Nashiruddin Al-albani, Ulama Wahhabi yang Merasa Lebih Mengerti Ilmu Hadits daripada Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ulama Muhaddits Lain


Mari kita lihat perkataan al-Albani dalam kata pengantar cetakan pertama kitabnya Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah yang tercantum di halaman 16, cetakan ke-1 tahun 1390 H:

انصح لكل من وقف على هذا الكتاب و غيره, ان لا يبادر الى العمل بما فيه من الاحاديث الا بعد التأكد من ثبوتها, وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه بالنواجذ, والا تركه

“Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut, apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut.”

Scan lengkapnya:

Perhatikan, dari perkataan al-albani diatas (perhatikan juga bahwa tata bahasa arab yang beliau gunakan dalam beberapa kalimat terakhir di atas juga sedikit kacau balau, namun meskipun susunannya kacau balau masih dapat ditangkap maksudnya) dapat dipahami bagaimana al-albani memposisikan dirinya sebagai ahli hadits yang kemampuannya melebihi ulama hadits mu’tabar yang terdahulu. Dia melarang umat muslim untuk  mengamalkan hadits-hadits shahih dari para imam muhaddits besar seperti al-Imaam al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan lain-lain terkecuali setelah ada komentar dari al-albani bahwa hadits-hadits itu dinyatakan sebagai hadits shahih oleh al-albani. Jika tidak dikatakan shohih oleh al-albani, maka hadits-hadits tersebut ditinggalkan atau tidak boleh diamalkan sama sekali.

Sekarang yang menjadi permasalahan adalah, Apakah kapasitas keilmuan al-albani lebih jauh hebat daripada ulama’-ulama’ muhaddits terdahulu? Sedangkan ulama’ – ulama’ ahli hadits yang mu’tabar tersebut masa kehidupannya jauh lebih dekat dengan masa Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam. Coba bandingkan dengan masa kehidupan al-albani di abad 20 Masehi ini yang sangat jauh dari masa Rasulullaah shollallaah ‘alaih wa sallam?

Dari statement singkat al-albani yang tercantum di dalam kata pengantar bukunya tersebut, dapat disimpulkan juga  bahwasanya menurut al-albani dan pengikutnya apabila sebuah hadits tidak ada “embel-embel” dishahihkan oleh al-albani maka hadits tersebut diragukan keshahihannya meskipun hadits tersebut tercantum di dalam kitab-kitab hadits tershohih sekalipun seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Kembali kepada kata pengantar dari al-albani diatas, perhatikan kalimat bergaris bawah:

فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه بالنواجذ, والا تركه …

“…apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya.”

Kalimat bergaris bawah diatas akan sangat terasa rancu bagi mereka yang terbiasa dengan bahasa arab, karena terkesan canggung dan menggelikan. Seharusnya, apabila memang al-albani adalah orang yang mumpuni di bidang hadits, tentunya beliau tidak akan menuliskannya dengan tata bahasa yang kacau balau.

Syaikh Hasan bin Ali As-Saggaf meluruskan kalimat tersebut di dalam kitabnya “Tanaqqudhat al-Albani al-Wadhihah”:

الصحيح ان يقول: إعمل به وعض عليه بالنواجذ. وقد أخطأ فى التعبير لضعفه فى اللغة

“Kalimat yang benar seharusnya berbunyi: “I’mal bihi wa ‘adhdhu ‘alaihi bi an-nawajidz” yang artinya: amalkanlah dan gigitlah dengan gerahammu kuat-kuat. Dan sungguh ia telah salah di dalam mengungkapkan kalimat itu dikarenakan lemahnya ia di dalam berbahasa arab.”

Demikianlah apa adanya saya sampaikan daripada sebagian perkataan al-albani yang tercantum di dalam kitab-kitabnya. Silakan anda membuat kesimpulan sendiri.

