Riwayat Taubatnya Ibnu Taimiyyah dari Aqidah Tajsim


Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Berikut ini riwayat taubatnya seorang ulama kontroversial, ibnu Taimiyyah dari aqidah tajsimnya dan mengikuti kepada aqidah asy-‘ariyyah. Banyak kontroversi atas cerita tentang taubatnya beliau. Ada sebagian golongan yang menganggap taubatnya hanya sebagai taqiyyah saja, dan ada juga sebagian golongan yang menganggap taubatnya adalah murni taubat dari aqidah sesat tajsim. Mari kita simak sebuah penelaahan dari kitab:

 

 

“د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي”

Karya:

غيث بن عبدالله الغالبي

Baca lebih lanjut

Dalil-dalil Diperbolehkannya Berdzikir secara Jahr dan Secara Berjamaah


Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Sampul Kitab al-Hawi li al-FatawiBerangkat dari sebuah komentar dari salah seorang pengunjung blog ini, yang menuliskan kalimat: “ORANG YANG BERTAQLID DENGAN PERKATAAN IMAM SYAFI’I YANG MEMBAGI BID’AH MENJADI 2, MENGAPA TIDAK JUGA BERTAQLID KEPADA BELIAU DALAM HAL MEMBENCI SELAMATAN KEMATIAN DAN DZIKIR BERJAMAAH

Silakan lihat komentarnya di link ini https://jundumuhammad.wordpress.com/2011/02/25/debat-ahlussunnah-wal-jamaah-vs-wahhabi-masalah-tradisi-talqin-mayyit/#comment-271

Saya tidak akan menanggapi perihal pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah maupun Bid’ah Dholalah, karena sudah banyak saya bahas di blog saya ini. Saya hanya akan membahas masalah dzikir berjamaah, berikut ini saya terjemahkan pendapat al-Imaam Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullaah secara lengkap, yang termaktub di dalam kitab karyanya Al-Haawi li al-Fatawi, pada sub bab Natiijat al-Fikr Fi al-Jahr Fi adz-Dzikr.

Dan perlu diketahui pula bahwasanya beliau al-Imaam as-Suyuthi rahimahullah adalah salah satu imam dan ulama’ terkemuka di dalam madzhab Syafi’iyyah.

Apakah benar ulama’ dari madzhab asy-Syafi’iyyah membenci DZIKIR BERJAMAAH seperti yang diklaim oleh salah satu komentator blog tadi?

Baiklah, berikut ini saya sajikan kajian dari kitab al-Hawi li al-Fatawi dan saya lampirkan scan halaman per halamannya serta saya terjemahkan. Silakan disimak baik-baik. Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 20


TITIK PERBEDAAN PENTING ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH DAN BID’AH LUGHAWIYYAH

Sebagian ulama ada yang memberikan kritikan terhadap pengklasifikasian bid’ah ke dalam bid’ah terpuji dan tercela. Mereka menolak dengan keras orang yang berpendapat demikian.  Malah sebagian ada yang menuduhnya fasik dan sesat disebabkan berlawanan dengan sabda Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam yang jelas: “Setiap bid’ah itu sesat”. Teks hadits ini jelas menunjukkan keumuman dan menggambarkan bid’ah sebagai sebuah kesesatan.

Karena itu Anda akan melihat ia berkata: Setelah sabda penetap syari’ah dan pemilik risalah bahwa setiap bid’ah itu sesat, apakah sah ungkapan: Akan datang seorang mujtahid atau faqih, apapun kedudukannya, lalu ia berkata, “Tidak, tidak, tidak setiap bid’ah itu sesat. Tetapi sebagian bid’ah itu sesat, sebagian baik dan sebagian lagi buruk. Berangkat dari pandangan ini banyak masyarakat terpedaya. Mereka ikut berteriak dan ingkar serta memperbanyak jumlah orang-orang yang tidak memahami tujuan-tujuan syari’ah dan tidak merasakan spirit agama Islam. Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 19


ANTARA SEBAIK-BAIK BID’AH DAN SEBURUK-BURUK BID’AH

Di antara mereka yang mengklaim memahami substansi permasalahan adalah orang-orang yang menilai diri mereka sebagai salaf shalih. Mereka bangkit mendakwahkan gerakan salafiyah dengan cara biadab dan bodoh, fanatisme buta, akal-akal yang kosong, pemahaman-pemahaman yang dangkal dan tidak toleran dengan memerangi segala hal yang baru dan menolak setiap kreativitas yang berguna dengan anggapan bahwa hal itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat tanpa memilah klasifikasinya padahal spirit syariah Islam mengharuskan kita membedakan bermacam-macam bid’ah dan mengatakan bahwa: “Sebagian bid’ah ada yang baik dan sebagian ada yang buruk”.  Klasifikasi ini adalah tuntutan akal yang cemerlang dan pandangan yang dalam.  Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 18


MEDIATOR PALING AGUNG

Dalam hari mahsyar yang notabene hari tauhid, hari iman dan hari di mana ‘Arsy dimunculkan, akan tampak keutamaan mediator paling agung, pemilik panji (al-Liwa’ al-Ma’qud), kedudukan terpuji, telaga yang didatangi, pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan tidak sia-sia jaminannya untuk orang yang Allah Subhaanahu wa ta’aala telah berjanji kepada beliau bahwa Allah Subhaanahu wa ta’aala tidak akan mengecewakan anggapan beliau, tidak akan menghina beliau selamanya, tidak membuat beliau susah serta malu saat para makhluk datang kepada beliau memohon syafaat. Lalu beliau berdiri kemudian tidak kembali kecuali mendapat baju kebaikan dan mahkota kemuliaan yang tergambar dalam perintah Allah Subhaanahu wa ta’aala kepada beliau: Baca lebih lanjut