Kajian Kitab Daqaa’iqu al-Akhbaar Fii Dzikr al-Jannah wa an-Naar


Kitab Daqa’iq al-Akhbaar fii dzikr al-Jannah wa an-Naar ini adalah karya dari Syaich al-Imam Abdurrahiim bin Ahmad al-Qadhi Rahimahullaah Ta’aala.

Kitab ini sangat bagus untuk peringatan bagi kita semua sebagai seorang muslim mukmin di dalam memahami apa arti tujuan hidup di dunia sebenarnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Bab Ziarah dan Penjelasan Mengenai Selamatnya Kedua Orangtua Nabi Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam


Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim

Di dalam kitab “At-Taajul Jami’ lil Ushul fii Ahaaditsir Rasul (التاج الجامع للأصول في أحاديث الرسول)” karya Syeikh Manshur Ali Nashif diterangkan (lihat foto yang ada tulisannya) yang artinya sebagai berikut:
“Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata: Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak diidzinkan oleh-Nya. Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku. Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i “.

Kabar Tentang Dajjal


KABAR TENTANG AL-MASIH AD-DAJJAL

a. Siapakah Al-Masih Ad-Dajjal itu?

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَمْكُثُ أَبُو الدَّجَّالِ وَأُمُّهُ ثَلاَثِينَ عَامًا لاَ يُولَدُ لَهُمَا وَلَدٌ، ثُمَّ يُولَدُ لَهُمَا غُلاَمٌ أَعْوَرُ، أَضَرُّ شَيْءٍ وَأَقَلُّهُ مَنْفَعَةً، تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبُهُ، ثُمَّ نَعَتَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَوَيْهِ، فَقَالَ : أَبُوهُ طِوَالٌ ضَرْبُ اللَّحْمِ كَأَنَّ أَنْفَهُ مِنْقَارٌ، وَأُمُّهُ فِرْضَاخِيَّةٌ طَوِيلَةُ الْيَدَيْنِ.  رواه الترمذي  ٢٢٤٨

Dari Abu Bakrah r.a, berkata : Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, bersabda : “Bapak dan ibunya Dajjal menetap selama tiga puluh tahun tidak dilahirkan seorang anak-pun untuk keduanya, kemudian dilahirkan bagi keduanya seorang anak lelaki yang bermata satu, lagi sebahaya-bahanya sesuatu dan sedikit-dikitnya sesuatu yang bermanfaat, kedua matanya tidur, akan tetapi hatinya tidak tidur, kemudian Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, mensifati kedua orang tuanya untuk kami, lalu beliau bersabda : “Bapaknya berpostur tinggi, terkoyak-koyak kulitnya, seolah-olah hidungnya paruh burung, dan ibunya adalah seorang wanita yang bertubuh besar, panjang kedua tangannya”. (H.R. At-Tirmidzi, No Hadits : 2248). Baca lebih lanjut

Mencari Obat Hati dan Agama Kepada Para Waliyullaah dan Orang-orang Sholih


Bismillah ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Di dalam kitab “Fathur Rabbani” karya Syeikh Abdul Qadir Jailani halaman 151 cetakan “Dar el-Fikr” diterangkan sebagai berikut:

من تقدم كانوا يطوفون الشرق و الغرب فى طلب الأولياء و الصالحين الذذين هم أطباء القلوب و الدين فاذا حصل لهم واحد منهم طلبوا منه دواء لأديانهم, و أنتم اليوم أبغض اليكم الفقهاء و العلماء و الأولياء الذين هم المؤدبون و المعلمون فلا جرم لا يقع بأيديكم الدواء , أيش ينفع علمي و طبي معك فكل يوم أبني لك أساسا و أنت تنقضه , أصف لك دواء و لا تستعمله , أقول لك لا تأكل هذه اللقمة فيها سم كل هذه ففيها دواء فتخالفني و تأكل التي فيها السم , عن قريب يظهر ذلك فى بنية دينك و ايمانك , انى أنصحك و لا أفزع من سيفك و لا اريد ذهبك , من يكون مع الله عز و جل لا يفزع من أحد فى الجملة لا من جن و لا من انس و لا من حشرات الأرض و سباعها و هوامها و لا من شيئ من المخلوقات بأسرها , لا تجدروا بالشيوخ العمال بالعلم أنتم جهال بالله عز و جل و رسله و الصالحين من عباده ال الواقفين معه الراضين بأفعاله , كل السلامة فى الرضا بالقضاء و قصى الأمل و الزهد فى الدنيا فاذا رأيتم فى أنفسكم ضعفا فدونكم بذكر الموت و قصر الأمل , قال صلى الله عليه و سلم حكاية عن الله عز و جل :

ما تقرب المتقربون الي بأفضل من أداءما افترضت عليهم , و لا يزال عبدي يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاذا أحببته كنت له سمعا و بصرا و يدا و مؤيدا , فبي يسمع و بي ينصر و بي يبطش

Artinya:
“Orang-orang pada zaman dahulu menjelajahi bumi bagian Timur dan Barat untuk mencari para waliyullah dan orang-orang shaleh, di mana mereka adalah para dokter hati dan agama. Ketika mereka menemukan salah satu wali Allah atau orang shaleh, mereka akan meminta obat bagi agama mereka. Sedangkan kalian, saat ini orang yang paling kalian benci adalah para fuqaha (para ahli fiqih), ulama, dan para wali Allah, yang statusnya sebagai para pendidik dan pengajar. Maka, tidak heran jika kamu tidak mendapatkan obat bagi agamamu. Ilmu dan obat apapun yang aku berikan, itu akan memberi manfa’at kepadamu. Setiap hari aku membangun pondasi bagimu, tapi malah kamu merusaknya. Aku sudah menjelaskan obatnya kepadamu, “Jangan makan makanan itu, karena di dalamnya mengandung racun, makan ini saja karena di dalamnya obat.” Namun, kamu tidak mau menuruti perkataanku dengan memakan makanan yang mengandung racun. Sebentar lagi dampak makanan tersebut akan kelihatan pada bangunan agama dan imanmu. Aku hanya menasehatimu. Aku tidak takut pada pedangmu dan tidak menginginkan emasmu. Barangsiapa yang senantiasa bersama Allah Subhanahu wa ta’aala, maka tidak akan takut pada siapa pun, baik pada jin, manusia, serangga tanah, binatang buas, maupun jenis makhluk lainnya. Baca lebih lanjut

Ulama Shodiqun dan Ulama Sholihun


Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Ada dua kelompok ulama. Ada as shodiqun mitslu rusul ada as sholihun. Maksud mitslu Rusul itu dalam pengertian as Shodiqun adalah ulama yang oleh Allah dikuatkan dengan karamat yang dzahir sebagaimana para Rasul yang dikuatkan oleh Allah dengan mu’jizat. Seperti ada orang yang mau beriman berkata; tandanya anda rusul apa, saya mau buktinya, saya minta mu’jizatnya. Nah rasul di sini wajib menunjukkan mu’jizatnya.

Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab, ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,” lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Baiklah carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.

Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah Subhaanahu wa ta’aala. Baca lebih lanjut

Kenali Hati Kita


Oleh: Abi Tama

Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah istiqomah atau penyelewengan itu ada. Begitu pula dengan semangat untuk bekerja. Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda:

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

رواه البخاري ومسلم

Ketahuilah bahwasanya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika baik segumpal daging itu, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan jika rusak segumpal daging segumpal daging tersebut, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari Muslim) Baca lebih lanjut