Bantahan Terhadap Kaum Musyabbihah Wahhabi


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله سيدنا محمد ابن عبد الله وبعد

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Penjelasan:
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang berbicara tentang tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk), at-Tanzih al Kulliy; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Jadi maknanya sangat luas, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah maha suci dari berupa benda, dari berada pada satu arah atau banyak arah atau semua arah. Allah maha suci dari berada di atas arsy, di bawah arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan sifat-sifat benda yang lain. 
Al-Imam Abu Hanifah berkata:

أنـّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَـهُ

“Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya”.

Dengan demikian Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, dari satu segi maupun semua segi. Al-Imam Malik berkata:

وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ

“Kayfa ( bagaimana; sifat-sifat benda) itu mustahil bagi Allah”.

Perkataan al-Imam Malik ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Bayhaqi dengan sanad yang kuat. Maksud perkataan al-Imam Malik ini adalah bahwa Allah maha suci dari al Kayf (sifat makhluk) sama sekali. Definisi al Kayf adalah segala sesuatu yang merupakan sifat makhluk seperti duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak dan lain–lain.

الْمَحْدُوْدُ عِنْدَ عُلَمَاءِ التّوْحِيْدِ مَا لَهُ حَجْمٌ صَغِيْرًا كَانَ أوْ كَبِيْرًا، وَالْحَدُّ عِنْدَهُمْ هُوَ الْحَجْمُ إنْ كَانَ صَغِيْرًا وَإنْ كَانَ كَبِيْرًا، الذَّرَّةُ مَحْدُوْدَةٌ وَاْلعَرْشُ مَحْدُوْدٌ وَالنُّوْرُ وَالظَّلاَمُ وَالرِّيْحُ كُلٌّ مَحْدُوْدٌ.

“Menurut ulama tauhid yang dimaksud dengan al-mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran dan disebut Mahdud demikian juga arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran dan disebut Mahdud “.

Penjelasan:
Allah berfirman:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya” (QS. al An’am : 1).

Dalam ayat ini Allah ta’ala menyebutkan langit dan bumi, keduanya termasuk benda yang dapat dipegang oleh tangan (Katsif). Allah juga menyebutkan kegelapan dan cahaya, keduanya termasuk benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan (Lathif). Ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) tidak ada sesuatupun selain Allah, baik itu benda katsif maupun benda lathif. Dan ini berarti bahwa Allah tidak menyerupai benda lathif maupun benda katsif.
Allah ta’ala menciptakan alam ini terbagi menjadi dua bagian: benda dan sifat benda. Benda terbagi menjadi dua: Pertama: benda katsif yaitu benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti pohon, manusia, air dan api. Kedua: Benda Lathif, yaitu benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan seperti cahaya, kegelapan, ruh, udara.
Masing-masing benda memiliki batas, ukuran, dan bentuk, Allah berfirman:

وَكُلُّ شَىْءٍ عِندَهُ بِمِقْدَارٍ

“Segala sesuatu bagi Allah memiliki ukuran (yang telah ditentukan)” ( QS. ar-Ra’d: 8  )

Bahwa benda katsif memiliki ukuran adalah hal yang sudah jelas. Sedangkan mengenai bahwa benda lathif memiliki ukuran adalah sesuatu yang memerlukan pengamatan dan penelitian yang seksama. Cahaya misalnya memiliki tempat dan ruang kosong yang diisi olehnya, cahaya matahari menyebar ke areal/jarak yang sangat luas yang diketahui oleh Allah, ukurannya sangat luas. Sementara cahaya lilin ukurannya sangat kecil. Cahaya kunang–kunang yang berjalan di rerumputan di malam hari, Allah jadikan cahayanya sekecil itu. Cahaya yang paling luas adalah cahaya surga. Jadi masing-masing cahaya tersebut memiliki batas dan ukuran yang membatasinya. Kegelapan juga memiliki ukuran dan ruang kosong yang diisi olehnya. Kadang tempat kegelapan tersebut sempit dan kadang luas. Demikian juga angin memiliki tempat yang diisi olehnya. Para Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk menimbangnya dan mengirimkannya sesuai dengan perintah dan ketentuan Allah. Ada angin yang dingin, angin yang panas. Ada angin yang Allah kirimkan untuk menghancurkan suatu kaum, begitu juga ada angin yang dikirimkan sebagai rahmat. Jadi masing-masing angin tersebut memiliki timbangan yang telah ditentukan oleh Allah. Demikian juga, ruh memiliki ukuran.

Ketika ruh berada pada tubuh manusia, ruh berukuran sama dengan badan orang tersebut dan ketika ruh berpisah, meninggalkan badan seseorang ia bertempat di udara tanpa menyatu dengan jasadnya. Kesimpulannya; setiap makhluk pasti memiliki tempat, baik tempat yang besar maupun yang kecil.
Benda paling kecil yang diciptakan oleh Allah dan bisa dilihat oleh mata adalah haba’. Haba’ adalah sesuatu yang kecil yang terlihat apabila sinar matahari masuk ke dalam rumah dari jendela, nampak seperti debu yang kelihatan oleh mata, benda ini disebut haba’. Memang masih ada lagi benda yang lebih kecil dari haba’, yang bahkan tidak dapat dilihat oleh mata karena sangat kecilnya, walaupun demikian tetap saja benda tersebut memiliki bentuk yaitu bentuk yang paling kecil yang diciptakan oleh Allah yang disebut dalam istilah tauhid al-Jawhar al-Fard; bagian yang tidak bisa dibagi-bagi lagi. Al-Jawhar al-Fard adalah benda yang paling kecil yang diciptakan oleh Allah, al-Jawhar al-Fard adalah asal bagi semua benda.
Semua benda ini memiliki batas dan ukuran dan karenanya membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut, dan dengan begitu benda tidak sah menjadi tuhan. Ketuhanan hanya sah berlaku bagi yang tidak memiliki ukuran sama sekali, yaitu Allah yang maha suci dari status Mahdud (Allah tidak memiliki batas dan ukuran). Makna Mahdud di sini tidak hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki bentuk kecil saja akan tetapi sesuatu yang memiliki bentuk yang besar juga disebut Mahdud.
Sedangkan al-A’radl adalah sifat benda seperti bergerak, diam, warna, rasa dan lain–lain. Jadi di antara sifat benda adalah bergerak dan diam, sebagian benda terus-menerus bergerak, yaitu bintang, bahkan an-Najm al-Quthbi (bintang yang bisa menunjukkan arah kiblat) sekalipun bergerak, hanya saja gerakannya pelan dan bergerak di tempatnya. Sebagian benda lagi ada yang terus–menerus diam seperti tujuh langit yang ada. Sebagian benda lagi kadang diam dan kadang bergerak seperti manusia, malaikat, jin dan binatang.
Termasuk di antara sifat benda juga adalah berwarna kadang sesuatu berwarna putih, ada yang berwarna merah, kuning atau hijau. Matahari juga memiliki sifat, di antara sifatnya adalah panas. Angin juga memiliki sifat di antara sifatnya adalah dingin, panas, berhembus dengan kuat atau pelan.
Jadi Allah ta’ala yang menciptakan alam ini dengan berbagai macam jenis dan bentuknya, maka Dia tidak menyerupainya, dari satu segi maupun semua segi. Allah ta’ala tidak menyerupai benda katsif maupun benda lathif dan juga tidak bersifat dengan sifat–sifat benda, Allah tidak menyerupai satupun dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, oleh karena itu Ahlussunnah mengatakan:

اللهُ مَوْجُوْدٌ بِلاَ مَكَانٍ وَلاَ جِهَةٍ

“Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”.

Allah menjadikan arah atas sebagai tempat bagi arsy dan para Malaikat yang mengelilinginya dan juga sebagai tempat bagi al-Lauh al-Mahfuzh dan lain-lain. Allah menjadikan manusia, binatang, serangga dan lain-lain bertempat di arah bawah. Jadi Dzat yang menciptakan sebagian makhluk bertempat di arah arsy dan sebagian yang lain di arah bawah mustahil bagi-Nya memiliki arah. Karena seandainya dikatakan dia berada di salah satu arah atau bertempat di semua arah niscaya akan ada banyak serupa bagi-Nya, padahal Allah telah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ

“Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya”.

Inilah aqidah yang diyakini oleh semua kaum muslimin di negara-negara muslim; Indonesia, Mesir, Irak, Turki, Maroko, AlJazair, Tunisia, Yaman, Somalia dan daratan Syam, mereka semua dan yang lain di negara-negara lain semua mengajarkan keyakinan ini.

Sedangkan orang yang meyakini bahwa Allah adalah benda yang sama besarnya dengan arsy, memenuhi arsy atau separuh dari arsy atau meyakini bahwa Allah lebih besar dari arsy dari segala arah kecuali arah bawah atau bahwa Allah adalah cahaya yang bersinar gemerlapan atau bahwa Allah adalah benda yang besar dan tidak berpenghabisan atau berbentuk seorang yang muda atau remaja atau orang tua yang beruban, maka semua orang ini tidak mengenal Allah. Mereka tidak menyembah Allah, meskipun mereka mengira diri mereka muslim. Mereka bukanlah orang yang menyembah (beribadah) Allah, yang mereka sembah adalah sesuatu yang mereka bayangkan dan gambarkan dalam diri mereka, sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Musibah mereka yang paling besar adalah bahwa mereka tidak memahami adanya sesuatu yang bukan benda. Oleh karena itu mereka –dengan segenap upaya- berusaha menjadikan Allah benda yang bersifat dengan sifat-sifat benda pula, lalu bagaimana bisa mereka mengaku mengenal dan memahami firman Allah: Laysa Ka Mitsli Syai’ (QS. Asy-Syura: 11) dan beriman kepadanya?!! Seandainya mereka benar-benar mengetahui ayat tersebut dan beriman dengannya niscaya mereka tidak akan menjadikan Allah sebagai benda, karena alam ini seluruhnya adalah benda dan sifat-sifat yang ada padanya.
Seandainya terjadi perdebatan antara orang-orang Musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) seperti orang Wahhabi -yang meyakini bahwa Allah adalah benda, yang memiliki ukuran- dengan orang yang menyembah matahari. Orang Wahhabi akan mengatakan kepada penyembah matahari: Anda, wahai penyembah matahari, matahari yang engkau sembah ini tidak berhak untuk menjadi tuhan. Penyembah matahari akan menjawab dan berkata kepada orang Wahhabi: bagaimana mungkin matahari tidak berhak untuk disembah, padahal bentuknya indah, manfaatnya sangat besar, anda bisa melihatnya dan saya juga melihatnya dan semua orang melihatnya, semua orang mengetahui dengan baik manfaatnya. Bagaimana mungkin agama saya batil dan agamamu benar, sementara anda menyembah sesuatu yang anda bayangkan dalam diri anda, anda tidak melihatnya dan kami juga tidak melihatnya, anda mengatakan tuhan anda adalah bentuk yang besar yang duduk di atas arsy ?!!.
Orang Wahhabi tidak akan memiliki dalil ‘aqli (argumen rasional), seandainya orang Wahhabi mengatakan : al Qur’an telah menegaskan bahwa Allah adalah pencipta alam, Dia-lah yang berhak untuk disembah, tidak ada sesuatu selain-Nya yang berhak untuk disembah. Maka orang yang menyembah matahari tersebut akan mengatakan kepadanya: Saya tidak beriman dengan kitab suci anda, berikan kepada saya dalil ‘aqli bahwa matahari tidak berhak untuk dijadikan tuhan yang disembah dan bahwa apa yang anda sembah yang anda bayangkan (dalam benak anda) itu berhak untuk disembah! Maka orang Wahabi akan terdiam dan membisu.
Sedangkan kita, Ahlussunnah memiliki jawaban yang rasional. Kita akan mengatakan kepada penyembah matahari : matahari yang anda sembah, yang mempunyai ukuran tertentu dan bentuk tertentu, pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran dan bentuk tersebut. Sedangkan tuhan kami, Ia adalah sesuatu yang ada tetapi tidak menyerupai segala sesuatu yang ada, tidak menyerupai sesuatupun dari makhlukNya, Dia tidak memiliki ukuran, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki arah, tidak memilki tempat dan tidak memiliki permulaan. Inilah Dzat yang ada, yang kami sembah yang dinamakan Allah. Dialah yang berhak untuk disembah. Dia yang menciptakan matahari yang anda sembah, manusia dan segala sesuatu yang lain.
Seorang Sunni; penganut akidah Ahlussunnah ketika mengeluarkan hujjah ‘aqli ini tanpa mengatakan: Allah ta’ala berfirman demikian, telah mampu mengalahkan orang kafir yang menyembah matahari tersebut. Maka segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk kepada keyakinan yang benar ini, kita tidak akan menemukan kebenaran dan petunjuk semacam ini seandainya tidak karena mendapat petunjuk Allah.

Al-Imam Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- berkata:

مَنْ زَعَمَ أنَّ إِلهَـَنَا مَحْدُوْدٌ فَقَدْ جَهِلَ الْخَالِقَ الْمَعْبُوْدَ (رَوَاه أبُو نُعَيم

“Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h. 72).

Penjelasan :
Maksud dari perkataan sayyidina Ali ini adalah bahwa orang yang berkeyakinan atau beranggapan bahwa Allah adalah benda yang besar atau kecil maka dia adalah kafir, tidak mengenal Allah, seperti orang yang meyakini bahwa Allah menempati salah satu arah seperti arah atas. Karena dengan keyakinan seperti ini orang tersebut telah menjadikan Allah mahdud (memiliki ukuran), padahal setiap yang mahdud (berukuran besar atau kecil) pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut, sementara yang membutuhkan itu lemah dan yang lemah mustahil menjadi tuhan.
Dengan demikian dalam perkataan sayyidina Ali ini terdapat dalil yang jelas bahwa Allah maha suci dari hadd (ukuran) sama sekali. Maka barangsiapa yang menyandarkan kepada Allah sifat duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak maka sesungguhnya dia tidak mengenal Allah, dan barangsiapa berkeyakinan demikian terhadap Allah maka sesungguhnya ia seorang kafir yang rusak akidahnya.
Haba’ memiliki ukuran, semut memiliki ukuran, manusia memiliki ukuran, matahari memiliki ukuran, langit memiliki ukuran, arsy memiliki ukuran. Jadi masing-masing yang disebutkan memiliki ukuran dan membutuhkan kepada yang menjadikannya dengan ukuran tersebut.
Jadi, setiap sesuatu yang memiliki ukuran pasti dia adalah makhluk, yang membutuhkan (kepada selainnya) dan lemah maka tidaklah sah baginya sifat ketuhanan. Ketuhanan hanya sah bagi yang tidak memiliki bentuk dan ukuran; yaitu Dialah Allah yang tidak membutuhkan kepada seluruh alam, Dialah yang tidak mempunyai bentuk dan ukuran.
Al-Imam al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) berkata:

لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang wajib disembah”.
Artinya barangsiapa yang tidak mengenal Allah dengan menjadikan-Nya memiliki ukuran yang tidak berpenghabisan misalnya maka dia adalah kafir. Dan tidak sah bentuk-bentuk ibadahnya seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya.

