Ahmadiyah. Dalam sebuah pertemuan di Surabaya saya mengemukakan bahwa aliran Wahhabi atau Salafi juga termasuk aliran sesat. Mendengar pernyataan ini salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan, apa bukti-bukti atau dalil-dalil kesesatan Wahhabi?

Menjawab pertanyaan tersebut, saya menjelaskan, bahwa al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham tentang tanda-tanda ahli bid’ah atau aliran sesat. Menurut beliau ada dua macam tanda-tanda aliran sesat. (1) Tanda-tanda terperinci, yang telah diuraikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang menerangkan tentang sekte-sekte dalam Islam seperti al-Milal wa al-Nihal, al-Farq bayna al-Firaq dan lain-lain. (2) Tanda-tanda umum. Menurut Asy-Syathibi, secara umum tanda-tanda aliran sesat itu ada tiga.  Baca lebih lanjut

Panduan Praktis Menghadapi Propaganda Kaum Wahabi dan Salafi


Katakan "TIDAK" untuk "WAHABI"

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Bagi yang masih merasa awam tentang hukum-hukum agama berdasarkan kitab-kitab karya ulama’ ahlussunnah wal jama’ah, saya sarankan untuk melakukan tindakan ini dalam rangka menghadapi propaganda kaum wahabi/salafi.

Berikut ini kami sampaikan beberapa tip dan trik praktis untuk menghadapi propaganda kaum Salafy Wahabi, yang insya’ Alloh tip dan trik ini sangat mudah untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Baca lebih lanjut

Adakah yang Salah dengan Aqidah Sifat Dua Puluh?


Mengenal Sifat-sifat Alloh Ta'aala

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.  Baca lebih lanjut

Dialog Syaikh Abdullah Al-Syanqithi dan Wahhabi


ilustrasi

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Ketika orang-orang Wahhabi memasuki Hijaz dan membantai kaum Muslimin dengan alasan bahwa mereka telah syirik, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi shollallaah ‘alaih wa sallam dalam sabdanya, “Orang-orang Khawarij akan membunuh orang-orang yang beriman, dan membiarkan para penyembah berhala.” Mereka juga membunuh seorang ulama terkemuka. Mereka menyembelih Syaikh Abdullah al-Zawawi, guru para ulama madzhab al-Syafi’i, sebagaimana layaknya menyembelih kambing. Padahal usia beliau sudah di atas 90 tahun. Mertua Syaikh al-Zawawi yang juga sudah memasuki usia senja, juga mereka sembelih.  Baca lebih lanjut

Dalil Mengangkat Tangan Pada Waktu Berdo’a


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Mengangkat Tangan Ketika Berdo'a

Mengangkat Tangan Ketika Berdo'a

Sebagian golongan ada yang membid’ahkan mengangkat kedua tangan waktu berdo’a. Sebenarnya ini sama sekali tidak ada larangan dalam agama, malah sebaliknya ada hadits bahwa Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam mengangkat tangan waktu berdo’a. Begitupun juga ulama-ulama pakar dari berbagai madzhab (Hanafi, Maliki , Syafi’i dan lain sebagainya) selalu mengangkat tangan waktu berdo’a, karena hal ini termasuk adab atau tata tertib cara berdo’a kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala.

Dalam kitab Riyaadus Shalihin jilid 2 terjemahan bahasa Indonesia oleh Almarhum H. Salim Bahreisj cetakan keempat tahun 1978 meriwayatkan sebuah hadits berikut ini:

Sa’ad bin Abi Waqqash ra.berkata: Kami bersama Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam keluar dari Makkah menuju ke Madinah, dan ketika kami telah mendekati Azwara, tiba-tiba Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam turun dari kendaraannya, kemudian mengangkat kedua tangan berdo’a sejenak lalu sujud lama sekali, kemudian bangun mengangkat kedua tangannya berdo’a, kemudian sujud kembali, diulanginya perbuatan itu tiga kali. Kemudian berkata: ‘Sesungguhnya saya minta kepada Tuhan supaya di-izinkan memberikan syafa’at (bantuan) bagi ummat ku, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku, kemudian saya mengangkat kepala dan minta pula kepada Tuhan dan diperkenankan untuk sepertiga, maka saya sujud syukur kepada Tuhan, kemudian saya mengangkat kepala berdo’a minta untuk ummatku, maka diterima oleh Tuhan, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku’. (HR.Abu Dawud).  Baca lebih lanjut