Iklan

22 thoughts on “Nashiruddin Al-albani, Ulama Wahhabi yang Merasa Lebih Mengerti Ilmu Hadits daripada Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ulama Muhaddits Lain

    • — silahkan ikuti dialog saya dengan jundu muhammad dibawah dengan hati yang jernih. Blog ini telah membuat fitnahan ats beliau Rahimahullah, dengan cara menerjemahkan tulisan beliau secara serampangan untuk mencitrakan belia merasa lebih pintar dari pada ulama2 hadist yang terdahulu…Rahimakallahu yaa aba Abdirrahman, semoga Allah membalas kebaikanmu atas penjagaanmu terhadap hadist2 Rasulullah…—

  1. syaikh albani jauh dari apa yang anda tuduhkan….
    1. kesimpulan dan tuduhan anda kepada Syaikh bahwa beliau merasa lebih pintar dari ulama muhadditsin dan selainnya adalah PENAFSIRAN DAN KESIMPULAN ANDA SENDIRI dan itu menjadi urusan anda dengan syaikh nanti di hadapan Allah. tidak satupun teks dari beliau yang mengatakan demikian.
    2. ajakan untuk berpegang teguh pada sunnah yang tsabit dari Rasulullah dan menggigit dengan gigi geraham adalah perintah dari Rasulullah, bukan karangan syaik Al Bani Rahimahullah.
    “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549
    3. penerjemahan anda ngawur, syaikh tidak pernah mengatakan “saya”. Anda sendiri yang menambahkan kata saya untuk mengelabui pembaca.
    4.Yang ikut baca hati 2 tertipu. Ingatlah bahwa daging para ulama itu beracun. jadi jangan dighibah.
    SALAM UKHUWAH UNTU SEMUA….

    • 1. Dan memang demikianlah adanya pernyataan syeikh al-albani sendiri yang menyatakan: “apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut.”

      Itu artinya, semua hadits yang tidak ada komentar dari al-albani maka sebaiknya ditinggalkan. Meskipun hadits tersebut termaktub di dalam kitab hadits paling shahih yaitu shahih al-bukhari dan muslim.

      Dapat disimpulkan seperti ini pula, sebelum al-albani lahir didunia ini, tentunya secara otomatis semua hadits khan belum ada pengesahannya dari al-albani, terus bagaimana dong kalau ada orang yang mengamalkan hadits-hadits tersebut? Apakah mereka semua termasuk orang yang bersalah???

      2. Hadits tersebut memang benar adanya. Namun, yang menjadi pembahasan di artikel ini adalah: “Tata bahasa al-Albani yang kacau” saya yakin pernyataan beliau adalah bersumber dari hadits yang anda sebutkan diatas, namun ditulis ulang menurut versi albani sendiri (redaksi dari albani sendiri). Apabila memang beliau adalah seorang ahli hadits, tentunya beliau tidak akan menulis pernyataan tersebut dalam tata bahasa yang rancu.

      3. Ini saya nukilkan lagi artikel diatas:

      انصح لكل من وقف على هذا الكتاب و غيره, ان لا يبادر الى العمل بما فيه من الاحاديث الا بعد التأكد من ثبوتها, وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه بالنواجذ, والا تركه

      “Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut, apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut.”

      ————-
      Dimana ada tulisan “SAYA” pada terjemahan diatas?

      jadi, tidak ada dusta diantara kita ^_^

      4. Apakah anda juga pernah mengucapkan kalimat anda ini “ingatlah bahwa daging para ulama itu beracun. jadi jangan dighibah” kepada ulama’ ahlussunnah wal jama’ah semisal al-Imam an-Nawawi dan al-imam ibn Hajar al-Asqalani yang disesatkan oleh ulama’ wahabi?

      ataukah kalimat itu anda ucapkan hanya kepada pengkritik ulama’ wahabi saja?

