Riwayat Taubatnya Ibnu Taimiyyah dari Aqidah Tajsim


Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Berikut ini riwayat taubatnya seorang ulama kontroversial, ibnu Taimiyyah dari aqidah tajsimnya dan mengikuti kepada aqidah asy-‘ariyyah. Banyak kontroversi atas cerita tentang taubatnya beliau. Ada sebagian golongan yang menganggap taubatnya hanya sebagai taqiyyah saja, dan ada juga sebagian golongan yang menganggap taubatnya adalah murni taubat dari aqidah sesat tajsim. Mari kita simak sebuah penelaahan dari kitab:

 

 

“د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي”

Karya:

غيث بن عبدالله الغالبي


MUKADDIMAH KE TIGA

Taubatnya imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah

Banyak tercantum di kitab-kitab yang cenderung melaporkan masalah aqidah atas perkataan-perkataan dan karangan-karangan yang dinisbatkan kepada imam Taqiyuddin Ahmad ibnu Taimiyah Rahimahullah. Sebagian dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya imam besar ini telah bertaubat dari aqidahnya dan telah kembali kepada kebenaran. Saya disini akan menukilkan tanggal-sejarah itu berikut dengan teks nya yang saya salin dari kitab “Durarul Kaminah Fi A’yanil mi-ah Atsaaminah” karya amirul mukminin dalam hadis, yaitu imam al hafidz Abu Fadl ibnu Hajar Al Atsqolani terbitan 1414H cetakan Darul Jail-Juz 1 hal.148. Namun sebelum itu ada pemaparan imam Nuwairi. Beliau adalah ulama yang hidup sejaman dengan imam ibnu taimiyah dan pemaparan orang orang yang menyaksikan peristiwa pertaubatan tersebut. Imam Nuwairi mengatakan bahwa peristiwa pertaubatan ibnu taimiyah ini juga disaksikan oleh golongan yang menyimpang (pendukung ibnu taimiyah) atau golongan yang berseberangan dengan ibnu taimiyah. Ibnu Hajar berkata: ”Yang menyaksikan peristiwa pertaubatan ini terdiri dari aliansi ulama dan lain-lainnya”.

Imam Nuwairi berkata: ”Permasalahan imam Taqiyuddin ini berkelanjutan hingga beliau dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah yang berada di benteng gunung hingga datanglah amir Hisamuddin ke pintu pemerintahan untuk melayani beliau pada bulan Rabi’ul awwal tahun 707 H. Hingga kemudian Hisamuddin menanyakan duduk permasalahan ibnu taimiyah ini kepada pemerintah yang berwajib dan akan menolongnya sehingga pemerintah memberi grasi kepada ibnu taimiyah dan akhirnya beliau bebas pada hari jum’at tanggal 23 bulan itu pula. Yaitu Rabi’ul awwal. Dan kemudian ibnu taimiyah di hadirkan ke gedung penuntutan (pengadilan) yang berada disitu (benteng gunung). Dan terjadilah pembahasan bersama para pakar ilmu kemudian berkumpullah golongan dari ulama yang terkemuka, namun acara tersebut tidak dihadiri oleh hakim ketua yaitu Zainuddin Al Maliky dikarenakan beliau sakit dan tak hadir pula dari para hakim yang lain. Namun hasil dari pembahasan tersebut ibnu taimiyah menulis kemudian ditulis oleh dewan majlis dengan tulisan yang terjamin dan di tanda tangani oleh para saksi.

BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM.

Kesaksian orang yang telah ikut membubuhkan tulisannya ketika telah ada stempel dari dewan majlis untuk Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al-Harani Al Hanbali ini dihadapkan kepada markas besar yang mulia amir adil Assaifi raja sultan Salar Al Maliky An Nashiri wakil dari sultan agung. Dan hadir pula didalamnya golongan dari para ulama… (berlanjut ke scan kedua)


(Lanjutan)……..dan pembesar pembesar ahli fatwa terdepan mesir disebabkan apa yang pernah di nukil dari pemikiran ibnu taimiyah dan tulisan beliau yang sudah di ketahui sebelum itu yaitu masalah masalah yang berhubungan dengan akidah beliau seperti “Sesungguhnya Allah itu berbicara dengan suara”, dan “bahwa makna istiwa’ itu atas makna hakikat/dhohirnya dll yang bertentangan dengan ahli kebenaran”.

