Bab Ziarah dan Penjelasan Mengenai Selamatnya Kedua Orangtua Nabi Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam


Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim

Di dalam kitab “At-Taajul Jami’ lil Ushul fii Ahaaditsir Rasul (التاج الجامع للأصول في أحاديث الرسول)” karya Syeikh Manshur Ali Nashif diterangkan (lihat foto yang ada tulisannya) yang artinya sebagai berikut:
“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata: Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak diidzinkan oleh-Nya. Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku. Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i “.

Madzhab al-Asy’ari dan Madzhab Fiqih yang Empat


Madzhab al-Asy’ari dan Madzhab Fiqih yang Empat

Dalam bidang fiqih dan amaliah, Ahlussunnah wal jama’ah mengikuti pola bermadzhab dengan mengikuti salah satu madzhab fiqh yang dideklarasikan oleh para ulama yang mencapai tingkatan mujtahid mutlaq. Beberapa madzhab fiqh yang sempat eksis dan diikuti oleh kaum Muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah ialah madzhab Hanafi. Maliki, Syafi’i, Hanbali, madzhab Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, ibn Jarir, Dawud al-Zhahiri, al-Laits bin Sa’ad, al-Auza’i, Abu Tsaur dan lain-lain. Namun kemudian dalam perjalanan panjang sejarah Islam, sebagian besar madzhab-madzhab tersebut tersisih dalam kompetisi sejarah dan kehilangan pengikut, kecuali empat madzhab yang tetap eksis dan berkembang hingga dewasa ini. Pengikut empat madzhab tersebut, diakui sebagai kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Baca lebih lanjut

Sifat Qiyaamuhu Binafsihi: Alloh Berdiri dengan Sendiri-Nya


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Di antara sifat yang wajib bagi Allah adalah sifat “Qiyamuhu Binafsihi”. Artinya: Allah berdiri dengan sendiri-Nya. Berdirinya Allah tidak butuh kepada tempat atau dzat yang menempati di dalamnya. Begitupula Allah tidak butuh kepada sang pencipta, karena Allah itu pencipta alam semesta.

Allah itu maujud, sedangkan maujudnya Allah tidak boleh disamakan dengan makhluk. Masalah “MAUJUD” diterangkan di dalam kitab “Syarah Shawi ‘ala Jauharatut Tauhid” (lihat tulisan yang di foto) karya Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Maliki Ash-Shawi halaman 154.  Baca lebih lanjut

Kenali Tanda-tanda Aliran Sesat


Kenali Tanda-tanda Aliran Sesat di Sekitar Kita

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Pada beberapa waktu yang lalu, Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang sesatnya aliran Ahmadiyah. Terdapat sekian banyak dalil yang diajukan oleh MUI sebagai bukti-bukti kesesatan Ahmadiyah. Dalam sebuah pertemuan di Surabaya saya mengemukakan bahwa aliran Wahhabi atau Salafi juga termasuk aliran sesat. Mendengar pernyataan ini salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan, apa bukti-bukti atau dalil-dalil kesesatan Wahhabi?

Menjawab pertanyaan tersebut, saya menjelaskan, bahwa al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham tentang tanda-tanda ahli bid’ah atau aliran sesat. Menurut beliau ada dua macam tanda-tanda aliran sesat. (1) Tanda-tanda terperinci, yang telah diuraikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang menerangkan tentang sekte-sekte dalam Islam seperti al-Milal wa al-Nihal, al-Farq bayna al-Firaq dan lain-lain. (2) Tanda-tanda umum. Menurut Asy-Syathibi, secara umum tanda-tanda aliran sesat itu ada tiga.  Baca lebih lanjut

Adakah yang Salah dengan Aqidah Sifat Dua Puluh?


Mengenal Sifat-sifat Alloh Ta'aala

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.  Baca lebih lanjut