      • pertama buku Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah yang ditulis oleh syaikh diatas, bukan buku tashih terhadap kitab hadist, akan tetapi terhadap perkataan ibnu taymiyah rahimahullah

        ucapan, fa maa kaana tsaabitan minhaa….anda mengartikan “apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, sekali lagi ini hanya kesimpulan anda. Makna sebenarnya ” maka apa-apa yang telah tsabit (jelas) dari hadist2 tersebut”

        saya kutipkan pendapat sebagian ulama tentang syaikh al bani rahimahullah :
        – Syaikh al ‘Allaamah ‘Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad, pengajar di Masjid Nabawi saat ini berkata, “Syaikh al ‘Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddin al Albani. Saya tidak menjumpai orang pada abad ini yang menandingi kedalaman penelitian haditsnya” (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah hal. 35-36)

        – Syaikh al Muhaddits Abdush Shamad Syarafuddin, pengedit Kitab Sunan Kubra karya Imam an Nasai telah menulis surat kepada al Albani rahimahullah sebagai berikut, “Telah sampai sepucuk surat kepada Syaikh ‘Ubaidullah ar Rahmani, ketua Jami’ah as Salafiyah dan penulis Mir’aah al Mafaatih Syarah Misykah al Mashahib sebuah pertanyaan dari lembaga fatwa Riyadh Saudi Arabia tentang hadits yang sangat aneh lafaznya, agung maknanya dan memiliki korelasi erat dengan zaman kita. Maka, seluruh ulama di sini semua bersepakat untuk mengajukan pertanyaan tersebut kepada seorang ahli hadits yang paling besar abad ini, yaitu Syaikh al Albani rahimahullah, ‘alim Rabbani” (Hayatul Albani I/67, Majalah at Tauhid, Mesir th. 28 Edisi 8/Sya’ban/th. 1420 H, hal. 45)

        -ucapan pendekar hadits asal India kelahiran Uttar Pradesh Dr. Muhammad al Mushthafa al A’zhami, “Bila Syaikh (al Albani) berbeda hukum denganku dalam masalah shahih dan dha’ifnya hadits, maka saya menetapkan pendapatnya, karena saya percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama” (Muqadimah Dr. Musthafa al A’zhami dalam Shahiih Ibni Khuzaimah I/6, 32)

        – Syaikh Dr. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, anggota komisi fatwa Saudi Arabia mengatakan dalam membantah ucapan Muhammad Ali ash Shabuni, “Ini merupakan kejahilan yang sangat dan pelecehan yang keterlaluan, karena kehebatan ilmu al Albani dan perjuangannya membela sunnah dan ‘aqidah salaf sangat populer dalam hati para ahli imu. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali musuh yang jahil” (at Tahdzir min Mukhtasharat as Shabuni fi Tafsir hal. 41)

        Bila para ulama yang ngerti hadist dan faham ilmu mustolahul hadist saja berkata seperti diatas, saya kira anda harus berfikir ulang dan melihat kapasitas diri sendiri

        Ucapan Hasan saqqof (kurang lebih semisal anda):“Tidak samar lagi bahwa Syaikh (al Albani) menanggap bahwa dirinya adalah satu-satunya ulama masa kini, seluruh ucapannya tidak boleh dikritik dan dia merasa lebih unggul daripada ulama terdahulu dalam mendapati tambahan-tambahan lafazh hadits”
        Syaikh al Albani sendiri tidak berkomentar apa-apa atas tuduhan si Saqqaf ini kecuali hanya mengatakan seraya mengutip firman Allah Ta’ala,
        “Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar” (QS. An Nur : 16).
        ayat inipun seperrtinya cocok buat anda.

        sekali lagi tuduhan anda bahwa syaikh merasa lebih mngetahui ttg hadist daripada ulama hadist yang lain itu hanya lontaran anda.

        Kepada imam an nawawi dan al hafiz ibnu hajar rahimahumallah, maka tidak ada yang mengingkari bahwa keduanya adalah ulama ahlussunnah. Kendati demikian keduanya jg tdk terlepas dari kekurangan sebagaimana ulama2 lainnya dan selama ini tidak ada ulama yang menyesatkan keduanya. wallahu a’lam..

