Pentingnya Belajar Ilmu Agama Secara Talaqqi


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Talaqqi artinya belajar ilmu agama secara langsung kepada guru yang mempunyai kompetensi ilmu, tsiqah, dhabit dan mempunyai sanad keilmuan yang muttashil sampai ke Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui para ‘Ulama ‘Aalimin ‘Aarifin.

Apa manfaat aktif di talaqqy?

1. Memiliki sanad keilmuan yang jelas

Kata Ibnul Mubarak:”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” Dikatakan juga: “permisalan orang yang ingin mengetahui perkara agamanya tanpa sanad, seperti orang yang menaiki suthuh (bagian atas) sebuah rumah tanpa tangga”  Baca lebih lanjut

Ulama Shodiqun dan Ulama Sholihun


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Ada dua kelompok ulama. Ada as shodiqun mitslu rusul ada as sholihun. Maksud mitslu Rusul itu dalam pengertian as Shodiqun adalah ulama yang oleh Allah dikuatkan dengan karamat yang dzahir sebagaimana para Rasul yang dikuatkan oleh Allah dengan mu’jizat. Seperti ada orang yang mau beriman berkata; tandanya anda rusul apa, saya mau buktinya, saya minta mu’jizatnya. Nah rasul di sini wajib menunjukkan mu’jizatnya.

Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab, ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,” lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Baiklah carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.

Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah Subhaanahu wa ta’aala. Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 12


Pendapat kedua :

Pada dasarnya penafsiran hadits Nabi menyatakan bahwa kufur terhadap nikmat Allah sebab membatasi terjadinya hujan terhadap bintang. Kufur nikmat ini berlaku bagi orang yang tidak meyakini peranan bintang. Penafsiran ini didukung oleh riwayat terakhir pada bab ini ; Sebagian orang, di pagi hari ada yang bersyukur dan ada yang kufur.

Dalam riwayat lain ; Allah tidak menurunkan berkah dari langit kecuali sebagian manusia mengkufuri terhadap berkah itu. Kata بها (terhadap berkah itu) menunjukkan kekufuran yang terjadi adalah kufur nikmat. Wallahu A’lam. Baca lebih lanjut

Kaum Nyeleneh di Belakang Ahli Hadits


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Bila Anda berbicara dengan orang-orang yang lantang menyuarakan anti-TBC (takhayul, bidah dan churafat), Anda akan mendengar pengakuan mereka, “Kami adalah ahli Hadits”. Bila Anda berbicara dengan orang-orang yang anti mazhab dan menolak bermazhab dengan salah satu mazhab fiqih yang empat, Anda akan mendengar pengakuan mereka, “Kami adalah pengikut ahli Hadits”. Bila Anda berbicara dengan mereka yang anti Hadits dha’îf, Anda akan mendengar pengakuan mereka, “Kami adalah ahli Hadits”. Dan, bila Anda mendengar orang-orang yang sok mujtahid dan meremehkan para ulama, Anda akan mendengar pengakuan mereka, “Kami adalah ahli Hadits”. Nama ahli Hadits seakan menjadi primadona yang diperebutkan. Siapa sih ahli Hadist?

Ahli Hadits sebagai pembawa Hadits-hadits Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam dan atsâr ulama salaf yang saleh, tentu memiliki posisi penting di dalam hati sanubari kaum muslimin. Dukungan ahli Hadits terhadap suatu mazhab akan menjadi modal utama bagi suksesnya mazhab tersebut tersosialisasi, mengakar dan membumi di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, ketika Dinasti Abbasiah bermaksud mensosialisasikan faham Muktazilah di kalangan umat akar rumput, Dinasti Abbasiah memaksa ahli Hadis agar mengakui dan melegitimasi faham tersebut dengan cara mengintimidasi, hukuman penjara, penyiksaan dan eksekusi terhadap ahli Hadits yang menolaknya, sehingga lahirlah tragedi sejarah yang disebut dengan mihnatul-Qur’ân (ujian para ulama tentang kemakhlukan al-Qur’an), dengan korban beberapa ulama ahli Hadits yang disiksa, dipenjara dan dibunuh. Dinasti Abbasiah dan ulama Muktazilah menyadari bahwa ideologi mereka tentang kemakhlukan al-Qur’an (khalqul-Qur’ân), tanpa dukungan dan legitimasi ahli Hadis, hanya akan menjadi gerakan pemikiran kaum elit yang berada di singgasana langit, dan tidak tersentuh kehidupan bumi, menikmati prestise, popularitas dan privilege. Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 11


Adapun yang berkata : Kami disirami hujan berkat anugerah dan rahmat Allah maka ia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang. Sebaliknya orang yang berkata : kami disirami hujan berkat bintang ini atau itu maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang. Kekufuran ini terjadi karena memandang perantara sebagai yang memberikan pengaruh dan yang menciptakan. Imam al-Nawawi berkata : pendapat para Ulama terbelah menjadi dua menyangkut kekufuran orang yang mengatakan : Kami disirami hujan berkat bintang ini. Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 10


Kadangkala Allah menisbatkan tindakan kepada diri-Nya dan Nabi Muhammad secara bersamaan sebagaimana firman Allah yang Artinya :

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian ( pula ) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah, ( tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” ( Q.S.At.Taubah : 59 ) Baca lebih lanjut

Kenali Hati Kita


Oleh: Abi Tama

Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah istiqomah atau penyelewengan itu ada. Begitu pula dengan semangat untuk bekerja. Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda:

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

رواه البخاري ومسلم

Ketahuilah bahwasanya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika baik segumpal daging itu, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan jika rusak segumpal daging segumpal daging tersebut, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari Muslim) Baca lebih lanjut