Akhirnya majlis itu selesai setelah pembahasan itu berjalan lama. Ibnu Taimiyah mengembalikan akidahnya itu kembali sehingga beliau berucap dihadapan para saksi “SAYA ASY’ARIYY” sambil mengangkat kitab faham asy’ariyah di atas kepalanya. Dan saya bersaksi atasnya dengan apa yang tertulis berikut ini:

“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan azali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara”.

Ini di tulis oleh Ahmad Ibnu Taimiyah.

——————————​——————————​–
Demi Dzat yang aku beri’tikad kepadaNya dari firmanNya yang berbunyi:

الرحمن على العرش استوى

Itu di pahami seperti apa yang telah dipahami banyak orang, yaitu bukan seperti hakikat dan dhohirnya lafadz. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah Ta’aala.

——————————​——————————​—-
Ini ditulis oleh Ahmad Ibn Taimiyah.

Pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “istiwa”. Aku katakan seperti apa yang aku katakan, yaitu “Saya tidak mengetahui makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak akan diketahui kecuali Allah Ta’aala. Bukan atas hakikat dan dhohir lafadnya.”
——————————​——————————​———————–

Ahmad ibnu Taimiyah telah menulis ini.

Tulisan pengakuannya ini ia tulis pada hari minggu tanggal 25 Rabi’ul ‘Awwal tahun 707 H.

Dan inilah naskah/salinan apa yang telah ia tulis dengan tulisannya sendiri. Dan saya (imam nuwairi) menjadi saksinya pula bahwa beliau bertaubat kepada Allah dari apa yang ia yakini selama ini (4 masalah). Dan dia (ibnu taimiyah) melafadzkan dua kalimah syahadat yang agung. Saya bersaksi atasnya dengan sukarela dan seleksi dalam masalah itu semua di benteng gunung yang terjaga dari gedung gedung mesir. Semoga Allah menjaganya. Amien.

Dengan sejarah hari minggu tanggal 25 robi’ul awwal tahun 707 yang di saksikan oleh golongan orang orang yang terkemuka yang patuh dan tunduk dan golongan yang menyimpang.
Aku keluarkan ini dan aku tetapkan di Kairo. (Selesai ucapan imam an-Nuwairi).

——————————​——————————​———-

Ini dari kitab “Nihayatul irbi fi fununil adab” milik hakim Syihabuddin an-Nuwairy. Beliau wafat pada tahun 733 H. cetakan darul kutub mesir 1998M juz 32 hal.115-116.

———————————————————————-

Imam al-hafidz ibnu Hajar al-Asqolani berkata: Ibnu Taimiyah masih tetap di penjara bawah tanah hingga ditolong/diberi grasi oleh amir Ali Fadl sehingga beliau akhirnya bebas di bulan Rabi’ul ‘Awwal tanggal 23 dan kemudian dihadapkan di sebuah benteng dan dilaksanakan pembahasan (dialog terbuka) bersama sebagian pakar fikih hingga akhirnya tercatat sebuah catatan pengakuan Ibnu Taimiyah bahwa dia berkata: ”Saya berpaham asy’ariyyah”.  Dan dijumpai pula tulisan beliau dengan teks sebagai berikut:

“Segala puji milik Allah yang aku beri’tikad pada-Nya bahwa Al Qur’an berdiri diatas makna Dzat Allah. Dan itu sifat dari beberapa sifatNya yang qodim dan ajali. Dan Ia bukan makhluk. Bukan dengan huruf dan bukan pula dengan suara”.

Sedangkan firman Allah yang berbunyi:

(الرحمن على العرش استوى)

ini bukan seperti dhohirnya lafadznya. Saya tidak tahu makna ganti dan maksudnya, bahkan tidak diketahui itu kecuali hanya Allah Ta’aala. Dan pendapatnya dalam masalah “turunnya” (Allah) itu juga sama seperti masalah “Istiwa’”. (bukan seperti dhohirnya dan tidak diketahui muradnya).

————————–​————————–​——

Ibnu Taimiyah telah menuliskan ini.