        • Kalimat “فما كان ثابتا منها” ada kaitan dengan kalimat sebelumnya, yaitu وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, maknanya: “Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut”, inti pembicaraan pada kalimat beliau adalah adanya ta’liq (catatan-catatan atau komentar-komentar) dari beliau atas hadits-hadits. Dan tentunya yang dimaksud “TSABIT” oleh beliau adalah hadits-hadits yang sudah beliau beri komentar (ta’liq). Nah, yang menjadi masalah adalah, beliau bukan termasuk muhaddits (hanya orang-orang wahabi saja yang menganggap beliau muhaddits) dan bertindak mentashhih dan mentadh’if hadits-hadits secara serampangan, dan hal ini adalah fakta bukan tuduhan serta fitnah belaka, karena banyak sekali beliau kontradiksi di dalam mentashhih dan mentadh’if satu hadits dengan hadits lainnya, di satu sisi beliau mendhaifkan perawi sebuah hadits namun di sisi lain beliau justru menshahihkan perawi yang sama. Sebagian kecil dari keluputan beliau dapat disimak pada artikel saya ini: https://jundumuhammad.wordpress.com/2011/09/04/nashiruddin-al-albani-kontradiktif-di-dalam-menetapkan-status-hukum-perawi/

          untuk ayat yang anda kutip sejatinya tidak tepat digunakan untuk membela albani, karena ini bukan tuduhan dan dusta, tetapi fakta dapat dicek langsung di kitab-kitab karya beliau.

          Anda menuliskan: “…dan selama ini tidak ada ulama yang menyesatkan keduanya.”
          Mari kita lihat fakta ini,

          Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, salah seorang pendakwah ajaran Wahhabi terdepan, dalam salah satu bukunya berjudul Liqa’ al-Bab al-Maftuh menuliskan sebagai berikut:
          Soal: “Apakah Ibn Hajar al-‘Asqalani dan an-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?”.
          Jawab (‘Utsaimin): “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”.
          Soal: “Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.
          Jawab: “Kita tidak memutlakan” (Lihat buku dengan judul Liqa al-Bab al-Maftuh, cet. Dar al-Wathan, Riyadl, 1414 H, h. 42).
          (artikel selengkapnya dapat dilihat di https://jundumuhammad.wordpress.com/2011/02/22/bahkan-imam-ahlussunnah-terkemuka-sekelas-ibn-hajar-al-asqalani-dituduh-sesat-pelaku-bidah-oleh-kaum-wahabi-naudzu-billah/)

          Kalau imam an-Nawawi dan imam ibn Hajar al-Asqalani dinyatakan bukan termasuk ahlussunnah, bukankah itu artinya keduanya dianggap sebagai orang yang sesat???

          Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

          • 1. Saudaraku, perbaiki terjemahannya:
            “Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Kami telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang kami berikan atas hadits-hadits tersebut, dan apa-apa yang telah tsabit (dari Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam) dari hadits-hadits tersebut, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak (tidak tsabit), maka hendaklah meninggalkannya (hadits tidak tsabit tersebut)”.

            Ucapan “kami telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang kami berikan atas hadist tersebut”, maka tidak ada kesalahan didalamnya… karena beliau memang dalam kapasitas sebagai peneliti hadist. Hadist-hadits yang dimuat dalam buku tersebut tidak semuanya dipastikan shahih, periwayatnya bukan cuma imam bukhari dan muslim tetapi perawi-perawi yang lain juga yang bisa saja dalam periwayatannya mengandung kelemahan. sebaiknya anda membaca buku-buku hadist karangan syaikh al-bani rahimahullah agar anda mengetahui bahwa jaar wat ta’diil yang beliau lakukan terhadap rijal hadits itu bukan atas pendapat beliau sendiri tapi dengan mengutip pendapat muhaddits-muhaddits sebelumnya.

            2.Ucapan beliau “apa -apa yang telah tsabit darinya”, maksudnya adalah “apa2 yang telah tsabit dari Rasulullah”, bukan seperti yang anda mau dengan penerjemahan anda yang terkesan dipaksakan untuk mengarahkan opini pembaca bahwa beliau mentazkiyah diri beliau sendiri. Ittaqillah…!!!