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ( 227-321 H) berkata:

تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالغَايَاتِ وَالأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Penjelasan :
Al-Imam ath-Thahawi adalah Ahmad bin Muhammad bin Sallamah, lahir tahun 227 H. Jadi beliau masuk dalam makna hadits yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam:

خَيْرُ الْقُرُوْنِ قَرْنِي ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ (رَوَاهُ التّرمِذِي

 

“Sebaik–baik abad adalah abad-ku, kemudian satu abad setelahnya, kemudian satu abad setelahnya” (HR. at-Tirmidzi)

Al-Imam ath-Thahawi menyebutkan perkataannya tersebut dalam kitab penjelasan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, yang kitab ini telah dianggap baik dan diterima oleh seluruh ummat Islam dari generasi ke generasi.
Makna dari “Ta’ala” adalah bahwa Allah maha suci.
Maksud perkataan ath-Thahawi bahwa Allah maha suci dari ”Hudud” adalah bahwa Allah maha suci dari Hadd sama sekali. Hadd adalah benda dan ukuran, besar maupun kecil. Suatu benda pasti berada pada suatu tempat dan arah. Sedangkan Allah maha suci dari berupa benda, berarti Allah ada tanpa tempat. Seandainya Allah adalah benda niscaya akan ada banyak serupa bagi-Nya, padahal Allah ta’ala telah berfirman:

فَلاَ تَضْرِبُوْا لِلّهِ الأمْثَالَ

“Janganlah kalian membuat serupa-serupa bagi Allah”(QS. an-Nahl: 74)

Dengan demikian barangsiapa mengatakan bahwa Allah memiliki hadd yang hadd tersebut tidak ketahui oleh kita, hanya Allah saja yang mengetahuinya maka sungguh orang ini adalah seorang yang kafir, karena dengan demikian dia telah menetapkan Allah sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran.
Maksud perkataan ath-Thahawi ”La Tahwihi al-Jihat as-Sittu…” bahwa Allah mustahil berada di salah satu arah atau di semua arah karena Allah ada tanpa tempat dan arah. Enam arah yang dimaksud adalah adalah atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang.
Maksud perkataan ath-Thahawi ”Ka Sa-ir al-Mubtada’at” adalah bahwa semua makhluk diliputi oleh arah, sedangkan Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dari satu segi maupun semua segi dan Allah tidak bisa digambaarkan dalam hati dan benak manusia. al-Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ (روَاه أبُو الفَضْلِ التَّمِيْمِيُّ

“Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu”. (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi).

Jika ada pertanyaan: Bagaimana hal demikian itu bisa terjadi (bahwa ada sesuatu yang ada tetapi tidak bisa dibayangkan dan digambarkan dengan benak)? Jawab: Bahwa di antara makhluk ada yang tidak bisa kita bayangkan akan tetapi kita harus beriman dan meyakini adanya. Yaitu bahwa cahaya dan kegelapan keduanya dulu tidak ada. Tidak ada satupun di antara kita yang bisa membayangkan pada dirinya bagaimana ada suatu waktu atau masa yang berlalu tanpa ada cahaya dan kegelapan di dalamnya?! Meski demikian kita wajib beriman dan meyakini bahwa telah ada suatu masa yang berlalu tanpa dibarengi dengan cahaya dan kegelapan, karena Allah berfirman:

وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنّوْرَ

“…dan Dia yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya” (QS. Al-An’am: 1).

Artinya bahwa Allah yang telah menciptakan kegelapan dan cahaya dari yang sebelumnya tidak ada. Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk, maka lebih utama kita beriman dan percaya tentang Allah Yang mengatakan tentang Dzat-Nya: Laysa Kamitslihi Syai’ (QS. Asy-Syura: 11), maka Allah tidak tergambar dalam benak dan tidak diliputi oleh akal, Allah ada, maha suci dari bentuk dan ukura, ada tanpa tempat dan arah.

Al-Imam ath-Thahawi juga berkata:

وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِـي الْبَشَرْ فَقَدْ كَفَرَ

“Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.

Penjelasan :
Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir. Sifat–sifat manusia banyak sekali. Sifat yang paling nyata adalah baharu, yakni ”ada setelah sebelumnya tidak ada”. Di antara sifat manusia juga adalah mati, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain, bergerak, diam, infi’al (merespon peristiwa dengan kegembiraan atau kesedihan atau semacamnya yang nampak dalam raut muka dan gerakan anggota tubuh), turun dari atas ke bawah, naik dari bawah ke atas, berpindah, memiliki warna, bentuk, panjang, pendek, bertempat pada suatu arah dan tempat, membutuhkan, memperoleh pengetahuan yang baru, terkena lupa, bodoh, duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak, berjarak, menempel, berpisah dan lain–lain. Jadi barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia tersebut maka dia telah kafir.

Al-Imam Ahmad ar-Rifa’i (W 578 H) dalam al-Burhan al-Mu-ayyad berkata:

صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ

“Hindarkan aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits yang mutasyabihat, sebab hal demikian merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

Penjelasan :
Al-Imam ar-Rifa’i hidup pada abad ke enam hijriyyah, beliau adalah seorang ahli hadits, ahli tafsir, pengikut al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam rumusan aqidah dan pengikut madzhab Syafi’i dalam fiqih. Beliau adalah orang paling mulia dan paling alim di masanya. Beliau sangat menekankan tanzih (mensucikan Allah ta’ala dari menyerupai makhluk). Di antara perkataan beliau dalam masalah tanzih adalah perkataan yang beliau sebutkan dalam kitab al-Burhan al-Muayyad tersebut. Maksud perkataan beliau adalah bahwa orang yang mengambil zhahir sebagian ayat al Qur’an dan hadits Nabi, yang memberikan persangkaan bahwa Allah adalah benda yang bersemayam di atas arsy atau bahwa Allah berada di arah bumi atau bahwa Allah mempunyai anggota badan, bergerak dan yang semacamnya maka orang tersebut telah kafir.
Seperti orang yang menafsirkan istiwa’ pada ayat:

الرّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5

dengan duduk maka orang tersebut telah kafir. Karena mengatakan duduk bagi Allah adalah cacian terhadap-Nya sebab duduk adalah sifat malaikat, Jin, manusia, anjing, babi dan monyet. Makna ayat tersebut yang benar adalah bahwa Allah maha menguasai arsy. Makna ini layak bagi Allah karena Allah telah menamakan Dzat-Nya:

اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّار (يوسف: 39

”Allah maha esa lagi maha berkuasa”.

Oleh karena itu orang-orang Islam biasa menamakan anak mereka dengan Abdul Qahir atau Abdul Qahhar, tidak ada seorangpun yang menamakan anaknya Abdul Jalis atau Abdul Qa’id.
Demikian pula orang yang mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy dengan ada jarak antara Allah dengan arsy, artinya tanpa menyentuhnya maka tetap saja dia seorang yang kafir. Karena setiap sesuatu yang berada di atas sesuatu yang lain pasti berkemungkinan berukuran sama dengan sesuatu tersebut atau lebih besar atau lebih kecil. Dan segala sesuatu yang menerima ukuran maka dia adalah makhluk, yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut.
Adapun pernyataan sebagian kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyah sekarang bahwa Allah berada di atas arsy yang di atas arsy tersebut tidak ada tempat pernyataan ini terbantahkan dengan hadits riwayat al-Bukhari, al-Bayhaqi dan lainnya bahwa Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ لَمَا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابٍ فَهُوَ مَوْضُوْعٌ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ غَضَبِيْ

“Sesungguhnya Allah ketika menciptakan makhluk menciptakan kitab (tulisan) yang terletak di atas arsy dan dimuliakan oleh Allah yang berbunyi sesungguhnya (tanda-tanda) rahmat-Ku lebih banyak dari (tanda-tanda) murka-Ku” (HR. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan lainnya)
Dan dalam riwayat Ibnu Hibban dengan redaksi:

وَهُوَ مَرْفُوْعٌ فَوْقَ الْعَرْشِ

“Dan dia arsy terangkat (diletakan) di atas arsy”.

Dengan demikian hadits ini adalah dalil bahwa di atas arsy terdapat tempat. Karena bila di atas arsy tidak ada tempat maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan bahwas kitab tersebut diletakkan di atasnya.
Adapun kata “’Indahu” dalam hadits tersebut adalah dalam makna “dimuliakan”, karena penggunaan kata “’Inda” mengandung makna untuk memuliakan, sebagaimana firman Allah tentang orang-orang yang saleh:

وَإنّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الأخْيَارِ (ص: 47

Kata “’Indana…” dalam ayat ini artinya untuk memuliakan bukan untuk menyatakan bahwa Allah berada pada tempat yang bertetanggaan atau bersampingan dengan tempat orang-orang saleh tersebut.
Dengan demikian dalam keyakinan kaum Musyabbihah yang menetapkan Allah bertempat di atas arsy telah menjadikan kitab tersebut di atas sebagai keserupaan bagi-Nya. Ini artinya sama saja mereka telah mendustakan firman Allah: “Laysa Kamitslihi Syai’ (Qs. Asy-Syura: 11).
Demikian juga orang yang memahami firman Allah:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ (الآعراف: 54

dengan menafsirkan bahwa Allah berada pada arah bawah atau arah bumi kemudian naik ke arah atas lalu menciptakan langit, kemudian Dia naik ke arsy lalu bersemayam (bertempat) maka orang ini telah menjadi kafir. Makna ayat yang benar adalah bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan bahwa Allah sebelum menciptakannya telah menguasai arsy. Kata “tsumma” artinya dalam makna ”wa”; maknanya “dan”.

Al-Imam Abu Manshur al-Maturidi berkata: Firman Allah:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

artinya adalah ” sungguh Allah telah menguasai arsy ” .

Begitu pula orang yang menafsirkan firman Allah:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ (البقرة: 115

diartikan dengan anggota tubuh atau bahwa Dia berada pada arah bumi maka dia seorang yang kafir. Makna yang benar; Wajhullah adalah Kiblat Allah, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Mujahid; murid dari sahabat Abdullah ibn Abbas.
Demikian pula orang yang memahami firman Allah:

كُلُّ شَيءٍ هَالِكٌ إلاّ وَجْهَهْ (القصص: 88

dengan mengartikan bahwa alam ini adalah sesuatu maka ia akan punah, begitu pula Allah adalah sesuatu maka Dia akan punah, dan tidak ada sesuatu yang kekal dari Allah kecuali bagian wajah saja maka orang ini dihukumi kafir. Pemahaman buruk seperti ini sebagaimana penafsiran seorang Musyabbih yang bernama Bayan ibn Sam’an at-Tamimi. Adapun makna yang benar dari kata ”Wajhahu..” di atas adalah dalam makna ”kerajaan”, atau dalam makna ”sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah” sebagaimana takwil ini telah dinyatakan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Sufyan ats-Tsauri.
Demikian juga orang menafsirkan firman Allah tentang perahu Nabi Nuh:

تَجْرِيْ بأعْيُنِنَا (القمر: 14

dengan anggota tubuh (mata) maka orang tersebut telah kafir. Adapun makna yang benar adalah ”memelihara”, artinya bahwa perahu Nabi Nuh tersebut berjalan dengan ”pemeliharan” dan ”penjagaan” dari Allah sebagaimana hal ini telah dinyatakan oleh para ahli tafsir.
Demikian pula orang yang memahami firman Allah:

يَدُ اللهِ فَوْقَ أيْدِيْهِمْ (الفتح: 10

dalam pengertian anggota tubuh maka orang tersebut telah kafir. Makna yang benar kata ”yad” di sini adalah ”al-’ahd”; artinya ”janji” sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama.
Demikian pula orang yang menafsirkan firman Allah:

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر: 22

dalam makna bahwa Allah bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain maka orang tersebut telah kafir. Makna yang benar adalah ”datang kekuasaan Allah”, artinya tanda atau pengaruh dari sifat kuasa-Nya, sebagaimana demikian telah ditafsirkan oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal (sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dengan sanad yang kuat dari al-Imam Ahmad).
Demikian juga dengan orang yang menafsirkan firman Allah:

أأمِنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاءِ أنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ (الملك: 16

dengan mengatakan bahwa Allah mengambil tempat dilangit maka orang tersebut telah kafir. Makna yang benar dari maksud ”man fi as-sama’” adalah ”Malaikat”, sebagaimana pemahaman ini telah dinyatakan oleh Syaikh al-Huffadz al-Imam Zainuddin Abdrrahim al-Iraqi dalam kitab al-Amaliy al-Mishriyah. Dalam menafsirkan hadits:

ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

”Sayangilah oleh kalian orang yang berada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh yang berada di langit”, al-Imam al-’Iraqi menafsirkannya dengan hadits riwayat lain dengan redaksi:

ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهْلُ السّمَاءِ

“Sayangilah oleh kalian penduduk bumi niscaya kalian akan disayangi oleh penduduk langit”, karena hadits yang kedua ini sangat jelas memberikan pemahaman bahwa yang dimaksud adalah para Malaikat.
Demikian juga orang yang menafsirkan hadits al-Jariyah as-Sauda yang terdapat dalam riwayat al-Imam Muslim dengan berkesimpulan bahwa Allah mengambil tempat di arah atas (berada di langit) maka orang ini telah kafir. Hadits ini oleh sebagian ulama tidak diambil dengan alasan bahwa hadits tersebut adalah mutharib (hadits yang memiliki banyak redaksi yang satu sama lainnya berbeda-beda), karenanya mereka manganggapnya cacat, disamping karena telah menyalahi dasar keyakinan. Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menghukumi ke-islam-an seseorang hanya karena mengatakan ”Allah di langit”, karena kata-kata ini adalah keyakinan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bagaimana mungkin kata-kata ”Allah di langit” sebagai tanda bagi keimanan seseorang?!
Sebagian ulama lainnya menerima hadits ini; namun tidak dipahami dalam makna zhahirnya, tetapi mereka mentakwilkannya. Bahwa pertanyaan Rasulullah kepada budak perempuan tersebut adalah dalam makna ”Bagaimana engkau mengagungkan Allah?”. Dan makna jawaban budak tersebut ”Fi as-Sama’” adalah dalam pengertian ”sangat tinggi derajat-Nya”. Maka berdasarkan pemahaman dua pendapat ulama tersebut di atas tidak ada jalan bagi orang-orang Wahhabi untuk membatah kita.
Begitu juga dengan orang yang menafsirkan hadits Nabi:

يَنْـزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ يَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِي فأسْتَجِيْبَ لَهُ منْ يَسْألُنِيْ فأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

dengan menafsirkan bahwa Allah bergerak dan turun dari atas ke langit dunia dan berdiam di sana sampai terbit fajar kemudian setelah itu Dia naik ke arah arsy maka orang tersebut telah menjadi kafir. Yang sangat mengherankan dari kaum Musyabbihah, seperti kaum Wahhabiyyah sekarang, mereka meyakini bahwa Allah sama besar dengan arsy, lalu mereka mengatakan bahwa Allah turun ke langit dunia, padahal mereka tahu bahwa besarnya langit dunia dibanding besarnya arsy seperti setetes air dibanding lautan luas, ini artinya dalam keyakinan mereka bahwa Allah ketika turun ke langit dunia menjadi sangat kecil, na’udzu Billah. Ini merupakan bukti nyata akan kebodohan akal mereka. Lalu dengan pemahaman tersebut mereka juga berarti menetapkan bahwa perbuatan Allah hanya turun dan naik saja agar bersesesuaian dengan masing-masing sepertiga akhir malam di setiap bagian bumi ini oleh karena sepertiga akhir malam itu berbeda–beda satu wilayah dengan lainnya. Ini juga merupakan bukti nyata akan kebodohan akal mereka.
Makna yangbenar dari hadits tersebut adalah bahwa Malaikat turun dengan perintah Allah ke langit dunia, hingga ketika datang sepertiga akhir malam maka mereka menyeru bagi penduduk bumi sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah sehingga terbit fajar: “Sesungguhnya Tuhan kalian berkata: Barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri ia, barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku maka akan Aku kabulkan baginya, barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni ia”. Pemahaman ini sebagaimana terdapat dalam riwayat al-Imam an-Nasa-i dengan riwayat shahih bahwa Rasulullah bersabda:

إنَّ اللهَ يُمْهِلُ حَتَّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ الأوَّلُ فَيأْمُرُ مُنَادِيًا فَيُنَادِيْ ….

“Sesungguhnya Allah membiarkan malam berlalu hingga lewat separuh malam pertama, setelah itu lalu Allah memerintahkan kepada malaikat untuk menyeru (bagi penduduk bumi), maka ia berseru:…..”.
Kemudian dari pada itu sebagian para perawi al-Imam Bukhari telah memberi harakat “Dlammah” pada kata “Yanzilu..” menjadi “Yunzilu…”, dengan demikian maknanya semakin jelas bahwa yang turun ke langit dunia tersebut adalah adalah malaikat; dengan perintah Allah. Kesimpulannya, siapapun yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, walaupun hanya dengan satu sifat saja, maka dia digolongkan sebagai Musyabbih Mujassim, dan sesuangguhnya seorang Mujassim itu seorang yang kafir sebagaimana dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i.
Adapun makna perkataan al-Imam ar-Rifa’i tersebut di atas adalah bahwa berpegangteguh dengan makna-makna zhahir dari teks-teks mutasyabihat, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun hadits, maka hal itu telah menjatuhkan banyak orang dalam kekufuran, karena hal itu telah menjatuhkan mereka dalam keyakinan tasybih.

Al-Imam Ahmad ar-Rifa’i juga berkata:

غَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ الإيْقَانُ بِوُجُوْدِهِ تَعَالَى بِلاَ كَيْفٍ وَلاَ مَكَانٍ

“Puncak pengetahuan seseorang itu kepada Allah adalah dengan berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa sifat benda dan tanpa tempat“.
Maksudnya adalah bahwa puncak yang dapat diraih oleh seorang hamba untuk mengenal Allah adalah meyakini keberadaan-Nya tanpa mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda, dan meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Sesungguhnya ini inilah puncak pengetahuan (ma’rifah) kepada Allah dari para Nabi dan para Malaikat, serta para wali Allah. Karena mengenal (ma’rifah Allah) Allah bukan dengan cara membayangkan, bukan dengan cara memprakirakan, dan juga bukan dengan cara menyerupakan-Nya. Allah bukan benda dan Allah juga tidak dapat diperumpamakan oleh gambaran dan pikiran manusia. Sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran maka pasti bisa digambarkan oleh akal pikiran, sementara Allah bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran maka Dia tidak dapat digambarkan oleh akal pikiran manusia. Mengenal Allah cukup dengan meyakini-Nya bahwa Dia Maha ada, tidak dengan membayangkan-Nya berada pada arah tertentu; seperti arah atas.
Jika orang Wahabiy mengatakan: “Sesuatu yang ada itu harus memiliki arah dan tempat, bagaimana kalian mengatakan bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat?!”, kita katakan kepadanya bahwa jika Allah memiliki arah dan tempat niscaya Dia akan mempunyai banyak keserupaan, juga jika Dia memiliki arah maka berarti ada yang menjadikan-Nya pada arah tersebut, padahal setiap yang ”dijadikan” itu pastilah dia itu makhluk, bukan Tuhan. Demikian inilah makna yang dimaksud dari perkataan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i di atas, dan beliau adalah seorang yang sangat mendalam dalam ilmu akidah, beliau telah mengungkapkan perkataannya tersebut dalam kitab “Halatu Ahl al-Haqiqah Ma’a Allah “ .
Sebagian ulama berkata:

عَلَيْكَ بِطُوْلِ الصَّمْتِ يَا صَاحِبَ الْحِجَا

لِتَسْلَمَ فِي الدُّنْيَا وَيَوْم القِبَامَة

“Hendaklah anda memperpanjang diam wahai orang yang punya akal,
agar selamat di dunia dan akhirat / kiamat.”

Perkataan ini diambil dari sabda Rasulullah kepada Abu Dzar:

عَلَيْكَ بِطُوْلِ الصَّمْتِ إلاّ مِنْ خَيْرٍ فَإنّهُ مَطْرَدَةٌ لِلشّيْطَانِ عَنْكَ وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أمْرِ دِيْنِكَ (رواه ابن حبان

“Hendaklah kamu memperpanjang diam kecuali kepada hal yang baik, karena demikian itu dapat megalahkan syaitan dan menolong kamu dalam urusan agamamu “ (HR. Ibnu Hibban).

Seorang yang memiliki akal cerdas adalah orang yang selalu menghadirkan makna firman Allah:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إلاّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ (ق: 18

“Tidaklah seseorang itu berucap dari sebuah perkataan kecuali dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid“ (QS. Qaf: 18). Dia tidak akan berkata-kata kecuali bila ada manfaatnya.

Demikian Semoga Bermanfaat.

23 thoughts on “Bantahan Terhadap Kaum Musyabbihah Wahhabi

  1. MENETAPKAN SIFAT-SIFAT ALLAH BUKAN BERARTI MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK (TASYBIIH)

    Perjuangan gigih para ulama’ salaf dalam membela aqidah dari qoncangan faham-faham hitam Jahmiyyah sangatlah kuat, sehingga begitu banyak kitab para ulama yang berjudul “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah” (Bantahan Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam AHMAD BIN HANBAL (Imam Mazhab/guru Bukhari, Muslim, Abu Dawud), Utsman bin Sa’id AD-DARIMI, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya. Orang Jahmiyah yg berseberangan dgn mereka para imam Ahlus Sunnah dlm masalah sifat-sifat Allah menggelari mereka para imam dengan gelar musyabbihah (orang yg menyerupakan Allah dg makhluk.

    ABU HATIM AR-RAZI (ahli hadits) mengatakan: “Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari ahli sunnah dengan Musyabbihah (menyerupakan Allah dgn makhluk)”. (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah Al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam al-Harawi 4/390)

    IBNU ABI HATIM (ahli hadits, juru tulis imam Bukhari, penulis Kitab Jarh Wat Ta’dil, 240-327 H): “Tanda–tanda kaum jahmiyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah.” (Ushulus Sunnah Wa I’tiqad Dien)

    ISHAQ BIN RAHAWAIH (sahabat Imam Ahmad bin Hanbal, 166-238 H) mengatakan: “Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah).” (Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi muridnya Ibnu Katsir)

    Ibnu Taimiyyah (guru Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim) berkata: “Kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah dan sejenisnya dari kalangan pengingkar sifat, mereka menuduh orang-orang yang menetapkannya dengan gelar Mujassimah/Musyabbihah (menyerupakan Allah dgn makhluk), bahkan di antara mereka ada yang menuduh para imam populer seperti Malik, Syafi’i, Ahmad dan para sahabatnya dengan gelar Mujassimah dan Musyabbihah sebagaimana diceritakan oleh Abu Hatim, penulis kitab “Az-Zinah” dan sebagainya”. (Minhajus Sunnah 2/75)

    ABU UTSMAN ISMA’IL ASH-SHABUNI (Baihaqi berkata: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”, 373-449 H) berkata: Mereka (Ashabul Hadits/Ahlus Sunnah) menetapkan dari sifat-sifat tersebut apa-apa yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an: “Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (Shaad:75) Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnya-maksud sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan oleh Mu’thazilah dan Jahmiyyah -semoga Allah membinasakan mereka-. Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah -semoga Allah menghinakan mereka-. Allah subhanahu wa ta’ala telah memelihara Ahlus Sunnah dari menyimpangkan, mereka-reka atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya. Allah telah memberi karunia atas diri mereka pemahaman dan pengertian, sehingga mereka mampu meniti jalan mentauhidkan dan mensucikan Allah ‘azza wa jalla. Mereka meninggalkan ucapan-ucapan yang bernada meniadakan, menyerupakan dengan makhluk. Mereka mengikuti firman Allah azza wa jalla: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” (Asy-Syuraa:11) (Aqidah Ahlus Sunnah)

    IMAM AHMAD Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits. Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil.

    Dalam memahami sifat-sifat Allah ini dibagi mjd 3 golongan:
    1. Gol. yg meniadakan sifat Allah
    Golongan ini meniadakan sifat Allah dengan alasan jika menetapkan sifat berarti akan menyerupakan Allah dengan makhluk, sehingga konsekuensinya sifat-sifat Allah yg tdpt dlm Al-Qur’an dan As-Sunnah harus ditakwil (diartikan lain). Misalnya sifat tangan diartikan kekuasaan, sifat wajah ditakwil Rahmat, sifat istiwa’ (bersemayam) ditakwil istaula’ (menguasai), dsb. Pertama kali dicetuskan oleh Jahm bin Sofyan (pendiri Jahmiyah), yg diikuti oleh penganut Mu’thazilah.
    2. Gol. yg menyerupakan sifat Allah dengan makhluk (Musyabbihah)
    Sifat tangan Allah mereka samakan dengan tangan makhluk-Nya, sifat wajah Allah disamakan dengan wajah manusia, sifat istiwa’ (bersemayam) Allah disamakan dengan bersemayamnya manusia. Ajaran ini seperti anthropomorphisme (menyerupakan Allah dengan manusia).
    3. Gol. Pertengahan (Ahlus Sunnah)
    Yaitu menetapkan sifat Allah yg telah Allah khabarkan dlm Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa tamtsil/tasybiih (menyerupakan dengan makhluk), tanpa tahrif (mengganti, merubah, memalingkan maknanya ke makna lain), tanpa ta’thil (meniadakan sifat-Nya), tanpa takyif (bertanya bagaimana, kaifiyahnya). Inilah manhaj Ahlus Sunnah yg dipahami oleh para imam yg empat dan para ahli hadits seperti Imam Ahmad, Malik, Syafi’i, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Mandah, Adz-Dzahabi, dsb.

    Ahlus sunnah menetapkan sifat bagi Allah yang telah Allah khabarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Berbeda dgn Jahmiyyah yang meniadakan sifat-sifat Allah dgn alasan bahwa jika menetapkan sifat-sifat Allah berarti menganggap Allah sama dengan makhluk-Nya, sehingga konsekuensinya mereka harus mentakwil (menyimpangkan tafsir) dari sifat-sifat Allah yg telah Allah sebutkan dlm Al-Qur’an dan As-Sunnah agar tdk menyerupakan Allah dgn makhluk-Nya.

    1. SIFAT DUA TANGAN
    Ahlus Sunnah menetapkan sifat tangan bagi Allah spt yg tdpt dlm ayat dan hadits berikut ini:
    “(Tidak demikian), tetapi KEDUA TANGAN Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (Al-Ma’idah: 64)
    “… apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan KEDUA TANGAN-KU. …”. (Shaad: 75)
    “Pada hari kiamat Allah akan menggulung langit lantas memegangnya dengan tangan kanan-Nya” (HR. Muslim 2788).
    Ibnu Abbas (ahli tafsir para sahabat) berkata: ”7 langit dan 7 bumi yg berada di telapak tangan Allah itu hanya seperti sebutir biji sawi di atas tangan seseorang di antara kalian.” (Hasan, diriwayatkan oleh Thabrani dlm At-Tafsir 24/54 dan Abdullah bin Ahmad dlm As-Sunnah 1090)

    Ahlus Sunnah percaya bahwa Allah memiliki tangan, hanya saja tangannya TIDAK SAMA dengan tangan makhluk-Nya. Berbeda dgn Jahmiyyah yg tdk menetapkan sifat tangan bagi Allah dengan alasan berarti menyerupakan Allah dgn makhluk, lalu mereka takwil (selewengkan tafsirnya) tangan dgn arti kekuatan/kenikmatan.