Kemudian para hadirin menyaksikannya bahwa dia bertaubat sebagai pilihannya dari apa yang ia yakini dulu dan itu terjadi pada tanggal 25 Rabi’ul Awwal tahun707 H. Dan peristiwa itu di saksikan pula oleh sebagian besar dari ulama dan kalangan lainnya. Setelah kasus ini reda, akhirnya dirilislah (pengakuan taubat ibnu Taimiyah ini) ke permukaan. Dan beliau tinggal di Kairo.

Adapun selain imam ibnu Hajar dan imam an-Nuwairi yang menuturkan tentang pertaubatan ibnu Taimiyah ini terdiri dari ulama dan para pakar sejarah, yaitu:

1.  ابن المعلم ( w.725) فى نجم المعتدى  Salinan Paris nomor 638

2. الدواداى (w.736) فى كنزالدرر- الجامع  239

3.  ابن تغري بردي الحنفى

(w.874) فى المنهل الصافى- الجامع 576
Yang ke semua ini isinya sama seperti penuturannya ibnu Hajar. Dan juga telah dinukil pula di kitab
النجوم الزاهرة – الجامع 580

SITUASI ORANG ORANG KARENA PERTAUBATAN IBNU TAIMIYAH:

Seluruh ulama sepakat atas kebenaran peristiwa pertaubatan imam Ibnu Taimiyah rahimahullah ini. Namun setelah itu terjadi perselisihan tentang sikap Ibnu Taimiyah tersebut, sebagian dari mereka menganggap ia jujur dengan taubatnya dan sebagiannya menganggap murni permainan kata-kata/kamuflase atau taqiyah (kepura-puraan agar segera dibebaskan).

Sikap orang-orang ada dua kelompok:

Pertama: Kubu yang membenarkan hal itu dan menaruh simpati kepada ibnu Taimiyah, karena telah membawa kaum muslimin keluar menuju yang terbaik dan mendorong kepada kaum muslimin yang lain, oleh karena itu banyak ulama yang membelanya (taubat) dan menentang siapa saja yang menuduh dia bid’ah. (karena taubat).

Kedua: Kubu yang berasumsi bahwa pertaubatannya itu tidak benar/tidak terbukti. Kubu ini ada dua versi, yaitu:

PIHAK PERTAMA MENGATAKAN: ”Orang orang telah memaksa ibnu taimiyah telah berbuat bid’ah dan memaksa keluar dari aqidahnya ahli kebenaran seperti yang telah ditegaskan dalam kitab-kitab beliau. Dan atau seperti yang sudah banyak dinukil oleh para pengikut fanatiknya bahwa beliau ditetapkan dibanyak kitab bahwa beliau meninggal dunia di penjara.”

Adapun ucapan mereka yang menyatakan bahwa ibnu Taimiyah menghembuskan nafas terakhirnya di penjara, JAWABANNYA ADALAH: ”Memang benar, namun itu dalam tahanan yang terakhir, yaitu beliau dimasukkan ke penjara lagi karena tersandung masalah fiqhiyah dan furu’iyah, seperti masalah fatwa haramnya bagi orang yang bepergian untuk berziarah kemakam Nabi Shollallah ‘alaih wa sallam dan lain-lain. Jadi bukan masalah akidah yang telah ia taubati itu.

Mengenai tidak ditemukannya dalil penguat/pembenaran atas taubatnya beliau di kitab kitab beliau atau referensi valid dari beliau JAWABANNYA ADALAH:

1. Ibnu Taimiyah tidak mencetak semua kitab kitabnya. Sehingga dengan indikasi ini kami menguatkan.
2. Alasan lain bahwa kitab kitabnya yang telah tercetak terdapat banyak kekeliruan puluhan halaman seperti yang terjadi dalam kitab fatawanya terutama dari lembaran lembaran dan kalimatnya. Sebuah kesalahan jika kami menetapkan tidak adanya pencabutan ibnu taimiyah atas akidahnya atau tidak memungkinkannya kembalinya beliau kepada kebenaran.
3. Kitab kitab yang beredar kini dan fatwa fatwa yang di nisbatkan kepada beliau, itu semua di kumpulkan 5 abad/lebih setelah beliau wafat. Dan itu semata mata hanya salinan-salinan yang tidak jelas yang tak bisa membenarkan dan yang tak bisa menyanggah hal itu.