            3. Perkataan anda “Nah, yang menjadi masalah adalah, beliau bukan termasuk muhaddits (hanya orang-orang wahabi saja yang menganggap beliau muhaddits)”.
            Sebenarnya untuk menanggapi ini saya merasa malas. Ucapan anda ini rasanya menggelitik hati orang2 yang berfikir. Setelah saya menuliskan beberapa pendapat/pujian ulama tentang syaikh dalam masalah hadist, yang mana mereka2 ini adalah orang2 yang punya ilmu agama yang baik, lalu datang orang seperti anda yang berkomentar sebaliknya. nih pendapat syaikh yusuf qordawi hafidzahullah “Syaikh al-Albani –menurut pandangan saya- adalah seorang ulama termasyhur pada zaman kita, khususnya mengenai takhrij, tautsiq, dan tadh’if”

            4. Masalah kontradiksi beliau dalam mengomentari sebuah hadist, maka kami tidak menutup kemungkinan akan hal itu.BISA SAJA BELIAU SALAH KARENA BELIAU ADALAH MANUSIA BIASA. Yang saya khawatirkan adalah anda salah dalam menganalisa tulisan beliau. Maka sebaiknya antum membaca kembali tulisan beliau dengan cermat dan hati yang bersih. karena boleh jadi anda yang salah paham. Nih, saya Kutipkan Perkataan Syaikh Yusuf Qordawi tentang masalah ini “Kadang-kadang Syaikh al-Albani melemahkan suatu hadits dengan lafal tertentu, tetapi maknanya shahih atau hasan dengan menggunakan lafal lain, atau yang diriwayatkan oelh mukharrij lain, atau dari sahabat lain. Hal ini kadang-kadang diisyaratkan oleh Syaikh al-Albani sehingga pembaca dapat mengetahuinya, tetapi kadang-kadang tidak ditunjukkannya. Misalnya hadits nomor 347 (dalam Ghayatul Maram) yang menceritakan bahwa Nabi saw meminta perlindungan kepada Allah dari utang seraya berdo’a”
            “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”

            Syaikh al-Albani menilai hadits ini lemah, dari hadits Abu Sa’id al-Khudri yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

            Orang yang berhenti pada kata-kata “dha’if” dalam takhrij Syaikh al-Albani, akan mengira bahwa penetapan Syaikh al-Albani ini sudah final, padahal pada bagian akhirnya beliau mengingatkan bahwa hadits tersebut adalah shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas dengan susunan redaksional yang berbeda, kata Anas: Saya sering mendengar Rasulullah saw membaca do’a ini:

            “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan.”

            Dalam men-takhrij hadits ini beliau berkata, “Dha’if.” Kemudian beliau menjelaskan bahwa hadits ini shahih menurut riwayat Bukhari, bukan dari riwayat Abu Daud. Dan hadits ini merupakan bagian dari hadits di atas.”

            5. Ketika mengomentari Fatwa syaikh Utsaimin Tentang Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqolani Rahimahumallah, semakin menunjukkan bahwa sebenarnya anda tidak mampu memahami perkataan ulama (setidaknya dalam hal ini), meskipun sudah terjemahan .
            Yang beliau maksud dengan, “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”, maksudnya hanya dalam metode menetapkan nama2 dan sifat2 Allah, karena Ibnu hajar Rahimahullah misalnya melakukan ta’wil dalam masalam asma’ wa sifat. Dan ini(ta’wil) bukan manhaj ahlussunnah. Akan tetapi bukan berarti syaikh Utsaimin Rahimahullah mengeluarkan apalagi meyesatkan keduanya dari barisan Ulama Ahlussunnah. Perhatikan dialog selanjutnya yang anda tulis sendiri

            Soal: “Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.
            Jawab (syaikh utsaimin): “Kita tidak memutlakan”

            Unilah manhaj Muazanah (saya harap anda tidak lagi bertanya apa itu manhaj Muwazanah….), sehingga kita bisa menilai seseorang itu dengan adil. Saudaraku, seandainya anda mau mengkaji manhaj salaf ini dengan baik, maka anda akan tau bahwa betapa manhaj salah sangat menghargai para ulama, termasuk Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar, kendatipun kami tidak seperti kelompok lain yang ‘MENGKULTUSKAN’ selain Rasulullah sallallahu’alayhi wa sallam.