    Jika Ahlus Sunnah menetapkan sifat tangan bagi Allah bukan berarti menyerupakan Allah dgn makhluk (musyabbihah) karena tangan Allah tidaklah sama dgn tangan makhluk-Nya. Jika ada 2 jenis individu yg sama-sama memiliki tangan, bukan berarti kedua individu tsb mempunyai tangan yg sama/serupa. Misalnya saja: MANUSIA DAN TIKUS YG KEDUANYA MEMILIKI TANGAN, TENTU SAJA TANGAN MANUSIA DENGAN TANGAN TIKUS BERBEDA/TIDAK SERUPA.

    2. SIFAT WAJAH
    “Dan tetap kekal WAJAH Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)
    “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali WAJAH Allah.” (Al-Qashash: 88)
    Dalam Kitabullah dan Sunnah, Allah telah menetapkan sifat wajah yg Ahlus Sunnah juga menetapkan sifat tersebut (sedang Jahmiyyah mentakwil yaitu mengartikan wajah dengan Rahmat), bukan berarti Ahlus Sunnah menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk-Nya. Jika ada 2 jenis individu yg sama-sama memiliki wajah, bukan berarti kedua individu tsb mempunyai wajah yg sama/serupa. Misalnya: GAJAH DAN AYAM MASING-MASING MEMILIKI WAJAH, BUKAN BERARTI WAJAH GAJAH SAMA DENGAN WAJAH AYAM. Tentu berbeda sekali bukan.

    IMAM MALIK ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa’, -bersemayam-. Beliau menjawab : “Istiwa’ itu telah diketahui (maknanya), bentuk/keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya adalah bid’ah.”

    IBNU KHUZAIMAH berkata di kitabnya At-Tauhid (hal: 101):
    “Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A’laa (yang Maha Besar dan Maha Tinggi) sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas ‘Arsy-Nya. Kami tidak akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (kaum) Jahmiyyah yang MENGHILANGKAN SIFAT-SIFAT ALLAH, dengan mengatakan “Sesungguhnya Ia (Allah) istawla (menguasai) ‘Arsy-Nya tidak istawaa!”. Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka diperintah mengucapkan : “Hith-thatun (ampunkanlah dosa-dosa kami)” Tetapi mereka mengucapkan : “Hinthah (gandum).?”. Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang Maha Besar dan Maha Tinggi, begitu pula dengan (kaum) Jahmiyyah”.

    Jahmiyah merubah arti kata istiwa’ (bersemayam) menjadi istawla’ (menguasai). Adapun Ahlus Sunnah beriman dengan sifat istiwa’ tanpa memalingkan ke makna lain (istawla), tanpa menyerupakan istiwa’ Allah dengan bersemayamnya manusia atau hewan, tanpa bertanya bagaimana caranya karena hanya Allah saja yg mengetahui.

    SYAIKH ABDUL QADIR JAILANI berkata:
    “Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).

    • Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

      ^_^

      Anda berbicara atas nama seorang Ulama’ Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah, sedangkan ulama’ yang anda nukil tulisannya sejatinya tidak berpendapat seperti pendapat anda.

      Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah. Bahkan beliau adalah salah seorang ulama’ yang terkemuka dalam akidah tanzih. Dalam hal ini as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami rahimahullaah menuliskan:

      وَمَا اشْتُهِرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إلَى هذَا الإمَامِ الأعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أنّهُ قَائِلٌ بِشَىءٍ مِنَ الْجِهَةِ أوْ نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ

      “Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, hal. 144)

      Penjelasan saya mengenai Syaich Abdul Qadir al-Jailani rahimahullaah:

      Salah satu permasalahan yang dialamatkan kepada beliau adalah sebuah masalah bahwasanya beliau dianggap salah satu ulama yang berpaham tajsim sebagaimana di sebutkan dalam manaqib-manaqib beliau diantaranya termaktub dalam kitab an-Nur al-Burhaan yang berbunyi :

      انت واحد في السماء وانا واحد في الأرض

      Dalam kitab beliau yang lain yaitu dalam Tafrikhul Khotir hal 46 berbunyi:

      انت واحد في السماء وانت الكبير الجبار المتكبر وانا الحقير الفقير القليل لااله الا انت

      Secara tekstual sepertinya dapat disimpulkan bahwa beliau menetapkan Allah itu berarah atau bertempat, banyak nash yang secara tekstual (lihat dalam kitab Al Ghunniyah) sepertinya mengisyaratkan bahwa Allah berarah dan bertempat tertentu, namun apabila kita kaji dengan mengambil pendapat Syekh Muhyiddin ibn al A’robi dalam kitabnya Aqidatul Khowwash yang berbunyi :

      وليس فيها (الغنية) لفظ الجهة…… وهذا يؤيد ماذكره الأئمة الأعلام نجم الدين الكبرى واليافعي والشعراني وابن حجر من تنزيه سيد الشيخ عبد القادر عن ذلك

      “Dan sejatinya didalam kitab Al Ghunniyah tidak terdapat lafadz arah……, dan ini dikuatkan oleh pendapat yang dikemukakan oleh para alim diantaranya yaitu: Najamuddin al-Kubro, Imam al-Yafi’i, Imam Sya’roni, Ibnu Hajar, bahwa Syekh Abdul Qodir al-Jilany terlepas dari I’tiqod tentang penetapan arah bagi Tuhan”.

      Permasalahan ini pada dasarnya merupakan masalah ta’wil tentang “istawaa”nya Allah, untuk itu kita harus juga melihat pendapat beliau Syekh Abdul Qodir mengenai ta’wil dalam kitab Sirr al Asror, beliau mengatakan:

      التفسير للعوام و التأويل للخواص,لأنهم العلماء الراسخون,لأن معنى الرسوخ الثبات والإستقرار والإستحكام فى العلم…
      سر الأسرار:61

      Dalam pendapatnya diatas nampaknya beliau membedakan antara tafsir dan ta’wil, tafsir menurut beliau adalah diperuntukkan bagi orang awaam/umum, sedangkan ta’wil bagi orang khowwash/khusus, dalam hal ini adalah ulama’ yang mampu menetapkan, dan mengambil suatu hikmah dari suatu ilmu.

      Penjelasan diatas akan sepadan dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Jalaluddin as-Suyuthi as-Syafi’i di dalam kitab al-Itqon fii al’ulum al-Qur’an juz 2 halaman 6 ketika menjelaskan beberapa makna istawaa ketika beliau menolak makna istawaa dengan istaqorro (bersemayam)

      حكي مقاتل والكلبي عن ابن عباس استواء بمعنى استقر وهذا ان صح يحتاج الى تأويل فإن الإستقرار يشعر بالتجسيم

      “Diriwayatkan oleh Muqaatil dan al-Kalbiy dari ibn Abbas: istiwa’ dimaknai istiqrar, apabila demikian hal ini perlu dita’wil, karena sejatinya istiqrar akan mengarah kepada tajsim.”

      Beliau memperingatkan tentang makna istawaa apabila menggunakan makna istaqorro (artinya Allah itu bertempat), maka harus dita’wil sebab apabila tidak akan terjerumus dalam tajsim.

      Berdasarkan pemaparan diatas maka tepatlah apabila kita analisa secara sintesis dan kompratif terhadap dua perkataan Syekh Abdul Qodir al-Jailani diatas masing-masing bermaksud untuk menunjukkan keagungan dan ketinggian derajad dari pada Allah Ta’aala.

      Ada baiknya kita memperhatikan saran yang sangat bagus dari al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullah berkaitan dengan pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, beliau menuliskan sebagai berikut:

      فَإنْ قِيْل: أليْسَ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى (الرّحْمنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى)، يُقَال: إنّ هذِهِ الآيَة مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ، وَالّذِيْ نَخْتَارُ مِنَ الْجَوَابِ عَنْهَا وَعَنْ أمْثَالِهَا لِمَنْ لاَ يُرِيْدُ التّبَحُّر فِي العِلْمِ أنْ يُمِرَّ بِهَا كَمَا جَاءَتْ وَلاَ يَبْحَثُ عَنْهَا وَلاَ يَتَكَلّمُ فيْهَا لأنّهُ لاَ يَأمَنُ مِنَ الوُقُوْعِ فِي وَرَطَةِ التّشْبِيْهِ إذَا لَمْ يَكُنْ رَاسِخًا فِي العِلْمِ، وَيَجِبُ أنْ يَعْتَقِدَ فِي صِفَاتِ البَارِي تَعَالَى مَاذَكَرْنَاهُ، وَأنّهُ لاَ يَحْويْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِي عَليْهِ زَمَانٌ، مُنَزَّهٌ عَنِ الحُدُوْدِ وَالنّهَايَاتِ، مُسْتَغْنٍ عَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَاتِ، وَيَتَخَلَّصُ مِن َالمَهَالِكِ وَالشُّبُهَاتِ.

      “Jika dikatakan bukankah Allah telah berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang ini agar supaya mengimaninya dan tidak secara mendetail membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam hal ini ia tidak akan aman, ia akan jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk dan segala penghabisan. Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

      Wallaahu ta’aala a’lam.

  2. Rasulullah pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah. “Beliau (shollallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya kepadanya: “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi): “Siapakah Aku ?”. Jawab budak itu: “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda: “Merdekakan ia ! Karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. (Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya Al-Uluw lil ‘Aliyyin Adzim 1/249: Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab mereka dengan memperlakukannya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tahrif)

    Firman Allah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4) menurut Ibnu Katsir ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Tafsir Qur’anil Azhim: 4/317)

    Imam Syafi’i berkata: “Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langit-Nya. (Adab Syafi’i wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 93)

    Ibnu Khuzaimah berkata: “Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah “Ulumul Hadits” hal : 84).

    Ad-Darimi berkata dalam kitabnya: “Dalam hadits ini (hadits Mu’awiyah-pen) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi “Di mana Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya…”. (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah hal. 46-47)

    “Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?”
    “Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (QS. Al-Mulk : 16-17).

    Ibnu Khuzaimah berkata setelah membawakan dua ayat Al Qur’an Surat Al Mulk ayat 16 dan 17 dalam kitabnya “At-Tauhid” hal : 115 :”Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- yaitu : apa yang ada di antara keduanya (QS. Al Mulk ayat 16 dan 17-pen) sesungguhnya Ia di atas langit”.

    Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah fi Ushul Diyanah hal. 69-76: “Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy. Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.”

    Abdullah Ibnu Mubarak berkata: “Kami mengetahui Rabb kami, Dia bersemayam di atas ‘arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Alloh ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).” (Shahih. Dikeluarkan ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf 28 dan Ad-Darimi dalam Ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 47.)

    Al-Auza’i berkata, “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Alloh berada di atas ‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.” (Shahih. Diriwayatkan Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat 408, Adz-Dzahabi dalam Al-‘Uluw hal. 102 dan dishahihkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Al-Albani)

    Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas) berkata: “Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya : “Ia berada tinggi di atas “Arsy”
    (Riwayat Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

    Ibnu Khuzaimah berkata setelah membawakan dua ayat Al Qur’an Surat Al Mulk ayat 16 dan 17 dalam kitabnya “At-Tauhid” hal : 115 :”Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- yaitu : apa yang ada di antara keduanya (QS. Al Mulk ayat 16 dan 17-pen) sesungguhnya Ia di atas langit”.
    An-Nawawi mengatakan dalam kitabnya “Juz Fi Dzikri I’tiqod Salaf fil Huruf wal Ashwath”: “Kami beriman bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana Allah khabarkan dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Allah di setiap tempat, bahkan Allah di atas langit dan ilmu-Nya di setiap tempat”. Lalu beliau membawakan QS. Al-Mulk: 16, Fathir: 10, hadits budak wanita, lalu beliau mengatakan: “Demikian juga dalil-dalil lainnya dalam Al-Qur’an dan hadits banyak sekali, kami mengimaninya dan tidak menolaknya sedikitpun”.

    Kalau Allah tidak di atas langit, apakah anda lupa dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj? Ke manakah Nabi diperjalankan pada malam itu??????

  3. Perkataan Imam Syafi’i dan Syaikh Abdul Qadir Jailani yg Anda sebutkan di atas masih umum, sama sekali tidak bertentangan dengan perincian mereka yg jelas-jelas menyebutkan bahwa Allah Maha Tinggi (Al-’Aliy) di atas langit ketujuh di atas seluruh makhluk-Nya.

    Imam Syafi’i berkata: “Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langit-Nya. (Adab Syafi’i wa Manaqibuhu oleh Ibnu Abi Hatim hal. 93) Ibnu Abi Hatim adalah seorang ahli hadits, penulis Kitab Jarh Wat Ta’dil, dan juga juru tulis Imam Bukhari.

    Sebaiknya kita samakan persepsi dulu makna TEMPAT yg dimaksud (agar saya dan Anda tidak salah sambung).
    Berikut kutipan Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi oleh Muhammad:
    I. Apabila yang maksud “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah berfirman:
    Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar: 67).
    Dan telah shahih dalam Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi bahwa beliau bersabda:
    Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah Raja, manakah raja-raja bumi?”
    II. Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni di luar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.
    Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama

    Imam Ahmad dan Ad-Darimi menulis kitab yg judulnya sama yaitu Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah (Bantahan thd Jahmiyyah). Imam Adz-Dzahabi juga mempunyai sebuah buku “Al-Uluw” yg sangat bagus. Anda bisa membelinya sebelum kehabisan. Atau ini beberapa kutipan dari Kitab beliau.
    Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham yg mengatakan Allah ada di mana-mana dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah diluar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:
    1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!
    2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
    3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.

    Ad-Darimi berkata dalam kitabnya: “Dalam hadits ini (hadits Mu’awiyah-pen) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi “Di mana Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya…”. (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah oleh Imam Ad-Darimi hal. 46-47)

  4. Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja’ad bin Dirham (orang yg mengingkari sifat Allah, pelopor pertama kali paham Jahmiyyah sebelum Jahm bin Sofyan, dihukum sembelih pada saat Idul Adha oleh gubernur Wasith atas fatwa para Tabiin-pen) : “Sungguh celaka engkau wahai Ja’ad karena masalah itu (karena Ja’ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, SEANDAINYA ALLAH TIDAK MENGKABARKAN DALAM KITAB-NYA BAHWA IA MEMILIKI TANGAN, MATA DAN WAJAH, NISCAYA AKU TIDAK BERANI MENGATAKANNYA, TAKUTLAH KEPADA ALLAH!” (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni, Baihaqi berkata: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”, 373-449 H))

    “Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”(QS. Ali-‘Imran:7).