PIHAK KEDUA MENGATAKAN: ”Ini mengenai martabat sebuah akidah yang beliau taubati. Pihak ini mengatakan bahwa taubatnya ibnu taimiyah ini hanyalah permainan kata kata dan taqiyyah (menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati untuk menyelamatkan diri-pent) bukan yang lain. Dan inilah yang banyak di anut oleh pengikutnya hingga sekarang. Dan menurut mereka pula, ini tidak benar jika taubat dari keyakinannya di nisbatkan kepada sosok seorang ibnu Taimiyah rahimahullah karena ia beri’tikad bahwa akidahnya-lah yang diatas kebenaran. Bagaimana pula dia menyerah/tidak berpegang teguh dalam pendiriannya sedangkan beliau adalah seorang pemimpin dan panutan dalam masalah kebenaran ini. Pihak ini berdalih seperti teguh dan sabarnya imam Ahmad bin Hanbal [yang memilih tetap dipenjara-pent]. (tatkala disuruh mengakui bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk-pent) dan ulama ulama yang lain.”

[Penulis kitab berkata]

Adapun yang benar adalah yang menguatkan bahwa ibnu Taimiyah telah bertaubat dari akidahnya, Segala puji milik Allah.

Tujuan saya dari semua ini adalah setiap bantahan dan sanggahannya mengenai pesan ini. Saya tidak bermaksud membahas secara personal seorang ibnu Taimiyah, saya hanya bermaksud dengan apa yang telah disebutkan dalam kitab kitabnya, entah itu pendapat beliau disaat belum taubat (Allah bersemayam)  atau itu hanya ucapannya orang yang berbuat buat atas nama ibnu Taimiyah rahimahullah.

Sehingga kesimpulannya adalah: “Bantahan/sanggahan​ ini ditujukan pada pendapat/opini yang berkembang saat ini, bukan pada sang penutur/pengucap (ibnu Taimiyah)  seperti yang ada sekarang ini.”

Semoga bermanfaat, sehingga menjadi khazanah ilmu pengetahuan anda semua…

Saya juga mohon maaf jika ada terjemahan yang kurang berkenan dalam hati anda.

Scan-scan tersebut diambil dari kitab:

د ررالالفاظ العاوالي فى الرد على الموجان والحوالي

Karya:

غيث بن عبدالله الغالبي

Adapun riwayat pertaubatan ibnu Taimiyah ini ada tercantum dalam kitab:

الدررالكامنة فى اعيان المائة الثامنة

Karya ulama pakar hadits dan fikih abad ke-8, yaitu Ibnu Hajar Al-Asqolany.
Seperti yang tertera dalam scan pertama di atas.

Sanad riwayat ini kepada al-Imam ibn Hajar al-Asqalany adalah sebagai berikut:

ارويها عن الشيخ محمد أمين الهرري عن الشيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفادني عن السيد جعفر بن محمد الحداد, والسيد منصور بن عبدالحميد الفلمباني المكي, كلاهما عن والد الثاني السيد عبد الحميد بن محمود الفلمباني عن ابيه المعمر السيد محمود بن كنان الفلمباني عن المعمر الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الأشي الشهير بالفلمباني عن السيد عمادالدين يحي بن عمر مقبول الأهدل الزبيدى عن محمد بن عمر بن مبارك بحرق الحضرمي عن السيد أحمد بن حسين العدروس التريمي عن السيد محمد بن على خرد التريمي عن محمد بن عبد الرحمن الخاوي عن مؤلفها الحافظ أبي الفضل أحمد بن علي بن حجر العسقلاني

Demikian catatan dari sahabat saya Kaheel, semoga bermanfaat.

17 thoughts on “Riwayat Taubatnya Ibnu Taimiyyah dari Aqidah Tajsim

  1. syukron mas jundu atas artikelnya , hanya saja saya juga mendapatkan jika Ibnu Taimiyah kemudian kembali ke aqidah Tasybih dan tajsimnya (murtad setelah taubatnya ini) , mohon disertakan untuk pembanding.

  2. Alhamdulillah, telah mencantumkan beberapa statement dari Ibnu Hajar, menjawab husnudzhan saya selama ini bahwa Ibnu Hajar memasukkan Ibnu Taimiyyah dalam ad-Durar berarti Ibnu hajar menghargai beliau sebagai salah satu tokoh cemerlang dalam sejarah, meski dalam beberapa perkara ushul ada masalah namun beliau telah bertaubat darinya…

    Tidak heran jika al hafidz al Mizzi ( mertua Ibnu Katsir ) men-semat-kan gelar Syaikhul Islam untuk 2 ulama’ yang berpolemik di masa itu : Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyyah dan Taqiuddin as Subki, artinya al Mizzi menganggap polemik antara Ibnu Taimiyya dengan as Subki di akhir hayatnya hanya masalah furu’ bukan ushul.