            Terakhir, sikap wara’ sangat dibutuhkan ketika kita berbicara tentang agama ini. Jangan sampai karena kesalahan kita sehingga mengundang orang lain untuk terjatuh juga dalam lubang yang sama (lihat komentar2 orang pada tulisan anda) dan menyangka ini sebagai sebuah kebenaran.

            • 1. memang demikianlah mafhum dari pernyataan albani tersebut, siapapun yang membaca pernyataan beliau akan berkesimpulan bahwasanya suatu hadits itu dianggap TSABIT jika sudah diberi ta’liq oleh albani, artinya jika sudah ada komentar “dishahihkan” oleh albani, maka gigitlah dengan gerahammu, dan jika tidak ada komentar “dishahihkan” oleh albani maka tinggalkanlah hadits tersebut.

              2. nah, yang dimaksud TSABIT oleh albani adalah jika sudah ada stempel “dishahihkan oleh albani”
              3. tentang ulama-ulama yang memuji albani, ada nama yang anda sebutkan yaitu Prof. Dr. Muhammad Musthafa Azami yang dari India, anda menuliskan sebagai berikut:

              -ucapan pendekar hadits asal India kelahiran Uttar Pradesh Dr. Muhammad al Mushthafa al A’zhami, “Bila Syaikh (al Albani) berbeda hukum denganku dalam masalah shahih dan dha’ifnya hadits, maka saya menetapkan pendapatnya, karena saya percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama” (Muqadimah Dr. Musthafa al A’zhami dalam Shahiih Ibni Khuzaimah I/6, 32)

              Ternyata apa yang anda nukil itu sudah diralat oleh beliau. Justru beliau termasuk ulama wahabi yang sudah tidak percaya lagi dengan kapasitas ilmu hadits al-albani ^_^

              “Tetapi itu dahulu, sekarang sudah berubah.” Ketika ditanya tentang pendapat al-albani yang fatal tentang shalat tarawih lebih dari 11 rakaat hukumnya sama seperti melebihkan shalat dzuhur jadi lima rakaat, Syaikh Azami membantahnya, “Itu salah! Mana mungkin? para Shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam semuanya shalat tarawih 20 rakaat!”
              (Ini adalah dialog Prof. KH. Ali Musthafa Yaqub, M.A. dengan gurunya Syaikh Azami di Riyadh melalu itelepon pada hari Selasa, 22 April 2003 jam 22.00. Lihat: Prof. KH. Ali Musthafa Yaqub, M.A.: Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, Pustaka Firdaus, Jakarta 2006, h. 127)

              4. Bagaimana kalau kesalahan di dalam menilai hadits dan perawi hadits itu dilakukan ribuan kali?
              5. Perlu diingat, istilah “Ahlussunnah” itu adalah istilah dalam bidang Aqidah. Kalau di bidang Aqidah seseorang dinyatakan “BUKAN TERMASUK AHLUSSUNNAH” itu artinya aqidahnya “Sesat”,. Nah, kalau imam Nawawi dan ibn Hajar al-Asqalani saja disebutkan sebagai “BUKAN AHLUSSUNNAH” maka kenapa mereka kaum wahhabiyyah mengambil ilmu dari orang-orang yang aqidahnya “BUKAN AHLUSSUNNAH” ?

      • @m.yamin
        sekedar share…

        pemahaman ane…

        why,…jika
        ada 4 org bermetode,..
        metode “a” dianggap ahlusunnah, (iT,iQ)
        metode “b” bukan ahlusunnah,…(iH, iN)
        lalu pertanyaan…siapakah yg di anggap ahlusunnah..?