    Imam Az-Zuhri berkata: “Allah-lah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya” (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    Sufyan bin Uyainah menyatakan: “Segala sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an, penafsirannya adalah baca dan diam” (dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Al-I’tiqad) Ini menunjukkan ahlus sunnah beriman dengan semua sifat yg telah Allah khabarkan, lalu diam, tidak berlanjut mencari-cari takwilnya atau mereka-reka bagaimana kaifiyanya atau menyerupakan dengan makhluk.

    Khalid bin Abdullah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya I’dul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata: “Pulanglah kalian ke rumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian, semoga Allah memberkahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan meyembelih Ja’ad bin Dirham, karena ia berkata: Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim ‘alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja’ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja’ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib. (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    IMAM SYAFI’I
    Ada banyak orang yg mengaku-ngaku perkataan Imam Syafi’i karena memanfaatkan ketenaran beliau, padahal bukan. Buku al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar itu karangan siapa, ulama ahli hadits? Taruhlah nukilan itu benar-benar perkataan Imam Syafi’i, tetapi nukilan tersebut tidak menafikan/membantah perkataan beliau yg lain yg secara RINCI/JELAS mengatakan bahwa Allah berada di atas Arsy di atas langit, karena perkataan Imam Syafi’i yg Anda nukil tersebut masih umum (Anda tidak membantah dengan menukil perkataan beliau yang jelas menyebutkan: ”Allah tidak istiwa’ di atas arsy di atas langit”).

    Dan anehnya lagi, Anda malah menukil perkataan beliau yg mendukung pendapat kami dan justru meruntuhkan pendapat Anda, yaitu imam Syafi’i berkata:”AGAR SUPAYA MENGIMANINYA (SIFAT ISTIWA’-pen) DAN TIDAK SECARA MENDETAIL MEMBAHASNYA ATAU MEMBICARAKANNYA” menunjukkan bahwa Imam Syafi’i mengimani sifat istiwa’ lalu diam (tidak berlanjut mentakwil ke makna lain spt istawla/menguasai dan tidak mereka-reka bagaimana kaifiya). Berbeda dengan paham Jahmiyyah yg tidak mengimani sifat istiwa’ (tidak mengimani dan diam) tetapi malah berlanjut mentakwil ke makna lain yaitu istawla/menguasai. Karena penakwilan sifat istiwa’ menjadi istawla berarti sama saja dengan meniadakan sifat istiwa’ (TIDAK MENGIMANI SIFAT ISTIWA’).

    Ishaq Bin Rahawaih (sahabat Imam Ahmad bin Hanbal, 166-238 H) mengatakan: “Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah).” (Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi muridnya Ibnu Katsir)

    Sesungguhnya Imam Syafi’i berlepas diri dari paham Jahmiyyah karena beliau mengimani sifat istiwa’ (lalu diam, tdk terus berlanjut mentakwil). Imam Syafi’i berkata,” Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Dia mensifati diri-Nya dan atas apa yang disifatkan untuk-Nya oleh makhluk-Nya” (Al-Risalah oleh Imam Syafi’i, hal. 7-8)

    Ibnu Juraij (ulama mazhab Syafi’i) berkata: “Kami tidak setuju dengan takwil Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Jahmiyyah, Mulhidah, Mujassimah, Musyabbihah, Karomiyyah, dan Mukayyifah.” (Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hal. 62)

    Apakah masih belum cukup perkataan beliau Imam Syafi’i yg rinci dalam sumber Kitab yg jelas yg ditulis oleh Imam Syafi’i sendiri yaitu Ar-Risalah, danKitab yg jelas ditulis imam ahlus sunnah Ibnu Abi Hatim (ahli hadits, ahli sanad, juru tulis Imam Bukhari) dan Kitab yg jelas ditulis oleh ahli hadits Adz-Dzahabi dalam Al-Uluw?

    Imam Syafi’i berkata: “Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langit-Nya. (Adab Syafi’i wa Manaqibuhu oleh Ibnu Abi Hatim hal. 93)

    Sufyan Ats-Tsaury (Tabiut Tabi’in) pernah ditanya tentang ayat “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4). Beliau menjawab: ”Yakni ilmu-Nya.” (Kitab Khalqu Af’alil Ibad oleh Imam Bukhari)

    Imam Nawawi (ulama besar mazhab Syafi’i) mengatakan dalam kitabnya “Juz Fi Dzikri I’tiqod Salaf fil Huruf wal Ashwath”: “Kami beriman bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana Allah khabarkan dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Allah di setiap tempat, bahkan Allah di atas langit dan ilmu-Nya di setiap tempat”. Lalu beliau membawakan QS. Al-Mulk: 16, Fathir: 10, hadits budak wanita, lalu beliau mengatakan: “Demikian juga dalil-dalil lainnya dalam Al-Qur’an dan hadits banyak sekali, kami mengimaninya dan tidak menolaknya sedikitpun”. Imam Nawawi juga menegaskan ketinggian Allah dalam kitabnya Thobaqot Fuqoha Syafi’iyyah 1/470 dan Roudhoh Tholibin 10/85.

    Firman Allah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4) menurut Ibnu Katsir (ahli tafsir, ulama mazhab Syafi’i) ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Tafsir Qur’anil Azhim: 4/317)

    Salah seorang murid Ibnu Katsir, Ibnu Abil Izzi al-Hanafi mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentang ketinggian Allah ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang mencermatinya” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/277)

    Ibnu Abil Izzi al-Hanafi (murid Ibnu Katsir) yang telah mengatakan –setelah menyebutkan 18 segi dalil–, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.” (Syarh Aqidah Thahawiyah hal. 386)

    Sebagian pembesar sahabat Syafi’i berkata: “Dalam Al-Qur’an terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas para hamba-Nya”. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 5/121, Ibnu Taimiyyah adalah guru Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan Ibnul Qayyim)

    SYAIKH ABDUL QADIR JAELANI
    Anda berdalil dengan Kitab Al-Ghunyah?
    Maka saya sebutkan perkataan Syeikh Abdul Qadir Jaelani dalam Kitab beliau Al-Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq : ”Dia (Allah) di arah atas, berada di atas Arsy-Nya, meliputi seluruh kerajaan-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ tanpa takwil (menyimpangkan ke makna lain istawla/menguasai-pen).”

    IMAM AHMAD
    Maka saya bawakan nukilan perkataan beliau melalui sumber Kitab yang jelas yaitu Kitab Al-Uluw karya ahli hadits Adz-Dzahabi.

    Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, ”Apakah Allah di atas langit yg ke-7 di atas ’arsy-Nya jauh dari makhluk-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya di setiap tempat?” Beliau menjawab, ”Ya, Dia di atas ’arsy-Nya tidak akan luput sesuatupun dari-Nya.” (Al-Uluw oleh Imam Adz-Dzahabi)

    Hanbal bin Ishaq berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad-pen) ditanya apa makna ”Dan Dia (Allah) bersama kamu”? Beliau menjawab: ”Yakni ilmu-Nya, ilmu-Nya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di atas ’arsy.” (Al-Uluw oleh Imam Adz-Dzahabi)

    Apakah masih belum puas terhadap perkataan Imam Ahmad di atas? Malahan sekarang saya bawakan perkataan beliau dari Kitab yg jelas yaitu kitab beliau sendiri ”Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” yg menjelaskan maksud tempat..
    Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham yg mengatakan Allah ada di mana-mana dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah di luar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:
    1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!
    2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
    3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (“Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53)

    Tetapi jangan sampai Anda salah memahami makna tempat (berada di dalam makhluk-Nya/seperti point no. 1 dan 2), yg benar maksud tempat adalah di luar makhluk-Nya seperti point no. 3 tidak dibatasi oleh makhluk-Nya.

    Kalau masih belum paham lagi maksud tempat yg dimaksud, maka berikut ini ada penjelasan lagi.
    Berikut kutipan Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi oleh Muhammad:
    I. Apabila yang dimaksud “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah berfirman:
    Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar: 67).
    Dan telah shahih dalam Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi bahwa beliau bersabda: Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah Raja, manakah raja-raja bumi?”
    II. Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni di luar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.
    Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama (Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi).

    SARAN: Tolong Anda bantah perkataan para imam yg saya nukil yg saya sebutkan secara rinci/tegas dengan perkataan para imam yg lain yg bersifat rinci/tegas/jelas mengatakan ”ALLAH TIDAK ISTIWA’ DI LANGIT / TIDAK DI ATAS ARSY”, bukan dengan perkataan yg masih umum dengan mengatakan ”ALLAH ADA TANPA ARAH”. Mengapa? Karena sama sekali perkataan ini tidaklah bertentangan dengan perkataan yg rinci.

    MISAL: Saya mengatakan Si Fulan ada di Mekah pada tanggal ini, tetapi Anda malah mengatakan Si Fulan ada di Asia atau bahkan di bumi. Seharusnya Anda membantah dengan perkataan tegas/jelas/rinci/muhkamat seperti ”Si Fulan tidak di Mekah tapi di Madinah.”

    • Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim

      Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda:

      انت الظاهر فليس فوقك شيء وانت الباطن فليس دونك شيء

      Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di
      bawah-Mu”

      Kemudian pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullaah:
      Pernyataan al-Imaam asy-Syafi'i rahimahullaah
      “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil.”

      Berkaitan dengan QS. Thoha:5, saya pribadi lebih mengikuti pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullaah:
      Pendapat al-Imaam asy-Syafi'i rahimahullaah
      “Ini termasuk ayat mutasyabihat. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

      Jadi berdasarkan pendapat al-Imam asy-Syafi’i diatas, dan saya merasa diri pribadi saya sendiri bukanlah termasuk orang yang berkompeten (bukan ulama dan bukan mujtahid), maka saya mengikuti saran al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullaah diatas.

      Berkaitan dengan pernyataan Syech Abdul Qadir al-Jailani, sebaiknya anda harus membaca juga kitab beliau sirr al-asror, berkaitan dengan masalah ta’wil tentang “istawaa” nya Allah, beliau mengatakan:

      التفسير للعوام و التأويل للخواص,لأنهم العلماء الراسخون,لأن معنى الرسوخ الثبات والإستقرار والإستحكام فى العلم…
      سر الأسرار:61

      Dalam pendapatnya diatas beliau membedakan antara tafsir dan ta’wil, tafsir menurut beliau adalah diperuntukkan bagi orang awaam/umum, sedangkan ta’wil bagi orang khowwash/khusus, dalam hal ini adalah ulama’ yang mampu menetapkan, dan mengambil suatu hikmah dari suatu ilmu.

      Kemudian, apabila Anda menolak ta’wil atas ayat-ayat mutasyabihat bagaimana anda memahami ayat ini:

      نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ

      apakah anda akan tetap berpegang dengan makna dzohir ayat ini? wal iyaadzu billaah.

  5. Apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan, baik yang lalu maupun yang akan datang, baik itu dari saya sendiri maupun orang-orang yang satu manhaj dengan saya, saya mohon maaf Saudaraku.

    Semoga Allah memberikan ampunan dan rahmat kepada kita seluruh kaum muslimin pada hari kiamat nanti.

    Sebelumnya, saya ingin tahu sanad/perawi hadits yang Anda sebutkan di atas “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu”.

    Bagaimana kedudukan riwayat ini (shohih/dhoif) dan bagaimana tafsir para ulama mengenai riwayat ini.

    Akankah riwayat yang belum jelas ini (yang belum tentu sabda Rasulullah) bisa dibandingkan dengan belasan hadits beliau yang kedudukannya lebih shohih seperti berikut ini.

    Rasulullah pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah. “Beliau (shollallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya kepadanya: “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi): “Siapakah Aku ?”. Jawab budak itu: “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda: “Merdekakan ia ! Karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. (Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya Al-Uluw lil ‘Aliyyin Adzim 1/249: Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab mereka dengan memperlakukannya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tahrif)
    Ad-Darimi berkata dalam kitabnya: “Dalam hadits ini (hadits Mu’awiyah-pen) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi “Di mana Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya…”. (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah hal. 46-47)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit.” (HR.Bukhari 4351 dan Muslim 1064)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya “. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang di muka bumi, niscaya tidak akan disayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani, mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih di kitabnya “Silsilah Shahihah No. 925”.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah (makhluk) yang di atas bumi, niscaya Yang di atas langit akan mengasihi kalian.” (Shahih. HR. Abu Daud (4941), Tirmidzi (1/350), Ahmad (2/160), Al-Humaidi (591), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/526), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/159). Dan dishahihkan Al-Hakim, Ad-Dzahabi, Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar dan lain sebagainya. Lihat As-Shahihah 3/594-595/922 oleh Al-Albani)

    Firman Allah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4) menurut Ibnu Katsir ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Tafsir Qur’anil Azhim: 4/317)

    Adapun mengenai surat Thoha ayat 5:
    Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid ahli tafsir Ibnu Abbas). Artinya : “Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya : “Ia berada tinggi di atas “Arsy”
    (Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

    Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitab beliau “At-Tauhid” (hal : 111): “Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
    Artinya :
    “Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).
    Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : “Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
    Artinya :
    “Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)
    Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah “mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla. Artinya : “Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).
    Karena “Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

    “Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).