    Sayang Wahhabiyah zaman sekarang ini tidak mau mengambil pelajaran dari Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah ini…

  3. semuga ALLAH berkenan memberi hidayah kepada mahluqnya yg hatinya sekeras batu.dgn ampunanNYA yg maha luas. BERFIKIRLAH DGN CERDAS,ISLAM ITU INDAH.semuga para wahhabi mengadakan pertobatan seperti tobatnya imam syeh ibnu taimiyyah.amiin.

  4. mantap mas boleh ana copy ya buat bahan temen oe yg lg nulis buku ttg wahabiy,smga nanti bayak ikhwan kita kembali keaqidah yg benar,kebetulan ada sdranya tokoh wahabiy indonesia yg mau ndonaturi tuk nyetak buku dijogja cihuyyyyyyyy,doaken 50ribu exemplar

  5. Assalamualaikum Mas Jundu, perkenalkan saya Umar dari salah satu aanggota pembela Aswaja, kami mendapat pertanyaan dari salah satu sahabat karib saya berpaham salafi.. Sbb : Contoh bagaimana salafush shaleh menafsirkan ayat tentang shifat Allah (edisi untuk saudaraku)
    Oleh Rio Febrian

    Saya nukil langsung dari kitab tafsir Ibnu Abi hatim versi softcopy yang ada pada saya :

    – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدَكَ الْقَزْوِينِيُّ، ثنا الْمُقْرِئُ يَعْنِي عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ، ثنا حَرْمَلَةُ يَعْنِي ابْنَ عِمْرَانَ التُّجِيبِيَّ الْمِصْرِيَّ، حَدَّثَنِي أَبُو سُلَيْمَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ هَذِهِ الآيَةَ” ” إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا ” ” إِلَى قَوْلِهِ ” ” إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً ” وَيَضَعُ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى عَيْنِهِ، وَيَقُولُ: هَكَذَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُهَا وَيَضَعُ إِصْبَعَهُ”. قَالَ أَبُو زَكَرِيَّا وَصَفَهُ لَنَا الْمُقْرِئُ وَوَضَعَ أَبُو زَكَرِيَّا بْهَامَهُ الْيُمْنَى عَلَى عَيْنِهِ الْيُمْنَى وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى الأُذُنِ الْيُمْنَى، وَأَرَانَا فَقَالَ: هَكَذَا

    قَوْلُهُ تَعَالَى: ” إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً ”

     حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو زُنَيْجٌ، ثنا سَلَمَةُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: ” ” سَمِيعاً ” أَيْ: سُمَيْعٌ مَا يَقُولُونَ”.

    قَوْلُهُ تَعَالَى: ” بَصِيراً ”

     حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ، ثنا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي الْخَيْرِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ:رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُقْرِئُ هَذِهِ الآيَةَ: ” ” سَمِيعاً بَصِيراً ” يَقُولُ: بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ”.

    artinya insyaAllah :

    – telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Abdak AL Quzwaini, telah menceritakan kepada kami AL Muqri’ yakni ‘Abdullah bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Harmalah yakni Ibnu ‘Imran AT Tajibiy Al Mishriy, telah menceritakan kepada kami Abu Sulaiman, ia berkata :’Aku mendengar Abu Hurairah berkata tentang surat ini “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” hingga pada ayat : ‘Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (QS. An-Nisaa’ : 58), lalu ia (Abu Hurairah) meletakkan ibu jari tangannya ke telinganya, dan yang lain (telunjuk) ke matanya, lalu berkata : “Demikianlah aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membacanya dimana beliau juga meletakkan dua jarinya”. Abu Zakariyya berkata : “Al-Muqri’ menyifatkan/memperagakan hal itu kepada kami”. Lalu Abu Zakariyya meletakkan ibu jari tangan kanannya ke mata kanannya dan jari yang lain ke telinga kanannya, dan kami melihatnya, lalu Al-Muqri’ berkata : “Demikianlah,”.