        “Apakah Ibn Hajar al-‘Asqalani dan an-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?”.
        Jawab (‘Utsaimin): “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”.

        maaf mas yamin bagi ane sih….jelas sudah tak usah ada penjelasan lainnya dah jelas…walaupun ada tambahan..dialog yg jika mas cermati si penanya sudah tahu maksud syeh dlm lanjutan dialog….“Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.

        moga2 Allah mau memaafkan kesalahan hamba2 Nya….amiin

  2. Bismillah….
    tambahan catatan untuk artikel ini & penulisnya :

    1. Penulisnya (apakah karena sengaja atau karena pengetahuan bahasa arab yang pas-pasan) telah menerjemahkan tulisan syaikh Albani Rahimahullah dalam kitab beliau Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah yang tercantum di halaman 16, cetakan ke-1 tahun 1390 (sesuai kutipan penulis) sehingga arti yang dimuat tidak sesuai dengan keinginan syaikh dalam buku tersebut (lihat terjemahan dari penulis blog, lalu bandingkan dengan terjemahan versi saya yang saya tulis dalam komentar sebelumnya).
    Saya menganggap, komentar bantahan saya di atas dalam artikel ini setidaknya telah menyingkap keteledoran (itu kalau ini bukan kesengajaan) penulis.

    2.Penulis dalam blog ini tidak bisa memahami perkataan para ulama sehingga selalu salah dalam memahami dan salah dalam menempatkan perkataan ulama tersebut sebagai hujjah. (Lihat uraiannya tentang fatwah syaikh utsaimin tentang imam an nawawi dan ibnu hajar rahimahumallah, juga tentang syaikh azami), silahkan lihat bantahannya dalam komentar saya sebelumnya atas keteledoran penulis dalam blog ini tentang masalah ini.
    Ditambahnya kurangnya rasa wara’ dalam berbicara mengenai agama.

    3. Hakikatnya, Penulis dalam blog ini TIDAK memahami hakikat AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH sehingga membatasinya hanya pada perkara Aqidah saja. Padahal Manhaj ASWAJA mencakup semua urusan dalam agama ini. Secara pribadi saya meragukan kapasitasnya untuk berbicara tentang manhaj yang mulia ini.

    4. Tuduhan bahwa syaikh Albani lemah dalam memahami bahasa arab sangat lucu menurut saya. Kesalahn dalam teks bisa saja karena kesalahan dalam pencetakan oleh penerbit buku, dan ini sering terjadi. Hanya saja penuli dalam blog ini seolah menutup mata akan kemungkinan itu dan dengan terburu-buru melemparkan tuduhan kepada syaikh rahimahullah. Melihat kualitas tulisannya dalam blog ini, rasanya tidak pantas mengomentari ulama ‘sekelas’ syaikh Al Bani.

    5. Pesan saya bagi siapapun yang membaca blog ini saya harap untuk berhati-hati. Jangan terbawa arus. Agama ini bukan sebatas kehidupan dunia akan tetapi menjadi bekal sampai di jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Salah dalam memahami menyebabkan kita salah dalam beramal dan berkeyakinan.

    6. Oh yah…. saya sudah men-download buku pintar anda dengan judul ” Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi “. Saya menyarankan agar tidak menggunakannya ketika berdebat dengan Asatizah Ahlussunnah, karena hanya akan menjadi bumerang bagi anda dan yang sepaham dengan anda. Sebagai contoh ; Kisah pertama yang diangkat mengenai dialog antara syaihk as sa’di rahimahullah dan sayyid alwiy al maliki.Kisah ini ‘katanya’ adalah kisah yang dituturkan oleh syaikh abdul Fattah Rawwa. Perlu anda ketahui bahwa putra beliau beliau di makkah telah memberikan kesaksian atas kepalsuan kisah yang disandarkan kepada ayahnya ini.
    Ini hanya sebagai contoh….maka, SAYA HERAN, untuk kesekian kalinya kalian terlalu berani menyandarkan sesuatu kepada ulama apa yang mereka terlepas darinya. Naudzu billah.

    7. Sekian komentar saya untuk artikel ini, semoga Allah menjadikan ini manfaat bagi saya dan kita semua. Semoga Allah mengampuni saya atas berbagai kekurang dan bila ada kesalahan…Assalamu ‘alaykum.

    Bumi Allah, 22 Oktober 2011
    Akhukum, Muhammad Yamin.