    1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya “At-Tauhid” (hal : 114-115) diantara keterangannya : “Perkataan Fir’aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Fir’aun :” Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di atas”.
    2. Berkata Imam Abu Hasan Al-Asy’ary setelah membawakan ayat di atas : “Fir’aun telah mendustakan Musa tentang perkataannya : Sesungguhnya Allah di atas langit” (Al-Ibanah : 48).
    3. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya “Raddu ‘Alal Jahmiyyah hal : 37 Setelah membawakan ayat di atas : ” Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir’aun mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan membuat bangunan yang tinggi”.
    4. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya “Itiqad Ahlus Sunnah wa Ashabul Hadits wal A’imah ” (hal : 15) : “Bahwasanya Fir’aun mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada di atas langit. Tidakkah engkau perhatikan perkataannya : “Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta” yakni tentang perkataan Musa : Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan”.
    5. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby di antara keterangannya : “Berkata Fir’aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa yang ia (Musa) katakan kepadaku : Sesungguhnya Tuhannya berada di atas langit”. Kemudian beliau menerangkan : “Kalau sekiranya Musa mengatakan : “Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya Fir’aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir’aun tidak akan menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi”. (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).
    6. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : “Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : “Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal :

    Saya setuju sekali dengan perkataan Imam Syafii yang menafsirkan kata tempat tersebut. Tapi sebelumnya, untuk menyamakan persepsi kita tentang tempat, marilah kita simak perkataan Imam Ahmad (murid beliau, guru Bukhari ,Muslim, Abu Dawud, dll) yang menerangkan secara rinci tentang maksud tempat.

    Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah di luar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:
    1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!
    2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
    3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (“Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53)

    Tetapi jangan sampai Anda salah memahami makna tempat (berada di dalam makhluk-Nya/seperti point no. 1 dan 2), yg benar maksud tempat adalah di luar makhluk-Nya seperti point no. 3 tidak dibatasi oleh makhluk-Nya.

    Kalau masih belum paham lagi maksud tempat yg dimaksud, maka berikut ini ada penjelasan lagi.
    Berikut kutipan Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi oleh Muhammad:
    I. Apabila yang dimaksud “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah berfirman:
    Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar: 67).
    Dan telah shahih dalam Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi bahwa beliau bersabda: Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah Raja, manakah raja-raja bumi?”
    II. Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni di luar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.
    Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama (Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi).

    Semoga Allah memberikan keselamatan kepada orang-orang yang mau mengikuti petunjuk.

  6. Apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan, baik yang lalu maupun yang akan datang, baik itu dari saya sendiri maupun orang-orang yang satu manhaj dengan saya, saya mohon maaf Saudaraku.

    Semoga Allah memberikan ampunan dan rahmat kepada kita seluruh kaum muslimin pada hari kiamat nanti.

    Sebelumnya, saya ingin tahu sanad/perawi hadits yang Anda sebutkan di atas “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu”.

    Bagaimana kedudukan riwayat ini (shohih/dhoif) dan bagaimana tafsir para ulama mengenai riwayat ini.

    Akankah riwayat yang belum jelas ini (yang belum tentu sabda Rasulullah) bisa dibandingkan dengan belasan hadits beliau yang kedudukannya lebih shohih seperti berikut ini.

    Rasulullah pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah. “Beliau (shollallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya kepadanya: “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi): “Siapakah Aku ?”. Jawab budak itu: “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda: “Merdekakan ia ! Karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. (Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya Al-Uluw lil ‘Aliyyin Adzim 1/249: Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab mereka dengan memperlakukannya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tahrif)
    Ad-Darimi berkata dalam kitabnya: “Dalam hadits ini (hadits Mu’awiyah-pen) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi “Di mana Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya…”. (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah hal. 46-47)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit.” (HR.Bukhari 4351 dan Muslim 1064)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya “. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang di muka bumi, niscaya tidak akan disayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani, mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih di kitabnya “Silsilah Shahihah No. 925”.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah (makhluk) yang di atas bumi, niscaya Yang di atas langit akan mengasihi kalian.” (Shahih. HR. Abu Daud (4941), Tirmidzi (1/350), Ahmad (2/160), Al-Humaidi (591), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/526), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/159). Dan dishahihkan Al-Hakim, Ad-Dzahabi, Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar dan lain sebagainya. Lihat As-Shahihah 3/594-595/922 oleh Al-Albani)

    Firman Allah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4) menurut Ibnu Katsir ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Tafsir Qur’anil Azhim: 4/317)

    Adapun mengenai surat Thoha ayat 5:
    Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid ahli tafsir Ibnu Abbas). Artinya : “Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya : “Ia berada tinggi di atas “Arsy”
    (Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

    Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitab beliau “At-Tauhid” (hal : 111): “Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
    Artinya :
    “Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).
    Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : “Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
    Artinya :
    “Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)
    Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah “mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla. Artinya : “Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).
    Karena “Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

    “Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).

    1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya “At-Tauhid” (hal : 114-115) diantara keterangannya : “Perkataan Fir’aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Fir’aun :” Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di atas”.

    2. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya “Raddu ‘Alal Jahmiyyah hal : 37 Setelah membawakan ayat di atas : ” Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir’aun mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan membuat bangunan yang tinggi”.
    3. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya “Itiqad Ahlus Sunnah wa Ashabul Hadits wal A’imah ” (hal : 15) : “Bahwasanya Fir’aun mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada di atas langit. Tidakkah engkau perhatikan perkataannya : “Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta” yakni tentang perkataan Musa : Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan”.
    4. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby di antara keterangannya : “Berkata Fir’aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa yang ia (Musa) katakan kepadaku : Sesungguhnya Tuhannya berada di atas langit”. Kemudian beliau menerangkan : “Kalau sekiranya Musa mengatakan : “Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya Fir’aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir’aun tidak akan menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi”. (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).
    5. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : “Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : “Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).

    Saya setuju sekali dengan perkataan Imam Syafii yang menafsirkan kata tempat tersebut. Tapi sebelumnya, untuk menyamakan persepsi kita tentang tempat, marilah kita simak perkataan Imam Ahmad (murid beliau, guru Bukhari ,Muslim, Abu Dawud, dll) yang menerangkan secara rinci tentang maksud tempat.

    Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah di luar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:
    1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!
    2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
    3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (“Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53)

    Tetapi jangan sampai Anda salah memahami makna tempat (berada di dalam makhluk-Nya/seperti point no. 1 dan 2), yg benar maksud tempat adalah di luar makhluk-Nya seperti point no. 3 tidak dibatasi oleh makhluk-Nya.

    Kalau masih belum paham lagi maksud tempat yg dimaksud, maka berikut ini ada penjelasan lagi.
    Berikut kutipan Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi oleh Muhammad:
    I. Apabila yang dimaksud “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah berfirman:
    Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar: 67).
    Dan telah shahih dalam Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi bahwa beliau bersabda: Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah Raja, manakah raja-raja bumi?”
    II. Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni di luar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.
    Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama (Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 Adz-Dzahabi).

    Semoga Allah memberikan keselamatan kepada orang-orang yang mau mengikuti petunjuk.

  7. APAKAH JIKA AHLUS SUNNAH MENETAPKAN/MENGIMANI SIFAT ILMU BAGI ALLAH SESUAI DENGAN YANG ALLAH KHABARKAN, BERARTI MEREKA MENGANGGAP ILMU ALLAH SAMA/SEBANDING DENGAN MANUSIA? Ya Allah, lindungilah kami dari tuduhan dusta tersebut.

    ISHAQ BIN RAHAWAIH (sahabat Imam Ahmad bin Hanbal, 166-238 H) mengatakan: “Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah (menyerupakan dengan makhluk) padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah).” (Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi muridnya Ibnu Katsir)

    Lihatlah kebatilan ucapan dari Al-Baqilani -salah satu tokoh Al-Asy’ariyyah- berikut: ”Sedangkan tauhid menurut Asy’ariyyah adalah menafikan sekutu atau bilangan serta menafikan bagian atau susunan. Oleh karena itulah, Asy’ariyyah MENOLAK SIFAT WAJAH, TANGAN, MATA, DAN YANG LAINNYA bagi Allah dengan alasan menunjukkan susunan dan bagian menurut mereka. Adapun Ahli Sunnah mengimani semua sifat Allah tanpa ta’thil, tamtsil, dan takyif.” (Al-Inshof oleh Al-Baqilani hal. 22)

    Al-Baqilani mengatakan menolak sifat wajah, tangan, mata, dll. Bukankah Allah telah mengabarkan dalam Al-Qur’an dan Rasulullah juga mengabarkan dalam As-Sunnah bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut. Lalu mengapa Al-Baqilani malah tidak diam dan tidak mengimani sifat-sifat tersebut?

    “Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (QS. Ali-Imran: 7). Ahlus sunnah mengimani semua sifat-sifat Allah yang telah Allah khabarkan, adapun bagaimana hakikatnya (kaifiyatnya) hanya Allah yang tahu. Ahlus sunnah tidak menolak sifat-sifat tersebut, tetapi juga tidak mereka-reka bagaimana hakikatnya dan tidak terbayang sama sekali bahwa tangan Allah sama dengan tangan manusia/makhluknya yang lain.

    Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja’ad bin Dirham: “Sungguh celaka engkau wahai Ja’ad karena masalah itu (karena Ja’ad mengingkari sifat-sifat Allah)! Seandainya Allah tidak mengkabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!” (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    Bedakanlah antara orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dengan orang yang mengatakan bahwa Allah itu tidak ada! Wahai Saudaraku!

    Sifat-sifat Allah adalah termasuk ayat yang muhkam yang diketahui maknanya. Adapun kaifiyah (bagaimana hakikatnya) ia termasuk yang mutasyabih yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah semata (Wallahu a’lam).

    Ibnu Taimiyah (guru Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim) berkata, “Sungguh aku tidak mengetahui, baik dari salah seorang salaf atau seorang imam pun, tidak dari Imam Ahmad bin Hanbal tidak juga dari selainnya bahwa sifat Allah dimasukkan ke dalam mutasyabih.” (Majmu’ al-Fatawa oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah XIII/294)

    Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik: “Istiwa’ (Allah) itu sudah sama diketahui (maknanya), dan bagaimana (hakikat)nya tidak diketahui, sementara mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentang bagaimana (hakikat) Allah beristiwa’ adalah bid’ah.” (Mukhtasar al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.141)
    Apakah orang yang mengimani sifat istiwa’ bagi Allah, berarti orang yang mengimani tersebut menganggap istiwa’ nya Allah sama dengan istiwa’ nya manusia?
    Apakah orang yang mengimani sifat tangan bagi Allah, berarti orang tersebut menganggap tangan Allah sama dengan tangan manusia?
    Apakah orang yang mengatakan bahwa gajah dan semut memiliki kaki berarti orang tersebut menganggap kaki gajah sama dengan kaki semut? Ini adalah suatu tuduhan yang dusta.

    Istiwa’: maknanya tinggi di atas, sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari sebagian tabi’in diantaranya Abu Al-‘Aliyah.
    Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas) : “Ia istiwa’ di atas “Arsy” maknanya : “Ia berada tinggi di atas “Arsy” (Riwayat Imam Bukhari di Shahih-nya Juz 8 hal : 175)

    Al-Auza‘i (Tabi’in) berkata, “Kami dan para Tabi’in mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah penyebutannya di atas ‘arsy-Nya dan kami mengimani apa saja yang terdapat di dalam Sunnah.” (Mukhtasar Al-‘Uluw oleh Imam Dzahabi hal.138)
    Az-Zuhri (Tabi’in) berkata: “Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya” (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    Abu Hanifah (Tabi’in/Imam Mazhab) berkata, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Saya tidak tahu apakah Tuhan saya berada di langit atau di bumi, berarti dia telah kafir karena Allah berfirman, ‘Allah istiwa’ di atas ‘arsy-Nya.’ (QS. Thaha:5) Dan arsy-Nya berada di atas langit yang tujuh.” (Mukhtasar Al-‘Uluw oleh Imam Dzahabi hal. 136)

    Abdullah bin Mubarak (Tabi’in, 118 H) berkata, “Kita mengetahui bahwa Rabb kita berada di atas langit yang tujuh; ber-istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya; terpisah dari makhluk-Nya. Kami tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jahmiyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi).” (Mukhtasar Al-‘Uluw oleh Imam Dzahabi hal. 151)

    Tirmidzi telah berkata: “Telah berkata ahli ilmu : “Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”. (Al-Uluw oleh Imam Dzahabi)

    Ibnu Khuzaimah berkata: “Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya.”. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah “Ulumul Hadits” hal : 84).

    Ibnu Khuzaimah berkata: “Siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabb-nya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu’ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa’i (rampasan perang) -tidak halal diwarisi oleh seorang pun dari muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim” (HR. Bukhari) (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    Sahabat Anas bin Malik menerangkan : “Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : “Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”. Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan :”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176).

    “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu NAIK kepada-Nya..”. (QS. As-Sajadah:5). Allah mengutus para malaikat yang ada di langit untuk turun ke bumi (seperti mencatat amal manusia) kemudian para malaikat kembali ke atas langit untuk melaporkaannya kepada Allah.
    “Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian NAIK malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : “Bagaimana (keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka menjawab : “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari 1/139 dan Muslim 2/113 dll).
    Umar bin Khatab pernah mengatakan: “Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].

    Ibnu Mas’ud berkata: “‘Arsy itu di atas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya Al-Mu’jam Kabir no. 8987)

    Mi’raj (naiknya Nabi ke Sidratul Muntaha) adalah benar adanya. Beliau telah diperjalankan dan dinaikan (ke langit) dengan tubuh kasarnya (jasmani) dalam keadaan sadar, dan juga ke tempat-tempat yang dikehendaki Allah di atas ketinggian. (Aqidah Thohawiyah oleh Abu Ja’far At-Thahawi)
    Salah seorang murid Ibnu Katsir, Ibnu Abil Izzi al-Hanafi mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentang ketinggian Allah ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang mencermatinya” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/277)

    Ibnu Abi Hatim : Bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diberitahukan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya, tanpa diketahui kaif (bagaimana)nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Ushulus Sunnah Wa I’tiqad Dien oleh Ibnu Abi Hatim)

    Abu Utsman Ismail Ashabuni : Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus: “Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (QS. Yunus:3). Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan DZHAHIRNYA, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengatakan: “Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”(Ali-‘Imran:7). (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    PERMASALAHAN TAKWIL

    Ulama dahulu (mutaqaddimin) tidak membedakan antara tafsir sengan ta’wil, berkata Mujahid : ”Sesungguhnya para ulama mengetahui ta’wil Al-Qur’an maksudnya yaitu tafsir maknanya”. Sedangkan ulama kemudian (mutaakhkhirin) membedakan antara tafsir dengan ta’wil.
    Tafsir adalah penjelasan tentang makna yang lahir (dzahir) dari ayat Al-Qur’an sedangkan ta’wil mengambil sebagian makna dari makna-makna yang dikandung Al-Qur’an (bukan makna dzahir) atau takwil ialah menjelaskan lafaz dengan berbagai alternatif kandungan makna yang bukan merupakan makna dzahirnya..