     

    Firman Allah ta’ala :’Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’

    telah menceritakan kepada kami Muhammad bin AL Abbas maula bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru Zunaij, telah menceritkan kepada kami Salamah, telah menceritakan kepada kami  Muhammad bin Ishaq :”Samiian” yaitu mendengar apa yang dikatakan. 

     

    Firman Allah ta’ala :”bashiira”

    Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Abdullah bin Bukair, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Luhai’ah dari Yazid bin Abi Habaib dari Abil Khair, dari ‘Uqbah bin ‘Amir:”aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika membaca ayat ini “samiiian bashiiran”, beliau bersabda :”(Allah) melihat segala sesuatu
    ” Mohon bantaun Mas Jundu dapat berkomentar… Dikarenakan masih rendahnya kami dalam ilmu hadist… Matur Nuwun.

    • Saya juga membacanya dikitab tafsir Ibnu Katsir, bahwa Ibnu Katsir juga menukilnya dari Ibnu Hatim… Mohon bantuannya diberi penjelasan… karena menurut teman saya ini adalah salah satu jalan salafus sholih dalam menetapkan sifat Allah… Matur Nuwun Sanget atas perhatiannya….

  6. Salam,
    Jika maksud penukilan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa salafus sholeh menganut prinsip tajsim dalam aqidah, maka ini merupakan pemahaman yang serampangan dan ngawur, asal terjemah saja.

    Apabila kita perhatikan dalam Tafsir Ibnu Katsir, maka sebenarnya tujuan beliau dalam menukil riwayat di atas adalah untuk menguatkan prinsip ahlus sunnah bahwa di antara sifat wajib bagi Allah adalah “sama’ “ dan “ bashor” , di mana dua sifat ini tidak bisa di-substitusi oleh sifat “’ilmu”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan ketika menafsirkan QS. An Nisa’ : 58 di atas : “Ay samii’an li aqwaalikum, bashiiron bi af’aalikum”. ( Tafsir Ibn Katsir Juz I : 506 ). Artinya, Allah SWT – lebih dari sekedar ‘aliiman / mengetahui – maka Dia Maha Mendengar Perkataan Kalian, Maha Melihat perbuatan kalian.

    Fitnah dan syubhat tajsim ini ditolak oleh para ulama’ , termasuk ketika membawakan hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir di atas. Sebagai contoh, Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Kitab Tauhid, Bab “ Wa Kaanallahu Samii’an Bashiiron” menukil dan menyetujui pendapat ulama’ dalam menolak fitnah tajsim ini. Beliau menulis ( saya tidak punya fasilitas font Arabic ) :

    “Ibnu Baththal berkata “ Tujuan al Bukhari dalam bab ini adalah untuk menolak pendapat orang yang mengatakan bahwa “samii’un bashiirun” sama dengan “’aliimun”. Sebab konsekuensi pendapat ini adalah menyamakan Allah dengan orang buta yang tahu bahwa langit berwarna biru sedangkan dia tidak pernah melihatnya, dan menyamakan Allah dengan orang tuli yang tahu bahwa manusia itu punya suara sedang ia tidak pernah mendengarnya. Sudah pasti, orang yang melihat dan mendengar itu lebih sempurna dibandingkan dengan orang yang melihat saja atau mendengar saja. Dan sifat Allah “samii’an bashiiron” berfaidah memuliakan Allah disamping sifat –Nya “’aliiman”……

    …….( hingga Ibnu Hajar menukil pernyataan al Baihaqi …)…

    “ As Samii’ “ berarti Dia memiliki Sama’ ( pendengaran ) yang mampu menjangkau segala sesuatu yang terdengar , dan “al Bashiir “ berarti Dia memiliki bashor ( pandangan ) yang mampu menjangkau segala yang terlihat…dan masing-masing sifat itu adalah sifat dzat-Nya….

    ……( hingga sampai pada pernyataan al Baihaqi tentang hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir di dalam QS. An Nisa’ : 58 ) ….

    “Nabi SAAW menghendaki dengan isyarat ini –yakni menunjuk pada telinga dan mata—menyatakan penetapan sama’ dan bashor bagi Allah SWT dengan menjelaskan tempat keduanya pada manusia….