  3. salam alaikum buat muslim indonesia…lam kum buat pa yamin and corporation.pa yamin bilang tidak kultus tapi trnyata beliau kultus sama ulama majlub albani….wong sdh jelas bhsa arab albani di judul ini blepotan kukuh saja di bela….

    • Kalimat…… wa ‘adhdhu ‘alaihi bi an-nawajidz….yang dianggap salah dalam tulisan Syaikh diatas, mari kita lihat :

      Perhatikan teks buku syaikh yang di-SCAN pada artikel diatas. Ternyata Syaikh Albani sudah benar dalam bahasanya. Akan tetapi Jundu Muhammad kemudian menulis ulang dengan menghilangkan harfu aj jaar “bi” sehingga bunyinya menjadi
      —-wa ‘adhdhu ‘alaihi……..an-nawajidz. (bukan…..bi an-nawajidz)

      SUBHANALLAH….Kedustaan apa yang engkau buat ini wahai yang mengaku sebagai Jundu Muhammad.

      Tolong Yang lain Komentar, setelah membandingkan scan Kitab Syaikh Al bani diatas dengan yang ditulis ulang oleh jundu muhammad ini.

      • antum kurang teliti membaca tulisan ustadz jundu….

        perhatikan teks yang di scan:

        فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه بالنواجذ, والا تركه …

        permasalahan bukan pada ada atau tidaknya huruf jer… akan tetapi pada teks “عمل”

        dan kalau kita baca secara lengkap artikel diatas, bahwasanya perkataan syaikh albani ini sudah dibantu untuk dibenarkan oleh syekh hasan as-saqofi dengan kalimat: ” إعمل به وعض عليه بالنواجذ ” (kalimat ini dalam bentuk fi’il amr bukan fi’il madhi seperti yang ditulis syeikh albani)

        dan mengenai terjemahan, kalau ana perhatikan antum termasuk orang yang tekstualis. bahkan, secara tekstualis dari terjemahan antum pun dapat dipahami bahwa sebuah hadits itu dinyatakan tsabit kepada Rasulullah SAW setelah adanya penelitian dari Syeikh Albani. Dan seperti yang dikatakan oleh ustadz jundu, bahwa kapasitas keilmuan albani di bidang hadits sangat diragukan, dikarenakan banyak sekali syeikh albani salah dan kontradiksi di dalam menetapkan status hadits (dan menurut syeikh hasan as-saqofi disebutkan bahwa syeikh albani telah salah dan kontradiktif tidak kurang dari 1200 kesalahan di dalam menetapkan status hadits), dan disamping itu pula ada karakter buruk dari syeikh albani yang suka mencaci ulama’ (ana baca dari artikel ini https://jundumuhammad.wordpress.com/2011/10/27/nashiruddin-al-albani-menghina-ulama-sekelas-al-imaas-suyuthi-rahimahullaah/)

        kemudian berkaitan dengan pernyataan syeikh utsaimin yang menyatakan bahwa imam ibn Hajar dan imam nawawi di dalam aqidah bukan termasuk ahlussunnah wal jama’ah adalah sebuah masalah yang sangat besar. secara langsung beliau sudah menyatakan bahwa aqidah imam ibn hajar dan imam nawawi aqidahnya sesat, dan ini sangat fatal akibatnya, karena ini sama saja melakukan pentakfiran kepada imam yang sudah diakui kapasitas keilmuannya.

  4. buat ‘HAMBA’ BATAM (soalnya namanya abdun batam):

    Komentar menunjukkan kualitas. Ada baiknya, anda membantu penulis artikel ini untuk menjawab komentar2 saya, daripada komentar ga’ jelas…(hehehehe…maaf yaa).
    Oh…yah, anak-anak PAUD dekat rumah ane dah pada fasih tuh ngucapin assalamu alaykum. Koq anda ngucapin salamnya belepotan gitu..???

  5. @yamin : ente itu super duper gueblok,,menterjemahkan aja gak becus,,liat kalimat sebelumnya ,,,apa ada kaitan atau nggak,,,goblok ente itu,,,sana belajar lagi cara menterjemahkan pada sang tukang reparasi jam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s