    Imam Haramain Al-Juwaini dalam bukunya Al-Burhan fi Ushul Al-Fiqh berkata, “Ta’wil adalah mengalihkan lafazh dari makna zhahir kepada makna yang dimaksud (esoteris) dalam pandangan penta’wil”.(Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini, Al-Burhan fi Ushul Al-Fiqh, tahqiq; Abdul Azhim Diyb (Fakultas Syari’ah Universitas Qatar, 1399 H). vol I hlm. 511)

    Ibnu Al-Jawzi dalam bukunya Al-Idhah li Qawanin Al-Istilah mengatakan bahwa, “Ta’wil adalah mengalihkan lafazh ambigu (Ibnu Al-Jawzi, Al-Idhah li Qawanin Al-Istilah, tahqiq; Mahmud bin Muhammad As-Sayyid Ad-Dugim, Kairo: Maktabah Matbuli, 1995 hlm 111, cet 1)
    Ibnu Manzhur menyebutkan dua pengertian ta’wil secara istilah dalam Lisan Al-Arab; pertama, ta’wil adalah sinonim (muradhif) dari tafsir. Kedua, ta’wil adalah memindahkan makna zhahir dari tempat aslinya kepada makna lain karena ada dalil.[ Lihat Ibnu Manzhur, Lisan…..hlm. 32]

    Abu Hamid Al-Ghazali dalam bukunya Al-Mustashfa Min Ilmi Al-Ushul mengatakan, “Ta’wil adalah sebuah ungkapan (istilah) tentang pengambilan makna dari lafazh yang ambigu (muhtamal) dengan didukung dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafazh zhahir”. [Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa Min Ilmi Al-Ushul , (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah,2008). hlm. 312]

    Setiap hadits shahih yang datang dari Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam dalam persoalan itu, pengertian sebagaimana yang beliau sabdakan dan maknanya sebagaimana yang beliau kehendaki. Kita tidak mengintervensi dengan mentakwilkannya dengan pendapat-pendapat kita atau menduga-duga dengan hawa nafsu kita. (Syarah Aqidah Thohawiyah no. 38 oleh Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi murid Ibnu Katsir)

    A. MEMAHAMI NASH-NASH SYAR’I SEBAGAIMANA DZAHIRNYA (APA ADANYA/TIDAK DIARTIKAN KE MAKNA LAIN) JIKA ALLAH DAN RASUL-NYA TIDAK MENJELASKAN

    Misalnya:
    1. Nabi bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata: ‘Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Sedangkan Al-Qur’an berkata: ‘Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Maka keduanya pun memberi syafa’at. (HR. Ahmad II/174 dan Hakim I/554, dishahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)
    Maka kaum muslimin wajib pasrah menerima khabar ini yaitu dengan mengimaninya bahwa puasa dan Al-Qur’an pada hari kiamat nanti benar-benar akan didatangkan oleh Allah, bukan menolaknya. Adapun masalah wujud puasa dan Al-Qur’an dan bagaimana Allah mendatangkan mereka nanti, itu adalah urusan Allah, manusia tidak mengetahui karena Allah atau Rasul-Nya tidak mengabarkan. Jangan kemudian manusia mengotak-atik akalnya lalu ia mengatakan : bagaimana mungkin puasa dan Al-Qur’an kok bisa datang, bagaimana mungkin puasa dan Al-Qur’an kok bisa berbicara?

    2. Allah Ta’ala berfirman : “Wajah–wajah mu’minin pada hari itu berseri–seri kepada Rabb-nya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah 22-23)
    Dari Jarir bin Abdullah ia berkata: ‘Kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah ketika beliau melihat bulan di malam purnama. Beliau bersabda: “Kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan itu. Kalian tidak perlu berdesak-desakan untuk melihat-Nya.” (HR. Bukhari no. 529, 547, dan 6997, Muslim no. 633, Turmudzi no. 2554, Ibnu Majah no. 177)

    Ayat dan hadits ini dimaknai dzahirnya yaitu manusia benar-benar melihat Allah pada hari kiamat nanti (yang diserupakan adalah tata cara melihatnya, bukan Allah disamakan dengan bulan).

    Ibnu Abi Hatim : Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dapat dilihat di akhirat. Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana dia berkehendak. (Ushulus Sunnah Wa I’tiqad Dien oleh Ibnu Abi Hatim –ahli hadits, juru tulis Bukhari-)

    Imam Ath-Thohawi : Tidak sah keimanan seseorang yang mengimani bahwa penghuni jannah akan memandang Rabb mereka, yang semata-mata ditegakkan di atas prasangka (keragu-raguan) menganggapnya sebagai ‘praduga’ atau takwil dengan pemikirannya. Karena penafsiran ‘penglihatan’ itu, dan juga penafsiran segala pengertian yang disandarkan kepada Rabb, haruslah TANPA MENTAKWILKANNYA dan dengan kepasrahan diri. Itulah sandaran dien/keyakinan kaum muslimin. Barangsiapa yang tidak menghindari penafian (penolakan/peniadaan-pen) Asma’ dan shifat Allah atau menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, dia akan tergelincir dan tak akan dapat memelihara kesucian diri (Aqidah Thohawiyah oleh Abu Ja’far At-Thahawi).

    Abu Utsman Ismail Ashabuni : “Ahlus Sunnah wal Jamaah bersaksi bahwa kaum Mukminin pada hari kiamat akan melihat Rabb-nya dengan penglihatan mereka sebagaimana Rasulullah bersabda dalam hadits shahih, “Sesungguhnya kalian melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada saat purnama, kalian tidak berdesak-desakkan ketika melihatnya.” (HR. Bukhari no. 529, 547, dan 6997, Muslim no. 633, Turmudzi no. 2554, Ibnu Majah no. 177). Yang diserupakan di sini adalah tata cara melihatnya, bukan Allah disamakan dengan bulan. (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni, Baihaqi berkata: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”, 373-449 H)

    Daruquthni meriwayatkan dalam kitab al ru’yah dari al dhahak ia berkata: Al ziyadah adalah memandang wajah Allah ajja Wajalla. (Al Ru’yah al Dâruqutni 162)
    al Lalikâi juga menyandarkan kepada Mujahid dari jalan ibnu abi Hatim bahwasanya ia berkata : ia berkata: Al Husna adalah Syurga dan Al ziyâdah adalah memandang Rabb. (Al-lâlikâi 3/454-463)
    Imam Bukhari menetapkan Wajah Allah sesuai dengan Kesempurnaan Sifat Allah, tanpa beliau palingkan pada makna lain. Bagaimana kita tahu bahwa beliau menetapkan ‘Wajah’ bagi Allah? Bisa kita simak dalam kitab Shahih beliau sendiri pada bagian yang lain. Beliau menempatkan bab tersendiri dalam penafsiran ayat itu, kemudian menyebutkan riwayat hadits yang menjelaskan kandungan bab itu sendiri.
    Imam al Bukhâri menyatakan dalam kitab Shahihnya: “Bab firman Allah Ta’ala : ‘Segala sesuatu binasa kecuali WajahNya’

    Abu Utsman Ismail Ashabuni : Ashabul Hadits menetapkan dari sifat-sifat tersebut apa-apa yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnya-maksud sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan oleh Mu’thazilah dan Jahmiyyah -semoga Allah membinasakan mereka-. Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah -semoga Allah menghinakan mereka-. Dan demikian juga pernyataan mereka tentang sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih, diantaranya: pendengaran, penglihatan, mata, wajah, ilmu, kekuatan, kekuasaan, keperkasaan, keagungan, kehendak, keinginan, perkataan, ucapan, ridha, marah, hidup, terjaga, gembira, tertawa, dll. Tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk, tetapi mencukupkan dengan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya tanpa menambah-nambahi, mengembel-embeli, takyif, tasybih, tahrif, mengganti, merubah, serta tidak membuang lafadz khabar yang bisa dipahami untuk kemudian DITAKWIL DENGAN MAKNA YANG SALAH. (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni, Baihaqi berkata: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”, 373-449 H)

    Imam Az-Zuhri (Tabi’in) berkata: “Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya” (Aqidah Ahlus Sunnah oleh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni)

    Mereka para salaf (sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in) memahami ayat sifat Allah sebagaimana dzahirnya. Tentu saja dzahir yang pantas dan layak bagi Allah. Sebab jika mereka memahami dzahir sifat Allah sebagaimana dzahir mereka maka mereka sudah melakukan tasybih/menyerupakan Allah dengan makhluk (misal: mengimani bahwa Allah mempunyai tangan dengan sama sekali tidak menganggap tangan Allah seperti tangannya manusia, mengimani bahwa Allah memiliki sifat Ilmu dengan sama sekali tidak menganggap bahwa ilmu Allah setara dengan ilmu manusia).

    Jika salah seorang dari mereka para salaf ditanya apakah ilmu atau sifat Allah yang lain sama dengan ilmu atau sifat makhluk? Mereka akan menjawab, “Subhanallah, kami berlindung kepada Allah dari ucapan seperti itu. APAKAH JIKA AHLUS SUNNAH MENETAPKAN/MENGIMANI SIFAT ILMU BAGI ALLAH SESUAI DENGAN YANG ALLAH KHABARKAN, BERARTI MEREKA MENGANGGAP ILMU ALLAH SAMA/SEBANDING DENGAN MANUSIA? Innalillahi wa innailaihi raaji’uun. RENUNGKANLAH SAUDARAKU!

    B. JIKA ADA NASH-NASH SYAR’I YANG MESTI DIPAHAMI TIDAK SEBAGAIMANA DZAHIRNYA ALIAS PERLU DIJELASKAN, PASTILAH SUDAH DIJELASKAN OLEH ALLAH ATAU RASUL-NYA

    Misalnya
    1. Hadits Qudsi yang menyebutkan bahwa Allah berfirman: “Wahai anak Adam, Aku sakit, kenapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Manusia bertanya, “Bagaimana kami akan menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah menjawab, “Tidakkah engkau tahu, hambaku si Fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya, tahukah engkau, andai kau mau menjenguknya tentu akan engkau mendapati-Ku di sisinya.” (HR. Muslim)
    Dari hadits ini, si manusia memaknai kata “menjenguk Allah” apa adanya (sesuai dzahirnya). Tetapi karena yang Allah maksudkan bukan makna dzahirnya, maka Allah menjelaskannya secara detail.

    2. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Para shahabat menjawab: “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang (dirham) dan tidak pula harta benda”, lalu beliau bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan amalan sholat, puasa dan zakat, namun ia datang dalam keadaan telah mencaci orang lain, menuduhnya, memakan hartanya dan menumpahkan darah serta memukulnya, maka amalan baiknya diberikan kepada masing-masing orang tersebut, maka apabila kebaikannya habis sebelum melunasi hutang-hutangnya, maka diambil dari dosa masing-masing orang tersebut lalu ditaruh di atasnya, kemudian ia dicampakan ke dalam neraka”. (HR. Muslim dalam Shohih-nya no. 2581)
    Dari hadits muflis/bangkrut ini sangat jelas bahwa para Sahabat menafsirkan kata ”bangkrut” apa adanya (dzohirnya). Tetapi karena yang Nabi butuhkan bukan dzohirnya maka Nabi menjelaskannya secara detail.

    3. Dari Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata : “ketika turun ayat: “Jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam.” Aku mengambil iqol hitam digabungkan dengan iqol putih, aku letakkan di bawah bantalku, kalau malam aku terus melihatnya hingga jelas bagiku, pagi harinya aku pergi menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan kuceritakan padanya perbuatanku tersebut. Beliaupun berkata : “Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang”. (HR. Bukhori 4/133, Muslim 1090).
    Hadits ini sangat jelas bahwa Sahabat memaknai kata ”benang putih dan benang hitam” apa adanya (dzohirnya). Tetapi karena yang dibutuhkan Nabi bukan makna dzohirnya, maka Nabi menjelaskannya.

    4. Ketika turun ayat Al-Qur’an Surat Al-An’am 82 : ”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan KEDZALIMAN, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”, maka para sahabat merasa berat karena mengartikan kata dzalim itu dengan arti semua bentuk kedzaliman, dan merasa bahwa di antara mereka tidak ada yang tidak melakukan kedzaliman/perbuatan dosa. Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dzalim dalam ayat itu bukan itu (bukan semua bentuk kedzaliman/perbuatan dosa) tetapi hanya kesyirikan saja.

    5. Firman Allah: ” Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)
    Dalam ayat ini, Allah tidak menghendaki kata ”jalan yang lurus” dengan makna dzahirnya (seperti jalan Ahmad Yani yang dilalui mobil dan sepeda motor) sehingga Allah memberikan penjelasan makna kata ”jalan yang lurus” tersebut.

    KESIMPULANNYA:
    1. Sudah menjadi kebiasaan para sahabat bahwa mereka menafsirkan sesuai dzahirnya/apa adanya tanpa menyimpangkan maknanya ke makna lain.
    2. Jika yang dikehendaki bukan makna dzahirnya, tentu Allah atau Rasul-Nya akan memberikan penjelasan agar manusia tidak salah dalam menafsirkan.

    Dosa menyimpangkan makna/takwil batil:
    1. Orang-orang yang menyimpangkan sifat-sifat Allah ke makna lain bukan secara dzahirnya, berarti secara tidak langsung beranggapan bahwa Allah tidak pandai dalam mengenalkan sifat-sifat-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
    2. Mereka secara tidak langsung mendakwa Rasulullah bahwa beliau tidak menyampaikan risalah dengan sebenar-benarnya / masih belum tuntas / masih ada yang beliau sembunyikan / belum sampaikan.

    • Apapun yang anda katakan tentang asy’ariyyah (yang menurut anda, anda juluki sebagai Jahmiyyah) sangat tidak tepat. Justru akidah kaum wahhabiyyah-lah yang Jahmiyyah Musyabbihah dengan mengatasnamakan ulama’ ahlussunnah. Afwan.

      Faham Mujassimah Musyabbihah adalah faham yang memberikan persangkaan, penetapan Allah berada pada suatu tempat atau arah tertentu dan memberikan persangkaan, penetapan sifat Allah sebatas dhohirnya lafadz ayat dan hadits mutasyabihat.

      Anda banyak sekali menukil pendapat dan nama-nama ulama’, akan tetapi salah pasang.

      ^_^

      Ternyata benar apa yang oleh as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami rahimahullaah tuliskan tentang orang-orang yang mengaku pengikut Al-Imam al-Mujtahid Ahmad ibn Hanbal:

      وَمَا اشْتُهِرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إلَى هذَا الإمَامِ الأعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أنّهُ قَائِلٌ بِشَىءٍ مِنَ الْجِهَةِ أوْ نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ

      “Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, hal. 144)

      Maaf, saya lebih mempercayai asy-Syaich ibn Hajar al-Haitami daripada anda ^_^

      Dan ini terbukti:

      Anda berkata:

      Dosa menyimpangkan makna/takwil batil:
      1. Orang-orang yang menyimpangkan sifat-sifat Allah ke makna lain bukan secara dzahirnya, berarti secara tidak langsung beranggapan bahwa Allah tidak pandai dalam mengenalkan sifat-sifat-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
      2. Mereka secara tidak langsung mendakwa Rasulullah bahwa beliau tidak menyampaikan risalah dengan sebenar-benarnya / masih belum tuntas / masih ada yang beliau sembunyikan / belum sampaikan.

      Sedangkan faktanya:

      Imam al-Bayhaqi dalam Kitab Manaqib Ahmad meriwayatkan dari al-Hakim dari Abu Amr as-Sammak dari Hanbal, Bahwa al-Imam Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah: “Wa jaa’a Rabbuka” (QS. al-Fajr: 23) bahwa yang dimaksud “Jaa’a” bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”.

      Wahai kalian yang anti takwil, kalian mengatakan: “al-Mu’awwil Mu’aththil” (orang yang melakukan takwil maka ia telah mengingkari al-Qur’an), lalu apa yang hendak kalian katakan terhadap Imam Ahmad yang telah melakukan takwil sebagaimana dalam riwayat di atas?

      Apakah menurut kalian imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullaah berdosa karena melakukan ta’wil seperti ini?

      Insya’ Alloh dalam waktu dekat akan saya posting pembahasan tentang pendapat para Ulama’ Ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tanzih, ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Berikut scan kitab-kitab dan nama ulama’nya dari berbagai madzhab. Nanti akan kita buktikan, apakah COPY PASTE TERJEMAHAN CAMPUR ADUK YANG ANDA NUKIL DAN ATAS NAMA ULAMA’ ITU BENAR DAN TIDAK SALAH PASANG?

  8. Kalau Gusti Alloh “Lenggah sak nginggilinging Arasy”.. berarti Gusti Alloh punya (Nuwun Sewu) Bokong/Silit/Pantat.. Karena kalu tidak punya pantat, ya tidak dapat dikatakan duduk.
    Kalau ndak mau dikatakan punya pantat, kata-kata “tsummastawaa ngalal ‘arsy’ itu berarti boleh-boleh saja diartikan Gusti Alloh “Kemureb/Mlumah malah njengking sak nginggiling Arasy”.
    Yang jadi masalah yalah, klu Gusti Alloh itu lenggah, berarti umumnya tempat “Palenggahan”nya Gusti Alloh itu mestinya lebih gede dari ukurannya Gusti Alloh sendiri. Kalau nggak begitu khan jadi tidak berwibawa.
    Coba bayangkan, kalau Gusti Alloh (mentang2 Maha Besar) kemudian harus lebih besar dari kursinya yang di lenggahinya, lak jadi kelihatan lucu. Kayak pesumo yang duduk di bangkunya anak TK.

    Duh… menungsa kok keladuk betul olehe sembrana sama Gusti Alloh.

  9. Saya cah ndeso,
    cuma belajar Islam di langgar..
    ning rasanya saya masih jangkep dibidang nalar..

    ndak pake dalil-dalilan ndakik-ndakik..
    nek tembe mburine mung marake mumet..
    malah cilaka dunya-akhirat

  10. satu lagi.. kalau Gusti Alloh di sebutnya Huwa, mesthinya ia adalah Laki-laki (Lanang). Nah untuk bisa sebut laki-laki, lak mesti ada “mungsuh”nya, yakni perempuan. Kalau ndak ada “mungsuhnya” mana bisa disebut laki-laki.
    Karena saya ndak nemu Gusti yang Perempuan, apa bisa saya minta tolong ditunukkan. Nah, kalau saya sudah ditunjuki mana Gusti yang Perempuan, apabisa saya tulung ditunjukkan apa bedanya Gusti Alloh yang katanya laki-laki itu, dengan dengan Gusti yang perempuan, supaya saya bisa menyebut Gusti Alloh dengan domir Huwa?

  11. Selanjutnya..

    Katanya Gusti Alloh itu Maha Besar. Lebih besar dari alam semesta ini. Terus bagaimana “Panjenenganipun” bisa masuk ke langit ndunya. Apa langit ndunya nggak remuk kira-kira ya? Lha wong seberapapun besarnya langit ndunya, pasti lebih kecil dari Gusti Alloh. Apa Gusti Alloh ‘mungkret’ dulu supaya bisa masuk ke langit ndunya?

    Katanya menurut hadis, “Gusti Alloh, turun ke langit ndunya setiap sepertiga malam terakhir”. Yang jadi masalah adalah, karena bumi itu bulat, maka setiap waktu ada malam, ada juga siang, secara berurutan. Dengan begitu, setiap saat juga terjadi “sepertiga malam terakhir”.

    Kalu setiap saat ada “sepertiga malam terakhir”, berarti Gusti Alloh, gaweyane cuma mubeng-mubeng dilangit ndunya setiap waktu, dan ndak kober Lenggah di singgasanaNya. Lak eman-eman, singgasana Gusti Alloh mesthinya sangat indah, tapi ndak pernah diLenggahi/dikemurebi/dilumahi. Padahal kata Al-Qur’an Gusti Alloh itu Lenggah diatas Arasy.

    kalau begini lak jadi mencla-mencle, menurut Gusti Alloh dalam AlQur’an, “Panjenenganipun” lajeng lenggah di atas arasy”, sementara kanyataannya, Gusti Alloh cuma mubeng-mubeng di langit ndunya, seperti yang sudah tak sebut tadi.

  12. Kalau pertanyaan saya dijawab, yang turun ke langit ndunya adalah pengawal-pengawalnya, sedangkan Gusti Alloh tetep lenggah di Arsy, lak berarti Gusti Alloh “ngapusi”. Wong tetep lenggah di Arsy tapi ngendika, kalo Panjenenganipun turun ke langit ndunya.
    Nalar manusia lumrah mana bisa menerima, kalo “saya yang sedang di Ponorogo–misalnya–, sementara pada saat yang bersamaan saya juga sedang thawaf di Mekah”. Dan kalo saya jawab “oh yang di mekah itu utusan saya?”, maka saya tetap ndak bisa membuktikan, kalo pada saat yang bersamaan saya ada di dua tempat yang berbeda. Dan kalo saya maksa orang-orang percaya sama omongan saya bahwa “saya bisa ada dibeberapa tempat pada saat yang berbarengan, walau hanya dengan mengirimkan utusan”, mesthi orang-orang langsung mentertawai dan nganggep saya “sinthing”.

  13. mohon maaf kalo bahasa saya kurang baik, dan tidak sopan, saya cuma berpikir dengan pikiran bodho saya yang wawasannya ndak luas seperti Bapak-bapak di sini yang saya yakn mesthi berpendidikan tinggi dan “peng-pengan” dalam masalah ilmu dan dalil. Ibaratnya “mau dalil brapa kapal juga bisa disediakan”
    Tapi, yang namanya orang bodho kayak saya ini, orang yang nggak mudheng sama dalil-dalil mumeti seperti itu. Malah orang-orang bodho kayak saya ini lebih banyak ngengkel kalo ketemu omongan yang ndak isa saya nalar.

  14. Subhanallah, padahal Imam Ahmad menulis dalam bukunya sendiri Ar-Rad ‘ala Jahmiyyah begitu pula dengan Ad-Darimi dengan judul yang sama, Imam At-Thohawi, Ibnu Abi Hatim, Abu Utsman Ismail Ashabuni, Adz-Dzahabi, Ibnu Khuzaimah, dsb. Dan tuduhan Saudara yang mengatakan bahwa kami bermazhab Hanbali, itu suatu tuduhan tidak berdasar karena tidak semua dari kami menisbatkan kepada mazhab Hanbali. Dan ucapan Ibnu Hajar Al-Haitami yang Saudara nukil sama sekali tidak menyebutkan bahwa Allah tidak ada di atas arsy di atas langit, tapi masih bersifat umum. Adapun perincian tempat, telah dijelaskan secara rinci oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau dan Imam Adz-Dzahabi dalam Kitab Al-Uluw beliau.

    Dari Abu Muhammad, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, dia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan shahih dan diriwayatkan dalam kitab al-Hujjah dengan sanad yang shahih).

    Dari Ali ra, ia berkata; “Kalaulah agama itu berasal dari akal, pasti mengusap bagian bawah sepatu akan lebih utama dari pada mengusap bagian atasnya. Tapi sungguh aku melihat Rasulullah mengusap sepatu bagian atasnya.” (HR. Abu Daud)

    Allah berfirman: “Dan orang-orang yang dalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu datang dari Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang berakal’.” (QS. Ali-‘Imran:7)

    Syukron, semoga Allah membalas hinaan Saudara kepada kami dengan pahala yang banyak dari Allah.

  15. Mas Jundu,

    Tolong dibuktikan mas Susanto ini hanya copas2 sehingga tidak mengerti arti yang dia copas sebab persepsinya datang dari terjemah yang dia copas.

    Jika terbukti copas, maka kita tidak perlu capek2 menanggapi tulisan2 yang panjang lebar.

    Mas Susanto,

    Tolong ditunjukkan di mana anda menjumpai kitab “TAKLIMATUL MAJMU’ nya Taqi as Subki, sebagaimana sering anda “tulis” dulu. 🙂 Yang ada TAKMILAH bukan TAKLIMAH, dan kedua kata ini sangat berbeda arinya. Jadi tidak mungkin terjadi salah ketik.

  16. Mas Susanto copas :

    ” Imam Bukhari menetapkan Wajah Allah sesuai dengan Kesempurnaan Sifat Allah, tanpa beliau palingkan pada makna lain. Bagaimana kita tahu bahwa beliau menetapkan ‘Wajah’ bagi Allah? Bisa kita simak dalam kitab Shahih beliau sendiri pada bagian yang lain. Beliau menempatkan bab tersendiri dalam penafsiran ayat itu, kemudian menyebutkan riwayat hadits yang menjelaskan kandungan bab itu sendiri.
    Imam al Bukhâri menyatakan dalam kitab Shahihnya: “Bab firman Allah Ta’ala : ‘Segala sesuatu binasa kecuali WajahNya’”

    Comment saya :

    Tetapi Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Tafsir, Surat al Qashash menyatakan : “Kullu syai’in Halikun illa wajhahu” illa mulkahu. Jadi al Bukhari menyetujui adanya konsep ta’wil untuk menjaga tanzih ( pensucian dari tasybih ).

    Mas susanto “ijtihad ” :

    “Orang-orang yang menyimpangkan sifat-sifat Allah ke makna lain bukan secara dzahirnya, berarti secara tidak langsung beranggapan bahwa Allah tidak pandai dalam mengenalkan sifat-sifat-Nya kepada hamba-hamba-Nya”.

    Comment saya :

    Berarti mas Susanto menuduh Imam Bukhari menganggap Allah tidak pandai–wal’iyadzu billah.

    Dimana titik temu dan sumber masalahnya ? :

    Menurut saya, jika saja mas susanto ini mencukupkan diri pada apa yang di copas-nya ini :

    ” APAKAH JIKA AHLUS SUNNAH — YAKNI DALAM FAHAM MAS SUSANTO–MENETAPKAN/MENGIMANI SIFAT ILMU BAGI ALLAH SESUAI DENGAN YANG ALLAH KHABARKAN, BERARTI MEREKA MENGANGGAP ILMU ALLAH SAMA/SEBANDING DENGAN MANUSIA? Ya Allah, lindungilah kami dari tuduhan dusta tersebuT”.

    Serta jika mas susanto mampu memahami bahwa konsep ta’wil tersebut dalam rangka mencegah orang awam supaya tidak terjebak dalam tasybih, maka sebenarnya perbedaan antara Asya’iroh ( Ahlus Sunnah Mayoritas ) dengan Wahhabiyah ( Ahlus Sunnah Minoritas ) tidaklah banyak. Sebab ternyata masing-masing tetap menginginkan tanzih ( mensucikan Allah dari tasybih ).

    Namun ketika mas Susanto –dan Wahhabiyah– menuduh konsep ta’wil ini sebagai ta’thil ( pembatalan sifat-sifat Allah ), sehingga muncul ungkapan2 seperti tulisan terakhir di atas, inilah yang menyebabkan saling serang dan gontok2an.

    Akar mulanya adalah Wahhabiyah menuduh Asya’iroh sebagai “mu’athilah wal jahmiyah”, namun ketika dijelaskan secara logis Wahhabiyah ini tetap tidak menghentikan fitnahnya, akibatnya sebagian Asya’iroh jadi berang dan menuduh balik Wahhabiyah sebagai Hasyawiyah wal musyabbihah.

    Ya Allah, jagalah hati kami dari emosi dan taklid buta, serta ingin menang sendiri. Wallahu a’lam

  17. teruntuk mas susanto ………
    nggak ada gunanya debat dengan mereka…. mereka itu hatinya udah keras….hatinya udah sulit menerima kebenaran……mending cari orang yang awam tapi ingin ilmu yg benar daripada debat sama orang bodoh tapi ngaku pintar….

  18. Oh… begitu ya… pantas banyak sekali orang-orang awam yang tertipu. Ternyata yang dicari memang orang-orang awam yang sedang bingung. Ketika beradu argumen dengan orang-orang yang paham lantas dibilang keras hati, sulit menerima kebenaran, bodoh dan sok pintar. Seolah-olah kebenaran dan kepintaran itu milik sendiri. Wahabi emang kebangetan. Jangankan kita-kita… para ulama juga dikatain dan disesat-sesatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s