    ….(hingga pernyataan al Baihaqi ) …

    “ Dan Nabi SAAW tidak lah menghendaki dengan isyaratnya itu bahwa Allah memiliki anggota tubuh ( al jarihah ) sebab Allah SWT itu Maha Suci ( munazzah / tanzih ) dari keserupaan dengan para makhluq “ .

    ( Teks lengkap silakan rujuk Fathul Bari, Kitab Tauhid, Bab “Wa Kaanallaahu Samii’an Bashiiron”, Juz 14 : 317 , terbitan Darul Kutub, Lebanon, 2009 ).

    Maka insyaflah wahai orang yang mencari-cari ayat-ayat musytabihat untuk mendukung fitnah tajsim.

  7. Sebagai tambahan keterangan, silakan difahami pernyataan Imamul Muhadditsiin Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari, Kitab Tauhid, bagian akhir Bab “ Wa Litushna’a ‘Ala ‘Aini “ .

    “ …Saya pernah ditanya tentang bolehkan orang yang membaca hadits-hadits – yang secara dzohir mengesankan adanya tajsim – seraya melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAAW – yakni menunjuk pada bagian-bagian tubuh tertentu—maka saya ( Ibnu Hajar ) menjawab : Jika pembaca hadits itu berada ditengah-tengah orang-orang yang memiliki I’tiqod yang sama dengannya dalam men-sucikan ( tanzih ) Allah SWT dari sifat-sifat huduts ( baru ) , serta berniat mencontoh Nabi SAAW saja, maka hal itu boleh. Namun sebaiknya tidak dilakukan , sebab ditakutkan akan memasukkan syubhat tasybih ( menyerupakan Allah dengan makhluq ) kepada orang-orang yang melihatnya… “. ( Fathul Bari 14 : 333 ).

    Ibnu Hajar dan para ahlus sunnah sangat menjaga aqidah tanzih ini…hal ini karena riwayat hadits itu tidak jarang menggunakan gaya bahasa pe-rowi, yang sangat mungkin ada rowi lain yang meriwayatkan dengan gaya yang berbeda.

    Seperti contoh, dalam HR. al Bukhori tentang tafsir QS. Al Qolam : 42 yang berbunyi “ Yauma yuksyafu ‘an saaqin “, hari disingkapkannya betis…

    Imam al Bukhari membawakan riwayat dari Sa’id bin Hilal dari Zaid bin Aslam, hingga ke Abu Sa’id al Khudri bahwa Nabi SAAW bersabda “ Yaksyifu Robbuna ‘an saaqihi, fa yasjudu lahu kullu mu’minin wal mu’minah ”, Tuhan kita menyingkapkan betisnya, maka sujudlah setiap mu’min dan mu’minah. Al Bukhari tidak memasukkan riwayat ini dalam Kitab Tauhid, —-hemat saya sebab beliau masih mencari hadits lain yang tidak mengesankan tajsim.

    Oleh sebab itu, dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar membawakan riwayat lain dari Isma’ili dari Hafsh bin Maisaroh dari Zaid bin Aslam dengan lafadz “ Yuksyafu ‘an saaqin— fayasjudu lahu kullu mu’minin wal mu’minah….”, tanpa dijelaskan betis siapa yang disingkap, sehingga ahlus sunnah men-ta’wil ayat ini dengan “ disingkapkan betis artinya syiddatul haul / dahsyatnya kesulitan huru-hara”.

    Terlihat, “Yaksyifu Robbuna ‘an saaqihi” merupakan gaya bahasa dari Sa’id bin Hilal…

    Terlihat bagaimana Amirul Mu’minin fil Hadits, Imam al Bukhari, hingga Imam Ibn Hajar, sangat berhati-hati sekali dalam memegang prinsip tanzih tanpa harus terjatuh dalam ta’thil ( menolak nash2 yang secara dzohir mengesankan tajsim ) jadi sangat menjaga keseimbangan antara tanzih dan tafwidh ( menyerahkan makna hakiki kepada Allah SWT ).

    Dan saya rasa, dalam riwayat taubatnya Ibnu Taimiyah di atas beliau pun ruju’ kepada konsep keseimbangan antara tanzih dan tafwidh ini.

  8. ya Alloh, tunjukilah kami jalan yang lurus yang engkau ridhoi, dan perteguhkanlah hamba didalam Ahlusunnah Wal Jama’ah, Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s