Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘alaihi Wa Sallam Bagian 03


[Catatan Penting: Fasal-fasal yang kami jelaskan kali ini adalah penjelasan tentang tata cara sholat sebagaimana diajarkan oleh Nabi Shollallaahu 'alaih wa sallam, yang mana tata cara ini sudah umum dilakukan oleh kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah. Dan bukan Pembahasan Mengenai Tata Cara Sholat Menurut Nashiruddin al-Albani]

Lanjutan Pembahasan Tata Cara Sholat Sebagaimana Diajarkan Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

4. Membaca Do’a Iftitah

Setelah melakukan posisi bersedekap dengan sempurna, diam sejenak sebelum membaca do’a iftitah yang dalam istilah lain disebut dengan tawajjuh. Do’a iftitah ini disunnahkan baik dilakukan di dalam sholat sendirian maupun sholat berjama’ah, sholat fardhu maupun sholat sunnah.

Kesunnahan membaca tawajjuh adalah sebelum membaca surat al-Fatihah pada raka’at pertama. Apabila seseorang telah membaca al-Fatihah, berarti hilanglah kesunnahan membaca do’a tawajjuh ini. Dalam kitab al-Fiqh al-Manhajiy ‘alaa Madzhab al-Imaam asy-Syafi’i disebutkan:

“Disunnahkan membaca tawajjuh ketika memulai sholat fardhu dan sholat sunnah. Baik sholat sendirian, ataupun bagi imam dan ma’mum apabila berjama’ah, dengan syarat orang itu belum memulai membaca surat al-Fatihah. Jika ia telah membaca al-Fatihah –padahal ia tahu bahwa basmalah merupakkan bagian dari surat al-Fatihah– atau membaca ta’awwudz, maka hilanglah kesunnahan membaca tawajjuh tersebut. Oleh karena itu, ia tidak usah kembali lagi untuk membaca tawajjuh. Tawajjuh tidak disunnahkan dalam sholat jenazah, begitu pula ketika sholat fardhu yang waktunya hampir habis, yakni bila ia membaca tawajjuh, maka dikhawatirkan waktu sholat akan habis.” (al-Fiqh al-Manhaji ‘alaa Madzhab al-Imaam asy-Syafi’i juz 1 halaman 149).

Adapun lafadz bacaan do’a iftitah adalah sebagai berikut:

“Allah Maha Besar kekuasaan-Nya lagi sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kepatuhan kepasrahan dan aku bukanlah termasuk golongan kaum yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan  matiku semata hanya untuk Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dengan itu aku diperintahkan. Dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Islam).”

Do’a iftitah ini didasarkan atas dua hadits shahih yang banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits. Di antaranya:

“Dari ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Seorang lelaki datang pada saat sholat berjama’ah didirikan. Setelah sampai di shof, lelaki itu mengucapkan kalimat: “Allahu Akbar Kabiiran Walhamdulillaahi katsiran wa subhaanallaahi bukratan wa ashiila”. Setelah Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam selesai sholat, beliau bertanya, “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?”. Lelaki tersebut menjawab, “Saya wahai Rasululullah, Demi Allah saya hanya bermaksud baik dengan kalimat itu.” Sabda Beliau, “Sungguh aku telah melihat pintu-pintu langit terbuka menyambut kalimat itu.” Ibn Umar berkata: “Semenjak aku mendengar itu, hingga sekarang aku belum pernah meninggalkan bacaan tersebut”. (Shahih Muslim, Juz 1 halaman 420 [150]).

“Diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali Radhiyallaahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai sholat, beliau bertakbir untuk sholat. Kemudian beliau membaca: “Aku hadapkan hatiku pada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan dan berserah diri. Dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Sang Penguasa alam semesta. Tak ada sekutu bagi-Nya. Dan dengan itu aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”  (Sunan Abi Dawud juz 1 halaman 260 [760], Sunan at-Tirmidzi juz 5 halaman 485 [3421], Sunan ibn Majah juz 2 halaman 1043 [3121], Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal juz 1 halaman 102 [803])

Wallahu a’lam.

Insya’ Alloh bersambung.

About these ads

6 responses to this post.

  1. Posted by yuliardi on 1 Februari 2012 at 10:40 am

    jazakumullah akhi atas ilmunya ana tunggu sambungannya

    Balas

  2. Posted by zufar on 2 Februari 2012 at 12:47 am

    ajib bang, jazakallah khoiron katsiro

    Balas

  3. MantaBBB Kang..lanjutkan

    Balas

  4. Posted by haris rohmat on 30 Desember 2012 at 5:45 am

    lanjut terus perjuangannya kang…mantap.

    Balas

  5. Sholatlah kamu yang Allah ajarkan kepada utusanNya yang terdapat dalam Kitabullah (Alquran) bukan kepada pedoman yang disampaikan orang yang nabi sendiri tidak mengenalnya. Apakah orang yang menyampaikan pedoman sholat tersebut orang yang mendapat petunjuk ? Apakah manusia bisa berspekulasi atau mendikte bahwa seseorang itu mendapat petunjuk ? Karena Hanya Allah saja yang mengetahui siapa yang disesatkannya dan siapa yang diberikannya petunjuk.Berhati hatilah kepada orang yang menyombongkan diri, Ambillah pelajaran dari kisah iblis yang tidak mau bersujud kepada adam, Satunya kesalahan yang dilakukannya yaitu karena ia mersa terbuat dari api dan adam terbuat dari tanah, ia ttidak mau sujud langsung Allah menempatkan iblis sebagai penghuni neraka. Padahal kita ketahui bahwa iblis salah satu mahkluk yang paling taat beribadah kepada Allah.Sebenarnya Alquran itu mudah dipelajari bagi orang yang beriman yang mendapat petunjuk serta mendapat cahaya Alquran.Kunci hanya disitu untuk dapat mempelajari Alquran, karena Alquran diturunkan untuk semua manusia bukan untuk orang orang pintar dan ahli tafsir’

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: