Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H


Iklan

Penyelewengan atas Perkataan Imam As-Subki dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah oleh Zuhair asy-Syawis dan al-Albani


Zuhair asy-Syawis dan Muhammad Nashiruddin al-Albani telah melakukan penyelewengan atas perkataan Imam as-Subki dalam kitab Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah karya imam ibn Abu al-Izz yang ditakhrijnya. Dan sangat terlihat sekali tujuan dari pemotongan kalimat ini bertujuan untuk memberikan kesan baik tentang akidah tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi yang telah digambarkan buruk oleh Imam Ibn Abu al-Izz, pengarang kitab tersebut. Sebagaimana yang sudah masyhur di kalangan para ulama’ pengkaji tauhid, Imam as-Subki adalah termasuk salah seorang ulama yang paling menentang akidah tajsim dan tasybih. Perkataan imam as-Subki yang telah mereka palsukan itu berubah menjadi seperti ini: Baca lebih lanjut

Seri Kajian Kitab Mafahim Yajibu an Tushohhah – Bagian 21


AJAKAN PARA A-IMMAT AT-TASHAWWUF 

UNTUK BERAMAL DENGAN SYARI’AT

Tasawwuf, merupakan obyek yang teraniaya dan senantiasa dicurigai, sangat minim mereka yang bersikap adil dalam menyikapinya. Justru sebagian kalangan dengan keterlaluan dan tanpa rasa malu mengkategorikannya dalam daftar karakter negatif yang mengakibatkan gugurnya kesaksian dan lenyapnya sikap adil, dengan mengatakan, “Fulan bukan orang yang bisa dipercaya dan informasinya ditolak.” Mengapa? Karena ia seorang sufi.

Anehnya, saya melihat sebagian mereka yang menghina tasawwuf, menyerang dan memusuhi pengamal tasawwuf bertindak dan berbicara tentang tasawwuf, kemudian tanpa sungkan mengutip ungkapan para imam tasawwuf dalam khutbah dan ceramahnya di atas mimbar-mimbar Jum’at kursi-kursi pengajaran. Dengan gagah dan percaya diri ia mengatakan, “Berkata Fudhail ibn ‘Iyadh, al-Junaid, al-Hasan al-Bashri, Sahl at-Tusturi, al-Muhasibi, dan Bisyr al-Hafi.”  Baca lebih lanjut

Nashiruddin Al-albani, Ulama Wahhabi yang Merasa Lebih Mengerti Ilmu Hadits daripada Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ulama Muhaddits Lain


Mari kita lihat perkataan al-Albani dalam kata pengantar cetakan pertama kitabnya Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah yang tercantum di halaman 16, cetakan ke-1 tahun 1390 H:

انصح لكل من وقف على هذا الكتاب و غيره, ان لا يبادر الى العمل بما فيه من الاحاديث الا بعد التأكد من ثبوتها, وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه بالنواجذ, والا تركه

“Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut, apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut.” Baca lebih lanjut

Kebiasaan Jahiliyah dan Pesan Tambahan Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam


          Satu sore Sukiran anak Sukirin menghadap Guru Sufi dengan mata berkilat-kilat menahan amarah dan kejengkelan. Kepada Guru Sufi, Sukiran menanyakan berbagai dalil agama sekitar diselenggarakannya tradisi keagamaan seperti tahlilan, ziarah kubur, maulid nabi, haul, dan lain-lain yang selama ini dijalankan keluarganya. Pasalnya, waktu tahlil peringatan tujuh hari Mbah Sukimin, kakeknya, salah seorang kerabat yang jadi guru mengaji membubarkan acara itu  dengan alasan bahwa tahlilan itu bid’ah dlolalah. “Kang Sukino marah-marah, katanya seluruh keluarga, termasuk arwah Mbah Sukimin akan masuk neraka kalau ditahlilkan,” kata Sukiran mengadu.

          “Sukino kuwi siapa le?” tanya Guru Sufi ingin tahu,”Apa itu Sukino anak Mbah Sukidin dan Mbah Sukinem?”

         “Iya benar Mbah Kyai,” sahut Sukiran bersungut-sungut,”Jadi ustadz baru berapa tahun, sombongnya setengah mati. Semua orang dianggap sesat. Keblinger. Ahli neraka. Hari-hari dilewati dengan marah-marah kepada orang-orang yang dianggap sesat. Namanya sekarang ditambahi, jadi  Ahad Sukino Al-Wahab,” lanjut Sukiran mengungkapkan bahwa marga Suki, belakangan ini terpecah-belah gara-gara Sukino membawa ajaran baru yang membingungkan  keluarga. Kelompok marga yang ikut Sukino seperti Sukijan, Sukiwil, Sukipan, Sukibat, Sukiri, Sukipas, Sukiyono  namanya  ditambahi “Ahad” dan “Al-Wahab” sehingga menjadi : Ahad Sukijan Al-Wahab, Ahad Sukiwil Al-Wahab, Ahad Sukipan Al-Wahab, Ahad Sukibat Al-Wahab, Ahad Sukiri Al-Wahab, dan seterusnya. Sedang marga yang enggan mengikuti Sukino tetap saja bernama  marga  Suki seperti Sukidul, Sukirun, Sukijo, Sukimo, Sukipas, dan bahkan yang bekerja sebagai TKI di Jepang namanya diganti menjadi: Sukiyaki, Suki Ono, Sukimorata, Sukiomura, Sukiyoto, Sukiyono.   Baca lebih lanjut

Akidah ala Badui


   Rabu Wage malam Kamis Kliwon tepat tengah malam, ustadz Sukijo As-Salaf dengan diantar Sukiran bin Sukirin menemui Guru Sufi yang sedang duduk-duduk di teras mushola bersama Sufi Majnun, Sufi tua, Sufi  Sudrun, dan Dullah. Sekalipun kepada Sukiran  menyatakan ingin “mengaji” kepada Guru Sufi, namun ustadz Sukijo As-Salaf tidak sedikit pun berkenan mundur dari prinsip-prinsip ajaran yang sudah diyakininya. Demikianlah, dalam perbincangan sepintas yang dihangatkan ceramah Sufi tua tentang keabsahan  menta’wil Al-Qur’an, telah dijadikan senjata ampuh bagi ustadz Sukijo As-Salaf  untuk  mengecam ajaran sufisme sebagai ajaran sesat karena kegemaran kaum sufi menta’wil Al-Qur’an.

   Dengan garang  ustadz Sukijo As-Salaf  mengecam Sufi tua yang menta’wil  Surah Thaha ayat 5 “al-Rahmaan ‘ala al-‘Arsy istawa” sebagai suatu tindak  kesesatan yang nyata. “Ayat ini jelas bermakna al-Rahman itu bersemayam di Arsy. Bagaimana ada ta’wil bahwa al-Rahman tidak bertempat? Itu sama dengan menyatakan Allah tidak ada,” kata ustadz Sukijo As-Salaf.

   “Anda tahu tidak apa itu definisi tempat?” sahut Dullah mewakili Sufi tua yang diam tak menanggapi kecaman ustadz Sukijo As-Salaf,”Tempat adalah sesuatu yang ada setelah adanya ciptaan. Padahal, Allah sudah Ada sebelum ada ciptaan. Allah itu memiliki sifat mukhalafatuhu lil hawaditsi, yaitu wajib tidak menyerupai makhluk ciptan-Nya. Jadi menyatakan Allah berkedudukan di sebuah tempat itu menyalahi prinsip akidah. Itu sebabnya, ayat “al-Rahman ‘ala al-‘Arsy istawa” itu harus dita’wil supaya tidak membawa kesesatan.” Baca lebih lanjut

Sunnah-sunnah yang Terdapat di dalam Tradisi Tahlilan


Bismillaah ar-Rahmaan ar-Rahiim

Gambar Ilustrasi Tradisi Tahlilan

Ilustrasi Tradisi Tahlilan (sumber: foto.detik.com)

Selama ini mungkin telah bertebaran persepsi yang keliru dari kalangan yang tidak menyukai tradisi tahlilan yakni bahwa kaum Muslimin yang melakukan tahlilan adalah pelaku bid’ah sesat dan melawan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan yang melakukan tahlilan telah meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pelakunya menjadi berdosa dan masuk neraka.

Tudingan yang semacam ini tentunya tidak tepat, karena meskipun diakui bahwasanya tradisi tahlilan yang berkembang di nusantara ini adalah termasuk perkara baru (bid’ah), namun perkara baru ini memiliki landasan-landasan dalil dari al-Quran dan Sunnah, sehingga perkara baru yang demikian ini jatuh ke dalam hukum syara’ Sunnah. Pembagian bid’ah yang demikian ini berdasarkan pendapat al-Imaam al-Izzuddin ibn Abd as-Salaam rahimahullaah yang mana beliau berpendapat bahwa bid’ah itu bukan hukum syara’, sehingga bid’ah dapat jatuh ke dalam hukum syara’ yang lima (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) dan apabila berkaitan dengan mu’amalah ditambah dengan sah dan batal. Baca lebih lanjut